
Malam semakin larut, Ais masih terjaga dari tidurnya. Matanya sama sekali tidak mengantuk, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi.
Kamarnya sangat redup, hanya diterangi cahaya rembulan yang terpantul dari arah jendela kamar.
Suasana hatinya saat ini sangat kacau. Bagaimana tidak, seakan mendapat pukulan yang amat keras, hingga tidak bisa mengatakan apapun lagi. Kedua orangtua yang baru saja kembali bersamanya selama beberapa tahun belakangan ini, kini akan meninggalkannya kembali untuk alasan yang sama.
Ais hanya bisa menangis dalam diam, air matanya terus mengalir tanpa henti. Berharap semuanya hanya mimpi, namun nyatanya memang benar terjadi.
Terkadang kenyataan memang sulit untuk dihadapi.
Malam kini menjemput fajar. Waktu terus berlalu, hingga azan Subuh pun berkumandang. Ais tersadar dari lamunanya selama berjam-jam lamanya. Memikirkan bagaimana kisah demi kisah hidupnya akan terbentuk menjadi satu cerita yang terdengar menyedihkan.
Setelah berusaha menguatkan diri, Ais mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan acara mandinya, Ais segera berwudhu dan bergegas mengerjakan shalat Subuh.
Hari semakin siang, Ais terlihat enggan meninggalkan kamarnya. Hingga ketukan dari luar terdengar. Suara yang sangat ia kenali.
"Ais, kamu sudah bangun nak. kalau sudah ayok sarapan dulu sebelum berangkat kesekolah." mendengar itu Ais masih tidak bergeming. untuk pertama kalinya Ais bersikap demikian. Meskipun ia sadar itu salah, namun hatinya masih terasa amat sakit.
Bunda terlihat khawatir karena tidak mendapati jawaban dari Ais, hingga terus mencoba mengetuk pintu kamar putrinya berulang kali.
"Ais, kamu dengar Bunda kan nak? jangan begini sayang, Bunda khawatir. Buka pintunya sayang." Mendengar ucapan sang Bunda tanpa terasa air mata Ais pun kembali mengalir dan ia bergumam dengan dirinya sendiri.
"Tapi Ayah sama Bunda nggak khawatir mau ninggalin Ais sendiri lagi." Ais terus menyeka air matanya. Hingga saat ia merasa bahwa dirinya sudah cukup tenang, akhirnya Ais bergegas mengenakan seragam sekolahnya. Setelah selesai berkemas, Ais pun keluar dari kamarnya. Ais membuka pintu kamarnya, dilihatnya sang Bundan masih berdiri didepan pintu kamarnya dengan wajah yang basah dengan air mata.
Melihat pintu kamar anaknya perlahan terbuka, Bunda Sofi tersenyum melihat anaknya dan menarik Ais kedalam pelukannya.
"Maafin Bunda sayang." mendengar itu tanpa mampu Ais tahan lagi, air matanya kembali mengalir dengan derasnya.
__ADS_1
Setelah cukup lama berada dalam pelukan sang Bunda, Ais meleaskan pelukan Bundanya dan memilih berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Melihat itu, hati Bunda Sofi terasa teriris. Bunda Sofi sangat tau bahwa putrinya itu selalu memendam semuanya sendiri.
Kini Ais sudah sampai di depan sekolahnya, 5 menit lagi pintu gerbang akan ditutup.
"untung aja masih belum terlambat." gumamnya.
Ais berlari menuju kelasnya, karena sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai. Benar saja, pak Rian selaku guru mata pelajaran Matematika sudah berada didalam kelas. Melihat itu Ais mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk.
"Assalamualaikum pak, maaf pak saya terlambat. Apakah saya boleh masuk?" Pak Rian sedikit heran kenapa Ais bisa terlambat, karena Ais adalah murid teladan di kelasnya.
"Kamu kenapa bisa telat? Yaudah masuk, kali ini saja saya kasi toleransi. Karena nilai kamu selalu bagus dipelajaran saya." Mendengar itu Ais sedikit tenang, ia pun masuk dan duduk dikursinya.
"Kenapa kamu bisa telat sih Ais, ini kan mapel matematika. udah ada pr lagi minggu lalu." Ais tau maksud sahabatnya ini.
"Kamu nggak ngerjain pr dari bapak lagi?" tanya Ais tanpa menoleh kearah Dita.
"Hehe udah tadi minjam bukunya Refan." mendengar namanya disebut Refan pun menoleh kearah Dita.
"Kamu kasi apa Refan, sampai mau ngasi contekan?" mendengar itu Dita terdiam, karena dia takut Ais marah.
flesback...
Waktu menunjukkan 06.30 Pagi. Terlihat seseorang tengah heboh kesana-kemari karena belum mengerjakan Pr matematikanya. Dia sibuk menggerutu karena belum mendapati sahabatnya berada di dalam kelas.
"Busettt dah kemana sih tu anak, nggak biasanya jam segini belum ada kabar. Mana gue lupa ngerjain pr lagi. Hadeeh kacau ni masa depan gue kalau kayak gini."
Matanya pun tertuju pada seseorang yang cukup dia tau kelemahannya.
"Eh aa' Refan yang cakepnya kemana-mana gak ada lawan, udah ngerjaian pr matematika belum?" mendengar hal itu Refan hanya bersikap cuek tanpa menoleh sedikit pun, karena ia tau apa maunya Dita.
__ADS_1
"Elah dicuekin gue mah, yaudah lah. Padahal kalau mau ngasi gue contekan, bakala gue bantu dekeetin si Ais. Yaudah gak mau gapapa. cari yang lain aja." Mendengar hal itupun reaksinya langsung cepat. Refan memberikan buku Pr nya kepada Dita.
"Nih, benerannya bantuin. Tapi jangan bilang-bilang." Bisiknya dengan suara pelan.
"Siap bos, nanti istirahan kita makan dikantin." tangannya dengan cepat menyambar buku milik Refan.
"Alah mudah banget dah dikibulin. Yah gue sih mau aja bantu. Tapi dapetin hati Ais mah gak gampang. Kayaknya lo harus naik turun lembah selama 1000 tahun dulu.hahaha." gumamnya dan diakhiri dengan tawa hingga teman-teman yang berada dikelas melihat kearahnya sambil menggelengkan kepala.
"Gila gak usah ngajak-ngajak Ta." kata salah seorang teman kelasnya dan ditambah tawa oleh teman yang lain.
Bel pun berbunyi, dan pak Rian telah berada di dalam kelas sementara Dita belum juga mendapat kabar dari Ais hingga terdengar suara ketukan dari arah pintu.
flashback of.
Dita tersadar dari lamunanya karena memdapati senggolan dari Ais.
"Nggak, gue gak ngasi apa-apa.hehe" balasnya sambil tersenyum menatap Ais, namun Ais hanya melirik sekilas dan fokus lagi pada pembelajaran.
Dita menatap Ais dengan wajah curiga. Dia melihat mata Ais yang begitu sembab, dan tampaknya sahabatnya ini sedang memiliki masalah yang serius.
Setelah nerganti jam matapelajaran, kini bel istirahatpun berhenti. Dita menatap Ais yang masih sibuk dengan buku-bukunya. Sampai Dita sudah tidak tahan lagi dan akhirnya mulai bertanya.
"Ais, kamu kenapa? ada masalah bilang, jangan dipendam sendiri." Dita sangat mengetahui sahabatnya ini, Ais adalah seseorang yang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Memiliki masalahpun enggan berbagi. Hanya hal-hal tertentu yang terkadang ia ceritakan, jika memang menurutnya perlu ataupun butuh pandangan yang berbeda.
"Hmm Ayah sama Bunda akan kembali le Turki lagi Ta, untuk alasan yang sama." Tanpa menatap kearah Dita, Ais masih fokus dengan buku-bukunya.
Seketika Dita memeluk Ais dari samping, dan mengusap pundaknya. Senentara Ais hanya terdiam terpaku. Dita tau ini bukan hal yang mudah untuk Ais, hingga kini ia bisa terlihat sangat kuat. Namun didalam hatinya, itu amatlah hancur.
"Aku tahu kalau Kamu enggak lagi baik-baik aja. Jadi jangan sok kuat didepan aku. Kamu boleh nangis, kamu boleh marah, kamu juga boleh kecewa. Keluarin aja semua. Gapapa, semuanya akan indah pada waktunya Ais. Kan kamu suka bilang, Allah gak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya, melebihi batas kesanggupan setiap hamba. Jadi semuanya nanti juga akan baik-baik aja. InsyaAllah." Mendengar itu Ais tersenyum.
__ADS_1
"Kamu berguru sama siapa? MaasyaAllah ustadzah Dita. Makasih pencerahannya." godanya pada Dita.
"Ya sama ustadzah Aisyah lah, siapa lagi." keduanya tertawa, rasa sedih yang Ais rasakan kini sedikit demi sedikit berkurang.