
hari menjelang sore saatnya para karyawan kantor pulang, begitu pun Ardi. dengan wajah kusut Ardi pulang menuju rumah dimana anak dan istrinya tinggal. motor pun sudah memasuki pekarangan rumah dan berhenti tepat dihalaman.
seperti biasa tanpa mengucap salam mas Ardi masuk langsung menuju dapur dan membuka tutup saji, tapi disana kosong tidak ada makanan apapun.
"mar kamu ngga masak lagi, aku lapar banget dari tadi pagi belum makan".keluhnya
" ngga mas kan sudah aku bilang dari kemarin kalo kamu ngga ngasih uang belanja aku ngga akan masak apa pun ".
" kamu kok uang uang terus yang dibahas sih Mar, aku lapar pengin makan bukan mau mendengar ocehanmu".
"ya sudah kamu kasih yang nanti aku masak mas, gampang kan"
"gampang dikamu ngga gampang di aku Mar, mending aku kerumah ibu aja makan disana".
" terserah kamu lah mas"
akhirnya mas Ardi pergi mengendarai motor kerumah ibunya.
pov Ardi
aku ardian prasetyo umur 26 tahun anak pertama dari 2 bersaudara, aku mempunyai adik perempuan yang masih sekolah. ibuku seorang janda bapakku meninggal 3tahun yang lalu, walaupun bapak meninggalkan pensiunan tapi aku masih tanggungjawab menafkahi ibu dan adikku. apapun yang ibu minta selalu ku turuti.
aku sudah menikah dengan marni tetangga desa dan sekarang sudah mempunyai anak 1bernama Nanda.
aku sekarang bekerja jadi karyawan tetap di sebuah perusahaan ternama, gajinya juga lumayan. tapi aku memberikan uang belanja marni cuma 200 ribu selama seminggu, dulu marni tidak komplen diberi berapa saja. tapi ngga tau kenapa sekarang marni senang sekali berdebat dan menuntut uang belanja, seperti saat ini aku libur tidak memberi uang belanja dan marni ngga masak.
akhirnya aku pergi ke rumah ibu untuk minta makan. aku nyelonong masuk rumah dan langsung menuju kedapur.
__ADS_1
"bu masak apa"
"ada ayam kecap sama capcay tuh, masih kayaknya. emang istrimu ngga masak lagi di? " tanya ibu setelah duduk bersebelahan dengan ku
"ya seperti itulah bu, pusing aku dibuatnya yang dibahas cuma uang".jawabku
" huh emang bener-bener itu istrimu, tadi pagi juga aku minta uang buat bayar arisan nga dikasih ada aja alesannya".
"ih ya tadi pagi juga dia nantangin kamu katanya suruh nyerein, kamu juga disuruh balik lagi sama wati aneh ngga sih istrimu". sambung ibuku
" dah lah bu biarin aja, pusing kalo dibahas terus".
"mang kamu ngga ada niatan gitu balikan sama wati, dia udah kaya loh sekarang".
" sekarang kayaknya ngga bu, kalo nanti aku ngga tau".
"dah kenyang aku kau pulang dulu ya bu". sambung ku
" kepengin sih bu tapi kan uangnya ngga ada yang buat beli mobilnya "
"lah jaman sekarang kan ada kredit ngapain bingung sih".
" oh ya nanti tak pikiran bu, aku mau pulang dulu belum mandi rasanya gerah banget ".
aku mampir ke warung dulu beli rokok, rasanya ngga enak banget habis makan tapi ngga ngrokok.
" bu beli rokoknya 1 bungkus ya".
__ADS_1
"ya mas sebentar".ucap Ibu penjaga warung
" eh ini mas Ardi ya, apa kabar". sapa wati mantanku
"ya ini wati kan, kabarku ya kayak gini sudah kerja dikantoran". ucapku sombong
kuakui wati sekarang lebih cantik dan seksi, beda dengan dulu yang agak berisi.
" oh ya mas dari mana apa baru pulang kantor".
"tadi dari rumah ibu dulu setelah dari kantor".
" ini mas rokoknya ". ucap sang penjual
" ya maksih bu ini uangnya".
"eh mas tadi aku minta nomer hpnya boleh ngga buat nambah kontak". ucap wati dengan genitnya
" oh ya ini nomernya 12345,sudah kan".
"ok mas aku duluan ya"
"ya hati-hati dijalan nanti kalo sudah sampai kasih kabar".
wati menanggapi dengan mengarahkan jempol pertanda ok.
aku menyalakan sepeda motor menuju rumah, karena badanku sudah lengket banget pengin mandi dan juga mataku ngantuk.
__ADS_1
nyampe rumah aku masuk kamar untuk mengambil handuk, kulihat marni dan Nanda sudah terlelap. aku bergegas mandi sebab hari sudah semakin malam jadi hawanya dingin.
sebenarnya sudah lama aku tidak memberikan nafkah batin ke marni istriku, bukan apa-apa cuma aku malas lihat badannya yang makin ngga terawat. beda dengan wati yang seksi, aku jadi membayangkan seandainya wati istriku.