
Waktu semakin sore, Bunda Sofi berjalan memasuki Rumah Sakit dengan diikuti sopir pribadinya dari arah
belakang dengan tangan yang penuh dengan barang-barang keperluan Ais.
Sesampainya didekat ruangan yang ditempati putrinya, terlihat Agam yang duduk dikursi sebelah pintu masuk. Melihat itu Bunda Sofi berjalan mendekat.
"Nak Agam, kenapa diluar?" tanya Bunda Sofi.
"Oh syukurlah Tante udah sampai. Gak apa-apa Tante, Nggak enak aja kalau cuma bedua sama Ais di dalam, jadi Agam tunggu diluar." mendengar itu Bunda Sofi tersenyum.
"Anak baik. Yaudah ayo ikut Tante masuk." ajak Bunda Sofi.
"Kayaknya Agam pamit pulang aja tante, soalnya Mami nyariin.hehe"
"Oh iya, udah sore juga. pasti Mami kamu khawatir. Yaudah, makasih ya udah jagain Ais untuk Tante, titip salam sama Mami kamu."
"Iya Tante. Kalau gitu, Agam pulang dulu tante. Assalamualaikum." pamitnya pada Bunda Sofi.
"Waalaikumsalam. Hati-hati nak Agam." dan dibalas anggukan oleh Agam.
Setelah kepergian Agam, Bunda Sofi masuk kedalam ruangan inap putrinya. Terlihat Ais yang duduk melihat kearah jendela.
"Assalamualaikum putri Bunda." Mendengar itu Ais tersadar dari lamunanya dan menoleh kesumber suara.
"Waalaikumsalam Bunda."
Bunda Sofi berjalan kearah putrinya dengan tas dan beberapa keperluan untuk Ais selama menjalani perawatan. Bunda Sofi menatap putrinya yang terus saja melihat ke arah pintu.
"Cari Agam ya." sambil tersenyum kearah putrinya.
"Nggak kok, Bunda sendirian aja?" dengan sedikit gugup ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya sendiri, pak supir tadi nganterin sampai depan. Ayah juga belum bisa kesini karena tadi pagi mendadak ada kerjaan filuar kota. Oh iya, Agam udah pulang, tadi dia pamit sama Bunda." mendengar itu Ais hanya mengangguk paham.
"Ais tunggu disini dulu, Bunda keluar sebentar. Titipannya ada di dalam tas belanjaan itu ya nak." setelah mengatakan itu Bunda Sofi berjalan keluar ruangan.
Kini Agam menyusuri jalanan dengan mengendarai sepeda motor miliknya, hari semakin sore dan sebentar lagi memasuki waktu magrib. Agam menghentikan motornya disalah satu Masjid didekat jalanan menuju rumahnya. Setelah selesai menunaikan ibadah shalatnya, Agam kembali mengendarai motor menuju rumahnya.
Sesampainya dipekarangan rumah, Agam langsung masuk kedalam rumah dengan mengucapkan salam.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Mami Dian memjawab dari arah ruang tengah.
Agam berjalan mendekati arah suara, terlihat diruangan itu kedua orangtuanya dan juga Adam yang sedang asik berbincang.
"Sini nak, duduk dulu." Mami Dian meminta Agam duduk disampingnya dan Agam hanya mematuhi permintaan Maminya.
"Kamu tadi kemana saja sampai harus bolos sekolah?" suara berat khas milik Papinya terdengar. Suasana yang tadinya begitu menyenangkan seketika berubah tegang.
"Sudahlah Pi, dengarkan dulu penjelasan dari Agam." Mami Dian memcoba menengahi.
"Tadi kamu kemana nak, kenapa sampai bolos sekolah?" tanya Mami Dian dengan lembut.
"Gak ada apa-apa mi, Agam cuma bantuin Tante Sofi bawa anaknya kerumah sakit aja." mendengar itu Mami Dian terlihat khawatir.
"Jadi tadi kamu minta nomor Sofi karena itu?"
"Iya Mi, tadi tante Sofi kembali kerumah sebentar, jadi Agam diminta jagain Ais." jawab Agam sekenanya.
"Jadi sekarang keadaan Ais bagaimana? Sakit apa dia nak?" Mami Dian terlihat khawatir dengan anak dari temannya itu.
"Udah, Mami gak usah khawatir. Ais sekarang udah lebih baikan." Agam mencoba menenangkan Maminya.
"Kalian berdua pasti sudah kenal sama Om Hasan dan juga Tante Sofi. Jadi Om Hasan akan kembali ke Turki untuk urusan bisnisnya, dan Tante Sofi juga harus ikut menemani kembali ke Turki. Jadi, Om Hasan meminta Papi untuk menjaga putrinya Ais. Dan meminta salah satu dari kalian untuk menikahi putrinya." mendengar hal itu Adam dan Agam saling bertukar pandangan.
"Tapi Papi belum bisa memberi jawaban kepada Hasan. karena untuk Adam, Papi lihat kamu belum cukup bijaksana untuk bisa menerima amanah sebesar ini. Sedangkan Agam, kamu masih sekolah sekarang dan sebentar lagi akan ujian. Jadi Papi ingin dengar jawaban dari kalian berdua, karena Papi tidak mungkin menyerahkan anak sahabat Papi sama orang yang tidak bisa dipercaya." Jelas Papi Faiz kepada kedua putranya.
"Adam nggak bisa Pi, masih banyak yang pengen Adam lakukan untuk mewujudkan cita-cita Adam. Lagian kenapa sih Pi harus nikah, kan bisa anak Om Hasan itu kita jagain tanpa harus nikah. Lagian kalau gak salah si Ais itu masih SMA juga. Kelas 11 malahan. Atau kenapa gak di ajak aja sekalian pindah ke Turki." jelas Adam. Sementara Agam masih terdiam berusaha memikirkan jalan keluar.
"Kamu ini, kalian berdua itu laki-laki, gimana bisa Papi bawa anak perempuan sahabat Papi tinggal disini." Mendengar itu Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Menurut kamu bagaimana Agam?" kini Papi Faiz menatap kearah putra bungsunya. Papi Faiz sangat tahu bahwa Agam anak yang bertanggung jawab juga bisa diandalkan. Walaupun sikapnya berbeda pada Agam, namun itu hanya dilakukannya untuk melatih anak tersebut supaya menjadi anak yang mandiri dan bisa bertanggung jawab. Karena Papi Faiz terlalu memanjakan Putra sulungnya hingga Adam menjadi anak yang kurang bijaksana, jadi beliau tidak ingin hal yang sama terjadi pada putra bungsunya.
"Agam bersedia menikahi Ais, Pi. Tapi bagaimana dengan sekolah Agam?" Mendengar hal itu, Papi Faiz, Mami Dian dan juga Adam terkejut dengan jawaban Agam.
"Kamu serius nak?" tanya Mami Dian.
"Iya, apakah kamu serius dengan ucapan kamu Agam? menikah bukan perkara yang mudah." Papi Faiz menimpali.
__ADS_1
"Agam serius Pi. Untuk pekerjaan, Agam sudah memiliki bisnis Cafe sendiri. Agam rasa itu cukup untuk membiayai kebutuhan setelah menikah." Jelasnya lagi dan membuat ketiga orang dihadapannya terdiam.
"Baiklah, Papi akan membicarakan hal ini pada Om Hasan. Dan untuk sekolah, kamu jangan khawatir itu biar Papi yang urus. Papi tahu, kamu anak yang bertanggung jawab dan bijaksana." Mendengar itu Agam tersenyum kepada Papinya. Karena jarang sekali Papi Faiz mengatakan hal seperti itu kepada Agam. Setelah itu Papi Faiz pun pergi meninggalkan kedua putranya dan juga istrinya diruangan tersebut.
"Agam kamu yakin nak? Menikah bukan sesuatu yang mudah. Kalau udah capek bisa istirahat trus ganti yang baru. " tanya Mami Dian lagi.
"Mami apaan sih. Agam tahu kalau menikah itu bukan hal yang gampang. Karena ibadah gak ada yang mudah mi. Tapi Agam yakin sama pilihan Agam. Dan apa yang Agam lakuin ini untuk menjaga diri Agam dari perbuatan zina juga mi." jelasnya.
"Hmmm baiklah kalau memang itu keputusan kamu, Mami cuma bisa mendoakan hal-hal yang terbaik untuk kedua anak Mami." seraya memeluk kedua putranya.
Setelah pembicaraan dengan Maminya selesai, Agam pun kembali kekamarnya dengan Adam yang membuntuti dari belakang.
"Lo kenapa sih kak ngikutin gue, udah sana balik kekamar lo." seru Agam kepada Adam.
"Udah masuk." Adam mendorong adiknya masuk kedalam kamar dangan dia pun ikut masuk.
Melihat tingkah kakaknya yang seperti itu, Agam hanya menggelengkan kepalanya.
Setelah masuk, Adam lantas membaringkan tubuhnya di atas kasur milik Agam.
"Sini lo, jelasin sama gue kenapa pengen nikah sama anaknya Om Hasan? Gue tau ada yang gak beres sama otak lo." Adam meminta Agam duduk dikursi samping ranjang.
"Emangnya kenapa sih kak, lagian apa salahnya nikah. Malah bagus dari pada pacaran-pacaran." jelas Agam.
"Iya gue tahu nikah itu lebih baik dari pada pacaran, tapi lo itu masih sekolah Gam. Bentar lagi lo ujian, trus tu anak juga masih kelas 11 sekarang. Mending lo bilang sama Papi batalin. Sebelum terlambat."
"Lo kenapa sih kak, gue yang mau nikah lo yang ribut. Udah, percaya sama adik lo ini. InsyaAllah gue yakin sama keputusan gue kak. Lo gak usah khawatir." Mendengar hal itu Adam diam dan menatap Agam sedikit lebih lama.
"Ya udah, terserah lo deh. Gue sebagai kakak yang baik cuma bisa doain lo. Eh tapi lo yakin mau nikah tanpa cinta?" tanyanya dengan sangat antusias.
"Kak, cinta itu bisa hadir juga karena intensitas pertemuan. Semakin sering bertemu, maka semakin besar peluang untuk bisa jatuh cinta. Jadi kalaupun sekarang gak ada, bukan berarti selamanya gak bisa ada. Apalagi perempuan itu lebih besar perasaannya dibandingkan logika, pasti lebih mudah untuk jatuh cinta." jelasnya panjang lebar.
"Elah bocah, kayak pernah jatuh cinta aja lo. Pacaran aja gak pernah." olok Adam kepada Adiknya.
"Emang harus pacaran dulu baru bisa jatuh cinta." balasnya.
"Jadi sekarang lo lagi jatuh cinta, gitu?" pertanyaan itu seketika membuat Agam terdiam, entah bagaimana menjelaskan perasaannya saat ini pada Ais. Dia sadar bahwa dia suka, tapi dia tidak tahu apakah ini yang namanya jatuh cinta atau apakah hanya rasa kagum semata.
"Emang gue jatuh cinta sama siapa kak?" tanyanya kembali.
__ADS_1
"Mungkin kalau gak sama Lio ya sama Rafa." Ejek Adam dan berlari pergi meninggalkan kamar Adam.
"Dasar lo kak, lo kira gue apaan." balasnya dengan nada kesal.