
Pagi pagi sekali kak Vanno sudah datang.
"Pagi Leysa.....gimana, udah enakan sekarang?, Demamnya udah turun ya? Sekarang apa yang Leysa rasakan?", tanya kak Vanno.
"Iya kak Dokter, udah rada mending cuma masih nggak enak perut Leysa walaupun udah jauh berkurang dari yg kemarin", jelasku
"Oke kalo gitu, kakak periksa ya? maaf ya Ley", kata kak Vanno sambil mengarahkan stetoskopnya di dekat dadaku. Setelah itu Kak Vanno mengarahkan tangannya ke bagian ulu hatiku sambil sedikit menekannya. Aku sedikit meringis karena memang ada rasa tidak enak saat ditekan.
"Kak, Leysa pengen ke kamar mandi, mami mana ya?" tanyaku pada kak Vanno.
"Mami tadi ke apotek bentar di depan Ley, mau nebus obatmu, yuk kakak anterin aja", kak Vanno menawariku.
Tidak ada jalan lain daripada aku nahan pipis, kak Vanno membuka selimutku dan kemudian aku berdiri langsung.
"Aduh......", aku jatuh terduduk lagi di tempat tidurku karena aku merasa kepalaku berputar sambil aku tanpa sengaja berpegangan pada tangan kak Vanno.
"Leysa, jangan buru buru berdiri, badanmu masih belum stabil, kamu nggak kuat kan", kak Vanno mengambil botol infus ku dan meletakkan dipangkuan ku lalu langsung menggendongku. Aku yang nggak siap hanya bisa berteriak karena kaget,"Astagfirullahaladziim Kakaaaaaaak".
"sssssttt malah teriak, nanti dikira kakak ngapa ngapain kamu lho, kamu nggak akan kuat jalan Ley", kata kak Vanno sambil menggendongku kemudian mendudukkan aku di toilet.
"Ley, pintu jangan dikunci ya, kakak tunggu di depan pintu, kalo mendadak pusing teriak ya, bisa sendiri kan, apa mau kakak bantu?", kata kak Vanno sambil menggodaku. Aku langsung pukul tangannya sambil memelototkan mataku.
"Aduh Ley, ini bekas cakaranmu kemarin aja belum sembuh sekarang tambah lagi kamu pukul", teriak kak Vanno sambil mengusap lengannya dan keluar dari kamar mandi.
Setelah selesai, kak Vanno kembali menggendongku ke tempat tidur, aku ingat masalah lengannya.
"Kak, liat dong lengan kakak, emang Ley kemarin menyakiti kakak ya?", tanyaku bingung.
"Ah enggak papa kok Ley, biasa aja", elak kak Vanno
"Kaaaaak Dokteeeeeer Vannnooooo liat sini", kataku sambil menahan tangan nya dan kubuka paksa lengan yg tertutup kaos. Aku lihat bekas luka yang cukup mengerikan. "Astagfirullahaladziim kakak Ya Allah, itu parah kak, maafin Leysa ya kak", kataku tidak sadar sambil mengelus luka di lengan kak Vanno.
Kak Vanno memegang tanganku sambil berkata,"Enggak papa Leysa, cuma kegores aja, aku kan dokter bisa aku obatin sendiri kok".
Sesaat aku tertegun saat merasakan kehangatan tangan kak Vanno. Ada desiran perasaan hangat menyeruak di hatiku.
__ADS_1
"Eh kak dok...ter, ma...af ya", kataku tergagap karena menahan malu juga sambil kutarik tanganku. Aku melihat kak Vanno juga sepertinya salah tingkah dihadapanku.
Setelah itu mami datang dan langsung memberikan obat padaku untuk aku minum setelah aku makan. Kak Vanno lalu segera meninggalkan rumahku untuk ke rumah sakit.
Hari ini adalah hari perpisahan kelas untuk kelas XII dan acaranya dilakukan di hotel berbintang di kota Bandung.
Aku sudah berada di tempat acara sejak siang dengan semua panitia acara ini.
Kak Ricky sudah datang dan menghampiriku. Kami hanya sebentar mengobrol, aku tinggalkan kak Ricky untuk mengurus beberapa hal supaya acara ini sukses.
Acara berlangsung cukup meriah, semua yang datang terlihat menikmatinya. Tiba tiba dari belakang seseorang menyapaku lembut.
"Leysa.......", ternyata kak Vanno ada diantara kerumunan orang yang hadir.
"Kak dokter......eh kok ada disini?", tanyaku malah kaget.
"Kakak nemenin Mega soalnya mendadak papa sama Mama nggak bisa datang ada keperluan penting", jelas kak Vanno
Ah iya aku baru ingat kan kak Vanno kakaknya kak Mega. Dari arah depan aku lihat kak Mega datang menghampiri kami. Lalu kak Mega mengajak kak Vanno untuk duduk.
Aku yang sedari tadi sibuk tidak menyadari kalo aku belum sedikitpun menyentuh makanan. Sekarang aku merasa perutku mulai agak berontak.
Kak Ricky menghampiriku,"Ley, kenapa kok diem gitu?, perutmu sakit lagi ya?", tanyanya sambil mengelus pundak ku.
"Iya kak, Leysa tadi lupa belum makan jadi maagku kambuh deh", jawabku
"Leysa, kamu tuh baru sembuh kok udah telat makan lagi, bentar diem disini kakak cariin makanan ya", kak Ricky terlihat sangat mengkhawatirkanku.
Aku segera mengambil obat yang selalu aku bawa dan berjalan mencari minum.
Sengaja aku mencari tempat duduk karena badanku juga mulai lemas.
"Leysa,...... kenapa kamu?", kali ini kak Vanno menghampiriku,"kok kamu pucet gitu?".
Aku menjelaskan pada kak Vanno yang tiba tiba memegang area ulu hatiku untuk memastikan apa maagku beneran kambuh.
__ADS_1
"Eh ngapain kamu pegang pegang Leysa, siapa kamu?", kak Ricky langsung mencekal tangan kak Vanno sambil sedikit menaikkan nada bicaranya menandakan kak Ricky sedang marah.
"Kak, ini dokter Vanno, kakaknya kak Mega yang kemarin Leysa ceritakan ke kakak saat Leysa sakit, dokter Vanno yang merawat", aku memberikan penjelasan pada kak Ricky supaya tidak salah paham.
"Oh maaf ya dokter, aku pikir dokter cowok yang mau gangguin Leysa. Kenalin Dokter, saya Ricky temen deketnya Leysa, silahkan dokter kalo mau cek keadaan Leysa", jelas kak Ricky sambil melepas cekalan tangannya.
Aku lihat kak Vanno sedikit kaget dengan penjelasan kak Ricky, tapi aku lihat dia mencoba tenang.
Selesai memeriksaku kak Vanno langsung berkata,"Leysa, cobalah makan sedikit dan minum obatmu, setelah itu pulang dan istirahat jangan sampai kamu kolaps kayak kemarin ya..........Ricky tolong anter Leysa pulang biar dia segera istirahat, kondisinya mulai menuruni".
"Iya oke Dokter, habis makan obat, aku anterin Leysa pulang terima kasih ya", jawab kak Ricky.
Setelah itu kak Vanno meninggalkan kami dan segera kak Ricky memintaku untuk makan, minum obat kemudian mengantarkanku pulang ke rumah.
POV Dokter Vanno
Ternyata Leysa sudah punya pacar, padahal aku merasa hatiku mulai memiliki perasaan berbeda padanya, tapi mungkin juga Leysa nggak memiliki perasaan apapun padaku karena usia kita terlalu jauh denganku .......gumam Vanno.
Vanno melihat Leysa anak yang baik. Sekalian pun usianya masih sangat muda tapi sikap dan perilaku nya baik seperti dia sudah dewasa.
Baiklah sepertinya sekarang aku harus segera melupakan perasaan ku pada Leysa karena aku sudah tahu kalo hati Leysa sudah ada pemiliknya.
Vanno hanya tersenyum, bisa bisanya dia jatuh cinta pada anak SMA yang bahkan lebih muda dari adiknya.
Di Rumah Leysa
"Leysa, aku rencananya mau kuliah di Jakarta gimana ya?......aku berat pisah sama kamu tapi aku diterima di UI", kak Ricky berkata sambil menggenggam tanganku.
Hatiku sebenarnya juga nggak rela kalo harus berpisah dengannya, hanya aku juga nggak bisa egois untuk memintanya tetap di Bandung menemaniku.
"Kak, nggak papa kejarlah cita cita kakak, toh Jakarta Bandung bukan jarak yang jauh, rumah kakak masih disini kan pasti kalo kakak pulang, kita bisa ketemu", kataku mencoba menenangkan kak Ricky.
Tibalah hari dimana kak Ricky memang harus berangkat ke Jakarta. Kak Ricky memelukku seakan berat dengan perpisahan sementara ini.
"Kak, jaga hati ya buat aku, Leysa percaya kakak pasti bisa", kucoba memberikan semangat pada orang yang sangat aku cintai ini.
__ADS_1