Dinikahi Badboy Tengil

Dinikahi Badboy Tengil
Rasa curiga Farel


__ADS_3

Farel tak lagi berkata apa-apa. Pria itu hanya memperhatikan langkah Aliya yang terlihat sangat lesu. "Aku tau apa yang jamu rasakan saat ini Al. Melihat kamu seperti itu, Jujur saja. Aku juga ikut merasakan sakit" ucap Farel sambil terus memperhatikan langkah kaki Aliya


Farel memutuskan untuk mengikuti kemana Aliya pergi. Karna mau bagaimanapun, Tentu saja Farel tidak mau terjadi apa-apa terhadap Aliya. Sosok wanita yang sudah berhasil membuatnya menaruh hati.


Sedangkan Aliya, Wanita itu terus melangkahkan kakinya keluar dari gedung sekolah. Pagi tadi Aliya memang berangkat bersama dengan Alvin. Namun, Kali ini dia memutuskan pulang sendiri dan tidak mau menunggu Alvin yang masih sibuk dengan urusannya sendiri.


Langkah Aliya sangatlah lesu. Sesekali Aliya mengusap kedua matanya yang sudah mulai berkaca-kaca. Terlalu sakit saat mengingat akan ponselnya yang hilang. Bukan perihal barangnya. Namun, Isi dari ponsel itu dan juga perjuangan sanga ayah untuk mendapatnya sangatlah susah payah. Hasil dari kerja keras papa Usman.


"Maafkan Aliya yah. Bukannya Aliya tidak bisa menjaga pemberian ayah. Hanya saja, Ponsel itu jatuh saat insiden yang mengerikan itu terjadi pada Aliya. Aliya kangen sama ayah dan juga mama. Aliya ingin kembali tinggal bersama kalian" ucap Aliya dalam batinnya sambil terus melangkahkan kakinya pelan.


Tanpa Aliya sadari, Ternyata sudah lebih dua jam dia berjalan dari sekolah ke apartemen Alvin. Wanita itu pulang dengan jalan kaki sambil terus menjatuhkan air matanya.


"Kenapa Aliya masuk ke dalam apartemen ini? Jadi dia tinggal di sini" ucap Farel sambil terus memperhatikan Aliya yang sudah masuk ke dalam. Karna penasaran, Akhirnya Farel Memutuskan turun sekalian mau mampir ke apartemen milik Alvin. Apartemen yang biasa mereka gunakan untuk party.


"Kebetulan sekali di apartemen ini. Sekalian saja aku mampir ke apartemennya Alvin" ucap Farel sambil berjalan cepat mengejar langkah Aliya.


****


"Kurang ajar! Ternyata orang itu tau jika di bagian sini sudah aku berikan cctv tersembunyi"ucap Alvin sambil mengepal kuat tangannya.


"Sudah, Vin. Masih banyak cara untuk kita bisa menemukan siapa caranya. Aku juga tidak akan tinggal diam dalam hal ini. Siapapun pelakunya, Dia harus membayar mahal akan hal itu" ucap Agam sambil menepuk pundak Alvin.


"Thanks ya Gam. Lo udah mau bantu gue dalam hal ini"


Agam terdiam sesaat"Ya jelas aku mau bangu, Vin. Karna Aliya bukan hanya istri lo, Tapi dia juga saudara sepupu gue. Anak dari om Smith dan juga tante Cyra yang hilang karna ulah keluarga kamu" ucap Agam dalam batinnya


"Kenapa kamu diam saja, Gam"

__ADS_1


"Oh maaf maaf, Oh ya, Aliya pulang sama siapa, Vin?" ucap Agam mengalihkan pembicaraan.


Mendengar pertanyaan Agam membuat Alvin menepuk jidatnya sendiri pelan. Pria itu berlari sambil mencari keberadaan Aliya. Namun ternyata sekolah itu sudah cukup sepi.


"Kamu cari apa, Vin?" tanya Agam saat melihat Alvin menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Aku sedang cari Aliya. Astaga, Kenapa aku harus melupakan dia" ucap Alvin yang terlihat sangat panik.


"Kamu kenapa bisa sampai lupa. Vin..Bagaimana jika terjadi apa-apa sama Aliya"


Alvin langsung berjalan cepat menuju mobilnya. Satu hal yang ada dalam benaknya saat ini. Dia takut terjadi sesuatu pada Aliya. Alvin mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Aliya. Namun ternyata nomor Aliya tidak bisa di hubungi.


Hal itu tentu saja semakin membuat Alvin merasa sangat panik. Kemana dia harus mencari keberadaan Aliya. Alvin membawa mobilnya dengan sangat cepat. Melesatkan mobil itu keluar dan menjauh dari gedung sekolah milik keluarganya.


"Kemana kamu, Al. Kenapa nomor kamu tidak bisa di hubungi" ucap Alvin sambil terus membawa mobil itu menuju ke apartemennya.


******


Di Tempat lain


Dion baru saja tiba di rumahnya. Siang ini rumah terlihat sangat sepi. Tidak ada mama di ruang tengah. Benar-benar sepi. Biasanya setiap Dion pulang dari mengajar, Selalu ada sang mama yang menyambut di sana. Tapi tidak dengan hari ini, Rumah itu benar-benar terlihat sangat sepi seperti tidak berpenghuni.


"Kemana orang rumah ya, Kenapa sepi sekali" ucap Dion sambil menuangkan segelas air putih yang dia ambil dari lemari pendingin. Meneguk habis semua air putih itu.


Setelah itu. Dion langsung berjalan naik menyusuri setiap anak-anak tangga di sana. Naik ke lantai dua. Dimana letak kamarnya berada. Saat sudah tiba di dalam kamarnya, Dion merebahkan tubuhnya di atas ranjang di sana. Merenggangkan otot-otot nya yang terasa sangat pegal.


Tiba-tiba saja Dion teringat akan ponsel yang dia temui tadi di sekolah. Dion mengambil ponsel itu dari saku celananya, Mengambil charger dan mengisi daya terlebih dahulu. Cukup penasaran dengan siapa pemilik ponsel itu sebenarnya.

__ADS_1


"Sambil menunggu ponsel ini ngisi daya, Lebih baik sekarang aku mandi. Rasanya tubuhku sangat lengket"ucap Dion dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Membiarkan tubuhnya berendam sambil memejamkan kedua matanya. Aroma bunga Lily sudah membuatnya merasa sangat tenang.


*********


Farel terus mengikuti langkah Aliya. Keningnya mengerut saat melihat Aliya masuk ke dalam apartemen milik Alvin. Ini bukan hanya sebuah kebetulan bukan.


"Kenapa Aliya masuk ke dalam apartemen Alvin. Aku tidak salah kok, Aku yakin jika apartemen itu adalah milik Alvin" ucap Farel sambil terus mematung di tempatnya.


Tak berselang lama, dia melihat kedatangan Alvin dengan raut wajah paniknya masuk ke dalam apartemen itu. Lagi-lagi Farel mengerutkan keningnya.


"Ada hubungan apa mereka sebenarnya" ucap Farel sambil terus memperhatikan apartemen Alvin.


Dari sana dia bisa melihat jelas Alvin yang sedang memeluk Aliya sangat erat. Farel bisa melihat ada rasa sayang yang begitu besar dari diri Alvin.


Karna merasa sangat penasaran, Akhirnya Farel memutuskan untuk lebih mendekat agar bisa mendengar apa yang saat ini sedang mereka berdua bicarakan.


"Al, Kenapa kamu pulang tidak memberitahu aku sayang. Aku panik mencari kamu di sekolah" ucap Alvin yang terdengar sangat lembut dia ucapkan.


"Sayang? Sebenarnya ada hubungan apa mereka berdua" ucap Farel lagi


"Sayang, Tolong jangan seperti ini. Apa kamu tau bagaimana paniknya aki saat tidak menemukan kamu di sekolah. Aku telpon kamu juga tidak ada jawaban sama sekali" gumam Alvin yang masih terus memeluk Aliya sangat erat.


"Ponselku hilang, Aku tidak bisa menghubungi kamu" jawab Aliya yang terdengar sangat lirih


"Apa! Ponsel kamu hilang?"


"Jangan jangan mereka berdua" ucap Farel yang masih setia memperhatikan dari luar Apartemen.

__ADS_1


__ADS_2