Diamku, Untukmu

Diamku, Untukmu
Ketiga


__ADS_3

Bel terakhir hari inipun berbunyi, semua siswa dan siswi tersenyum girang karena sudah waktunya untuk pulang. Ais dan Dita pun merapikan semua buku-buku dan alat tulis serta memasukkannya kedalam tas mereka. Disela-sela merapikan semua barang mereka Dita pun membuka pembicaraan dengan membahas kejadian di kantin tadi, terlihat senyum yang tidak lepas dari bibirnya.


"Ais ternyata kak Agam itu kalau di liat dari dekat makin ganteng tau. Aku aja ampe meleleh duduk di samping kak Agam. sumpah ganteng banget." tuturnya dengan terus tersenyum riang.


"hmmm." balas Ais dengan lesu. "Kamu kenapa sih, yang semangat dong Aisyah Ulfatunnisa. kan udah dikasi liat sama Allah cowo yang ganteng banget, bersyukur atuh gelis, matanya dikasi asupan yang seger-seger." cerocosnya sambil mencubit pipi kanan Ais.


"Aduh apa sih Ta, gak usah cubit-cubit pipi orang deh. lagian yang ada tuh menundukkan pandangan, bukan malah menikmati pemandangan yang seger-seger kata kamu itu. Kalau kamu mau gitu lagi jangan ngajak-ngajak aku, malu tau. Dosa juga melototin cowo mulu, itu mata sampai mau keluar tadi." omel Ais kepada Dita.


Dita memang sangat tau prinsip sahabatnya itu, yang sangat menjaga jarak kepada lawan jenis. Dan lagi Ais memang dari keluarga yang agamis. Jadi tidak ada kata pacaran sebelum halal. Dan Dita malah tersenyum mendengar omelan dari sahabatnya itu. Dan Dita setia menjomblo karena terus diomeli oleh sahabatnya. Bukan karena dia takut pada Ais, tapi karena dia juga tau bahwa itu sesuatu yang belum bisa ia lakukan.


"Iya siap ustadzah. Ya ampun ustadzah satu ini kok lucu banget sih kalau lagi marah. jangan marah dong ustadzah." gemasnya pada Ais namun Ais hanya bersikap acuh karena masih kesal.


"Hmm lain kali gak lagi deh, tadi tu karena ada kesempatan aja tau. sayang disia-siain, kapan lagi bisa makan siang sama kak Agam kan." jelasnya sambil tersenyum jail.


"Kamu tuh, makannya sekarang ni belajar yang rajin. bentar lagi mau ulangan harian. kalau nilai jelek gimana? nanti kalau udah lulus sekolah, boleh tu kamu kejar lagi si babang kamu tuh. Tapi ajak nikah aja." balas Ais tapi malah dibalas dengan tawa yang cukup kencang oleh Dita.


"hahahaha kamu tuh yah, yaudah makasih deh sarannya. nanti aku ajak kak Agam nikah.hahaha" Dita masih tertawa dengan perkataan sahabatnya itu. Tapi tiba-tiba Dita diam sejenak dan melanjutkan ucapannya.


"Tapi ni yah, kalau misalkan kak Agam itu bukan jodohnya aku tapi ternyata jodohnya kamu gimana?" tanyanya dengan mode jail dan dibalas tatapan datar dari Ais. "Jangan ngadi-ngadi deh Ta." balasnya, dan dibalas tawa lagi oleh Dita.


"Abisnya udah bahas nikah aja, sekolah juga baru kelas 11 kita tuh Ais."


"Eh tapi kalau misalkan kak Agam itu beneran jodohnya sama kamu kan Ais...., aku ikhlas kok." setelah menyelesaikan ucapannya iapun berlari meninggalkan Ais karena takut dengan amukan sahabatnya itu. Dan Ais hanya membuang nafas kasar.

__ADS_1


Ais pun berjalan menuju gerbang sekolahnya, terlihat pak supir sudah menunggunya didepan gerbang sekolah. Dan dilihatnya Dita yang telah masuk kedalam mobil yang dikendarai supir pribadinya. Dita melihat kearah Ais dan melambaikan tangannya, Ais membalas lambaian tangan Dita hingga dia pun memasuki mobil.


"Udah lama nunggunya pak?" tanyanya pada pak supir yang kini telah duduk dikursi kemudi.


"nggak kok non, ini bapak juga baru sampai 5 menit yang lalu karena jalan agak macet." balas pak supir dan dibalas anggukan oleh Ais.


Kini mobil yang ditumpangi Ais berhenti di lampu merah yang tidak jauh dari area sekolah. Dari arah luar kaca jendela mobil terlihat tiga orang yang tidak asing bagi Ais dengan mengendarai motor ikut berhenti dilampu merah. Ais hanya melihat sekilas dan kembali fokus kearah depan, melihat jalanan yang dipadati cukup banyak kendaraan.


Dari arah luar, Agam melihat kearah kaca mobil disebelahnya. Terlihat seorang gadis cantik dengan dibaluti jilbabnya sedang asik memperhatikan kearah kiri dan kanan jalanan. Tanpa ia sadari terukir senyum dibibirnya. Gadis itu adalah Ais. Yah seseorang yang sedari tadi mencuri perhatiannya, namun ia masih berusaha mengendalikan dirinya. Hingga akhirnya lampu jalanan berubah menjadi hijau dan Agam pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah.


Sesampainya dipekarangan rumah Agam melihat ada mobil yang tidak ia kenali terparkir di halaman rumahnya. Agam pun memasuki rumah dan tak lupa mengucapkan salam.


"Assalamualaikum...."


"Assalamualaikum tante." sapanya dan dibalas oleh wanita paruh baya itu sambil tersenyum ramah. "Waalaikumsalam nak."


Mami Dian berdiri dan meminta Agam untuk duduk bersamanya.


"Sini nak, duduk dulu. Mami kenalin ini sama temannya Mami." Agam pun menuruti perintah maminya dan ikut duduk bersama mami Dian juga temannya.


"Jadi ini temannya mami dulu pas masih SMA, namanya tante Sofi. Dulu tante sofi tinggalnya di Turki selama beberapa tahun, karena om Hasan suaminya bekerja disana. Tapi sekarang sudah menetap lagi di Indonesia karena om Hadan sudah mengurus perusahaannya disini." jelas mami Dian panjang lebar dan dibalas anggukan oleh Agam. Sesekali ia juga tersenyum kearah tante Sofi.


"Wah anak kamu ganteng banget Dian, mirip banget sama papinya ya yang ini." puji tante sofi.

__ADS_1


"Alhamdulillah yah, Allah kasi keturunan yang wajahnya modelan begini. Tapi kadang juga bandel, biasa anak baru mau beranjak dewasa." balas mami Dian sambil mencubit bahu putranya gemas.


"Oh iya, bukannya kamu juga punya anak gadia ya? dia satu tahun lebih muda dari Agam kan ya? siapa nama anakmu itu Sofi?" lanjut mami Dian.


"Oh iya, namanya Aisyah. sekarang baru kelas 11. Kami memutuskan untuk cepat-cepat pindah kesini juga karena memikirkan anak semata wayang kami itu Dian. Selama ini dia sudah kami tingal sendirian. Tapi beruntungnya dia anak yang penurut, jadi tidak terlalu susah mengaturnya." balas tante Sofi.


"Hmm saya tidak bisa membayangkan harus berpisah dari anak-anak sejauh itu sofi, kamu ibu yang kuat. Mau bagaimana lagi kita sebagai istri harus mengikuti kemanapun suami pergi. Ya sudah, yang penting sekarang kalian sudah bisa berkumpul lagi." hibur mami Dian. Dan dibalas senyuman oleh tante Sofi.


Kini kedua sahabat itu masih sibuk berbincang, hingga Agam meminta izin untuk pergi kekamarnya.


Ditempat lain, Ais telah berada di kediamannya tetapi tak mendapati keberadaan sang bunda. Ais pun mencoba bertanya kepada asisten rumah tangganya yang sedang berada didapur menyiapkan makanan ringan untuknya.


"Bik bunda kemana, kok Ais cari-cari gak ada?" tanyanya yang masih celingak-celinguk memperhatikan sekeliling rumah.


"Nyonya tadi katanya mau pergi ke rumah temannya non, udah lumaian lama juga, mungkin sebentar lagi pulang." jawab bik Sitah.


"Hmm gitu. Teman bunda yang mana ya bik?. tanyanya lagi sambil melihat bibik yang sibuk menyiapkan cemilannya.


"Bibik kurang tau non kalau itu." balas bik Sitah sekenanya dan dibalas anggukan oleh Ais.


Tak lama setelah itu cemilanpun siap dan Ais sibuk dengan acara ngemilnya.


...........

__ADS_1


__ADS_2