
Leysa Meysixta Elfonea, namaku lucu ya. Aku lahir bulan Mei tanggal enam, dari seorang papa yang ganteng Pradana Elfonea dan seorang mami yang cantik and ajaib Andini Farida. Ajaib karena mamiku nggak seperti mami yang lain, dia bukan hanya mamiku tapi juga sahabatku dan juga partner in crime ku.
Rania Dewi Putri dan Roni Bagus Jumantono, dua orang sahabatku dari aku kelas 7 sampai saat ini. Mereka berdua adalah orang terbaik dalam hidupku karena kita bersama hampir dalam segala hal.
Rania anak yang lucu, manja dan centil tapi rasa solidaritas nya yang tinggi terhadap aku dan Roni membuat kami berdua sayang sekali padanya, meskipun kami kadang khawatir dengan polah tingkah nya yang selalu nggak pernah dipikirkan resikonya
Roni, dia adalah seorang teman yang luar biasa, badannya tinggi besar dan sikap melindunginya membuat aku dan Rania merasa, Roni adalah guardian angel nya kami berdua. Roni sangat galak pada kami berdua apalagi jika menyangkut keselamatan wah bisa kalah emak emak sama dia kalo sudah ngomel.
Mami Dini, mamaku adalah sahabatnya mama Roni, Tante Lisa dan juga mama Rania, Tante Bela. Nah lengkap kan penjelasan ku kenapa kami bertiga bisa bersahabat erat ibarat keluarga. Yah karena mama mama kami juga bersahabat baik.
Pagi ini huru hara sudah mulai terdengar dari sebuah rumah yang nggak bisa dibilang sederhana. Rumah bertingkat dengan aksen sentuhan modern dilengkapi dengan jajaran mobil yang tidak juga tidak bisa dibilang milik jamaah seakan berisi banyak orang dengan teriakan melengking.
"Leysaaaaaa........ cepetan nanti kamu terlambat sekolah lho, aduh kamu ini cewek tapi kok susah ya dikasih tahu, mami bisa kurus kering deh setiap hari ngomelin kamu, kamu tahu nggak kalo mami kurus kan mami jadi enggak seksi", Mami Dini mulai kuliah subuh.
"Mami ih nggak usah teriak teriak juga mami mah nggak bisa dibilang gendut lagi", kata papa Dana menyela.
"Ih jadi papa ngatain mami kurus kering yah, nggak suka ah mami, papa kok gitu sih, papa udah nggak sayang ya sama mami", mulai mami Dini jadi penyerang.
Papa Dana mulai menepok jidatnya seakan menyesal sudah mengobarkan bendera perang sama mami. Papa sadar udah salah kalimat yang keluar dari mulutnya dan penyesalan tinggallah kenangan karena saat ini yang diperlukan adalah bagaimana meredam kompor yang menyala ... wkwkwkwk 😂😂 ,"Aduh salah ngomong aku", gerutu papa Dana.
Aku yang sudah ada di depan papa melihat wajah papa yang sangat lucu itu hanya mampu berkata," yang sabar ya Pa, ini pasti panjang urusannya, semangat Leysa pergi dulu ya".
"Kan kamu yang bikin masalah kenapa kok jadi papa terdakwanya ya Key?", tanya papa dengan muka mengiba meredam seribu pertanyaan yang ada.
Dan benar selesai aku pamit pada mami dan papa kemudian yang kudengar adalah mami panjang lebar meneruskan kuliah subuh barusan kepada papa. Sebenernya aku nggak tega juga lihat papa yang udah pengen mengibarkan bendera putih. Cuma kalo aku jadi sekutunya papa, aku khawatir ransumku seminggu akan menjadi tidak aman karena sekali menteri keuangan ngambek bakal kacau balau hidupku karena penyandang dana pasti akan memblokade kucuran dana untuk ku.
Papa Dana adalah pemilik beberapa hotel di kota ini. Kebetulan memang aku adalah putri satu satunya di keluarga ini. Papa Dana dan Mami Dini nggak pernah memanjakan aku dengan harta yang mereka miliki, bahkan aku dari kelas X harus belajar ikut kerja di salah satu hotel papaku untuk mendapatkan uang jajanku. Mereka tidak jahat, justru mereka memberikan ilmu untuk masa depanku nanti. Tanpa aku sadari bahkan aku merasa uang hasil jerih payahku menjadi sangat berharga bagiku, jadi aku sendiri amat sangat sayang kalo harus menghambur hamburkan uangku.
Pagi ini di sekolah.
"Leysa, cepetan sini, ayo kita udah mo telat upacara nih", Rania menarik tangan ku menuju lapangan sambil berlari. Memang hari ini aku terlambat datang ke sekolah dan ternyata Rania juga.
Rania menarikku agak kencang sehingga bruuuuuk ,"aduh Rania aw....aw.....aw", kataku berteriak karena kakiku bersentuhan dengan meja.
__ADS_1
Tapi karena memang sudah mau terlambat maka aku tidak menghiraukan kakiku saat ini.
Saat upacara bendera sedang berlangsung, aku baru menyadari kalo kakiku rasanya nyut nyut-nyutan. Pasti ini akibat tadi ketabrak meja di kelas. "Lap dulu darah di kaki kamu", seseorang tiba tiba berdiri di sebelah barisanku dan memberikan saputangan berwarna biru tua kepadaku.
Aku nggak sadar ternyata kakiku berdarah tepat diatas lutut. "Nanti selesai upacara kamu ke UKS ya, obatin dulu kakimu", katanya kemudian pergi meninggalkan barisanku. Aku sendiri sambil bengong bertanya dalam hati, siapa dia ya. Perasaan aku belum pernah ketemu dengannya. Kaki aku kayaknya serius luka soalnya darah yang mengalir cukup banyak hingga saputangan ini berubah warna.
Selesai upacara aku langsung ke UKS dan tiba tiba,"Sini masuk obatin dulu kakimu", kata cowok tadi yang memberiku saputangan.
"Lani, boleh tolong bantuin dia ngobatin kakinya nggak", teriaknya pada teman perempuan nya. Lukaku memang ada di daerah atas dekat paha jadi mungkin dia juga nggak enak mau membantuku.
Kak Lani membantuku mengobati lukaku dan membalutnya. Dari kak Lani aku tahu kalo yang memberikan ku saputangan ini adalah kak Ricky Rahardi Putra, ketua PMR kelas XII IPA-1.
"Kak Ricky, aku Leysa, makasih ya kak atas bantuannya, ini saputangan kakak aku cuci dulu soalnya banyak darahnya", kataku sambil berterima kasih.
"Leysa bisa jalan itu ? Kamu kelas berapa Leysa ?", tanya kak Ricky.
"XI IPA 2 udah nggak papa kak, bisa kok pelan pelan, makasih ya Kak", kataku.
Setelah hari itu, kemarin aku temui kak Ricky untuk mengembalikan saputangan miliknya. Beberapa kali aku melihat kak Ricky dan sejak hari aku mengenalnya sepertinya aku merasa tertarik padanya. Kak Ricky yang aku dengar pinter berorganisasi dan pandai membawa diri. Entahlah aku sendiri memang sudah tahu dia agak lama cuma memang aku nggak pernah berkomunikasi dengannya. Tapi sekarang aku mulai mencari tahu siapa kak Ricky.
"Ley, itu kaki kamu nggak akan kenapa napa ya....udah deh jangan sok iye pakai basket ntar nggak bisa jalan nah tahu rasa kamu", kata Rania.
"Astagfirullah Raniaaaaaa......aduh nyumpahin orang nggak kira kira, dasar sahabat enggak punya hati", kataku menimpali omongan Rania.
"Roooon, itu bilangin si Leysa, bandel banget itu anak dibilangin nggak bisa", Rania mengadu pada Roni.
Roni cuma mengangkat kedua bahunya menyatakan menyerah kalo sudah berhubungan dengan si kepala batu Leysa.
Pertandingan hampir selesai dan jelas Leysa mendominasi pertandingan, tiba tiba Roni berteriak," Leysaaaaa.........".
Roni bergegas menuju tengah lapangan dan menggendong Leysa yang sudah tidak bisa berdiri karena dia terjatuh dan ditimpa dua orang temannya. Kaki Leysa bekas luka kemarin sudah mengeluarkan darah kembali. Roni segera lari membawa Leysa ke UKS diikuti oleh Rania.
"Kak tolong Leysa kak", Rania masuk ke UKS dan kebetulan disitu ada kak Ricky yang sedang memeriksa beberapa form di UKS.
__ADS_1
"Kenapa ini.....lho kamu lagi Leysa, .....ini kaki kamu yang kemarin luka berdarah lagi Ley, kok bisa sih?", tanya kak Ricky.
"Dasar stone head kak, main basket eh malah nyobain empuknya tiduran di lapangan nah terus ditimpa sama dua orang yang agak berisi", kata Roni menjelaskan sambil mengolok olok.
" Eh nama kamu siapa .....tetep disini ya?", tanya kak Ricky.
"Aku Rania kak, okaaay....ini kaki Leysa mau kakak amputasi ya, aku pegangin deh kak", kata Rania ngomong nggak pakai saringan.
"Astagfirullah Raniaaaaa, sahabat nggak ada akhlaknya", kataku sambil melempar selimut ke sahabatku yang kayak ember bocor kalo ngomong.
"Udah ih sakit kok masih galak, maaf ya Ley, nggak papa ya kakak yang obatin", kata kak Ricky meminta ijin karena memang lukaku ada di dekat paha. Aku mengangguk setuju dan akhirnya teriakanku langsung menggema ketika lukaku mulai dibersihkan kak Ricky.
"Ley, cewek apa cowok bayinya?, jangan kenceng kenceng ngedennya Ley", Roni kembali menyembulkan kepalanya di pintu UKS sambil meledekku.
"Astagfirullahaladziim kok bisa aku punya dua sahabat yang ngeselin kayak gini ya .....Ya Allah, salah apa aku?",kataku menggerutu. "Kak, pelan kak please sakit banget ini", kataku mulai merecoki tangan kak Ricky yang sedang mengobati lukaku.
"Diem napa Ley, udah kayak bayi aja, terusin kak, iket yang kenceng biar tambah teriak dia", kata Rania dengan sadisnya seperti dendam padaku.
Kak Ricky cuma tersenyum aja dan meneruskan balutan perbannya, sambil sesekali menyingkirkan tanganku yang mengganggu pekerjaannya. Dengan senangnya Rania langsung menahan tanganku kebelakang sehingga aku nggak bisa lagi bergerak.
Selesai aku diobati kemudian Rania pamit untuk mengambil tas dan buku-buku di kelas. Sekalian meminta ijin agar aku bisa pulang duluan.
"Leysa, luka kamu lumayan, jangan banyak bergerak dulu ya terus jangan kena air dulu. Kamu gantiin perbannya setiap hari jangan lupa kasih betadine aja", kata kak Ricky
"Iya kak, terimakasih ya kakak udah ngobatin kakiku", kataku
Kak Ricky mengangguk dan kemudian tidak berapa lama Rania kembali dengan membawa tas dan barangku dari kelas. Setelah itu aku pun pamit pada kak Ricky untuk pulang.
"Leysa pulang naik apa ?", tanya kak Ricky
"Mau aq pesenin ojek online aja kak, soalnya Roni ada latihan band nggak bisa nganterin", Rania menjawab pertanyaan kak Ricky.
"Ya udah kamu pulangnya aku anter aja, tunggu di depan, aku ambil motor dulu", kata kak Ricky
__ADS_1
Aku berusaha menolak niat baik kak Ricky tapi Rania malah menyetujui usul kak Ricky sehingga aku nggak bisa menghindar lagi. Akhirnya aku tetap diantar pulang oleh kak Ricky.