Diamku, Untukmu

Diamku, Untukmu
Ketujuh


__ADS_3

Bel terakhirpun berbunyi, semua murid sibuk merapikan buku-bukunya bersiap untuk pulang. Salah satu guru yang saat itu berada dikelas 11 IPA 2 menggelengkan kepalanya, melihat kesibukan dari murid-muridnya.


"Kalian ini, kalau udah denger suara bel istirahat atau pulang udah kayak emak-emak rempong antrian gas. pengennya cepat aja." hingga mumbut para murid itu tertawa.


"Alah buk, belajar tu jangan pinter-pinter amat. nanti jadi kayak Rohit di film india. saking pintarnya dimanfaatin sama orang jahat." celoteh Dita dan ditertawai oleh teman-teman sekelasnya dan adapula yang ikut-ikutan membenarkan.


"Alah kamu itu, bilang aja malas belajar. Coba contoh teman kamu Aisyah itu, belajarnya rajin." seraya tersenyum kepada Ais dan Ais pun tersenyum menanggapi seraya menundukkan pandangannya karena sedikit malu akan pujian itu.


"Maka dari itu buk, saya temannya Ais aja bosen liat Ais belajar mulu, apalagi saya yang harus belajar. bisa botak ni buk kepala saya." balasnya lagi dan mendapati gelak tawa dari teman-temannya.


"Udah ah, kalau ngomong sama kamu Dita, gak akan selesai masalah ginian. Ibu akhiri sampai disisni, kita ketemu lagi di pertemuan berikutnya. ingat, jangan lupa pelajarannya diulang-ulang lagi. akhir kata assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." dijawab serempak oleh Dian dan teman-temannya.


Ais masih bersikap dingin terhadap Dita, dan ia memilih mendahului Dita dan menunggu sang supir di depan gerbang sekolah.


Tanpa Ais sadari, Dita sudah berdiri tepat disampingnya. "Ais mah kalau marah lama, maafin napa." dengan wajah sengaja dibuat seimut mungkin. Ais yang tadinya sedang memainkan ponselnya, kaget mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali. Ais melihat uluran tangan Dita, tanpa membalas perkataan Dita, Ais langsung menjabat tangan sahabatnya itu.


Setelah beberapa saat saling diam-diaman, terlihat tiga orang dengan mengendarai sepeda motor keluar dari gerbang sekolah. Salah satu dari mereka melihat kearah keduanya dan memberhentikan motornya tepat didepan Ais dan Dita. Kemudian dua orang lainnyapun mengikuti arah sahabatnya itu.


"Lagi nungguin jemputan ya?"


Rafa melihat keduanya yang sedang duduk dihalte bus depan sekolah.


"Eh kak Rafa, iya nih kak lagi nunggu jemputan." Dita pun melihat kearah Agam dan Lio. Tanpa berpikir panjang, Dita melambaikan tangannya kearah Agam dan Lio.


"Hai kak Agam." sapa Dita kepada Agam dan hanya di balas anggukan dengan wajah yang datar. sementara Ais melihat, seseorang yang juga sedang menunggu jemputan dari kursi ujung terus memperhatikan kami dengan tatapan penuh amarah.


"Kok cuma Agam yang disapa, gue enggak Ta?" protes Lio.

__ADS_1


"Iya deh maaf-maaf, abis kak Lio kayak gak keliatan. soalnya ketutupan sama pesonanya kak Agam." dengan senyum genitnya dan dihadiahi cubitan kecil dari Ais.


"jaga image Dita, jangan kegenitan." sementara Dita mengaduh karena cubitan dari Ais.


"Ih kamu nih ya, udah kayak mamah aku aja tau gak sih Ais. Bener-bener deh punya temen." dengan raut wajahnya yang kesal dan mendapati gelak tawa dari Rafa dan Lio. sementara Agam hanya tersenyum dibalik helm nya.


Tak lama setelah itu, supir yang menjemput Ais pun tiba.


"Ta supir kamu kok belum datang-datang juga? apa mau sekalian bareng aku aja?" Ais sedikit cemas, karena ia melihat seseorang yang sedari tadi terus menatap mereka dg penuh amarah masih berada di tempatnya.


"Gapapa, udah kamu pulang aja. nanti dicariin Bunda lagi." dengan mendorong Ais masuk kedalam mobil.


"Ais gak usah khawatir, biar kakak yang jaga samapai Dita di jemput." sambil memberikan kode kepada Ais, menunjukkan kearah seseorang yang mencurigakan itu. Dan Ais pun mengangguk mengerti, ternyata kak Rafa juga menyadarinya.


"Eh lo bedua kalau mau duluan, duluan aja. Ntar gue nyusul." Agam dan Lio mengangguk, dan Lio pun melajukan motornya.


"Duluan Raf, jagain tu anak orang baik-baik. jangan diapa-apain." setelah mengatakan itu Agam pun menyusul Lio. Rafa mengangguk mengerti.


"Halo pak, udah dimana pak?"


"Maaf non, mobilnya mogok. Jadi ini lagi dibengkel, perbaikannya agak lama ni non. Kalau nunggu, nanti kesorean baru bisa sampai rumah." terdengar suara dari sebrang telepon.


"Ya udah gapapa pak, Dita cari taksi aja kalau gitu." Dita mengakhiri panggilan teleponnya.


"Kenapa Ta?" Dita tengah membuka aplikasi untuk memesan kendaraan. Dan Rafa melihat itu.


"Mau gue anterin sekalian gak, dari pada ribet cari-cari taksi lagi." tawarnya.


"Emang kakak mau kearah mana?" Dita mencoba untul berbasa-basi.

__ADS_1


"Udah naik aja, gue anter depan rumah dengan selamat." Dita tersenyum dan akhirnya Dita pulang dengan diantar oleh Rafa.


Entah bagaimana mereka bisa sedekat ini, padahal seberapapun banyak siswi yang lain mau deketin atau mau jadi teman mereka, ketiga orang itu pasti selalu berusaha jaga jarak. Tapi dengan Ais dan Dita.... sepertinya sedikit berbeda. Padahal cuma berawal dari teman duduk makan, dan itupun karena udah gak ada tempat lagi.


Disepanjang perjalanan menuju rumah, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Dita memecahkan kesunyian.


"Kak Rafa?" mendengar itu Rafa teralihkan dari sibuk pikirannya yang kini bercampur aduk.


"Iya, kenapa Ta?" Dita cukup lama terdiam hingga Rafa bertanya kembali.


"Ada apa Dita?" seketika lamunannya buyar.


"Oh itu, hmmm.... jangan bilang-bilang sama Ais kalau kakak nganterin Dita pulang ya?" dengan sedikit gugup.


"Emangnya kenapa Ta, Ais gak boleh tau?" Rafa cukup heran dengan penuturan Dita, apa mungkin Ais suka sama dia pikirnya kejauhan.


"Iya kak, Ais gak boleh tau. Karena kalau tau bisa kena omel 7 hari berturut-turut sama dia." jelas Dita yang mendapati tawa dari Rafa.


"Kok bisa gitu? emang Ais bisa marah?" Rafa mencoba lebih mengorek-ngorek tentang Ais untuk sahabatnya.


"Yaelah kak, Ais mah kalau marah lama. Kalau ngomong mah enak yak, jadi kita tau salah kita dimana. Lah ini dia diam seribu bahasa kak." jelas Dita kembali.


"Lah tadi katanya takut diomelin sama Ais, tapi dia marahnya diam. gimana maksudnya?" Rafa sedikit kebingungan.


"Lah ini beda kak, kalau samapai dia tau kalau gue dianterin sama kakak, berabe dah. Kayak diputuskan harus kena hukuman gantung. Pasti nanti diceramahin layaknya ustadzah. jangan berdua-duaan, ketiganya setan. Jagan pacaran-pacaran, pacaran itu mendekati zina. Uh pokonya panjang lagi kak." jelas Dita dengan panjang lebar dan Rafa tertawa mendengar itu.


"Lah cocok banget sama temen gue si Agam. Sama tu bedua."


"Yah jangan-jangan mereka jodoh." keduanyapun tertawa dengan obrolan mereka, hingga akhirnya merekapun sampai didepan rumah Dita.

__ADS_1


"Makasih kak udah mau nganterin, maaf juga ngerepotin." Dita tersenyum pada Rafa


"Gak ngerepotin kok, dari sini deket sama kafe tempat tongkrongan gue sama Agam dan Lio. Oh iya, makasih ya ceritanya. menghibur banget. Gue balik dulu." Dita mengangguk seraya tersenyum. Rafa pun melajukan motornya dengan Dita yang melambaikan tangannya.


__ADS_2