
sudah 3 bulan aku tidak bekerja hanya mengandalkan mas Ardi untuk kebutuhan sehari-hari.
"mas hari ini aku ngga masak sebab uangnya sudah habis"
"masa sih udah habis aja, mas gajian kan masih 2 hari lagi"
"ya gimana lagi mas memang sudah habis mau gimana lagi"
"ya sudah nih, mas cuma punya uang segini semoga cukup" jawab mas Ardi sambil menyerah kan uang selembar warna merah
mas Ardi memberikan 400 ribu untuk satu minggu, itupun untuk semua kebutuhan. kadang juga ibu datang meminta masakan yang sudah matang. dulu waktu aku masih kerja bisa cukup uang yang diberikan mas Ardi sebab kalo kurang menggunakan uang gajian ku.
setiap ibu datang ke rumah selalu bilang aku hanya benalu dikehidupan mas Ardi, aku masih sabar menghadapinya.
keesokan harinya ibu datang setelah mas Ardi berangkat kerja.
tok.. tok..
"marni buka pintunya cepat"
aku membuka pintu depan.
"ada apa bu mas Ardi baru saja berangkat kerja" ucapku
"ngapain kamu pagi-pagi pasti tidur kan, enak banget ya Ardi kerja kamu dirumah cuma tidur"
"ngga bu tadi aku lagi membereskan kamar"
__ADS_1
"halah alesan aja kamu, bilang aja lagi tidur. ngga baik lagi hamil kebanyakan tidur"
"ibu ada apa kesini" tanya ku lagi
"kamu masak apa" tanya ibu tegas
belum sempat aku menjawab ibu sudah masuk kedapur.
"kamu cuma masak ini aja Mar"
"ya bu uangnya juga sudah habis" jawabku
"makanya jangan boros jadi istri, dikasih berapa aja cepat habis"
"ya kan sekarang apa-apa mahal bu"
"bu marni ini bukan beban mas Ardi tapi marni ini sudah tanggung jawab mas Ardi"
"sudah ngga usah banyak ngomong kamu, ibu mau ini sayuran dan lauk. ibu hari ini malas masak"
"tapi bu ini kan cara sedikit nanti kalo diminta ibu aku sama mas Ardi makan apa"
"ya kamu masak lagi lah, lagian kamu masaknya ko ya sedikit banget"
"sudah cepetan bungkus semuanyasemuanya" sambung ibu
akhirnya daripada ribut ngga enak didengar tetangga aku bungkus semua sayur dan lauknya. ibu pulang setelah menerima bungkusan, tanpa pamit atauTerima kasih ibu langsung pergi.
__ADS_1
itulah ibu sering datang untuk meminta, dengan alasan malas masak. uang dari jatah mas Ardi ngga tau digunakan untuk apa.
tak terasa sudah 9 bulan kehamilan ku, hari ini dari pagi perutku rasanya sudah ngga karuan. Mas Ardi tidak bekerja karena menemani aku dirumah sakit.
"sabar ya sayang istighfar" mas Ardi terus menyemangati aku agar tidak putus asa.
sudah berapa jam perutku merasakan kontraksi, ibu datang bukannya menghibur ku tapi malah sebaliknya
"ngga usah cengeng, nanti juga keluar itu bayi"
kubiarkan uhu mengomel, karena makin lama kontraksi ku semakin sering mas Ardi memanggil dokter sebab ketuban sudah pecah.
"dok itu istri saya ketuban nya sudah pecah"
dokter pun buru-buru masuk ruang bersalin dan memeriksa keadaan ku.
"ya ini sudah pembukaan lengkap ya bu nanti kalo pengen ngeden, ya ibu ngeden saja itu bayi sudah minta keluar"
aku ngeden sampai 3 kali tapi bayiku belum keluar, terakhir ngeden dengan kuat terdengar suara bayi menangis.
"alhamdulillah anak ibu sudah keluar dengan jeni kelamin perempuan" ucap dokter
"alhamdulillah mas anak kita sudah lahir"
"ya Mar anak kita sudah keluar, cantik kayak kamu" jawab mas Ardi senang
setelah aku dan bayiku dibersihkan, aku dipindahkan ke ruang inap dan bayiku dbawa ke ruangan bayi.
__ADS_1