
"Ooo jadi kesepian kalau tidak ada babang Alvin" Ucap Alvin secara tiba-tiba dan membuat Aliya begitu terkejut.
Mendengar hal itu membuat Aliya menoleh ke arah Alvin yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.
"A..alvin. Sejak kapan kamu di situ? Bukan kan kamu ada di rumah mu?" Ucap Aliya pada Alvin
Wanita itu merasa begitu malu dengan apa yang sudah dia katakan jika seandainya Alvin mendengar apa yang sudah Aliya ucapkan.
"Ya sudah cukup lah untuk mendengar apa yang sudah kamu katakan istriku. Jadi kamu sudah mulai memerlukan keberadaan ku" Ucap Alvin sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih. Gak usah kepedean. Yang ada, Aku malah seneng banget kalau tidak ada kamu di sini. Pria tengil menyebalkan" Ucapnya sambil memalingkan wajahnya dari Alvin.
"Masa sih istriku. Tapi tadi buktinya kamu ngomong seperti itu, Atau jangan-jangan kamu sudah mulai sayang?" Tebak Alvin sambil mendekat ke arah Aliya dan duduk di sampingnya.
"Gak usah kebanyakan ngayal. Mana ada aku mulai sayang sama cowok tengil kek kamu"
"Tapi tadi buktinya, Kamu bilang kesepian kalau gak ada babang Alvin. Dan tadi pagi, Kenapa kamu sampai semarah itu sama Kartika?"
Perkataan Alvin membuat Aliya terdiam. Dia tidak tau harus menjawab apa. Aliya sendiri saja tidak paham dengan apa yang sudah dia lakukan. Kenapa sampai semarah itu ketikan makanan yang sudah di siapkan Alvin berakhir menyedihkan di atas lantai kelas mereka.
"Kenapa gak bisa jawab" Ucap Alvin lagi
"A..aku lapar. Makanya gak bisa jawab. Kamu jahat, Istri di tinggal gak dibeliin makanan. Kan aku gak ada kenal orang di sini. Nelpon Jihan juga gak bisa" Ucap Aliya mengalihkan pembicaraan
"Lagian kenapa kamu balik lagi. Bukan nya kedua orang tua kamu lagi dirumah?"
"Aku tuh suka kesel kalau liat wajah kamu Vin. Wajah kamu itu selalu mengingatkan aku sama kejadian malam itu"
"Aku tidak habis pikir kamu melakukan cara itu untuk mendapatkan aku. Aku sadar jika wajah ku memang cantik dan langsung mampu membuat kamu jatuh cinta, Tapi gak gitu juga caranya Vin"
"Kan kamu bisa mengatakan secara baik-baik"
Melihat Aliya sejak tadi nyerocos tanpa mau berhenti, membuat Alvin semakin mendekat dan langsung mencium singkat bibir Aliya. Mendapat ciuman mendadak seperti itu, Aliya membelalakkan kedua matanya.
Jantungnya berdegup kencang saat Alvin mendaratkan ciuman singkat pada bibir nya. "Jangan banyak bicara, Semua sudah terlanjut. Nanti aku makan kamu" Ucap Alvin dan langsung berdiri dari duduknya.
Pria itu mengambil kebab yang baru saja Alvin belikan khusus untuk Aliya. Alvin terkekeh saat melihat raut wajah Aliya yang masih membeku karna ulah Alvin.
"Kenapa diam. Apa ciumannya kurang?" Ucap Alvin yang sengaja ingin menggoda Aliya
"Dasar pria mesum"Cibir sambil melemparkan bantal di tangannya
Alvin hanya tersenyum melihat raut wajah Aliya. Saat ini Aliya terlihat benar-benar menggemaskan. "Kamu tadi bilang lapar kan? Makanlah dulu. Aku sudah membelikan mu kebab. Jangan sampai kamu sakit" Ucap Alvin lembut sambil menatap Aliya dalam dan memberikan kebab itu pada Aliya
Melihat Alvin membelikan nya kebab, Aliya langsung mengangkat kedua sudut bibirnya. Karna memang Aliya begitu menyukai kebab. Entah apa alasannya. Tapi yang pasti, Aliya sudah menyukai makanan itu sejak masih kecil.
"Terimakasih Vin" Ucapnya dan langsung makan kebab itu.
__ADS_1
"Suka? Enak kan?" Tanya Alvin pada Aliya yang terlihat begitu menikmati kebab yang Alvin belikan untuk nya.
"Biasa aja" Jawabnya
Di Tempat Lain
"Bunda. Kenapa bunda diam saja?Sejak tadi Jovan perhatikan bunda banyak melamun. Ada apa bunda?" Tanya Jovan yang menyadari raut wajah bundanya
"Bunda gak papa kok sayang. Hanya saja bunda teringat sama adik mu Namira" Ucapnya sendu
Mendengar itu membuat Jovan mengambil nafas berat. Apa yang harus Jovan katakan agar bundanya tidak terus-terusan mengingat adiknya.
Sebenarnya, Jovan juga bisa merasakan apa yang saat ini sedang dirasakan oleh bundanya. Kehilangan sosok adik yang sangat dia sayangi. Adik perempuan satu-satunya.
"Bunda. Jovan tau apa yang saat ini bunda rasakan. Karna bukan hanya bunda yang merasa kehilangan, Jovan ayah dan juga Dion merasakan hal yang sama bunda. Bunda ikhlasin Namira ya, Biarkan Namira tenang di alam sana" Ujar Jovan sambil memeluk Cyra sangat lembut. Sudah tidak jarang jika Cyra selalu meneteskan air matanya setiap kali teringat akan Namira.
Tak lama kemudian. Smith dan Dion datang secara bersamaan. Karna hari ini adalah hari kamis. Sudah seperti biasa jika Dion pulang lebih malam dari pada hari-hari biasanya.
"Bunda, Kenap menangis? Ingat sama Namira lagi?" Tanya Smith saat melihat Cyra terisak dalam dekapan anak sulung mereka
"Bayangan Namira selalu saja muncul yah. Bunda benar-benar susah untuk melupakan Namira" Ucap Cyra di sela isak tangisnya.
"Ayah tau. Tapi kalau bunda selalu mengingatnya, Kasian Namira bun. Birkan dia tenang di sana" Ucap Smith sangat lembut
"Iya bunda. Ikhlaskan Namira. Dion yakin bunda pasti bisa"
"Anak itu, Seandainya saja Namira masih hidup, Pasti saat ini umurnya sudah sebesar dia"Ucap Cyra tiba-tiba.
Ketiga laki-laki itu yang mendengar perkataan Cyra tentu langsung merasa penasaran siapa yang saat ini sedang si maksud oleh Cyra."Siapa bunda?" Tanya Dion cepat
"Anak yang kemarin tidak sengaja menabrak bunda. Entah kenapa bunda kepikiran dia terus. Wajahnya itu seperti tidak asing buat bunda. Bunda merasa pernah melihat wajahnya" Ucap Cyra sambil melirik ke arah mereka bertiga
"Maksudnya bunda Aliya?" Ucap Dion
"Katanya siapa nama dia Aliya. Memangnya kamu mengenalnya Di?"
"Ternyata, Dia itu anak baru di sekolah ALINDRA bun"
"Sekolah tempat kamu ngajar Di?" Tanya Jovan sambil menatap Dion
"Iya kak. Dia anak baru, Namanya Aliya pratiwi"
DI MANSION ABIMANA
"Ayolah kak, Bujuk Alvin agar mau di jodohkan sama Ratna" Ucap Wiwit pad Anisa
"Gak bisa Wit. Alvin itu sudah ada pilihan sendiri. Anaknya cantik, Sopan, Baik lagi"
__ADS_1
"Ratna juga baik, Cantik, Sopan juga" Balas Wiwit
"Ya gimana ya Wit, Kamu tau sendiri kan bagaimana sikapnya Alvin. Kalau sudah A ya tetap A. Gak bisa di rubah lagi"
Mendengar perkataan Anisa membuat Wiwit merasa begitu kesal. Wanita paruh baya itu langsung menarik tangan Ratna dan membawanya pergi dari mansion itu.
"Awas aja ya kak Nisa. Aku akan pastikan jika Alvin akan menerima perjodohan ini" Ucap Wiwit kesal
Bukan hanya Wiwit. Ratna juga merasakan hal yang sama dengan ibunya. Wanita itu tidak henti-henti mengumpat dalam hati saat mendengar apa yang sudah di katakan oleh Anisa.
"Pokonya Ratna mau Alvin menerima perjodohan ini ma. Bagaimana pun caranya" Ucap Anisa sambil duduk dan menunggu taksi pesanan mereka
"Kamu tenang saja sayang. Akan mama pastikan jika Alvin akan menjadi milik kamu, Kamu harus bisa menjadi menantu di sana" Ucapnya sambil tersenyum licik saat akal bulus itu mulai tumbuh dalam otaknya.
"Mama tau caranya" Ucap Wiwit sambil tersenyum ke arah Ratna
"Bagaimana caranya ma?" Tanya Ratna penasaran
Wiwit tidak langsung menjawab. Wanita paruh baya itu hanya berbisik di telinga Ratna yang hanya bisa di dengar oleh Ratna. Setelah mendengar bisikan mamanya, Ratna juga ikut mengangkat kedua sudut bibirnya. Mereka berdua seketika tertawa lepas tatkala membayangkan cara yang tiba-tiba timbul dalam benak Wiwit.
*****
Tanpa terasa malam sudah berlalu. Pagi ini Aliya bangun lebih dalu dari pada Alvin. Namun wanita itu masih tetap di atas ranjangnya dan enggan untuk beranjak dari sana.
Aliya menatap jam dari layar ponselnya, Ternyata jam masih menunjukkan pukul 04:30. Masih sangat pagi untuk bersiap pergi ke sekolah.
Seketika Aliya teringat akan perkataan sang mama sebelum di okut bersama dengan Alvin dan tinggal di jakarta.
Ingat ya Al. Kamu harus bisa memasak untuk suami kamu. Karna mau bagaimana pun, Suka tidak suka, Alvin sudah sah menjadi suamimu. Bahagiakan dia dengan cara apapun yang kamu bisa. Seperti memasakkan makanan kesukaannya.
Kata-kata itu tiba-tiba saja terngiang-ngiang di kepala Aliya. Sejenak Aliya membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Alvin yang masih tertidur begitu lelap dan damai.
Aliya menatap wajah damai Alvin dan membelai rambutnya sebentar"Kamu sangat tampan Alvin. Tapi aku belum mencintai mu. Aku masih cukup kesal dengan cara yang sudah kamu lakukan. Maafkan aku, Karna untuk saat ini aku belum bisa membalas rasa yang kamu miliki. Ada laki-laki lain yang sudah mengisi hatiku terlebih dahulu. Forgive me" Ucap Aliya dan langsung bangun dari tempat itu.
Setelah memastikan Aliya sudah benar-benar pergi. Alvin membuka kedua matanya. Pria itu mengambil nafas panjang setelah mendengar apa yang baru saja Aliya katakan.
Jika di tanya sakit? Sudah pasti jawabannya adalah iya. suami mana yang tidak sakit saat mendengar jika istrinya mencintai pria lain. Begitu juga dengan Alvin. Pri itu merasa begitu nyeri di bagian ulu hatinya.
"Siapa laki-laki yang sudah beruntung mendapatkan cinta kamu Al? Siapa laki-laki itu!" Ucap Alvin yang terdengar begitu pilu
Entah kenapa. Seketika Alvin teringat akan perkataan pak Usman tentang keinginannya untuk menjodohkan Aliya dengan pria yang bernama Firman.
"Apa dia orangnya?" Ucap Alvin lagi.
Sedangkan Aliya. Setelah keluar dari dalam kamarnya. Wanita itu langsung menuju ke lemari pendingin. Aliya mencari bahan makanan yang bisa dia masak pagi ini.
Aliya akan mencoba menjadi istri yang baik untuk Alvin.Walaupun Aliya tidak menyukai suaminya. Namun Aliya masih teringat akan pesan mamanya. Jika suami adalah Raja.
__ADS_1