Diamku, Untukmu

Diamku, Untukmu
ke enam


__ADS_3

Waktu istirahat sebentar lagi habis, Agam, Lio dan Rafa bangkit dari kursinya dan meninggalkan kantin. Ketika Agam dan kedua sahabatnya berjalan menuju kelas, terlihat banyak sekali kerumunan siswa-siswi didepan kelas 11.


Dengan rasa penasanan yang tinggi, Rafa mencoba melihat apakah gerangan yang terjadi, namun karena terlalu berdempet-dempetan dengan siswa yang lain Rafa pun memilih mundur, tapi Rafa sudah melihat apa yang terjadi di dalam sana. Seseorang yang tidak begitu asing baginya tapi tidak juga dekat, dia seseorang yang selalu mengikuti kemanapun Agam pergi. Mau itu disekolah maupun ditempat tongkrongan atau acara yang Agam hadiri, bisa dibilang stalker profesional. Dan terlihat pula seorang gadis cantik yang juga dia kenal dengan memasang wajah bingungnya dengan kedatangan seseorang yang tak lain berniat membuat keributan dengannya.


Setelahnya dia menatap Agam sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum, sedangkan Agam hanya bersikap cuek.


"Ada apaan tu Raf?" Lio pun penasaran dengan apa yang terjadi dan Rafa membawa kedua sahabatnya untuk mendekat ke arah kerumunan itu.


"Dengerin aja sendiri, oke?" sambil menatap ke arah Agam dengan tersenyum penuh arti. Tanpa meminta penjelasan lebih, keduanyapun mengikuti perkataan Rafa.


"Ada hubungan apa lo sama Agam?" suara seseorang yang terdengar sangat kencang menggema seantero kelas hingga terdengar jelas kearah luar.


Ketiga orang itu mendengarkan keributan yang terjadi. Namun lucunya, seseorang yang menjadi lawan bicaranya terlihat kebingungan dengan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Tapi dia mampu menanggapinya dengan lebih tenang tanpa ikut tersulut emosi.


Namun Agam hanya memasang muka datarnya, sedangkan kedua sahabatnya tertawa dengan penuturan salah satu cewe yang mengatakan bahwa "Agam cuma boleh jadi milik gue." Hingga suara tertawa mereka terdengar oleh siswa lainnya dan sontak mereka terkejut melihat keberadaan ketiga orang tersebut.


Tanpa Lio dan Rafa sadari, Agam sudah tidak terlihat ditempat semula, dan keduanya pun berlari kecil untuk mengejar Agam yang tampak sudah semakin menjauh.


Keributan itupun selesai dan bel pertanda masukpun berbunyi. Yang awalnya didepan kelas penuh dengan kerumunan orang-orang kepo, kini satu-persatu merekapun kembali kekelas masing-masing.


Lio dan Rafa akhirnya sampai didepan kelas dan terlihat Agam sudah duduk dikursinya. Dengan mode jail kedua sahabatnya itu melakukan reka ulang kejadian barusan dengan Rafa yang menjadi Dira, dan Lio menjadi Ais. Dengan kalimat lejen menurut keduanya.


"Agam itu cuma boleh jadi milik gue!." keduanya tertawa terbahak-bahak hingga akhirnya mendapati tatapan tajam dari Agam.


"Wah tu cewe emang cocok kalau ikutan kesting jadi pemain antagonis. menjiwai banget." Lio masih asik membicarakan kejadian itu, tanpa perduli dengan tatapan Agam.

__ADS_1


"Eh lo tau gak Gam, itu cewe yang terus-terusan ngikutin elo. sampai dia juga tau tempat tongkrongan kita." sambung Rafa dan Lio mencoba mengingat-ingat.


"Oh iya bener, ih serem sih tu cewe. Lo kalau bisa jelasin Gam sama tu cewe kalau ada kesempatan. karena kalau nanti lo punya pasangan, bahaya. Nanti pasangan lo kena semprot ama dia. Untung aja tadi tu yang jadi rivalnya si cantik Aisyah. Mana jawabnya pake lembut banget lagi." Lio menjelaskan sambil tersenyum ketika di partnya Ais, hingga sentilan mendarat dijidatnya yang dilakulan oleh Agam. Entah kenapa dia mulai tertarik ketika mendengar nama Ais. Sementara Lio memegang jidatnya dan mengaduh sakit dengan Rafa yang tertawa diatas penderitaannya.


"Rasain lu." dengan Rafa yang masih tertawa girang melihat penderitaan sahabatnya, hingga tanpa dia sadari Agam pun berdiri mendekat, dan "plak" sentilan Agam juga mendarat dijidatnya.


"Udah, biar adil." dengan Agam kembali duduk dan tertawa melihat kedua sahabatnya. Sedangkan Lio dan Rafa sama-sama memegang jidat masing-masing.


Di tempat kejadian, suasana kelas sedikit suram. Karena teman-teman sekelasnya Ais terdengar berbisik-bisik tetangga dan memberikan tatapan sedikit tidak suka kepada Ais. Dita yang melihat itupun emosi dan menggebrak mejanya.


"plakk" suara geprakan meja.


"Lo pada lagi asik ngomongin apa? ngomongin sahabat gue? kalau berani sini loe satu-satu lawan gue! gue jabanin!." kesal Dita.


"kalo lo pada berani ngomong yanv enggak-enggak tentang sahabat gue, gue gunting satu-satu tu mulut, abis itu gue pajang depan kelas." Ais yang sedari tadi hanya diam kini meminta sahabatnya untuk tenang dan membawanya duduk, sebelum sahabatnya benar-benar berubah menjadi sikopat.


"udah, tenangin diri kamu Dita. Aku gak apa-apa kok, duduk dulu." Dita menuruti perkataan Ais. Ais pun menyodorkan minuman kepada Dita dan terlihat sahabatnya itu seperti seseorang yang baru saja kembali dari perjalanan ke gurun sahara tanpa membawa minuman.


Setelah Dita terlihat lebih tenang, Ais berdiri mencoba menenangkan teman-temannya akan keributan dikelasnya selang beberapa menit yang lalu.


"Teman-teman semua, Ais minta maaf kalau keributan tadi mengganggu kalian. Dan Ais juga mau bilang, kalau Ais enggak ada hubungan apa-apa sama kak Agam. kejadian dikantin itu benar cuma karena udah enggak ada tempat lain lagi." jelasnya dan satau persatu temannya meminta maaf pada Ais karena telah memperlakukannya seperti itu. Ais pun paham, karena rata-rata teman cewe dikelasnya sangat menyukai kak Agam. hingga mereka mempunyai grup chat 'fans club kak Agam' dan salah satunya adalah Dita.


Melihat satu persatu teman-temannya yang meminta maaf kepada Ais, Dita pun berdiri kembali.


"Eh lo pada, dengerin ni perkataan tuan putri Dian yang cantik tapi tangguh." itu adalah embel-embel yang selalu Dita sematkan pada dirinya.

__ADS_1


"Kalaupun kak Agam itu sukanya sama Ais, lo pada gak bisa ngelarang-ngelarang. punya hak apa lo pada sama perasaan seseorang. Harusnya lo pada bersyukur, kalau nantinya kak Agam itu malah sukanya sama orang sebaik dan secantik plus pintar kayak sahabat gue, Ais. Anggap aja nanti kita punya seorang Bunda yang baik nan solehah kayak Ais." Ais yang mendengar itu menatap bingung dan terlihat kesal kepada sahabatnya itu. Sedangkan teman-temannya ada yang mengangguk-ngangguk dan ada juga yang acuh tak acuh dengan perkataan Dian karena tak rela melepaskan sang idolanya untuk bersama orang lain.


"Eh teman-teman gue sekalian yang tersayang, emang lo mau kalau kak Agam malah sama kak Dira lampir itu?" teman-temanyapun menggeleng dan bergidik ngeri.


"Udah stop Dian dengan pidato anfaedah kamu tu. Enggak usah ngada-ngada deh kamu Dian. Udah duduk, bentar lagi guru dateng." Ais menarik Dian untuk duduk dengan sedikit keras karena ia kesal terhadap sahabatnya itu. Sementara teman-teman yang melihat itu tertawa karena ekpresi Dian yang seperti kena omelan sang ibu.


"Jangan ngambek dong, aku gitukan juga belain kamu." Melihat ekpresi wajah Ais yang cemberut.


"Itu bukan belain, tapi memperkeruh suasan." Ais memang agak kesal dengan perkataan Dian. karena Ais memang tidak ingin memiliki hubungan seperti pacaran.


"Iya deh maaf, tapikan Ais kalau emang kak Agam itu suka sama kamu gimana?" pertanyaan Dita mendapati pelototan dari Ais.


"Ey galak banget buk, santai macam dipantai dong buk." dengan wajah nyengir tanpa dosa.


Sedangkan Ais sungguh menatap Dita dengan kesalnya, sampai ia pun memilih untuk diam tanpa mengajak Dita berbicara lagi. Sedangkan Dita hanya nyengir tanpa dosa.


........


Untuk teman-teman yang sudah membaca ceritaku dan yang memberikan tanda like, Terimakasih.😊


Terus dukung cerita aku ya teman-teman, jangan lupa like dan komentnya. πŸ‘πŸ»πŸ’Œβ€β€β€πŸ˜


Dan juga kritik dan saran yang membangunnya ya ...πŸ˜‡


Happy reading🀍🀍🀍

__ADS_1


__ADS_2