
Leysa hari ini sudah agak baikan, bahkan Leysa sudah bisa jalan meskipun agak tertatih. Pak Ahmad guru BP memanggil Lisa ke ruangannya.
Pada saat jalan, Lisa dipanggil seseorang dari belakang yang sudah dia kenal suara nya.
"Apa Ron, aku mau ke ruang BP, anterin kek nggak usah ngeledek", kataku sebelum aku dengar fatwa tidak jelas keluar dari mulut sahabatku ini.
"Nggak usah sensi Ley, nanti kamu cepet tua lho, Ley....kamu dicari kak Lia tuh katanya siangan nanti ada rapat OSIS sama anak basket buat ngomongin pertandingan minggu depan", kata Roni
Siang ini setelah pulang sekolah aku bergegas ke ruangan rapat OSIS.
"Ley, duduk sini, gimana kakimu?", kak Ricky ternyata ada di ruang rapat karena dia juga tim basket. Tanpa aku duga, Kak Ricky duduk disebelahku.
"Udah nggak papa kok Kak, enggak terlalu sakit sekarang", kataku menjawab.
Setelah rapat selesai, kak Ricky tiba tiba memintaku untuk menunggunya karena dia akan mengantarkan ku pulang.
"Kak, nggak usah anter Leysa, makasih Leysa naik ojek online aja", kataku.
Kak Ricky malah mendekatiku, lalu menggandeng tanganku untuk mengikutinya ke arah motornya dan berkata,"Pokoknya kamu pulang sama aku Leysa, nggak usah nolak oke"
Aku berusaha untuk melepaskan tangan kak Ricky dan menyetujui kemauannya.
"Kakak, nggak enak dilihat temen temen, iya Leysa ikut kakak", kataku sambil mengikuti langkah kak Ricky.
Kak Ricky hanya tersenyum dan tetap berjalan.
Hari ini aku lihat kak Ricky sedang latihan basket. Kak Ricky punya badan yang proporsional sehingga aku merasa tidak salah punya hati dengannya. Tim basket menjadi ajang kumpul cowok cowok yang membuat banyak cewek histeris. Sebetulnya dalam hati, aku nggak merasa pede untuk mendekati kak Ricky dengan kenyataan bahwa aku harus bersaing dengan banyak orang.
Aku duduk sambil melihat tim basket sedang berlatih dan tiba tiba aku lihat kak Ricky mendekatiku,"Ley, bagi air dong", tanpa aku duga botol ditanganku sudah berpindah ke tangannya.
"Kak itu air udah aku minum lho", kataku
"Terus kenapa?......nggak papa kan aku minta?", tanyanya membuat aku makin bingung aja.
Di hari hari selanjutnya, aku sering bertemu juga dengan kak Ricky kadangkala kak Ricky menyapaku tapi kadang juga tidak, aku paham dengan kesibukannya mungkin dia tidak selalu memperhatikan aku.
Hari ini pertandingan basket dilaksanakan di lapangan SMA 1 yang berada 6 km dari sekolahku. Sebelum berangkat, seluruh pengurus OSIS memastikan bahwa semua perlengkapan sudah dibawa.
"Ricky, nanti aku sama kamu ya, soalnya nanti aku bawa banyak barang, bisa tolong aku diboncengin ya", kata kak Amanda pada kak Ricky.
"Emang nggak bisa sama yang lain Manda?", tanya kak Ricky
"Pada udah sibuk sendiri sendiri tuh, aku nggak bisa kalo sendiri, gimana dong Rick?", kak Amanda menjawab
"Ya udah kalo gitu sama aku aja", kata kak Ricky. Tadinya aku berharap kak Ricky akan pergi denganku, tapi melihat adegan antara kak Amanda dan Kak Ricky bikin aku agak kecewa juga. Aku lihat dari gelagatnya memang kak Amanda sepertinya suka dengan kak Ricky karena terlihat selalu berusaha dekat dengan kak Ricky.
__ADS_1
Aku pergi dengan Roni ke tempat pertandingan dan disana kebetulan langsung ketemu kak Roni dan menanyakan aku pergi dengan siapa.
Pertandingan hari ini dimenangkan oleh SMA ku, sebelum semua pulang, aku sudah meminta Roni mengantarkan ku lebih dulu karena aku merasa males lihat kak Ricky pulang dengan kak Amanda lagi.
Malam ini jam 18.30 tiba tiba saja kak Ricky datang ke rumahku.
"Loh kak Ricky kok kesini, ada apa kak?", tanyaku agak kaget juga.
"Emang ada yang marah ya Ley kalo aku datang ke rumahmu?", tanya kak Ricky.
"Bukan gitu kak, Leysa kaget aja kakak malam malam kesini", jelasku.
Kak Ricky duduk dan mengajakku mengobrol mengenai hal hal disekolah.
"Kamu tadi pulang sama siapa Ley?", tanya kak Ricky.
"Sama Roni kak", jawabku
"Kenapa kamu tadi nggak nunggu aku Ley?", tanya kak Ricky lagi dan membuatku agak bingung ,"Harusnya tadi kamu nunggu, aku mau nganterin kamu pulang".
Aku tidak menjawab karena aku malah jadi bingung harus bagaimana.
Setelah mengobrol agak lama, akhirnya kak Ricky pamit pulang dan memintaku besok pulang sekolah bersamanya.
Hari ini aku main dengan Roni dan Rania karena kami sudah lama nggak main bareng.
"Iya lho Ley, aku liat kak Ricky ngasih perhatian lebih ke kamu, jangan jangan dia naksir kamu lho", Rania menambahkan omongan Roni.
"Ran, Ron aku terus terang bingung sama sikap kak Ricky, satu sisi dia emang perhatian sama aku tapi kadang dia juga bisa cuek minta ampun dan malah perhatian ke orang lain padahal ada aku disitu", kataku menjelaskan kegalauanku.
"Iya tapi sekarang masalahnya kamu suka nggak sama dia kalo masalah sikap kak Ricky kan memang dari dulu dia baik sama semua orang udah gitu fans nya banyak", Roni mencoba menyelidik.
"Nggak tahu ah aku bingung juga. Beberapa hari yang lalu aku sempet lihat kak Ricky juga merhatiin Sisca karena urusan pertandingan basket itu, ah ga tahu deh pusing aku", kataku galau.
"Ley, kak Ricky kan ganteng dan terkenal udah pasti lah banyak yang cari perhatian sama dia, lah kalo kamu bisa nerima itu semua ya nggak papa", kata Roni.
Memang kak Ricky terkenal anaknya baik bahkan guru guru pun sering membicarakan dia karena sikapnya. Mungkin sikap kak Ricky itu membuat orang lain merasa diperhatikan olehnya dan sekarang aku juga merasa jadi galau apakah memang benar kak Ricky punya perasaan yang sama seperti yang aku rasakan.
Pagi ini aku lihat kak Ricky dan Sisca sedang mengobrol di selasar kelasnya. Aku melewati mereka dan,"Ley, baru dateng?", tanya kak Ricky kepadaku.
"Iya kak, aku duluan ya", jawabku sambil berjalan ke kelasku.
Mendengar kak Ricky menyapaku membuatku seperti mendapat angin segar walaupun aku lihat kak Sisca memandangku kurang enak.
"Ley, kenapa mukamu begitu?", tanya Rania.
__ADS_1
"Ih nggak papa Ley, cuma agak nggak enak perut aja nih", jawabku jujur memang perutku rasanya kayak mual.
Siang ini sepulang sekolah Rania memintaku membantu membereskan buku di area perpustakaan.
"Ran, bentar aku keluar dulu ya", ijinku pada Rania karena aku merasa perutku berontak.
Aku langsung jongkok dekat saluran air berusaha mengeluarkan sesuatu dari perutku,"Huek huek......huek"
Tiba tiba aku rasakan tangan memijat tengkukku lembut,"kamu kenapa Ley?"tanya seseorang dengan suara yang aku kenal.
"Nggak tahu kak...huek huek", aku menjawab lalu kembali muntah. Aku sebenarnya malu dengan keberadaan kak Ricky saat aku malah sedang muntah.
"Keluarin aja semua Ley, biar enakan", kata kak Ricky. Aku coba muntahkan semua isi perutku.
"Ya Allah Ley, kenapa kamu kok jadi pucet gitu", kata Rania panik.
"Yuk udah berdiri dulu, duduk disana ya", kak Ricky membawaku duduk sambil mengelus punggungku.
Rania datang membawa minyak kayu putih dan membalurkan di perutku.
"Yuk Ley, kamu aku anter pulang ya, badanmu agak panas juga, bentar aku ambil motor ya ....Ran, tunggu disini ya", perintah kak Ricky.
Rania mengangguk sementara sambil tangannya terus memijat tengkukku juga. Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba aku lemes, mual dan badanku panas.
Beberapa saat kemudian, kak Ricky dateng dan memintaku segera naik ke atas motornya.
"Bisa Ley, ayo naik", kata kak Ricky sambil membantu menahan tanganku supaya nggak jatuh,"Ley, pegangan ya, aku nggak mau kamu jatuh, badanmu lemes banget".
Kak Ricky memegang kedua tanganku yang dia lingkarkan di perutnya. Aku cuma terdiam sambil juga merasakan hangatnya sentuhan kak Ricky.
Memang aku sakit, tapi aku juga merasa hatiku sangat nyaman berada sedekat ini dengan kak Ricky. Seragam yang aku pakai menjadi batas tubuh aku dan kak Ricky.
"Ley, badanmu panas banget, kerasa ke badanku", kata kak Ricky sambil menyentuh kakiku.
Sampai rumah, kak Ricky memapahku sampai depan rumah. Mami Dini membuka pintu dan berkata,"Loh Ley, kamu kenapa nak?",
"Maaf tante, kayaknya Ley sakit, badannya panas, tadi sempet muntah", terang kak Ricky.
"Ya udah bantu Tante bawa Leysa ke atas ya, si om masih di kantor", kata mami Dini.
"Kamar Leysa dimana Tante?", tanya kak Ricky
"Diatas nak........kamu bisa naik nggak Ley?", tanya mami Dini.
"Tante, Ricky ijin gendong Leysa aja boleh nggak?", kak Ricky meminta ijin pada Mami Dini.
__ADS_1
"Ya nggak papa kalo kamu nggak keberatan", jawab mami Dini.
Kak Ricky kemudian menggendongku dan membawaku naik ke kamar ku di lantai atas. Aku hanya diam sambil mengalungkan tanganku di lehernya. Terasa hangat perasaanku saat ini dan detak jantungku terasa lebih cepat dari biasanya. Oh kayaknya hatiku malah nggak bisa diajak berdamai karena rasa bahagiaku yang tidak bisa aku ungkapkan.