DILEMA HATI LEYSA

DILEMA HATI LEYSA
EPISODE EMPAT


__ADS_3

Leysa merasa sikap kak Ricky terhadap hubungan mereka sangat tidak sesuai dengan harapannya. Selama tiga bulan kami bersama, kok rasanya aku hanya mengalami situasi yang selalu sama. Kak Ricky tidak pernah menyadari bahwa sikapnya kepada temen wanitanya yang lain membuatku merasa jengah. Kalo itu dikatakan cemburu juga aku agak bingung karena menurutku seharusnya kak Ricky paham bagaimana dia harus bersikap sementara aku adalah kekasihnya.


"Ran, aku sayang sama kak Ricky tapi disatu sisi hatiku juga nggak ingin merasakan sakit", aduku pada Rania.


Rania hanya menghela napas,"Ya gimana Ley, aku nggak bisa ngasih solusi apapun karena itu kan gimana kamu yang rasakan, kalo kamu nggak enak udah aja lepaskan kak Ricky".


Aku agak kaget mendengar penuturan Rania, karena berpisah dengan kak Ricky bukan menjadi keinginanku saat ini. Cinta dan rasa sayangku terlalu besar pada kak Ricky.


"Kok kamu gitu sih ngasih solusinya, apa nggak ada yang lain?".


"Haduh kamu sih bucin banget sama kak Ricky jadi selalu aja kamu maafiiiin semua kelakuannya", kata Rania ngomel padaku


"Bener tu Ran, aku udah ngomong juga nggak didenger sama Leysa, kalo keselnya udah tinggalin", tiba tiba Roni ikut ngomong sambil duduk di sebelahku.


Aku tahu memang kedua sahabatku ini sering memberikanku masukan mengenai perilaku kak Ricky yang terus terusan menganggap apa yang dilakukannya benar. Yah tepatnya adalah egois dan nggak pernah mau disalahkan. Seperti hari ini.


"Leysa sayang udahlah nggak usah marah, kan aku cuma lupa nggak ngomong sama kamu pas kemarin anterin Mega cari tugas", Kak Ricky membujukku di parkiran motor.


"Kak, gini lho Leysa nggak suka kalo Kakak nggak anggap Leysa ada", kataku menjawab.


"Ya ampun sayang enggak gitu, kakak sayang Leysa, udahlah jangan digede gedein masalahnya", kali ini kak Ricky malah menggenggam tanganku dan membawaku kearah motornya," Ayo naik kita cari baso, Kakak laper, Leysa juga belum makan kan?".


Kak Ricky menyalakan motor nya dan menarik kembali tanganku untuk naik ke motornya," Ley, pegangan dong, nanti jatuh loh, yuk sayang",


Hatiku selalu saja luluh dengan sikapnya terhadapku yang sangat manis. Rasa cinta yang aku miliki untuk kak Ricky kadang membuat aku tidak berani mengambil sikap terlalu keras karena aku takut kehilangannya.


Sebentar lagi perpisahan kelas akan dilakukan, yah tepatnya mungkin 1 bulan lagi kak Ricky akan meninggalkan sekolah ini dan melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Acara untuk perpisahan pun sudah kami rencanakan dan karena aku adalah pengurus OSIS, aku agak kerepotan juga mengurus ini semua.


Sore ini aku dan Rania pergi ke mall yang di pusat kota Bandung ini. Selain juga mau cuci mata, kami juga berniat untuk mencari beberapa barang persiapan acara perpisahan sekolah nanti. Aku sengaja pergi hanya dengan Rania.


"Ngapain kamu repot repot minta ijin kak Ricky Ley, dia aja kalo kemana mana kan jarang minta ijin sama kamu, lagian kamu kan pergi sama aku bukan sama cowok lain?", tanya Rania sinis padaku. Aku paham dia bersikap seperti itu, karena memang seringkali aku berkeluh-kesah tentang perilaku kak Ricky padaku.


"Yah seenggaknya aku mau ngasih contoh ke kak Ricky, mudah mudahan dia bisa merubah sikapnya Ran, ah aku juga nggak ngerti tapi hatiku nggak bisa bohong aku sayang banget sama dia", kataku menjawab Rania.

__ADS_1


"Iya iya yang bucin abis, dasar nih sahabatku yang cantik, tapi nanti kalo terus menerus sakit jangan nangis ya ....aku nggak suka liat kamu sedih, jelek tau", kata Rania mengolokku.


"Aduh punya sahabat kok nggak ada akhlaknya ya, malah ngancem", kataku sambil memukul pelan bahu Rania dan kami meneruskan jalan jalan sore kami ini. Selesai aku dan Rania jalan kami menyempatkan sholat Maghrib sebelum kami pulang.


"Ley, nggak papa ya kita nggak pulang bareng", kata Rania sedikit mengkhawatirkan aku.


"Ih emangnya aku anak kecil apa, udah nggak papa lagian rumah kita beda arah nanti malah kemalaman lho", kataku lagi.


Kami berdua akhirnya berpisah didepan pintu keluar mall. Aku berjalan ke arah jalan raya supaya mudah untuk mencari angkutan kota. Tiba tiba dari arah jalan terdengar suara decitan motor yang dilanjutkan dengan teriakan orang orang.


Ciiiiiiiiiit.......... bruuuuuk, suaranya sangat keras dan aku lihat disitu seorang anak terkapar dengan darah yang mengalir disekitar tangannya.


Anak itu menangis sambil memegang tangannya dan aku lihat tidak ada orang dewasa yang menghampirinya sama sekali, aku langsung duduk di sebelahnya.


"Dek, orangtuamu mana ?", tanyaku


Anak itu terus menangis tanpa menjawab pertanyaanku, aku langsung menggendongnya ke pinggir agar tidak menghalangi jalan.


Tiba tiba seseorang datang di sebelahku sambil langsung melihat luka anak itu.


Setelah beberapa saat melihat lukanya kemudian dia berkata,"Anak ini harus dibawa ke klinik atau RS terdekat soalnya lukanya agak dalam jadi butuh penanganan supaya nggak keluar terus darahnya,"Ayo pakai mobilku aja".


Aku pun segera mengikutinya naik ke mobil karena anak itu juga tidak mau lepas dari gendonganku. Untung saja tidak jauh dari tempat kejadian ada klinik yang cukup besar sehingga anak bisa segera ditangani. Beberapa saat kemudian terdengar seorang wanita menangis mencari anaknya sambil berteriak,"Dimana putriku, yang tadi kecelakaan di depan mall XX ?".


"Ini Tante, disini....apa benar ini anak Tante?", kataku sambil menggendong anak tadi yang sudah selesai diobati dan terus saja minta kugendong.


"Ya Allah sayang, kamu nggak papa Nak?", tanyanya sambil mengambil anak itu dari gendonganku.


"Terimakasih ya nak, kamu sudah membantu anak ibu, biasanya dia tidak pernah mau dengan orang asing tapi untungnya tadi ibu lihat dia nyaman dengan kamu", kata ibu anak yang ternyata bernama Sisi itu.


"Iya Tante, sama sama yang penting Sisi udah nggak papa", jawabku.


Tante itu menjelaskan kalo Sisi anak tunarungu dan tadi memang Sisi nggak sengaja tertinggal ketiga ibunya belanja di toko dekat mall dan untungnya ada orang yang tahu ada kejadian kecelakaan dan memberitahukan kepadanya. Setelah itu Sisi dan ibunya pamit dan aku memberikan no telepon sesuai permintaan Ibunya Sisi yang bernama Tante Dewi.

__ADS_1


Setelah itu cowok yang sejak tadi ada disampingku berkata,"Loh aku pikir anak tadi itu adikmu, ternyata kamu juga nggak kenal ya?", tanyanya.


"Iya tadi kan aku mau cari angkot eh malah ada kejadian didepanku, aku kasihan lihat anak itu terluka, jadi aku deketin dulu eh malah dia minta gendong aku", jawabku.


"Eh sorry kita belum kenalan ya ?....aku Vanno,kamu ?", tanyanya sambil menyodorkan tangannya.


Aku pun menerima salam perkenalannya," Aku Leysa, salam kenal ya Dok".


"Ih apaan sih panggil aja aku Vanno nggak usah pakai embel embel Dokter segala", katanya tersenyum.


"Ah nggak sopan dong, aku panggil kak Vanno aja ya", kataku


"Boleh Leysa, eh kamu mau pulang kan tadi, rumahmu dimana?, yuk aku antar aja ya?", pinta kak Vanno


"Nggak usah kak, makasih Leysa pulang sendiri aja", kataku menolak


"Leysa lihat tuh baju kamu banyak kena noda darah, nanti orang malah takut lihat kamu, udah jangan nolak pokoknya aku yang anterin ya", kak Vanno memaksaku sambil melepaskan jaketnya dan memberikan padaku untuk menutupi noda darah di bajuku.


"Ya udah, asal nggak merepotkan kakak, makasih ya Kak", jawabku


Akhirnya aku memang diantar oleh dokter Vanno, dan banyak cerita sepanjang perjalanan pulang mengantarkanku.


"Loh, kamu sekolah di SMA 5 ya Ley, berarti mungkin kamu kenal sama adikku dong Resha Megata Juniarto, dia kelas XII", kata kak Vanno


"Aduh Leysa nggak tahu kak, mungkin iya itu kakak kelas Leysa", jawabku


Sampailah akhirnya aku ke rumah, kak Vanno mengantarkanku sampai rumah dan menemui orang tuaku untuk menjelaskan kejadian malam ini supaya mereka tidak marah karena aku pulang terlambat.


"Kak dokter makasih ya, udah anterin Leysa plus ngomong ke orangtua Leysa", kataku.


"Iya siap nggak papa sama sama, udah sana mandi dan ganti baju itu liat baju kamu ih nakutin", canda kak Vanno


"Eh kak, jaketnya aku cuci dulu nanti aku kembalikan ke kak dokter kalo udah bersih", kataku karena kak Vanno memaksa aku tidak perlu membersihkan jaketnya. Tapi karena aku tahan, dia nggak berani melepaskan jaketnya.

__ADS_1


"Ya udah, seenggaknya kan kita bisa ketemu lagi Ley", kata kak Vanno yang akhirnya pamit pulang padaku karena hari sudah berangsur malam.


__ADS_2