DILEMA HATI LEYSA

DILEMA HATI LEYSA
EPISODE ENAM


__ADS_3

Hari ini aku sangat sibuk sekali karena acara perpisahan sekolah dilaksanakan kurang dari tiga hari lagi.


Badanku bener bener capek karena ternyata banyak sekali yang harus dibereskan untuk acara ini.


"Ley, pulang yuk, udah beres belum?....kamu kok pucet gitu sih", tanya Rania padaku


"Iya Ran, kok rasanya badanku capek banget, hayuklah kita pulang dulu takut ambruk aku", jawabku pada Rania.


Sampai di rumah aku langsung membaringkan diriku di ranjang. Selimut yang biasanya tak pernah aku sentuh, hari ini aku sayang sayang karena aku butuh banget. Rasanya badanku kok kedinginan padahal panas matahari cukup mencorong hari ini.


Perutku rasanya kok sakit banget ya. Fix ini maagku kambuh soalnya tadi aku telat makan. Tiba tiba handphone ku berbunyi.


"Assalamualaikum", kak Vanno berkata


"Wa'alaikumsalam kak", kataku


"Leysa, apa kabar?, kayaknya lama ya kita nggak ketemu", kata Kak Vanno


"Ba....ik Kak, ii...ya kak....sssssttt",jawabku sambil terbata bata sambil menahan rasa sakit di perutku.


"Leysa kamu kenapa, kok sepertinya kamu sakit, kamu dimana ?.....apa mamimu ada Ley?", tanya kak Vanno khawatir.


"Di ru...mah kak, mami be....lum pulang, iya Leysa enggak enak badan kak.... sssssttt, kak udah dulu ya", jawabku sambil menutup telpon karena perutku sakitnya nggak tertahan.


Aku langsung teriak memanggil bibi untuk membantuku. Bibi masuk ke kamar ku dengan panik karena melihatku mengerang kesakitan. Bibi kemudian mencoba menelpon mami, tapi mami nggak bisa dihubungi.


"Ya Allah non Leysa, ini gimana ya?", bibi sudah sangat panik sambil mengoleskan minyak angin ke perutku dan mengambil kain washlap untuk mengompres dahiku.


POV Dokter Vanno


Vanno terlihat kebingungan karena Leysa menutup telpon sambil seperti menahan sakit. Dari suaranya terdengar sangat kesakitan. Vanno langsung menyambar tas peralatannya dan langsung menuju rumah Leysa. Perasaannya tidak enak, memikirkan keadaaan Leysa.


Dokter Vanno sampai rumah Leysa.


Ting tong


Ting tong......


bel berbunyi di rumah Leysa dan dengan segera bibi membuka pintu depan.


"Assalamualaikum bi, Leysa mana Bi ?", tanya Vanno tergesa gesa.


"Wa'alaikumsalam Mas Vanno, kebetulan Mas, ayo mas tolong non Leysa kesakitan", bibi tanpa sadar langsung menggandeng tangan Vanno untuk segera ke kamar Leysa.

__ADS_1


Leysa dikamar sudah menangis sambil berguling guling menahan rasa sakit di perutnya. Keringat sudah mengucur deras dari dahinya sedangkan tangan dan kakinya sudah dingin.


Vanno yang langsung masuk ke kamar Leysa ditemani bibi sangat terkejut dengan kondisi Leysa.


Vanno mendekati Leysa dan langsung menahan badan Leysa untuk ditidurkan kembali ke posisinya.


"Ya Allah Leysa, badanmu panas sekali, maaf ya Ley, kakak ijin periksa kamu ya?", ijin kak Vanno sambil membuka sedikit baju Leysa untuk segera memeriksanya.


Leysa hanya mengangguk tanpa membuka matanya, Leysa terlihat sangat kesakitan hingga sangat lemas.


Vanno memeriksa ulu hati Leysa dengan sedikit menekannya.


"Aaaaaw sakit Kak", Leysa berteriak


"Leysa, kakak mau infus Leysa ya, soalnya badan Leysa lemah sekali dan obat obatan lebih cepat masuk melalui injeksi, mau ya", kata kak Vanno.


"Enggak mau kak, Leysa takut jarum", kata Leysa malah menangis.


Leysa memang dari kecil sangat takut jarum suntik, bahkan kalo ada vaksinasi di sekolah selalu saja dia kabur, walaupun pada akhirnya tetap disuntik juga dengan penjagaan mamanya.


Vanno yang tidak bisa memberikan tindakan tanpa persetujuan pasien atau keluarga nya mengambil jalan menelpon mamanya Leysa dan menceritakan kondisi Leysa. Mami Leysa langsung menyetujui tindakan yang mau Vanno lakukan cuma ternyata posisi mami Leysa di luar kota, sehingga butuh waktu untuk sampai ke rumah.


"Udah nak Vanno paksa saja Leysa, kalo perlu suruh bibi pegangin biar nggak berontak", jawaban sarkasme dari mami Leysa yang sudah hapal dengan kelakukan anak gadisnya.


"Ley, kakak janji pelan ya biar nggak sakit, percaya deh sama kakak ya, ini biar kamu cepet sembuh", kata kak Vanno menasehati ku. Aku tetap menggeleng tidak setuju dengan keinginannya.


Vanno sudah menelpon perawat untuk menyiapkan segala obat obatan dan sekaligus membawa ke rumah Leysa.


45 menit sudah Vanno membujuk Leysa dengan susah payah tanpa hasil yang diinginkan.


Perawat sudah tiba di rumah Leysa.


"Sore Dokter Vanno, sudah saya siapkan semuanya.....oh ini nona cantik yang sakit", kata suster itu.


"Suster, Leysa nggak mau diinfus, Leysa takut", kataku mencoba mengiba pada suster.


Suster itu hanya tersenyum dan melihat pada Dokter Vanno. Kak Vanno naik ke tempat tidurku sambil memeluk badanku menghadap ke arah dadanya serta menahan tanganku dibantu bibi.


"Kak, apa apaan ini, Leysa nggak mau, sakiiit kak, Leysa takut", aku meronta di pelukan kak Vanno tapi percuma karena kekuatanku tak sebanding dengannya.


"Leysa maafkan kakak ya, kakak nggak bermaksud menyakitimu dengan memaksamu seperti ini, maaf ya, lihat ke kakak jangan lihat tanganmu ya, kakak janji nggak sakit kok, cuma bentar ya tapi Leysa jangan bergerak terus takutnya malah sakit", jelas kak Vanno.


Aku menyadari bahwa aku harus mengalah karena sudah nggak mungkin aku berontak dengan badanku yang sudah sangat lemas dan sakit. Aku menyandarkan kepalaku di dada kak Vanno mencoba mencari ketenangan disana. Entahlah tapi aku merasa mendapatkan rasa tenang untuk tidak berontak vsehingga terasa kak Vanno melonggarkan sedikit tahanan tangannya padaku. Tangan kak Vanno mencoba mengelus punggungku.

__ADS_1


"Lemaskan tanganmu Ley, jangan ditegangkan ya, terus jangan ditarik ya, nanti malah jadi lama dan harus cari tempat lain lagi untuk diinfus", kak Vanno memberiku penjelasan.


Saat jarum suntik mulai menembus kulitku kak Vanno memintaku mengambil napas dalam dan dia mengeratkan pelukannya ke tubuhku untuk menahan gerakan ku. Aku meremas kuat lengan kak Vanno menahan rasa sakit di tanganku walaupun memang terasa tidak lama.


Mungkin suster itu sungguh sudah sangat lihai sehingga terlihat cepat sekali menginfusku.


"Sudah nona cantik, selesai....nggak sakit kan apalagi udah dipeluk Dokter Vanno", suster itu malah menggodaku.


Aku yang sadar masih memeluk kak Vanno kaget hingga aku buru-buru melepaskan pelukanku.


Setelah semuanya keluar dari kamarku, kini tinggal aku dan kak Vanno yang sambil menyuntikkan beberapa obat ke infusku.


"Leysa tahan ya ini antibiotik agak sakit masuknya ke tangan", kata kak Vanno sambil sedikit mengelus elus tanganku tempat jalan obatnya.


"Sssst aduh kak sakit", aku sudah hampir menangis karena memang sakit.


"Iya iya sebentar ya tahan dulu ini kakak hentikan dulu suntikannya biar nggak sakit", kata kak Vanno pada Leysa


"Ley, maafin kakak ya udah meluk kamu tanpa ijin, tapi kakak udah ijin tadi ke mami, maaf ya kakak nggak bermaksud apa apa, kakak cuma nggak tega liat kamu lemes kayak gini", kata kak Vanno menjelaskan sikapnya tadi.


Aku hanya mengangguk, kak Vanno kemudian menyuruhku beristirahat sambil dia masih sibuk memberikanku obat.


Sayup sayup aku dengar suara mami disampingku sambil mengelus dahiku.


"Mami udah dateng?", kataku bahagia melihat mamiku. Walaupun aku masih merasa lemas tapi sakit perut ku sudah sangat berkurang dan badanku tidak sepanas tadi.


"Lihat tuh dokter Vanno capek menjagamu, mami juga baru dateng. Leysa aduh bikin mami jantungan aja, mami takut kamu kenqpa napa untung dokter Vanno kesini lah kalo enggak gimana ceritanya?", mamiku mulai bicara panjang lebar.


Kak Vanno meminta ijin memeriksaku sekali lagi, setelah itu dia ijin pulang dulu setelah mengganti kantong infusku. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Tante, nanti kalo Leysa kenapa napa, telpon aja Vanno jam berapapun nggak papa, infusnya Vanno set kira kira selesai jam 6 pagi, pas nanti Vanno kesini. Leysa, kakak pulang dulu ya, istirahat yang cukup jangan lupa perutnya diisi sedikit demi sedikit ya", jelas kak Vanno.


Kak Vanno pulang malam ini, aku kaget jadi dari tadi kak Vanno menungguku ternyata sebelum mami pulang.


Kok aku jadi Ingat sama pelukan kak Vanno ya, masih terasa hangat di hatiku. Aduh hati jangan gitu, gimana ceritanya kalo kak Ricky tahu aku memeluk laki laki lain wah gawat.


Aku masih mencintai Kak Ricky dan aku merasa nggak mungkin bisa mengkhianatinya. Malam ini aku kirim pesan singkat pada kak Ricky.


"Assalamualaikum Kak, Leysa lagi sakit nih kak sampe diinfus tapi dirumah", tulisku


Sebentar kemudian terdengar bunyi pesan masuk di hapeku


"Wa'alaikumsalam, kamu kenapa sayang?", tulis kak Ricky.

__ADS_1


Akupun menjelaskan sakitku pada kak Ricky dan dia berjanji akan menengokku besok. Hatiku sangat bahagia dengan perhatiannya padaku.


__ADS_2