Dibalik Suami Pelit

Dibalik Suami Pelit
uang arisan


__ADS_3

bukannya aku mau perhitungan, tapi sudah berulang kali bukan cuma sekali dia kali. yang katanya mau diganti nanti kalo gajian, tapi nyatanya sampai sekarang zonk. justru uang belanja maju kesini bukannya bertambah malah semakin berkurang.


ibu mertua ku bukannya mengajari hal baik, yang ada malah sama saja. seolah aku dan Nanda adalah orang lain yang menjadi beban bagi mas Ardi.


keesokan harinya aku tetap bangun pagi, setelah sholat subuh aku mencuci baju. tapi yang ku cuci cuma punyaku dan Nanda saja, sedangkan punya mas Ardi kubiarkan di ember tempat baju kotor.


mas Ardi pun tidak kubangukan biarkan saja. saat jam sudah menunjukkan pukul 7,mas Ardi bangun dengan wajah emosi.


"marni kenapa kamu ngga bangunin mas ha... bisa telat aku. " sambil mengacak rambut frustasi


"emang kenapa mas masalah kalo aku ngga bangunin kamu"


"ya lah masalah aku bangun kesiangan mau kekantor jadi telat".


" loh bukannya ngomel-ngomel malah jadi tambah telat ya mas".


"aaa arrrggghhh kamu". mas Ardi menunjuk sambil menahan amarah


mas Ardi berlari kekamar mandi dengan cepat karena jam sudah menunjukkan pukul 07.30.biasanya sudah kusiapkan pakaian kantor dan sarapan tapi sekarang sangat luar biasa jadi kubiarkan mas Ardi mencari sendiri.


" Mar mana baju kerjaku".


"ambil sendiri mas, masih punya tangan kan?".


" terus gunanya kamu buat apa disini Mar".


aku terus terdiam biarin saja mas Ardi ngomel-ngomel kayak radio butut, nanti juga berhenti sendiri.


"Mar sekarang mana sarapan ku, kamu ngga masak lagi".

__ADS_1


" mas kamu lupa kita sudah bahas ini tadi malam, kalo kamu ngga memberikan uang belanja aku ngga akan pernah masak".


"aaa arrrggghhh kamu buat mood aku hancur pagi-pagi Mar".


" terserah kamu mas mau mood hancur atau ngga bukan urusanku ".


setelah sekian lama berdebat pagi akhirnya mas Ardi berangkat kerja tanpa sarapan ataupun minum kopi. kudengar suara motor mas Ardi menjauh, aku pun keluar sekedar beli sarapan untukku dan Nanda. kalo mas Ardi ngga perhitungan dan pelit mungkin aku ngga akan seperti ini. gegas aku membeli nasi uduk sebelum Nanda bangun.


"Nanda ayo bangun sudah siang, kita sarapan dulu tapi sebelum makan Nanda mandi dulu ya? ".


" ya ma"


setelah acara mandi dan makan seperti biasa aku menemani Nanda bermain sambil aku menulis, lumayan walaupun hanya dapat menyelesaikan 2 bab. sebab terdengar pintu diketuk, siapa lagi kalo bukan ibu mertua.


"Mar.. marni buka pintunya dah siang ngerem bae dikamar".


"hei ini bukan rumah orang lain ya, ini rumah Ardi anakku".


" hadeh masih saja mengaku yang bukan miliknya ".


" apa kamu bilang Mar".


"ngga bu ngga papa, ibu kemari ada tujuan apa? ".


"oh ya sampai lupa ibu kemari mau minta uang, tadi dah ngomong sama Ardi katanya disuruh minta sama kamu".


" loh loh bu kok minta ke marni sih bu".


"ya katanya Ardi lagi ngga ada uang makanya disuruh minta sama kamu, dah cepet ambilin uangnya ibu mau langsung pergi arisan".

__ADS_1


" ngga ada uang bu aku juga mau belanja udah ngga ada uangnya".


"ngga usah pelit-pelit Mar wong minta cuma 1 juta aja kok ngga ada ya ngga mungkin kamu".


" beneran bu marni ngga ada yang, buat belanja juga ngga ada makannya marni ngga masak"


"pelit banget kamu bener-bener pelit, kok ya bisa-bisanya Ardi yang royal bisa dapat istri yang pelit kayak kamu sih".


" mending dulu sama si wati saja ngga pelit kayak kamu Mar, apa yang ibu minta pasti dituruti" sambung ibu mertuaku


"ya udah bu suruh mas Ardi balik lagi aja sama wati, biar apa yang ibu mau langsung dikasih ngga kaya marni".


" oh kamu nantangin Mar, nanti kalo beneran Ardi balik lagi sama wati kamu nangis-nangis".


"ngga mungkin bu, kau dah cape hidup begini".


" apa maksudmu cape ha, maksudmu kamu minta cerai gitu? ".


" ya kalo itu lebih baik kenapa ngga bu".


"ok nanti ibu tak ngomong sama Ardi supaya nyerein kamu biar kamu nangis-nangis karena ditinggal".


" ngga akan bu, sudahkan bu mending ibu pulang aku ngga akan kasih uang sepeser pun".


"dasar emang kamu menantu pelit, nanti biar ibu adukan saja ke Ardi biar kamu dimarahi".


" sok aja lah bu aku ngga takut"


setelah kepergian ibu aku menutup pintu dengan keras sampai rumah bergetar, rasanya sesak didada dengan kelakuan ibu mertua dan suamiku

__ADS_1


__ADS_2