
Setelah menceritakan masa lalunya kak Vanno terlihat begitu sedih. Aku jadi merasa tidak enak sudah mengingatkan memori buruk,"kak, maafin Leysa ya segitunya cerita cinta kakak", sambil aku pegang bahunya.
Kita akhirnya tertawa dengan beberapa cerita yang aku coba alihkan sehingga suasana yang sedih tadi malah berubah menjadi tawa dan canda.
"Ley, bagaimana kabar pacar kamu siapa itu?", tanya kak Vanno
"Ricky kak.......iya baik baik aja kak.......aduuuuuuh awwww", teriakku.
Tusuk jagung yang aku simpan dibawah kakiku nggak sengaja terinjak kakinya sehingga terasa agak sakit.
"Coba Ley, angkat kaki mu keatas kakak liat dulu lukamu", kata kak Vanno.
Aku angkat kakiku yang ternyata memang terluka dan agak panjang. Tanpa aba aba kak Vanno memajukan badannya dan memundurkan kursiku sehingga hampir saja wajah kami bersentuhan.
Kak Vanno langsung mengambil tasnya untuk mengeluarkan peralatan P3K nya untuk mengobati kakiku.
"Udah nggak papa kok Kak, amaaan",: kataku sambil nyengir.
Malam ini kak Vanno pulang setelah mengantarkan ku ke rumah.
Hari ini kak Ricky datang ke rumah dan kemudian kami sengaja pergi ke pantai karena ada yang ingin aku obrolkan dengannya. Sama seperti sebelumnya kak Ricky hanya sibuk bercerita tentang kegiatan nya bersama teman temannya dan juga aksinya yang banyak mendapatkan pujian dari teman seangkatan. Betapa juga terkenal dan bangganya kak Ricky atas kegiatan organisasi nya yang menjadikan dia disekelilingi oleh fans yang banyak.
Sampailah kami di pinggir pantai yang sebenernya sangat indah jika dinikmati dengan rasa cinta, tapi entah kemana rasa nyaman yang sangat kurindukan dari sosok kekasihku ini.
"Kak Ricky, Leysa ingin bicara mengenai hubungan kita", kataku sambil mengumpulkan seluruh keberanianku.
Kak Ricky kemudian berdiri dan duduk disebelahku sambil tangannya melingkar di bahuku. Dengan kehangatan yang dia berikan rasanya hatiku pun luluh kembali dengan segenap rasa cintaku yang teramat dalam padanya. Kak Ricky menyandarkan kepalaku di bahunya dan berkata,"Ley, kan dari tadi juga kita ngobrol, kenapa dengan hubungan kita sayang?".
Aku menegakkan tubuhku dan berbalik mencoba memandang mata kak Ricky.
"Kak, apa sebaiknya kita akhiri hubungan kita dulu?".
Kak Ricky sangat terkejut kemudian memegang kedua pipiku,"Ley, apa maksudmu ?, kenapa .......? apa aku melakukan kesalahan padamu ?", tanya kak Ricky yang terlihat sangat gusar dengan kata kataku.
Aku mencoba menahan perasaan ku karena aku merasa hatiku seperti diaduk aduk juga."Kakak nggak salah, mungkin akulah yang salah. Leysa nggak bisa mendampingi kakak. Leysa merasa tidak nyaman dengan hubungan kita kak..... Maafin Leysa kak"
"Enggak Leysa kamu pasti sedang emosi, jangan ucapkan kata pisah ya sayang please", kak Ricky menahan emosi hingga terlihat matanya memerah.
__ADS_1
Kak Ricky menarik tanganku menuju mobil dengan cengkeraman yang kuat. Aku tahu kak Ricky sedang marah dan aku hanya menahan rasa sakit serta mengikuti kemana langkahnya.
Sesampainya di mobil kak Ricky masuk dan langsung memelukku erat. Kak Ricky tidak pernah memperlakukan ku sekasar ini tetapi hari ini aku merasa bukan dia yang ada di hadapanku.
"Kak, tolong lepasin Leysa, sakit kak", kataku jujur karena pelukan kak Ricky memang menyakitiku.
Kak Ricky cuma diam bahkan kini memaksa untuk mencium bibirku, hal yang tidak pernah dia lakukan dan tetap mencengkeram tanganku.
Aku marah dan berusaha melepaskan diri. Aku keluar dari mobil dan segera berlari menuju pangkalan ojek terdekat.
" Mas ayo mas cepet anter saya", kataku setengah berteriak pada mas tukang ojek yang kebingungan.
Aku menangis sampai mas tukang ojek tidak berani bertanya padaku. Sejenak dia diam tapi kemudian bertanya padaku kemana tujuanku.
Aku ingin langsung pulang tapi aku takut kondisi ku yang seperti ini, akan membuat mami menanyaiku. Kemudian aku ingat kak Vanno.
"Mas, anterin saya ke RS XX ya ", kataku.
Sampai di RS aku meminta mas tukang ojek mengikuti ku ke ruang kak Vanno.
Kak Vanno keluar membayar uang ojekku karena tas dan hapeku tertinggal di mobil kak Ricky.
Begitu kak Vanno masuk kembali ke ruangan langsung aku berlari untuk memeluknya. Saat ini aku merasa butuh perlindungan darinya. Dan aku merasa di pelukan kak Vanno aku merasakan rasa aman itu. Setelah aku puas menangis di pelukan kak Vanno lalu aku duduk. Kak Vanno melihat tanganku yang memar kemudian memintaku duduk di tempat periksa," maaf ya Ley, kakak periksa badanmu ya, kakak liat ada memar di tanganmu".
Setelah kak Vanno mengobati memar di tanganku kemudian dia bertanya,"Ley, tunjukkan pada kakak, dimana lagi yang terasa sakit?".
"Punggung dan bahu Leysa kak", jawabku.
"Kamu ingin kakak panggilkan dokter lain atau Kakak yang periksa kamu", tanya kak Vanno berhati hati. Aku tahu maksud kak Vanno karena kak Vanno harus melihat beberapa bagian tubuhku. Aku menghargai kesopanannya karena dia temanku.
Aku mengijinkan kak Vanno memeriksa punggung dan bahuku. Punggung ku dibuka sedikit oleh kak Vanno.
"Ley, katakan dimana sakitnya selain yang terlihat ada sedikit luka disini, kakak periksa ya", kata kak Vanno.
Selesai kak Vanno memeriksaku kemudian kak Vanno melihat sesuatu di leherku. Ya tadi kak Ricky sempat menciumku dan yang aku rasakan adalah perih dileherku.
"Leysa, apa seseorang sudah berbuat tidak baik kepadamu?", tanya kak Vanno hati hati sambil memegang pundak ku. Aku menunduk dan kemudian menangis lagi tetapi kemudian aku ceritakan semuanya pada kak Vanno.
__ADS_1
Setelah aku selesai bercerita ada helaan napas lega dari kak Vanno.
"Alhamdulillah kamu nggak kenapa napa, sekarang mana alamatnya Ricky Leysa?, kakak akan selesaikan ini dengannya".
Aku meminta kak Vanno untuk tidak memperpanjang masalah ini lagi.
Kak Vanno membawaku ke apartemen nya dan dia meminta bibi yang biasa membersihkan apartemen nya untuk datang kesana.
"Kamu istirahat dulu di apartemen kakak, nanti setelah kamu enakan, kakak antar Leysa pulang ya".
Aku hanya mengangguk, saat ini aku hanya ingin diam. Sampai di apartemen, kak Vanno membawaku ke kamarnya.
"Leysa apartemenku cuma ada satu kamar, kamu istirahat disini ya", kak Vanno membantu merebahkanku.
"Kak, jangan pergi, temenin Leysa disini", kataku sambil menahan tangan kak Vanno yang akan beranjak pergi.
Bibi datang membawa baskom air hangat untuk mengompres memarku dan segelas susu jahe. Kak Vanno hanya diam disampingku sambil mengompres memarku dan mengoleskan salep disana. Aku tertidur mungkin karena badanku kelelahan sampai agak siang baru aku terbangun. Aku lihat kak Vanno duduk di sampingku dan tertidur juga. Mungkin dia tidak bisa kemana mana karena memang tangannya aku tahan.
Aku duduk dan berusaha membangunkan kak Vanno
"Leysa ....kamu udah bangun, udah enakan sekarang?", tanyanya.
"Kak maaf ya Leysa merepotkan kakak sampai kakak nggak kembali ke rumah sakit juga malah menyusahkan kakak disini", kataku hampir menangis.
"Sssssttt sudah ayo kita makan dulu, itu bibi udah siapin makanan, kakak laper soalnya tangan kakak kamu iket jadi kakak nggak bisa kemana mana", kak Vanno berusaha mengalihkan suasana agar menjadi lebih santai.
Setelah makan, karena hari sudah menjelang sore, kak Vanno mengantarkanku pulang ke rumah.
"Ley, besok sore kamu ke RS ya, kakak cek lagi memar dan lukamu dan tunggu sebentar.....maaf ya", kak Vanno mengoleskan sesuatu di leherku sambil berkata,"takutnya mamimu nanti berpikir kakak yang melakukan itu padamu".
Ah aku baru ingat bekas di leherku karena ulah kak Ricky.
Aku baru membuka pintu dan tiba tiba mami langsung mendekatiku,"Ley, bukannya tadi pagi kamu pergi sama Ricky kok jadi pulang dianter dokter Vanno".
Aku yang kebingungan mau menjawab apa langsung dijawab oleh kak Vanno,"Tadi di mall kebetulan Vanno ketemu sama Ricky dan Leysa, eh nggak diduga malah mamanya Ricky meminta Ricky segera pulang karena kakeknya sakit Tante, jadi Ricky meminta Vanno mengantarkan Leysa pulang", bohong kak Vanno pada mami, tapi yang penting aku selamat dari keadaan ini.
"Iya mami, jadi nya aku ngerepotin kak Vanno lagi", tegasku.
__ADS_1