DILEMA HATI LEYSA

DILEMA HATI LEYSA
EPISODE DUABELAS


__ADS_3

Seminggu ini Leysa tidak bisa menemui Vanno karena tugas kuliah yang mengharuskannya pulang pergi Karawang Bandung membuatnya kelelahan.


Hari ini semua tugas sudah selesai dan Leysa berniat menemui Vanno. Leysa bergegas ke apartemen Vanno tanpa memberitahu Vanno.


"Eh non Leysa, masuk non tapi mas Vanno belum pulang", kata bibi sambil menyambutku


"Nggak papa bi, Leysa tunggu aja, kasihan kalo Leysa telpon takut ganggu kerjaan mas Vanno",kataku karena khawatir bibi menelpon Kak Vanno.


Agak lama aku duduk di kursi sampai terasa mataku nggak bisa tertahankan kantuknya.


Aku merasakan ada gerakan seseorang di sampingku,"astagfirullah kak, Leysa kaget".


"Lah kamu ya nakal kenapa nggak bilang ke kakak mau kesini?", kata kak Vanno sambil memegang tanganku.


"Ley, kamu demam?, kok tanganmu hangat", tanya kak Vanno sambil langsung menempelkan telapak tangannya di dahiku dan kemudian ke leherku.


"Nggak tahu kak, rasanya badan Leysa capek banget dan dari kemarin ulu hati Leysa sakit", kataku menjelaskan pada kak Vanno.


Kak Vanno beranjak membawaku ke kamarnya dan mengecek tekanan darahku,"Ley, tekanan darahmu rendah sekali". Lalu Kak Vanno mengambil stetoskop untuk memeriksaku. Sentuhan tangan kak Vanno justru membuatku merasa aneh sekarang'.


"Kenapa Ley?", tanya kak Vanno mungkin merasakan debaran jantungku yang kayak senam erobik.


Aku cuma mengalihkan pandanganku dari tatapan matanya. Kak Vanno malah menggodaku,"Dulu saat kakak memeriksamu kayaknya nggak masalah sama detak jantungmu, kok ini jadi beda ya?", kak Vanno tersenyum sambil menarik turunkan alisnya.


Aku yang seperti tertangkap basah mengambil sesuatu tidak bisa lagi berkata. Kak Vanno membereskan bajuku lalu mendekatiku sambil berbisik,"Boleh nggak Ley, kakak obati detak jantungmu sebentar saja", dan tanpa menunggu jawaban dariku, kak Vanno langsung menciumku perlahan tetapi terus menuntut sehingga akhirnya aku pun mengalungkan tanganku. ke lehernya. Kak Vanno meletakkan tangannya di belakang bahuku sambil menahan badannya agar tidak menekanku.


Cukup lama kami berciuman, seperti ada kerinduan yang tertahan kemudian kak Vanno melepaskan tautan bibir kami dan menata irama debaran jantungnya juga," Ley, nikah yuk, kakak nggak tahan takut nggak bisa kontrol hasrat kakak ke kamu".

__ADS_1


Aku tersenyum sambil memukul pelan dada kak Vanno yang pelukable itu,"ih dasar dokter mesum".


"Tapi kan kakak mesumnya cuma sama kamu terus kamunya nggak nolak dimesumin sama kakak", kak Vanno berkata sambil menoel hidungku dan membantuku untuk bangun.


"Ley, maag kamu kambuh, kayaknya kamu kecapekan plus nggak bener makannya terus kakak rasa ada sedikit infeksi karena makanan yang kamu makan nggak sehat jadi badan kamu demam", kata kak Vanno menjelaskan.


Aku hanya menganggukkan kepala tapi kemudian kak Vanno bilang,"Ley untuk meredakan rasa sakitmu biar cepet kakak suntikan saja ya, enggak sakit kok Ley ya".


"Nggak mau kak, mending Leysa minum obat 3 biji daripada suntik ih", kataku sambil bergidik dan cepetan kabur.


Kak Vanno dengan cepat menahan dan menjepit pergerakanku dengan menahan pinggang dan kedua tanganku dengan kedua tangannya yang kekar,"Hayoo mau kemana, kali ini kakak nggak akan lepasin kamu jadi pilihannya kamu nurut kakak atau kakak lakukan dengan paksaan, kalo kakak paksa malah sakit lho Ley".


Negosiasi berjalan cukup alot sampai akhirnya aku pada posisi harus menerima dengan ikhlas suntikan itu.


"Gini deh punya pacar dokter, aku takut dokter please deh ngerti nggak sih, dokter aja coba suntik diri sendiri kan sakit",kataku memelas sudah hampir menetes air mataku.


Kak Vanno langsung memelukku," Sayang, kakak nggak mau menyakitimu tapi kakak pengen Leysa cepet sembuh dan nggak sakit lagi", kata kak Vanno sambil mengelus elus punggungku.


Kak Vanno memandangku sambil mengurai pelukanku sampai akhirnya,"Maaf maaf sayang .... maaf kalo kakak memaksa ya ......ya udah nggak usah suntik ya, kakak akan kasih obat tapi kalo dalam dua hari Leysa tidak membaik, tolong ikutin saran kakak ya".


Aku mengangguk segera dan akhirnya kupeluk lagi dokter kesayanganku ini. Aku menceritakan kepada kak Vanno kenapa aku sampai ketakutan dengan suntikan.


Pada saat aku kecil, aku pernah sakit dan harus diinfus. Entah bagaimana jarum infus sulit sekali dimasukan ke tanganku sehingga prosesnya terjadi begitu lama dan menyakitkan. Sejak saat itu aku ketakutan jika berhadapan dengan jarum suntik.


Kak Vanno langsung mengambil tanganku dan mengecek pembuluh darahku. Tanganku dibolak balik dan ditekan sampai diolesi alkohol,"Kak mau diapain tanganku?", kataku takut.


"Sssssttt enggak papa, kakak cuma liat aja. Ini pembuluh darahmu kecil dan tipis sehingga mudah pecah kalo tidak lihai menusuknya, pantas saja banyak perawat yang akan kesulitan Ley", kata kak Vanno menjelaskan.

__ADS_1


Hari ini kak Vanno mengajakku keluar lalu membawaku ke cafe outdoor yang sangat nyaman.


"Ley, boleh nggak kakak bicara sebentar tapi janji Leysa jangan marah ya", kata kak Vanno sambil menggenggam kedua tanganku.


'Kakak ini aneh masak Leysa marah tanpa alasan jelas, kakak mau bilang apa?", tanyaku agak penasaran juga karena kulihat wajah kak Vanno jadi tegang.


"Ley, ini tentang Ricky mantanmu dulu, kemarin kakak ketemu dengannya dan dia ingin bertemu denganmu", aku sangat terkejut mendengar penuturan kak Vanno. Aku nggak nyangka bisa bisanya kak Vanno sebagai kekasihku bisa bicara hal seperti ini padaku. Apa kak Vanno tidak serius berhubungan denganku. Aku berdiri sambil melepaskan genggaman tangan kak Vanno dengan cepat lalu pergi berlalu dari cafe itu. Kak Vanno mengejarku sampai ke parkiran mobil.


"Leysa, please dengerin kakak, jangan marah dulu sayang", pinta kak Vanno padaku.


"Leysa mau pulang, buka pintunya kak, atau Leysa pulang sendiri", kataku marah.


Aku lihat kak Vanno panik mengusap kasar wajahnya dan kita berdua hanya terdiam agak lama. Aku udah merasa kedinginan karena posisi kami di daerah Dago atas Bandung yang memang udaranya cukup dingin. Kak Vanno yang melihatku kedinginan akhirnya membuka pintu mobil. Kak Vanno duduk dikemudi dan langsung menarikku kepelukannya. Aku sempat memberontak menolak pelukannya. "Leysa sayang jangan gitu, maaf Leysa biar gini dulu, kamu kedinginan", Kak Vanno merasakan dinginnya badanku sambil memaksa tetap memelukku.


"Leysa dengerin kakak, kakak tahu pasti Leysa salah sangka sama kakak ya kan?", kak Vanno memberiku penjelasan mengenai semua kemarahanku.


Kak Vanno menjelaskan kalo maksudnya memintaku bertemu kak Ricky agar semua masalah selesai dengan baik antara aku dan kak Ricky.


Kak Ricky ingin aku menjelaskan duduk perkara keputusanku menyudahi hubunganku dengan kak Ricky.


"Kamu tahu Ley, betapa kakak sangat mengkhawatirkan kamu karena sikap Ricky yang pernah nekat sama kamu waktu itu, kakak nggak mau terjadi apapun yang buruk terhadap kamu", Kak Vanno sambil mengelus bahuku.


"Tapi Leysa nggak ngerti gimana cara Leysa menjelaskan semua pada kak Ricky. Kak Ricky nggak pernah merasa perbuatan menyakitiku, segala yang dilakukannya dia anggap benar sementara hatiku sakit, terus gimana kak?", rengekku bingung pada kak Vanno.


"Ley, kakak akan menemanimu bertemu dengan Ricky", kata kak Vanno membuatku kaget.


"Nggak usah kak, ya udah biar Leysa yang menyelesaikan ini semua. Kan masalah ini antara Leysa dan kak Ricky ya bener kakak, Leysa harus menyelesaikan dengan kak Ricky", kataku sambil menjauhkan tubuhku dari kak Vanno.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan aku banyak diam. Kak Vanno menggenggam tanganku dengan satu tangannya yang bebas dari kemudi. Aku hanya berpikir bagaimana caranya aku menyelesaikan semua ini tanpa melibatkan kak Vanno.


Sepertinya hubungan ini cukup rumit karena hubunganku dengan kak Vanno saat ini bisa menjadi bumerang.


__ADS_2