DILEMA HATI LEYSA

DILEMA HATI LEYSA
EPISODE LIMA


__ADS_3

Hari ini di sekolah Leysa terburu buru karena hampir terlambat. Leysa lupa kalo kelasnya dapat tugas sebagai petugas upacara bendera.


"Ley, ya ampun kamu kemana aja sih, tuh si Adam udah ngamuk ngamuk nyariin kamu, nggak ada lagi dirijen buat pimpin lagu kalo kamu ngga masuk.


Selesai upacara bendera, Leysa bergegas ke ruang OSIS karena hari ini ada rapat untuk perpisahan kelas XII.


'Ley, mau kemana kok buru buru", kak Ricky tiba tiba menahan tanganku.


"Mo rapat OSIS kak, udah ditunggu anak anak", kataku singkat


"Ya udah nanti pulang sekolah kakak yang anter pulang ya, kakak tunggu di depan aja", kata kak Ricky sambil menepuk bahuku perlahan.


Siang itu aku dan kak Ricky pulang berdua. Sampai dirumah kak Ricky mampir untuk mengajakku mengobrol.


"Kak Ricky rencananya nanti mau nerusin ke mana lulus SMA ini?",tanyaku.


"Kayaknya aku mau ke UI atau ke UNPAD biar nggak jauh jauh dari Leysa, mudah mudahan bisa diterima", jawab kak Ricky.


"Kakak bisa aja, yang penting kakak diterima di universitas yang bagus dan sesuai dengan keinginan kakak", kataku.


"Iya Aamiin ", jawab kak Ricky seraya mengacak rambutku.


"Kak, boleh Leysa ngomong sesuatu?", tanyaku hati hati.


"Iya tentu boleh Leysa, kok kamu nanyanya begitu sih", kak Ricky sambil memandangku penuh tanya.


Aku ingin membicarakan masalah yang sebenernya cukup mengganjal di hatiku pada kak Ricky tentang sikapnya. Berulang kali aku memberanikan diri untuk bertanya tapi selalu saja aku seperti tidak memiliki keberanian.


"Kak, kalo kakak melihat hubungan kita kayak apa sih kak, maksudku kakak nganggapnya ke Leysa tuh gimana?", tanyaku dengan cukup sport jantung juga.


Kak Ricky langsung berdiri dan mendekatiku, dia merangkul bahuku dengan satu tangannya dan tangan lainnya memegang daguku,"Leysa, kamu adalah kekasihku dan aku sayang banget sama kamu, makanya kamu mesti percaya sama aku, kenapa Leysa nanya seperti itu pada kakak?".


"Nggak papa Kak, Leysa cuma nanya kok", kataku berhenti bertanya karena aku juga bingung mau bagaimana menanyakannya. Masih banyak tanya dihatiku tapi kenapa aku merasa nggak bisa mengutarakan semuanya pada kak Ricky.


Siang ini aku pulang sekolah sengaja mencari kak Ricky karena hari ini rencananya aku mau minta tolong anterin cari barang buat tugas. Aku tunggu kak Ricky di gerbang depan sekolah seperti biasa. Aku lihat kak Ricky membawa motornya ke arahku.


"Kak Ricky, boleh nggak Leysa minta anter cari barang buat tugas", kataku pada Kak Ricky.

__ADS_1


Kak Ricky membuka helmnya sambil berbicara padaku dengan tatapan yang aku tahu pasti kali ini kak Ricky nggak bisa mengantarku,"Leysa, kenapa nggak bilang dulu, kakak juga ada keperluan gimana ya?".


"Ricky yuk sekarang aja ya kita berangkat", tiba tiba kak Mega mendekati kami,"Eh Leysa, aku pinjem Ricky dulu ya, kita mau cari barang buat tugas besok".


"Ya udah nggak papa kak, Leysa cari tugasnya sendiri aja bisa kok", kataku agak kecewa.


"Maaf ya Ley", kak Ricky mengutarakan permintaan maafnya sambil satu tangannya memegangku.


Tiiiiin tiiiin tiba tiba sebuah mobil berhenti didepan gerbang sekolah kami dan kemudian si pengemudi membuka jendelanya lebar.


"Megaaaaa...... untung ketemu kamu disini, ini kunci rumah soalnya mama tadi lupa nggak bawa kunci rumah, kakak mau keluar dulu ya", kata seseorang dalam mobil yang suaranya aku kenal kepada Mega.


Aku kemudian menoleh untuk melihat suara siapa itu karena posisi badanku membelakangi mobil. Saat aku menoleh dan pandanganku beradu dengan si pengemudi malah cowok itu berteriak padaku," Loh kamu Leysa kan?".


"Kak Dokter ya?", kataku kaget juga. Kak Vanno langsung turun.


"Leysa, kamu kenal kakak aku ?", tanya Kak Mega.


"Panjang ceritanya Mega, itu nggak sengaja seminggu yang lalu karena ada kecelakaan", jawab kak Vanno sambil menyerahkan kunci ke kak Mega.


"Ley, kakak pergi dulu ya ?", pamit kak Ricky padaku.


Aku cuma mengangguk, mungkin tak dapat aku sembunyikan raut muka kecewaku


"Ley, kamu mau pulang?", tanya kak Vanno.


""Enggak kak, Leysa mau cari barang buat tugas ke Ciwalk (mall di kota Bandung) bentar baru setelah itu pulang", jawabku jujur.


"Nah kebetulan yuk bareng sama aku sekalian soalnya aku juga mau kesana dulu sebelum ke rumah sakit, mo cari kemeja nih", kata kak Vanno yang langsung membukakan pintu mobil untukku.


Aku tadinya menolak, tapi kak Vanno bersikukuh mengantarkan aku bahkan sekalian dia bilang mau ambil jaketnya dirumahku nanti sepulang dari Ciwalk. Akhirnya aku setuju aja pergi dengannya.


"Kak Dokter, emangnya nggak akan telat ke rumah sakit nanti kalo anterin Leysa pulang dulu?....udah nggak papa, Leysa pulang sendiri aja naik ojek online", kataku setelah selesai kami belanja barang kebutuhan kami.


"Leysa, please panggil aku kak Vanno nggak usah pakai dokter dong, terus nggak usah rewel ini udah mau Maghrib kamu nggak boleh pulang sendiri, titik no complain ya", katanya sambil berpose ala bapak bapak marah.


"Ley, masih ingat anak yang kita bantu waktu kecelakaan itu?..... Kemarin mamanya sempat ketemu sama aku di RS nggak sengaja karena anter tantenya Sisi berobat. Sisi bilang pengen ketemu kamu lho, nanti kalo ada waktu luang kita jenguk Sisi ya Ley?", kata kak Vanno.

__ADS_1


"Siap pak Dokter, oke aja Leysa tapi Leysa nggak tahu alamatnya', jawabku.


"Nanti kak Vanno yang tanya ke mama Sisi ya, nggak pakai kak Dokter lagi yaaaaa", kata kak Vanno sampai kami tertawa lepas.


Seperti dulu kak Vanno mengantarkanku kerumah sambil menyampaikan kepada orangtuaku kemana saja kami tadi.


Di sepanjang perjalanan tadi kami bercerita panjang lebar hingga aku tahu kalo kak Mega adalah adik kak Vanno.


Keesokan harinya disekolah.


"Ley, kamu jadinya kemarin sama siapa cari barang?, soalnya aku denger kak Ricky katanya malah anter kak Mega ?", tanya Rania kepadaku.


Aku bercerita kepada Rania tentang kejadian kemarin. Rania agak emosi dengan sikap kak Ricky yang malah menomorduakan aku ketimbang kak Mega. Ya, akupun merasa kesal dengan hal itu tapi aku juga nggak bisa bilang apa apa


"Ley, kamu kenapa sih nggak ngomong sama kak Ricky supaya nggak gitu bersikapnya", cerocos Rania.


Mungkin benar apa yang dikatakan Rania, kalo aku terlalu terbelenggu oleh rasa cintaku pada kak Ricky sehingga aku nggak bisa marah dengan sikapnya yang aku kurang suka itu.


Roni pernah bilang padaku kalo aku harus menjelaskan pada kak Ricky tentang sikapnya yang aku nggak suka, karena menurut Roni mungkin saja kak Ricky nggak tahu bahwa sikapnya itu menyakitiku.


Malam ini di rumah.


"Ley, kamu kenapa kok keliatan murung terus sih mami liat", tanya mami padaku sambil duduk di sebelahku.


"Nggak papa Mi, Leysa bingung sama kak Ricky kenapa kok kesannya dia nggak mau jaga perasaan Ley ya Mi, sikapnya selalu bikin cewek cewek di luaran sana ngarep sama dia, sementara kan Leysa pacarnya", aduku pada mami.


"Mami nggak bisa ngomong apa apa Ley, karena kadang sifat orang kan berbeda juga pendapat nya tentang suatu hubungan", kata mama menjelaskan.


"Tapi Mi, Ley kan rasanya nggak enak digituin, kayak yang nggak dianggap jadinya", tambahku lagi.


"Ley, sebuah hubungan itu adalah kesepakatan dan seandainya kesepakatan itu tidak bisa dilakukan ya artinya kalian nggak akan bisa sejalan terus. Apa yang boleh atau tidak semuanya harus ada kesepakatan jadi biar enak buat berdua, gitu sayang", mami Dini menambahkan penjelasan nya.


"Berarti harusnya gimana dong Mi untuk Leysa mulai bikin kesepakatan", tanyaku sambil meletakkan kepalaku di paha mami.


Mami mengelus kepalaku sambil mulai berbicara,"Ley keterbukaan dan komunikasi adalah kunci penting dalam menjalin hubungan karena tanpa itu semua ya kalian sama saja seperti dua orang asing, ya kan nak?".


Aku mulai sedikit memahami bagaimana hubungan aku dan kak Ricky harus diluruskan. Mungkin mami benar sikap tidak terbuka ku karena aku takut kehilangannya justru jadi masalah baru juga. Akh rumit ya cinta ........

__ADS_1


__ADS_2