
"Biasa aja kali." Aku menyenggol lengannya dengan lenganku.
"Panggil Key, aja. Jangan pake embel embel apapun."
"Iya, Key." Tesa tersenyum.
"Kamu tau siapa wanita yang lagi sama Rey di depan nggak?"
"Ooh, yang lagi godain Pak Rey ya?" Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Tesa.
"Dia itu... Nona Sindi. Key"
"Sindi?" beoku.
"Iya, dulu dia pacarnya Pak Rey. Saya udah lama kerja di sini, Key, jadi lumayan tau kalau dulu mereka pacaran. Tapi tenang aja, sekarang mereka udah nggak ada hubungan apa-apa kok, ya meskipun Nona Sindi sering ke sini sih, tapi Pak Rey kayak nggak suka gitu," jawab Tesa panjang tanpa aku minta. Aku mengangguk mengerti.
" Terus kamu tau nggak mereka putusnya kapan?"
"Eng... kalau nggak salah sih sekitar dua tahun yang lalu, Mereka putus karena Nona Sindi ketauan selingkuh, padahal katanya mereka udah ngerancanain nikah." Aku kembali mengangguk. Ternyata Tesa bisa dikorek informasinya juga, bahkan sampai menjelaskan bagaimana akhir kisah Si manusia batu. sama wanita gila itu.
"Ciee... yang habis reunian sama mantan," ledekku pada si manusia batu.
Saking nggak ada akhlaknya dia, langsung menyeretku begitu aku keluar dari toilet tadi. Dan sekarang aku berada di ruangan Rey, masih di resto tadi.
Rey hanya menaikkan sebelah alisnya. Pasti bingung kan, mau jawab apa saat ketahuan didatengin mantan. Untung saja pernikahan ini karena desakan dari tante Mariska, yang tentu saja bukan keinginanku.
Dan yang jelas aku nggak cinta sama dia, jadi aku nggak terlalu ngenes-ngenes banget jadi istri pas lihat suami sendiri temu kangen sama mantan.
"Kamu cemburu?"
What? Demi squidward tetangganya spongebob yang paling nyebelin, buat apa coba aku cemburu, kurang kerjaan banget ya kan.
"Sorry yaw kalau gue cemburu, apalagi cemburunya sama lo, nggak ada di kamus hidup gue" Aku mengibaskan rambut panjangku ke belakang.
"Kalau kamu nggak cemburu kenapa kamu tadi marah-marah ke Sindi dan hampir adu jotos?" Rey menyilangkan kedua tangannya ke dada.
"Gue marah karena dia ngehina gue, bukan karena cemburu sama lo, Lagian lo sih bilang kalau gue tetangga lo yang lagi kelaperan," ucapku kesal. Mukaku sekarang udah lecek banget pasti.
Bukan karena nggak lagi pake skincare ya, tapi karena dari tadi malem sampai pagi menjelang siang gini kerjaanku adu urat terus sama ni laki. Kayaknya. beneran dia harus segera aku mutilasi.
"Lalu, kalau nggak mau diakui tetangga, kamu mau diakui sebagai apa di depan dia? Istri?" Aku nggak kalau tiba-tiba Rey sekarang udah berdiri tepat di hadapanku, dengan jarak kurang lebih lima centi. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku.. Mau apa si manusia batu ini? Jangan bilang mau....
"Heh! Awas! Mau apa lo, jangan macem-macem ya" Aku mendorong dadanya dengan kedua tanganku.
Untung saja tadi habis isi bahan bakar lumayan banyak, jadi meskipun sebagian udah disetor ke tempat buang, nggak bakalan aku kehabisan tenaga.
"CK! Jangan ge-er" umpatnya. Dia menyugar rambutnya frustasi.
"Saya cuma mau lihat lebih dekat wajah istri saya, tidak lebih. Kamu saja yang berpikir saya akan mencium kamu."
Wel, siapa juga yang ge-er. Bukan aku banget kalau harus kege-eran karena dia
"Udah deh, gue capek berdebat terus sama lo anterin gue pulang sekarang."
__ADS_1
Manusia batu tipe-tipe kayak si Rey ini, emang beneran nggak punya rasa kasihan sedikit pun sama aku. Bayangkan saja, tadi pagi setelah kejadian awkward di ruangan Rey yang berakhir dengan perdebatan itu, dia nggak mengindahkan permintaanku untuk dianter pulang. Padahal badan udah pegal-pegal dan capek banget karena daril, kemarin ngikutin acara, belum lagi mikirin yang berat-berat.
Seharusnya kalau dia nggak mau nganter pulang, setidaknya dia bisa nyuruh salah satu karyawannya buat nganterin aku kek, pesenin ojol kek, atau kasih uang buat ngangkot. Tapi emang dasar manusia nggak ada akhlak, udah gitu pelit lagi. Kasihan yang jadi jodohnya. Lah kan aku jodohnya. Eh bukan, aku istrinya yaw, dan itu nggak berarti berjodoh. Bisa jadi nanti kita cerai kan, seperti apa yang aku harapkan. Toh, pernikahan ini bukan keinginan kita berdua, dan sama sekali nggak ada rasa.
Menunggui Rey di resto, selain bikin bete dan naik darah terus karena hal sekecil apapun bisa menimbulkan perdebatan, ternyata ada yang bikin aku sedikit seneng. Apa itu? Bisa makan siang gratis. Ya tentu aja gratis lah, masa suruh bayar, kalau suruh bayar, nggak bakal aku mikir lama lama buat ngajuin gugatan ceral. Pelit sih jadi orang.
Akhirnya setelah berkali-kali merengek minta pulang, jam tiga sore ini baru dia ijabahin. Nyebelin emang. Itu pun aku tadi sempat mengancam kalau aku bakal ngadu ke tante Mariska bahwa anaknya ini udah nyiksa aku.
Semobil berdua dengan dia emang harus diem terus, kalau nggak mau ada perkakas yang rusak. jika nanti kita bersebat. Tentu saja karena aku takut dimintai ganti rugi, duit dari mana coba, kerja aja enggak, kuliah belum kelar.
"Zoe" Aku diam
sambil memejamkan mata, pura-pura tidur.
"Zoe, denger saya tidak, saya tahu kamu nggak tidur."
"Zoe" Rey menghembuskan nafasnya, kasar. Sepertinya dia kesel deh sama aku, rasain! Bikin kesel terus sih, sekarang gantian ya.
"Baik kalau kamu masih mau diam, tapi tolong dengarkan saya." Rey kembali menghembuskan nafasnya, kali ini terdengar pelan.
"Sesampainya di rumah nanti, ubah panggilan kamu ke saya."
"Panggil aku kamu, jangan lo gue. Itu tidak sopan untuk ukuran suami istri. Saya tidak mau bunda atau yang lainnya curiga." Aku masih diam dan masih setia memejamkan mata, namun semua perkataan Rey tak ada satu pun yang terlewat dari pendengaranku.
"Dan sebaiknya nanti kita menampilkan kemesraan seperti halnya pengantin baru pada umumnya."
Hah? Ini orang pasti cuma mau modus doang. Bilang aja pengen deket-deket pengen nempel nempel, pake acara biar nggak ada yang curiga.
Sorry ya, seorang Zoe nggak akan nurut gitu aja sama orang yang udah bikin kesel seharian.
"Kamu paham apa yang saya katakan tadi kan, Key?"
"Mau sampai kapan kamu pura-pura tidur, sampai di rumah nanti? Berharap biar saya gendong? Saya sih nggak keberatan, itu akan membuat bunda dan lainnya semakin yakin kalau kita bahagia."
Sebenarnya aku udah gatel banget pengen ngomel-ngomel, tapi karena aksi kepura-puraanku ini nggak boleh terbongkar, jadi aku memilih menahan. Ya, menahan rasa kesal yang udah hampir mau naik ke ubun-ubun. Meski Rey tahu sih, kalau ini cuma pura-pura. Rey diam. Mungkin udah capek kali dari tadi ngomong sendirian. Makanya jadi orang jangan nyebelin.
Ciiit.....
Tiba-tiba saja Rey ngerem mendadak. Ada apa ini? Aku terlonjak kaget. Untung saja sabuk pengaman tak lupa kupakal
"Astaghfirullah. Ampuni hamba Ya Allah, hamba belum mau mati. Mama tolongin Key Kedua" tanganku kuletakkan di depan mata. Tak sanggup melihat kenyataan yang mungkin saja terjadi Jantung dan keras berdetak, takut kalau seandainya nyawa ini....
"Berisik! Jangan lebay bisa? Saya cuma ngerem mendadak, nggak kecelakaan" Nah, biang onar dengan rasa tak bersalahnya ngomong gitu. Dosa nggak sih, membantal suami modelan si manusia batu
"Heh, kenapa jadi lo vang marah-marah, harusnya gue yang marah karena lo udah bikin jantung gue hampir mau copot", omelku.
"Saya kan cuma ngerem, kenapa kamu sepanik itu. nggak pernah naik mobil"
"Ngerem sih ngerem, tapi nggak mendadak juga kali, bikin kaget aja" Aku menyilangkan kedua. tanganku ke dada. Kesal dikerjain sama manusia batu
"Oh, lya, jangan ngeremehin gue ya sekalipun gue bukan anak orang kaya kek lo, tapi gue juga pernah naik mobil kali, lebih bagus dari ini malah. Gue cuma trauma aja kalau mobil tiba-tiba ngerem mendadak kek tadi"
"Saya kan nggak tau kamu punya trauma" Udah salah bukannya minta maaf, malah nyari pembelaan Pengen dipites emang. Eh, tapi kan dia lebih gede dari aku, mana mungkin bisa mites dia yak?
__ADS_1
"Rey harusnya lo..."
Tin.. Tin.. Tin
Belum sempat aku meneruskan ucapanku, kendaraan di belakang mobil yang kutumpangi ini ndah pada protes. Akhirnya Rey kembali melajukan mobilnya.
"Ingat Key, ubah panggilan kamu pada saya"
"Iya, Iya, bawel banget sih" Aku dan Rey turun dari mobil. Kini aku berada di depan rumah Rey. Eh, maksudku rumah tante Mariska dan om Danm. Jelas lah, Rey kan nggak punya rumah sendiri, masih ngikut orang tua.
"Ih, apaan sih, lepasin nggak!" Aku mencoba menepis tangan Rey yang udah dengan kurang ajarnya memeluk pinggangku. Modus banget kan
"Sssstttt... ini bagian dari sikap yang harus kita perlihatkan di depan keluarga kita" Rey berbicara tepat di depan telingaku. Bikin merinding aja, kek ada sensasi menggelitik gitu.
"Tapi nggak perlu pake skin ship juga kali." protesku
Bilang aja mau *****-*****. Jangan ngimpi bisa ngapa-ngapain aku bambang
"Kalau nggak ada skin ship, bagaimana mereka mau percaya kalau kita bahagia" Kali ini Rey tak lagi berbicara di depan telingaku Namun tangannya masih bertengger di pinggang imutku yang tak kunjung melebar ke samping, padahal kalau makan nasi nggak cukup satu piring.
"Rey kenapa harus pura-pura bahagia, mereka semua kan tau kalau pernikahan ini terpaksa Lebih tepatnya aku dipaksa menggantikan calon lo"
"Nanti kamu akan tau alasannya" Rey melangkah dengan menggamit pinggangku. Mau tidak mau, aku pun harus mengimbangi langkahnya Mau berontak, rasanya tenagaku kalah kuat sama Rey, Jadi percuma saja. Apalagi mata dan badanku sudah mulai lelah.
"Oh, ya ampun anak menantu bunda udah pulang" ucap tante Mariska begitu antusias setelah membukakan pintunya untukku dan Rey.
Tante Mariska kemudian memelukku hangat, dilanjutkan dengan cipika-cipika. Dulu sewaktu statusku masih sebatas tetangga aja dia seneng banget kalau aku datang ke sini, apalagi sekarang yang statusku udah berubah jadi menantu. Rasanya di sini aku yang jadi anak kandungnya, sedang Rey dicuekin aja. Kasihan.
"Ehem" Rey berdehem. Pasti dia iri kan sama aku, dan pastinya lagi dia merasa nggak dianggap. Ah. aku nggak bakal kasihan.
"Oh, iya, bunda sampai lupa kalau punya anak laki"
"Ya, dari dulu juga bunda selalu begitu," ucap Rey datar.
"Ah, kamu ini" Tante Mariska memukul pelan dada Rey, kemudian tertawa sambil melihat ke arahku Alhasil, aku pun jadi ikut tertawa, meski rasanya. garing
"Eh, ayo-ayo masuk, kok malah di depan pintu terus jadinya. Ayo Zoe masuk" Tante Mariska menggamit lenganku. Menuntunku memasuki rumah bisa dibilang cukup besar.
Rey berjalan di belakang kami sambil membawa koper berisi barangku dan barangnya. Sebenarnya sih aku heran, kenapa manusia batu ini dengan suka relanya membawakan koper sedari hotel tadi pagi. Biasanya kalau orang tipe-tipe kek dia kan sukanya nggak mau bawa koper sendiri, dan akan menyuruhku untuk membicarakannya. Kek di film film gitu. Oh, mungkin dia takut bakalan aku katain banci.
BERSAMBUNG
.
.
.
INI KARYA PERTAMA SAYA
SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️
MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏
__ADS_1
MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏
TERIMAKASIH READER☺️☺️