
Alvin menatap punggung Aliya yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Alvin tau, Semua ini memang salahnya. Pria itu tidak bisa menyalahkan Aliya jika dia tidak bisa semudah itu menerima pernikahan ini.
"Bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu
mencintaiku Al. Bagaimana jika suatu saat nanti kamu tau, Bahwa keluarga ku yang sudah membuat mu terpisah dari keluargamu" Ucap Alvi sendu
Di desa Aliya
"Ayah. Bagaimana ini, Kok bisa Aliya menikah dengan pria lain" Ucap Firman yang baru saja tau jika Aliya sudah menikah
"Sudahlah Fir. mungkin Aliya memang bukan jodoh kamu, Cari yang lain saja. Kan masih ada Bella yang cinta mati sama kamu" Jawab sang ayah
"Gak bisa gitu dong yah. Dari dulu pak Usman kan sudah mengatakan jika akan menjodohkan Aliya dengan Firman. Apa ayah tidak malu ngeliat anak kita di tinggal nikah begitu saja"Ucap wanita paruh baya yang tak lain adalan bundanya Firman
"Firman akan merebut Aliya lagi" Ucap Firman
"Jangan Firman. Suami Aliya adalah anak orang kaya"
"Firman tidak perduli yah. Firman akan pindah sekolah ke jakarta" Ucap Firman dan langsung keluar dari dalam rumahnya
"Dasar Firman. Dari dulu tidak pernah berubah, Sifatnya sangat mirip kayak bunda" Ucap Iwan pada Yeyen
"Biarin saja. Enak saja Aliya menikah dengan pria lain. Bisa-bisa aku kehilangan tambang Emas" Ucapnya
Mendengar perkataan Yeyen membuat Iwan menatapnya sambil mengerutkan keningnya"Apa maksud bunda?"
"Tidak ada apa-apa" Jawab Yeyen dan langsung masuk ke dalam rumah nya untuk menghindari pertanyaan dari suaminya
"Aku harus bisa membuat Firman menikah dengan Aliya, Karna mau bagaimana pun, Aliya akan menjadi tambang emas ku di masa depan"Ucap Yeyen dalam batinnya
Kembali lagi sama Alvin dan Aliya. Hari ini Aliya tidak lagi membawa motor, Karna sudah ada Jihan yang menunggu Aliya di bawah.
"Makan dulu Al" Ucap Alvin saat melihat Aliya keluar dari dalam kamarnya
"Iya" Jawab Aliya singkat
Entah kenapa, Setiap kali mengingat kejadian malam itu, Aliya selalu merasa benci terhadap Alvin. bagaimana bisa hal memalukan itu terjadi.
"Berangkat sama aku mau gak Al?"
"Tidak usah, Sudah ada Jihan yang menunggu di bawah. Aku berangkat dulu" Ucap Aliya dingin dan langsung keluar dari dalam Apartemen meninggalkan Alvin yang masih menatapnya.
Alvin hanya bisa menghela nafas saat melihat sikap Aliya yang masih saja dingin terhadapnya. kemudian Alvin juga ikut keluar dari dalam Apartemennya,
"Al tunggu" Ucap Alvin sambil mengejar Aliya
Mendengar namanya di panggil membuat Aliya menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah Alvin Yang sudah mendekat ke arahnya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ini. Aku buatkan makan siang. Jangan lup nanti di makan dan bawa ke kantin ya" Pungkas Alvin sambil memberikan kotak bekal pada Aliya
"Iya, Terimakasih" Balasnya dan langsung melanjutkan langkahnya kembali.
Alvin tersenyum bahagia. Biarpun sikap Aliya masih saja dingin, Setidaknya wanita itu sudah mau menerima apa pun yang sudah Alvin berikan.
"Perlahan tapi pasti aku akan membuat kamu jatuh cinta Al. Tidak perduli dengan sikap kamu saat ini, Yang pasti aku akan membuat kamu membalas perasaan ku. Aku akan setia menunggu hari itu datang" pungkasnya sambil mengangkat kedua sudut bibirnya.
Alvin sudah bertindak sejauh ini. Dia sudah melakukan segala cara untuk mendapatkan Aliya. Alvin tidak perduli bagaimana caranya mendapatkan Aliya. Tapi yang penting, Saat ini Alvin sudah memiliki Aliya.
Aliya memandang kotak yang di berikan Alvin. Biarpun saat ini Aliya masih marah pada pria itu, Namun Aliya tersenyum saat mengingat semua perhatian yang sudah Alvin berikan untuk nya.
"Kenapa aku malah senyum-senyum ingat pria tengil itu" ucap Aliya sambil menaruh kotak makanan itu ke dalam tasnya.
"Aku lama ya Ji? Maaf ya" Ujar Aliya setelah tiba di dekat Jihan
"Tidak apa-apa Al. Sudah ayo naik, Nanti kita terlambat lagi"
"Iya"
Biarpun baru kenal kemarin, Tapi Aliya dan Jihan merasa sudah begitu dekat. Selama ini Jihan tidak pernah memiliki sahabat dekat, Tapi saat bertemu dengan Aliya, Mereka langsung bisa akrab secepat itu.
"Pegangan Al, Aku akan ngebut, Ini waktunya sudah sangat mepet"
"Hati-hati Ji"
"Iya, Lo tenang saja. Gini-gink gue itu pernah menang balap liar"
"Iya, Udah tidak usah banyak tanya. Pegangan saja"
Jihan melajukan motornya sangat cepat. Karna kepandaiannya, Jihan hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk tiba di sekolahnya.
Tepat saat Jihan memarkirkan motornya, Langsung terdengar suara bel masuk. "Untung saja tidak telat ya Ji"
"Kalau bareng Jihan semua akan aman terkendali. Yuk masuk" Ucap Jihan sambil menarik tangan Aliya
Jam pelajaran pertama sudah di mulai, Aliya melirik ke arah meja Alvin yang masih kosong.
"Alvin kenapa belum datang ya?" Ucap Aliya tanpa sadar
Kartika yang mendengar itu langsung menatap tajam Aliya"Ngapain lo nungguin Alvin. ingat ya, Jangan keganjenan sama calon pacar gue" Ucap Kartika pada Aliya
"Hei nenek lampir, Memang nya lo yakin kalau Alvin mau menerima Elo? Kalau gue sih gak yakin ya" Ujar Jihan
"Diem lo!"
Tak lama kemudian, Pintu kelas terbuka lebar dan langsung menunjukkan adanya sosok Alvin yang berdiri tepat di ambang pintu.
"Maaf pak saya telat" Ucap Alvin pada pak Erik.
__ADS_1
"Kamu punya jam?" Tanya pak Erik sambil melihat ke arah Alvin
"Gak punya pak. Jam saya rusak" Jawab Alvin seperti biasa
"Push up"
"Sudah paham saya" Balas Alvin dan langsung mengambil posisi
Sudah tidak jarang Alvin terlambat pada jam pelajaran guru matematika itu. Bukan karna di sengaja, Tapi entah kenapa selalu ada saja halangan di tengah jalan.
Setelah itu, Alvin sudah di perbolehkan untuk ikut mata pelajarannya. Alvin berjalan sambil menatap ke arah Aliya yang juga sedang melihat ke arahnya.
Pria itu mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Aliya"Emang dasar pria tengil" Batinnya
Agam yang sejak tadi memperhatikan Aliya dan Alvin hanya mengulum bibir menahan tawa. Ternyata seperti ini jika ketua geng motor sudah jatuh cinta. Semua cara bisa di lakukan.
Agam memperhatikan Aliya secara diam-diam. Pria itu mengingat Cyra yang sering menangis karna merindukan sosok Namira "Maafkan aku yang belum bisa mengatakan kebenarannya Al. Suatu hari nanti, Aku akan mengatakan jika waktunya sudah tepat. Aku janji"Ucap Agam dalam batinnya
Setelah itu Agam melirik ke arah Alvin yang ternyata masih terus memperhatikan Aliya."Bagaimana jika seandainya suatu hari nanti apa yang aku takut kan terjadi, Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakit nya kamu Vin" Batinnya lagi
"Gam, Lo masih ada hutang penjelasan sama gue. Nanti jam istirahat gue tunggu di ruftof" Bisik Alvin pada Agam
Mendengar perkataan Alvin membuat Agam paham apa yang sedang di maksud oleh Alvin. Pria itu memikirkan alasan apa yang harus Agam berikan pad Alvin
"Iya" Jawab nya dingin seperti biasa
Tanpa di sadari, Sekarang sudah waktunya jam istirahat. Jihan mengajak Aliya untuk pergi ke kantin, Namun Aliya menolak dengan alasan sudah membawa bekal.
"Kantin yuk Al"
"Maaf Ji, Aku sudah membawa bekal. Kamu sendiri dulu ya"
"Masa lo tega gue sendiri Al. Ayolah makan di kantin"
"Yaudah deh boleh" Ucap Aliya dan langsung membawa bekal nya
Namun sangat di sayangkan jika bekal yang di bawa Aliya malah memiliki nasib Menyedihkan saat Kartika dengan sengaja menyenggol kotak itu hingga jatuh.
"Uupps sorry sengaja" Ucap Kartika pada Aliya
Aliya menatap nasi goreng yang sudah di siapkan Alvin untuknya. Melihat nasi goreng itu membuat Aliya merasa sangat marah.
"Apa kamu bilang! Sengaja? Apa kamu tau bagaimana dia membuatkan nasi goreng ini untuk ku?" Ucap Aliya sambil menatap tajam Kartika
"Gue gak perduli, Makanya, Jangan macam-macam sama Kartika"
Aliya yang sudah sangat geram dengan kelakukan Kartika langsung mendaratkan satu tamparan keras tepat di pipi kanan Kartika.
Plaaaakk
__ADS_1
"Jangan pernah ganggu aku!" Ucapnya dan langsung keluar dari dalam kelas itu