Diamku, Untukmu

Diamku, Untukmu
Kelima


__ADS_3

Keesokan paginya, Ais bangun seperti biasa dan melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai iapun keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk membantu Bunda Sofi menyiapkan sarapan. Namun kali ini Bunda ingin menyiapkan sarapannya sendiri, dan meminta Ais bersiap saja untuk kesekolah.


"Udah ini biar bunda saja, kamu siap-siap untuk kesekolah gih, biar nggak terlambat. Nanti Bunda siapkan bekal sekalian untuk kamu sama Dita." seketika Ais langsung memeluk Bundanya.


"Makasih Bunda, makin sayang deh." mendengar itu Bunda Sofi mencubit gemas pipi putrinya. Setelah itu Ais berlalu meninggalkan dapur menuju kamarnya.


Agam berdiri di depan cermin kamarnya, melihat pantulan diri yang kini telah rapi dengan mengenakan seragam sekolah. Agam memandang lekat-lekat pantulan dirinya pada cermin dan tersenyum tipis.


"Mata orang-orang itu emang gak salah, gue emang dasarnya udah ganteng." dengan penuh kepercayaan dirinya.


Sampai terdengar ketukan pintu dari arah luar dan terdengar suara bik Siti asisten rumahtangga mereka yang memanggil untuk segera turun.


"Permisi den, den Agam sudah di tunggu Tuan dan Nyonya untuk sarapan." mendengar itu Agam mengambil tas dan kunci motornya.


"Iya bik, bentar lagi Agam turun." bik Siti pun kembali ke dapur setelah memanggil tuan mudanya.


Setelah mengenakan tas dan membawa kunci motornya, Agam segera turun dan ikut sarapan bersama keluarganya. Terlihat di ruang makan sudah ada Papi Faiz, Mami Dian juga kak Adam. Sesampainya di meja makan, makanan sudah Mami Dian siapkan untuknya. Suasana terasa sangat hening, tidak ada satu katapun yang terdengar dari mereka. Hingga akhirnya Agam membuka pembicaraan.


"Mi, hari ini Agam pulang telat ya. karena ada jam tambahan untuk membahas materi-materi ujian." Mami Dita tersenyum kepada putra bungsunya.


"Iya sayang, yang rajin belajarnya biar dapat nilai bagus nanti pas ujian." Adam hanya mengangguk. Sementara Papi Faiz hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.


Papi Faiz memang terlihat sangat membedakan kedua putranya. Adam selalu menjadi anak yang dimanjakan oleh Papinya, di bangga-banggakan prestasinya, dan dituruti kemauannya. sementara Agam hanya menerima perhatian seadanya dan tak jarang dibanding-bandingkan dengan sang kakak. Namun Agam tidak pernah mengeluh akan sikap Papinya. Dia tetap memperlakukan Papinya sebagaimana dia memperlakukan sang Mami yang sangat menyayanginya. Hingga Adam ikut angkat bicara dan suasana menjadi tegang.

__ADS_1


"Pi ada yang ingin Adam sampaikan." Papi menoleh kearah Adam dan membiarkan Adam melanjutkan ucapannya. Adam diam sejenak dan melanjutkan ucapannya kembali.


"Gini Pi, untuk masalah perusahaan sepertinya Adam gak bisa pegang karena Adam nggak tertarik sama sekali soal perusahaan. Gimana kalau Agam aja yang urus pi, Adam yakin Agam bisa diandalkan." Raut wajah Papi seketika berubah tidak suka, tangannya mengepal dan menatap tajam kearah Agam. hingga Papi menggeplak meja dan berlalu pergi.


"Nanti malam kita bicarakan lagi hal ini." dengan nada yang tegas, setelah itu Papi berlalu pergi dan di ikuti Mami Dian mencoba menenangkan.


Agam melihat kakaknya yang kini bermuka murung. Agam pun bingung harus bagaimana, tapi yang jelas nanti malam pasti dia akan dimarahi Papinya habis-habisan melihat tatapan Papi Faiz terhadap dirinya. Hingga dia pun memilih untuk beranjak dari kursinya dan bergegas untuk ke sekolah.


"Gue berangkat dulu kak." pamitnya sambil menepuk punggung Adam mencoba memberikan sedikit semangat.


Ais sudah siap akan pergi kesekolah dengan dua tempat bekal ditangannya. Sebelum pergi, seperti biasa ia berpamitan kepada Bundanya setelah itu pergi kesekolah dengan di antar oleh supir pribadinya.


Untuk sampai kesekolah, butuh waktu 20 menit dari rumah. Dan terlihat jalanan yanag cukup lenggang hingga terhindari oleh macet.


Kini mobil yang ditumpangi oleh Ais sudah terparkir didepan SMA Harapan Bangsa. Ais pun turun dan bergegas menuju kelasnya. Saat ia berjalan menuju kelas, ada beberapa pasang mata yang melihat kearahnya dengan pandangan tidak suka. Beberapa dari mereka adalah kakak tingkatnya. Namun Ais terus melanjutkan langkah kakinya hingga tepat didepan kelas 11 IPA 2.


"Ais, kamu tadi dipelototin sama anak-anak cewe ya diluar?" Ais mendengar itupun mengangguk dan terlihat sedikit bingung. Dita yang melihat ekpresi Ais pun tau kalau sahabatnya itu bingung kenapa bisa begitu.


"Iya, kok kamu tau Ta?" "Tapi kenapa ya, aku buat salah apa sama mereka?" dengan wajah yang bingung Ais mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, namun nihil. Dia tidak mengingat apapun.


"Udah gak usah dipikirin, lain kali kita buat mereka marah lagi. nanti aku cari tau gimana caranya ngajak kak Agam makan bareng kita lagi." penuturan Dita membuat Ais teringat akan kejadian dikantin, dan memang benar saat itu banyak mata yang melihat tidak suka kepada mereka berdua, hanya saja Ais belum menyadarinya kala itu.


"hmmm kamu sih, jadinya kita sekarang kemusuhan sama fans kak Agam." mendengar kata kemusuhan Dita pun tertawa dan menimpali dengan mode imut.

__ADS_1


"iya, sekarang kita kemusuhan sama mereka." hingga keduanyapun tertawa.


" Tapi ada-ada aja ya mereka. Jadi nanti jangan nyari gara-gara lagi kamu." Dita pun mengangguk mengerti dan melihat kearah kotak makan yang Ais letakkan di atas meja mereka. Ais yang menyadari hal itupun memberikan satu kotak makanannya pada Dita, dan terlihat Dita yang sangat kegirangan mendapatkan makanan gratis.


ketika kedua sahabat itu sedang asik menyantap makanannya, tiba-tiba masuk beberapa kakak tingkat dan menodongi mereka dengan beberapa pertanyaan. Hingga acara makan keduanyapun berhenti.


"Ada hubungan apa lo sama Agam?" pertanyaan itu ditujukan pada Ais dan yang menerimanya terlihat bingung. Hingga Ais menunjuk dirinya sendiri. Dita pun terlihat bingung dengan pertanyaan itu, karena seharusnya pertanyaan itu ditujukan kepada dirinya.


"Aku kak?" dengan raut wajah bingung Ais menunjuk dirinya.


"Iya, elo. siapa lagi." bentak kakak itu kepada Ais. sementara kedua sahabat itu saling bertatapan karena masih bingung.


"Ada hubungan apa lo sama Agam. kenapa dia bisa mandang lo kayak gitu?" ternyata kakak tingkat yang bernama Dira itu, terus melihat bahwa Agam terus melirik Ais dengan diam. hingga dia berpikiran bahwa Ais punya hubungan dengan Agam.


"Kak Agam mandang Ais, bukan gue?" seketika Dita kaget mendengar itu. Tapi dia malah senang dan itu membuat Dira dan teman-temannya kesal. Sementara Ais memukul pelan lengan sahabatnya itu.


"Jadi lo punya hubungan apa sama Agam?" tanya Dira sekali lagi dengan nada yang penuh penekanan.


"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama kak Agam, kejadian dikantin itu cuma gak sengaja aja kak. karena memang udah nggak ada kursi kosong lagi." jelas Ais yang kini masih ditatap tajam oleh Dira kakak tingkatnya.


"Bener lo gak ada hubungan apa-apa sama Agam?" Dira memastikan lagi dan di jawab anggukan oleh Ais. Melihat itupun Dira dan kedua temannya memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Namun sebelum itu dia mengingatkan kembali, bahwa Agam itu cuma boleh jadi milik dia.


"Awas lo kalau ketauan gue, loe dekat-dekat sama Agam. Agam cuma boleh jadi milik gue! ngerti?" dibalas anggukan lagi oleh Ais dan ketiganyapun pergi meninggalkan kelas mereka, dengan banyak siswa-siswi yang berkerumunan didepan kelas. Ingin memastikan apa yang terjadi.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ternyata disana ada Agam dan kedua sahabatnya yang memperhatikan sedari tadi.


.............


__ADS_2