
Mata Alvin membulat saat melihat ukiran di dalam liontin kalung yang di berikan oleh Dewi.
"Ini kan lambang keluarga Smith. Musuh besar keluargaku. Apa jangan-jangan dia adalah anak mereka yang bilang karna ulah keluargaku" Alvin bermonolog dalam batinnya
Setelah itu Alvin mengembalikan lagi kalungnya pada Dewi. Namun Dewi malah meminta Alvin untuk menyimpan kalung yang kemungkinan besar bisa membuat Aliya bertemu dengan orang tua kandungnya.
Biarpun selama ink Dewi dan Usman tidak pernah memberi tahu hal ini pada Aliya.
"Tolong kamu simpan kan ini ya nak Alvin. Siapa tau saja suatu saat nanti kalung ini bisa mempertemukan Aliya dengan kedua orang tuanya. Tapi jangan pernah mengatakan hal ini pada Aliya, Biarkan saja nanti dia tau dengan sendirinya" Pinta Dewi lembut lada Alvin
"Tapi ma. Kenapa kalung ini tidak di kasihkan saja pada Aliya. Bukankah dengan begitu akan lebih mudah buat Aliya di temukan oleh orang tua kandungnya?"
"Jangan nak. Kami belum siap untuk kehilangan Aliya. Aliya sudah menjadi harta terbesar yang kami miliki. Papa dan mama minta tolong untuk tidak memberitahu hal ini pada Aliya. Papa dan mama percayakan Aliya sama nak Alvin. Tolong jaga Aliya dengan baik. Dan satu lagi, Nak Alvin bisa memberikan kalung itu saat usia Aliya sudah 20tahun" Ucap Usman pada Alvin
"Iya nak Alvin. Mama sama papa pinta dengan sangat. Jagain Aliya, Sayangi dia ya nak. Biarpun dia anaknya keras kepala, Tapi Aliya anak yang baik. Nak Alvin mau kan menjaga Aliya demi kami?" Ujar Dewi pada Alvin
Mendengar itu membuat Alvin menatap Dewi dan Usman secara bergantian. Bagaimana jika seandainya Aliya benar-benar anak kandung dari musuhnya sendiri. Apa yang akan Alvin lakukan.
"Nak Alvin mau kan menjaga Aliya demi kami berdua. papa percayakan Aliya sama nak Alvin" Ucap Usman lagi
Alvin mengambil nafas berat. Bagaimana jika apa yang Alvin duga ternyata benar. Aliya anak dari tuan Smith dan nyonya Cyra!
"Baiklah ma, pa. Alvin akan menyimpan kalung ini dengan sangat baik. Alvin akan menjaga kalung ini hingga Aliya berusia 20 tahun. Terimakasih mama dan papa sudah mempercayai Alvin untuk menjaga Aliya"
"Tolong jangan biarkan Aliya dalam bahaya ya nak. Dan satu lagi, Tolong perioritas kan Aliya yang saat ini sudah menjadi istri kamu"
"Iya pa"
"Papa mau tanya sesuatu boleh gak nak?"
"Boleh pa. Papa mau tanya soal apa?"
"Seumpamanya suatu hari nanti kamu di hadapkan dengan situasi yang sangat sulit. Aliya dan sahabatmu sedang dalam bahaya di waktu yang bersamaan, Kira-kira siapa yang akan kamu utamakan?"
__ADS_1
Pertanyaan itu berhasil membuat Alvin terdiam. Masih terlalu bingung dengan apa yang akan dia katakan. Aliya juga sahabatnya sama-sama penting buat hidup Alvin
"Maaf pa. Alvin tidak bisa menjawab soal ini. Pertanyaan ini terlalu sulit untuk Alvin jawab. Aliya serta teman-teman Alvin sama-sama penting"
"Alvin ke atas dulu pa" Ucap Alvin dan langsung berlalu dari hadapan Usman dan Dewi
Pertanyaan Usman masih terus terngiang jelas pada indra pendengaran Alvin. Pria itu merenungi apa yang sudah dia dengar dari papa mertuanya. Sungguh Alvin di buat bingung dengan pertanyaan itu
Bagaimana jika seandainya suatu saat nanti Alvin benar-benar ada dalam situasi itu. Apa yang akan Alvin lakukan jika hal itu benar-benar terjadi.
Alvin masuk kedalam kamarnya dan menemukan Aliya yang sudah tenang dalam tidurnya. Pria itu naik ke atas ranjang dan memperhatikan wajah Aliya yang terlihat begitu damai
Alvin terus memandang wajah istrinya. Wanita yang saat ini sangat Alvin cintai. Biarpun hanya bertemu beberapa hari saja, Tapi Aliya sudah mampu menjadi ratu dalam hati Alvin.
Disaat seperti itu, Tiba-tiba Alvin teringat akan kalung yang di berikan oleh dewi. Rasa takut mulai muncul dari benak Alvin. Bagaimana jika Aliya benar-benar anak kandung dari musuh besar keluarganya
Alvin mulai merasa takut akan hal itu. Membayangkan saja sudah bisa membuat hati Alvin terasa sakit. Bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi suatu hari nanti
"Aku benar-benar takut kehilangan kamu Aliya. Rasa cintaku sudah tumbuh sebesar itu"
"Sampai kapan pun. Aku benar-benar tidak mau berpisah dari kamu" Ucap Alvin lagi sambil membelai rambut Aliya
Setelah itu Alvin ikut merebahkan tubuhnya di samping tubuh Aliya. Namun sebelum itu Alvin meninggalkan satu kecupan singkat pada kening Aliya.
Tanpa terasa malam berlalu begitu cepat. Aliya menggeliat saat merasa ada tangan kekar melingkar di perutnya. Aliya mengerjab untuk beberapa saat. kedua matanya masih terasa begitu berat.
Aliya membalikkan tubuhnya dan menemukan Alvin yang masih tidur begitu lelap. Melihat Alvin seperti itu membuat Aliya melepaskan pelukan Alvin dengan cepat.
Entah kenapa Aliya begitu tidak menyukai Alvin. Apalagi setelah kejadian malam itu dan membuat status mereka berubah menjadi pasangan suami istri.
"Kenapa aku harus menikah dengan pria tengil seperti dia sih. Aku benar-benar tidak menyukainya. Apalagi gara-gara dia keluargaku harus menanggung malu" Ucap Aliya sambil menatap Alvin dengan penuh kebencian
__ADS_1
Di saat Aliya masih menatap Alvin. tiba-tiba kedua mata Alvin terbuka dan membuat Aliya begitu terkejut.
"Selamat pagi istriku" Ucap Alvin sambil tersenyum ke arah Aliya
"Gak usah sok manis. Ingat pernikahan kita terjadi bukan atas dasar cinta, Tapi karna ulah kamu yang tidak mikir terlebih dahulu" Ucap Aliya dingin dan langsung pergi ke dalam kamar mandi
Namun langkahnya terhenti saat suara berat Alvin terdengar jelas pada indra pendengarannya.
"Aku tau kamu belum mencintaiku. Tapi aku sudah mencintaimu sebelum pernikahan kita terjadi" Ucap Alvin pada Aliya
"Tapi sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu kamu. Buat aku kamu hanyalah benalu yang merusak citra baik keluargaku"
Mendengar itu membuat Alvin mengambil nafas berat. Terasa sakit saat mendengar perkataan Aliya, tapi memang itu lah kenyataannya. Alvin yang sudah merusak citra baik keluarga Aliya.
Gara-gara kejadian itu membuat keluarga Aliya di pandang sebelah mata oleh para tetangga mereka. Namun Dewi dan Usman tidak menanggapi apapun yang sudah mereka dengar tentang komentar orang lain.
"Maafkan aku Aliya. Aku benar-benar minta maaf" Ucapnya sendu
•
•
•
Di saat Aliya sudah masuk ke dalam kamar mandi. Tiba-tiba ponsel Alvin berdering. Ada panggilan masuk dari sahabatnya yang bernama Agam. Dengan cepat Alvin mengusap tombol hijau di layar ponselnya
📞: Halo Gam, Ada apa?
📞: Kapan kamu kembali. Besok ada ujian ulang mata pelajaran pak Luki. Gak mungkin kan kamu gak ikut lagi
📞: Aku akan kembali siang ini Gam
📞: Baiklah
__ADS_1