DILEMA HATI LEYSA

DILEMA HATI LEYSA
EPISODE DELAPAN


__ADS_3

Sudah empat bulan sejak kak Ricky kuliah di Jakarta dan beberapa kali aku sempat bertemu dengannya ketika kak Ricky pulang ke Bandung.


Seperti hari ini kami bertemu dan ngobrol santai di cafe.


"Kakak kemarin kemana, kata Tante Kakak udah dateng pagi tapi aku nggak bisa hubungi kakak", tanyaku.


"Oh he eh kemarin kakak ke rumah Shinta, temen kuliah di UI, kakak baru tahu kalo rumahnya juga di Bandung terus minta kakak main ke tempatnya",jawab kak Ricky dengan entengnya


"Temen kuliah satu jurusan Kak?", tanyaku.


"Enggak sih cuma temen satu fakultas jadi bareng organisasi, dia itu mantan anak SMA 1 ...", jelas kak Ricky malah panjang lebar menceritakan siapa kak Shinta.


Hal ini bukan sekali saja tetapi sudah berulang kali terjadi. Bahkan berulang kali aku dapat informasi kurang mengenakkan dengan sikap kak Ricky dengan temen temennya yang tidak berubah masih sama seperti saat masih SMA.


Disela pertemuan antara aku dan kak Ricky yang sangat jarangpun selalu saja dipenuhi cerita mengenai kehebatan dia dengan disekelilingi temen temen wanitanya.


Andai saja aku bisa langsung protes dengan sikapnya mungkin akan aku lakukan tapi aku nggak bisa melakukannya. Entah karena perasaanku terlalu dalam atau rasa egoku yang tak ingin kak Ricky merasa justru aku yang terlalu menyayanginya.


Sebenernya apa sih yang terjadi dalam hubunganku dengan kak Ricky sempat membuatku merasa galau. Sudah hampir satu tahun kami berhubungan tapi sepertinya tidak ada peningkatan dalam komunikasi terhadap komitmen dari hubungan kami.


Hari ini aku bertemu dengan kedua sahabatku Roni dan Rania.


"Gimana hubunganmu sama kak Ricky, Ley?"tanya Roni yang sudah mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya.


"Iya Ley, apa udah ada perubahan sikap dari kak Ricky?", tanya Rania sambil menyeruput teh tarikku karena miliknya udah habis.


"Aku bingung.......kok aku nggak pernah bisa merasa nyaman dengan sikapnya sementara satu sisi yang lain aku sangat menyayanginya', jawabku sambil menutup wajahku.


"Ley, coba kamu berpikir, apa bukan menyiksa diri namanya kalo kamu selalu merasakan tidak nyaman terhadap sikap kak Ricky padamu baik saat jauh maupun dekat denganmu tanpa kamu bisa protes", Rania akhirnya membuka kalimat yang cukup menghujamku karena memang itulah kebenaran yang tidak pernah berani aku ungkapkan.


"Ley, kamu sahabat kita dan kita sayang sama kamu......kamu mencintai seseorang tanpa merasakan nyaman kan ibarat kamu cuma punya idola yang nggak bisa kamu kendalikan. Sementara yang namanya menjalin hubungan kan seharusnya kalian mencoba mencari kenyamanan dengan mengurangi atau menambah sesuatu jika ada kelebihan dan kekurangan diantara kalian", Roni pun menambahkan kalimat yang membuatku berpikir.


"Terus aku mesti gimana......jujur aja aku juga merasa akhir akhir ini justru kak Ricky hanya asyik menceritakan banyak temennya ketimbang urusannya dengan aku", keluhku pada sahabatku.


"Ya udah kamu coba mikir dulu gimana yang terbaik buat kamu sendiri Ley, kalo aku dan Rania apapun keputusanmu pasti akan kami dukung ya", kata Roni mencoba memberikan semangat padaku.


Sejak pertemuan ku dengan kedua sahabatku itu, aku sendiri mulai berpikir tentang hubungan ku dengan kak Ricky yang harus diperjelas akan kami bawa kemana. Tanpa aku sadari justru rasa cintaku membuatku tidak bisa menggunakan logika ku dengan baik. Pemikiran yang selalu terlintas kuabaikan atas nama cinta.

__ADS_1


Hari ini aku menemani mami menjenguk om Wildan adik mami dirumah sakit. Om Wildan kena DB sehingga harus dirawat di RS.


"Hai Wil.....gimana kondisi mu?", tanya mami


"Eh Mbak..... Leysa......masuk sini, udah lumayan mendingan ini", kayabOm Wildan.


Aku langsung mencium tangan dan pipi Om ku ini dan duduk di ranjangnya sembari memainkan remote tempat tidur yang aku naik turunkan.


"Ley udah itu nanti rusak ranjangnya, kamu tuh udah gede masih gitu aja", kata mami.


Om Wildan membiarkan saja kelakuanku sambil menyuapiku apel. Dari kecil memang aku dekat dengan Om Wildan sebab om Wildan nggak punya anak perempuan.


Sampai akhirnya aku malah tertidur di ranjang pasien karena om Wildan justru memilih duduk di kursi mengobrol dengan mami.


"Leysa.....bangun dulu yuk, ini dokter udah dateng mau periksa om dulu", kata mami membangunkan aku.


Aku mengerjapkan mataku sambil menyesuaikan cahaya disekitar. Badanku aku balik ke arah kanan dan betapa kagetnya aku saat aku lihat dokter dengan jas putihnya berdiri di depanku sambil tersenyum,"ini pasiennya mau digantiin sama kamu ya Leysa, ya udah sini kakak siapin lagi infusnya".


Aku langsung loncat turun tanpa aku sadari aku belum menurunkan ranjang pasien yang tadi aku naikkan hingga hampir saja aku jatuh, untung aja kak Vanno, yang berdiri didepanku menangkap badanku, kalo tidak bisa aja aku menabrak meja kecil disamping ranjang pasien.


Aku yang sudah berada di dekapan kak Vanno pun justru terdiam.


"Hm...hm.....hm ....mau terus peluk dokter Vanno Ley.....ya udah berarti Om nggak jadi diperiksa dong", tanya om Wildan sambil terkekeh.


Aku langsung melepaskan pegangan ku pada kak Vanno," maaf kak".


"Apa kabar Ley......lama ya kita nggak ketemu? kamu udah mau lulus ya", tanya kak Vanno.


"Iya kak, bentar lagi kelulusan ...doain ya kak......kakak apa kabarnya, kok Leysa belum pernah dapet undangan ya kak, apa kakak lupa ngundang Leysa", kataku membuka pembicaraan.


"Ley, Om mau nyariin dulu calonnya soalnya dokter Vanno nggak bisa nyari sendiri katanya",kata om Wildan sambil tertawa.


Selesai memeriksa Om Wildan, dokter Vanno minta ijin keluar dulu, kemudian Leysa disuruh om Wildan cari makan diluar soalnya Leysa belum makan, sementara mami Leysa sekalian cek lab dibawah kayaknya bakal agak lama.


Leysa berjalan di koridor rumah sakit dan ternyata dokter Vanno masih di nurse station memeriksa rekam medis pasien.


"Leysa.....mau kemana?", tanya dokter Vanno membuat Leysa kaget.

__ADS_1


"Eh kak Dokter masih disini, Leysa mo cari makan kak, mo keluar aja, serem mo cari makan disini takut kesasar ke kamar mayat hiiiiiii", kataku bercanda.


Kak Vanno tertawa mendengar alasanku yang aneh sambil berkata," Ley, tunggu bentaran ya makan sama kakak, kakak juga belum makan".


Aku mengangguk sambil duduk menunggu kak Vanno. Selesai semuanya kemudian kak Vanno mengajakku ke ruangannya sebentar.


"Siang Dokter, aduh udah bawa calonnya ke RS, semoga cepet undangannya ya Dok", goda suster di luar ruangan dokter Vanno


"Aamiin doanya ya", kak Vanno malah menimpali perkataan mereka sambil berbisik padaku,"maaf ya Ley, biar menjelaskan nya nggak kelamaan".


Diruangan kak Vanno yang terlihat cukup maskulin, terlihat disana ranjang pasien ditambah beberapa alat periksa. Aku hanya melihat beberapa foto keluarga tanpa ada foto spesial.


"Kak Vanno beneran nggak punya pacar?......masak iya dokter sukses nggak ada yang mau, itu kan temen temen dokter atau suster cantik banyak kak, kenapa nggak milih salah satu aja", cerocosku.


Kak Vanno cuma tersenyum mendengar penuturanku. "Ayo berangkat, kakak udah laper, kita ke mall sebelah ya, ada cafe enak disitu bisa sambil ngobrol, kakak baru ada jadwal nanti 2 jam lagi".


Sampai di cafe, kak Vanno langsung pesan makanan dan aku ikut aja pesanannya.


"Kamu gimana Ley sekarang?....kemana nanti mau terusin kuliahnya?", tanya kak Vanno.


"Yang jelas Leysa mau di Bandung aja kak, biar deket papa mama, nah tapi buat jurusannya Leysa masih ragu ragu apa ke perhotelan atau akuntansi, yang jelas enggak kayak kakak aja soalnya nggak nyampe otakku kak", kataku sambil tertawa.


"Biar deket sama pacar kamu ya Ley?", tanya kak Vanno.


"Yey....enggak lah kak, kak Ricky sekarang ada di UI jauh di Depok", kataku sambil tersenyum.


"Wah awet juga ya kamu sama dia, udah cocok luar dalam nih kayaknya", kata kak Vanno.


Aku diam kemudian hanya jawaban singkat dari mulutku,"Andai saja Kak".


"Lho ko...?", tanya kak Vanno sambil membelalakan matanya tanda ingin tahu ada apa, tapi sebelum ada pertanyaan lain pesanan kami sudah datang dan kami tidak meneruskan pembicaraan tadi.


"Kak, makasih lho Leysa udah ditraktir, semoga nantinya kita bisa ketemu lagi ya kalo Kakak nggak keberatan", kataku,"Kakak masih simpen nggak nomor Leysa?".


"Ada kok asal nggak ganti kamunya.....Leysa nggak papa kalo kakak menghubungi Leysa?", tanya kak Vanno.


"Aneh banget pertanyaan kakak ih, ya nggak papalah kak, yuk ah kak dadah", kataku sambil menuju ke arah kamar om Wildan lagi.

__ADS_1


__ADS_2