Diamku, Untukmu

Diamku, Untukmu
Kedelapan


__ADS_3

Terlihat dua motor yang sangat Rafa kenali terparkir diluar sebuah cafe. Rafa memarkirkan motornya dan memasuki sebuah cafe, Rafa langsung masuk kearea private yang memang tempat khusus yang Agam sediakan untuk mereka. Didalam ruangan itu hanya terlihat Lio, sedangkan Agam pergi entah kemana.


"lama banget lo, ngapain aja lo sama si Dita?" Lio terlihat sedikit penasaran.


"Gue nganterin Dita pulang tadi, supirnya gak bisa jemput karena mobilnya mogok." Lio mengangguk dan menjaili Rafa.


"Oh jadi tadi dipeluk neng Dita gak?" muka jailnya dengan mengedipkan sebelah mata, akhirnya mendapati jitakan di kepala dari Rafa hingga Lio mengaduh sakit.


"Aduh, lo ye bener-bener teman lucknat!" sambil memegangi kepalanya. Sedangkan Agam entah kapan sudah berdiri didepan pintu.


"Siapa yang di peluk-peluk sama Dita?" Lio menunjuk dengan wajahnya ke arah Rafa.


"Sembarangan lo, gini-gini gue tau batasan. Gue gak nyentuh sama sekali." jelas Rafa.


"Tetep aja dempet-dempetan kali duduknya." Lio membalas dengan nada kesal.


"Yah mau gimana lagi, masa Dita duduk di jok motor gue dorong dari belakang." leluconnya Rafa membuat Agam geleng-geleng.


"Yah kan bisa dicariin taksi Raf." mendengar jawaban Agam, Rafa terdiam sejenak. Dan menceritakan apa yang dia lihat di halte bus sekolah.


"Takut gue biarin dia naik taksi, soalnya tadi gue liat Dira juga lagi duduk di halte bus di bagian ujung. Lo bedua gak liat tatapannya ke Ais sama Dita, kayak mau makan orang idup-idup woi. serem banget." Mendengar hal itu Lio bergidik ngeri. sedangkan Agam terlihat diam tapi seperti memikirkan sesuatu.


"Jadi itu alasan lo milih temenin mereka berdua tadi. Kok serem banget sih cewe kayak gitu. kayaknya emang loe harus tegesin deh Gam. Kalau sampai nyelakain orang lain gimana coba." dengan Agam memandang kearah Lio.


"Bener tu Gam, lo harus ngomong sama tu cewe. Dan gue liat tu cewe bahaya banget. Kayak rela ngelakuin apa aja buat bisa dapatin lo." sambung Rafa.


"Yaudah, nanti gue urus. Terus tadi Ais gimana?" pertanyaan Agam membuat keduanya tak percaya dan saling bertukar pandangan. seketika ruangan tersebut penuh dengan tawa keduanya.


"hahahaha hahahaha hahahahaha".


Tiba-tiba seseorang pelayan mengetuk pintu dan masuk mengantarkan makanan dan minuman mereka. Hingga tawa keduanya berhenti namun masih memandangi Agam dengan curiga.


"Mas Agam, ini pesanannya." salah satu pelayan meletakkan makanan mereka diatas meja.

__ADS_1


"Iya, makasih mbak. Oh iya, untuk bahan-bahan yang tadi baru sampai tolong di simpan dengan baik di dalam freezer ya mbak." mendengar perintah bosnya itu, pelayan mengiyakan dan berlalu pergi.


Sementara Rafa dan Lio masih setia menunggu jawaban dari kekhawatiran Agam.


"Apaan sih lo bedua, udah makan tu." dengan Lio yang menyeruputi minumannya dan diikuti Rafa setelahnya.


"Gam lo jujur aja deh sama kita. Lo suka kan sama Ais?" Pertanyaan Rafa sedikit membuat Agam gugup namun masih bisa dia kendalikan.


"Udahlah Gam, ngaku aja. Lo gak biasanya peduli banget sama cewe. kita tu udah temenan dari SMP. Kita mah tau banget gimana elo." timpal Lio lagi dan membuat Agam sedikit goyah dengan prinsipnya.


"Yah gitu." jawaban dari Agam membuat keduanya kembali tertawa.


........


Ais masih membaringkan tubuhnya diatas kasur. Sedari pulang sekolah tadi Ia terus memikirkan bagaimana nasibnya besok. Tatapan tajam dari kak Dira masih melekat kuat diingatannya, hingga badannya yang lelah tak membuat matanya bisa terpejam.


"Ya Allah, gimana ini. Apa besok nggak sekolah aja ya. Aduh mana bisa, nanti ketinggalan pelajaran." gumamnya padi diri sendiri.


Setelah tenggelam dalam pikirannya cukup lama, tiba-tiba terdengan ketukan dari luar.


"Iya bik, sebentar." mendengar jawaban dari dalam kamar, asisten rumah tangganya pun berlalu meninggalkan kamar Ais.


Ais menuruni tangga menuju ke ruang tamu, terdengar suara kedua wanita. Yang satu adalah suara Bunda Sofi, sedangkan satunya lagi begitu asing baginya. ketika Ais memasuki ruang tamu, terlihat disana duduk dua wanita paruh baya. Yaitu Bundanya dan seseorang yang asing bagi Ais.


Bunda Sofi melihat kearah Ais dan memintanya untuk duduk bersama mereka.


"Oh itu putri semata wayang saya Dian. Ais, sini nak." Ajak Sang Bunda kepada Ais.


Ais tersenyum menyapa tamu Bundanya, sekaligus menyalami Tante Dian.


"MaasyaAllah, anak kamu cantik sekali Sofi. mirip banget sama kamu." Ais mendengar pujian itu hanya tersenyum ramah.


"Alhamdulillah Dian." Bunda tersenyum kearah Ais sambil membelai kepala sang putri.

__ADS_1


Waktu terus berputar, kedua wanita paruh baya itu asik dengan obrolan mereka. sementara Ais sesekali menjawab pertanyaan dari tante Dian.


Hingga tiba waktunya, Tante Dian harus pulang.


"Sofi, kapan-kapan main lagi kerumah ajak si Ais. Aku kan nggak punya anak gadis, jadi rumah rasanya sepi banget. Taulah ya namanya juga anak laki-laki, mereka sukanya nongkrong sama temen-temennya. Kalau nggak mereka sibuk main bedua." jelas Tante Dian panjang lebar.


"Yah gitulah ya Dian, namanya juga anak laki-laki. Tapi asik ada yang jagain maminya." balas Bunda Sofi dengan tersenyum ramah.


"Alhamdulillah."


Setelah cukup lama basa-basi antara keduanya, Tante Dian pun pulang.


Kini tinggal Bunda Sofi dan Ais diruang tamu itu. Bunda Sofi menatap putrinya dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak oleh Ais. Hingga akhirnya Sang Bunda mulai membuka pembicaraan.


"Sayang, ada yang mau Ayah dan Bunda sampaikan sama kamu. Tapi nanti malam, sekalian makan malam sama Ayah." Ais hanya memgangguk. Bunda Sofi mengusap pipi putrinya dengan sayang ditambah tatapan yang penuh makna. Entah itu tatapan senang atau sedih.


"Yaudah Bunda, Ais mau mandi sore dulu. Takut nanti keburu magrib." Setelah mengatakan itu, Ais meninggalkan Bunda Sofi di ruang tamu.


Malampun tiba, Ayah Hasan sampai dirumah tepat sepuluh menit sebelum waktu makan malam mereka dimulai. Ayah Hasan terlihat sangat lelah, hingga akhirnya memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Ais dan Bunda menunggu sang Ayah di meja makan. Makanan telah tersaji dengan koki spesial, yaitu Ais dan Sang Bunda.


Setibanya Ayah Hasan, mereka mulai menyantap makananya. Hingga sang Ayah menghentikan makananya sebentar dan melihat putrinya yang masih asik mengunyah makananya. Ayah Hasan memberikan kode kepada Bunda Sofi. Seolah mengerti, Bunda Sofi mengangguk pelan dan mengisyaratkan untuk berbicara setelah menyelesaikan makan malam mereka.


Setelah makan malam selesai, Ayah Hasan membuka suara.


"Aisyah, kamu tahukan ada yang ingin Ayah dan Bunda sampaikan sama kamu." Dengan hati-hati sang Ayah memulai percakapannya.


"Iya, Ais tahu Yah. Memangnya apa yang ingin Ayah dan Bunda sampaikan pada Ais?" Ais tersenyum menatap kedua oratuanya. Sementara Bunda terlihat tak tega melihat senyum diwajah putrinya itu yang mungkin seketika akan pudar.


"Begini nak, Ayah langsung saya pada intinya. InsyaAllah, Ayah dan Bunda berniat menjodohkan kamu dwngan anaknya teman Bunda kamu. Dan menikahkan kalian segera." Mendengar hal itu seketika wajah Ais menjadi tegang, senyum yang tadinya terukir indah di bibir tipisnya kini kian memudar. Namun Ais tetap menghadapi semuanya dengan tenang dan mulai bertanya alasannya kepada sang Ayah.


"Kenapa Ais harus menikah sesegera mungkin yah?" Dengan berusaha tetap tenang Ais bertanya pada sang Ayah.


" Maafkan Ayah dan Bunda nak. Ayah harus kembali ke Turki untuk urusan pekerjaan dalam waktu yang cukup lama. Dan Ayah harus membawa Bundamu bersama Ayah. Sementara Ayah juga berat meninggalkan kamu sendirian disini tanpa ada yang bisa menjaga kamu. Ayah juga takut melihat pergaulan anak-anak zaman sekarang. Bukannya Ayah tidak percaya sama kamu nak, hanya saja Ayah ingin menjaga kamu dengan cara yang terbaik. Menurut kamu bagaimana sayang?" Mendengar penjelasan sang Ayah, rasanya hati Ais kian sesak. Haruskah kedua oratuanya pergi lagi meninggalkan dia seorang diri? Kenapa mereka tidak membawa Ais bersama mereka. Tanpa mampu ia tahan lagi, kini air matanya kian mengalir. tetesan demi tetesan membasahi jilbab yang ia kenakan.

__ADS_1


Melihat hal itu, sang Bunda hanya bisa memeluk putrinya kian erat. Hingga Bunda Sofi pun menangis bersama putrinya. Hingga akhirnya Ais berusaha menenangkan dirinya dan meminta izin untuk kembali kekamarnya.


"Ais akan mempertimbangkan pernikahan itu, Ais izin kekamar dulu." Dengan hati yang hancur Ais menaiki tangga dengan sedikit tak lemas. Sementara Ayah Hasan dan Bunda Sofi menatap kepergian putri mereka dengan rasa tak tega. Untuk kesekian kalinya, mereka harus meninggalkan putri semata wayangnya.


__ADS_2