
"Pokoknya Key nggak mauuuu TITIK" . ucapku tegas
"Key, nggak boleh gitu ah, ini di rumah orang, ngak sopan" tegur mama
"Bodo." Aku merajuk. Sejujurnya aku tidak suka memperlihatkan sisi manjaku pada orang lain, tapi mau bagaimana lagi, perdebatanku dengan Mama sudah menjadi tontonan sedari tadi oleh beberapa orang di kamar ini.
"Nggak ada penolakan!" Tegas Mama.
Entah mengapa mendengar pernyataan mama itu membuatku tiba-tiba diserang pusing. Hingga akhirnya tubuhku luruh ke lantai, dan seketika aku sudah tak ingat apa-apa lagi.
Aroma freshcare dan minyak kayu putih tercium hidungku yang mancung ke dalam. Perlahan kucoba membuka mata, sambil mengingat apa yang terjadi.
Setelah mataku terbuka penuh, kulihat Mama sedang duduk di tepi ranjang yang sedang kutempati ini, dengan terus mendekatkan botol minyak kayu putih ke hidungku. Sedang di sebelah mama ada Tante Mariska yang juga tengah memegang botol freshcare dan mengusapkannya di dahiku.
"Zoe, kamu sudah sadar?" tanya Tante Mariska, dan aku hanya mengangguk pelan.
"Akhirnya kamu mengakhiri drama ini, Zoe," sahut Mama. Aku mendengkus mendengarnya.
Mama kira aku hanya pura-pura apa, sampai dikira drama. Ya kali berdrama pura-pura pingsan.
"Ish! Mama kok gitu sih," rajukku.
"Ya bisa aja kan kamu cuma pura-pura." Mama mencebikkan bibirnya.
"Ngapain juga Zoe pura-pura pingsan, unfaedah tahu." Aku bangkit dari posisi berbaring, kemudian duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Udah, udah, Tante percaya kok kalau Zoe beneran pingsan." Nah kan, Tante Mariska aja percaya kalau aku pingsan. Sebenarnya aku anak siapa sih?
Dua perias itu tampak duduk di sofa yang ada di kamar ini, sepertinya mereka menungguku, setelah itu mereka akan kembali meriasku, begitu juga dengan Tante Mariska dan Mama, pasti mereka akan memaksaku kembali agar mau menikah dengan Rey. Ah memikirkan itu membuatku kembali pusing.
"Nih, kamu minum dulu." Mama menyodorkan segelas berisi air putih padaku. Aku pun menerimanya dan dengan sekejap menandaskannya. Maklum, tenggorokan ini terasa sangat kering.
Segar rasanya setelah satu gelas air putih, kini aku siap untuk berdebat lagi, menolak rencana konyol mereka yang ingin menjadikanku pengganti calonnya Rey.
"Nah, kayaknya kamu udah mendingan, Zoe, mau ya dirias? Tante mohon, Zoe...." Sebenarnya aku ingin sekali menolak lagi seperti tadi sebelum pingsan, tapi melihat Tante Mariska yang terus memohon dan hendak meneteskan air mata, rasanya aku jadi tak tega.
Aku menoleh ke arah Mama, sepertinya mama juga tengah menunggu jawabannku sama halnya seperti Tante Mariska. Kuselami netra indah mama yang juga sedang menatap ke arahku, mencoba mencari kesungguhan apakah mama rela jika aku menggantikan posisi calon istri Rey.
Dan ku lihat tidak ada keraguan di mata mama, mungkin mama memang benar-benar berharao agar mau menerima pernikahan m ini.
Belum sempat aku menjawab, Tante Mariska kembali berucap "Zoe, apa tante harus bersujud di kakimu agar kamu menerima tawaran tante?"e
Aku pun terbelalak mendengar pertanyaan tante Mariska, sungguh bukan begitu keinginanku.
"Eng--enggak, Tan, mana mungkin Zoe tega." Aku mencoba mengambil nafas yang
sebenarnya terasa sesak di dada.
"Baiklah, Zoe mau menikah dengan Rey," ucapku pasrah.
Seketika wajah tante Mariska yang tadinya memelas, kini berubah berbinar, begitu pun dengan mama. Apa mereka sangat bahagia dengan keputusanku ini? Baiklah jika itu bisa membuat mama senang, maka akan kulakukan, meski berat rasanya.
"Makasih Zoe." Tante Mariska memelukku erat, mungkin saking bahagianya. Dan kulihat mama tersenyum melihat ini.
Setelah aku, mama dab tante Meriska bercakap-cakap sebentar, tante Mariska kembali memerintahkan kedua perias itu untuk mendandaniku.
__ADS_1
*****
Aku menunggu dengan gelisah di kamar ini. Duduk di tepi ranjang ditemani mama dan dua perias tadi. Diluar sedang diadakan akad nikahku dengan Rey. Kata mama, papa yang menikahkanku langsung, dan tidak menyerahkan perwaliannya kepada penghulu.
Sesekali perias merapikan riasanku. Ya, kini aku sudah dirias seperti pengantin pada umumnya, dan mengenakan baju pengantin adat jawa. Keluarga tante Mariska memang orang jawa, jadi mungkin sudah direncanakan dari dulu jika Rey menikah akan menggunakan pakaian adat jawa. Aku tak mempermasalahkannya, toh ini bukan keinginanku
Pintu kamar terbuka terlihat tante Meriska datang bersama seseorang perempuan paruh baya, yang tak kuketahui siapa. Tante Mariska berjalan ke arahku seraya tersenyum manis, kemudian mengusap lembut kepala.
"Zoe, selamat kamu sudah sah menjadi istrinya Rey," ujar Tante Mariska.
Tiba tiba epalaku mendadak kembali pusing mendengar kabar dari tante Mariska. Meski aku sudah tau, tapi tetap saja aku syok. Benar-benar seperti mimpi.
Rasanya tubuhku akan tumbang, namun dengan sigap mama menahan bahuku dengan tangannya.
"Zoe, jangan pingsan lagi dong sayang, ini kan hari bahagiamu," tutur Mama.
"Iya Zoe, jangan pingsan ya sayang, sekarang kita keluar yuk, Rey sudah nunggu di depan lho" kata tante Meriska
Aku tidak memperdulikan ucapan mama ataupun tante Meriska, karna sekarang tubuhku rasanya limbung. Tak lama kemudian semuanya kembali gelap.
"Zoe, ya ampun.. Bangun dong sayang"
"Zoe.. Bangun sayang, inu hari bahagia kamu"
Sayup sayup kudengar suara mama dan tante Meriska bersahut sahutan memanggil namaku.
Perlahan kubuka kedua mataku. Hal yang pertama kulihat adalah mama dan tante Mariska yang tengah berusaha membuatku siuman, seperti pada waktu aku pingsan pertama tadi. Entah berapa lama aku hilang kesadaran hingga ada beberapa wanita paruh baya berada di kamar ini. Akan kutanyakan nanti pada mama.
"Sayang, kamu udah sadar?" tanya Tante Mariska. Aku hanya mengangguk pelan.
Aku mengedip-ngedipkan mataku ke arah mama. Berharap mama mengerti kode yang kuberikan, bahwa anaknya yang cantik jelita ini masih pengen rebahan.
"Nggak usah manja deh, kamu itu pingsan selama sepuluh menit, jadi udah sepuluh menit kamu rebahan, udah ayok buruan bangun." Bener-bener deh mama nggak ada pengertiannya sama sekali, anaknya baru siuman udah keburu langsung disuruh bangun, mana sambil ngomel-ngomel lagi.
"Iya sayang, kayaknya kamu udah nggak papa, yuk coba bangun, biar perias bisa rapihin make up sama tatanan rambut kamu." Ini juga tante Mariska main nyuruh yang aneh-aneh aja. Kesel deh, bener-bener nggak ada yang ngertiin aku.
Dengan berat hati akhirnya aku bangun dari posisi rebahan. Setelah itu Mama sama tante Mariska langsung membantuku bangkit dari ranjang dan
menuntunku berjalan menuju meja rias, yang mana sudah ada dua perias tadi di dekat sana.
Mama mendudukkanku di kursi meja rias, dan perias pun memulai pekerjaannya untuk merapikan tatanan rambutku yang di sanggul sederhana dan tentu saja make up-ku pun turut diperbaiki. Tak lupa mama memeriksa dan merapikan kebaya yang kupakai, mungkin takut terlihat kusut.
Aku sama sekali tak menyangka bila hari ini aku mengenakan kebaya pengantin khas jawa. Semua tak pernah kuduga sebelumnya, dan benar-benar ini seperti mimpi. Dulu aku selalu berkhayal jika di hari pengantinku nanti aku akan mengenakan kebaya pengantin khas jawa seperti ini, namun tentu saja tak pernah berharap jika harus menjadi pengantin pengganti, apalagi pengantinnya Si Rey. Hiii ... ngeri, membayangkannya saja aku tak sudi.
Tapi sialnya sesuatu yang membuat ngeri itu aku mengalaminya saat ini. Benar-benar seperti mimpi. Siapa saja tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini.
Andai ada satu orang saja yang mau mengerti perasaanku dan mau membantuku untu menolak tawaran tante Mariska, mungkin sekarang aku tak akan terjebak di situasi menyedihkan ini.
Eh, ngomong-ngomong dari tadi aku tak melihat Leya semenjak tante Mariska menyeretku ke sini. Apa dia tidak mencoba mencariku sama sekali, atau paling enggak ya ngikutin lah waktu aku diseret tante Meriska.
Padahal dia itu si ratu kepo, lah kok tumben nggak pengen tahu tentang perkara penyeretanku. Ah, pasti dia masih sibuk menghabiskan kue-kue di depan, dasar mata kue-an.
"Nah, sudah selesai Neng Zoeya," ucap perias bernama Lela, yang berhasil membuatku terperanjat dan sadar dari lamunan tentang teman satu-ku yang nggak ada akhlak itu.
"Eh, kok cepet banget?"
__ADS_1
"Kan tinggal merapikan saja neng," timpal perias yang satunya.
"Udah Zoe, ayo bangun." Mama menyuruh sembari memegang lengan kananku untuk bangun dari kursi rias ini.
Aku hanya menurut. Aku dan mamaberjalan berdampingan dan tentu saja mama menuntunku. Mungkin takut kalau aku kabur. Hihihi
"Ma, kita mau ngapain sih," bisikku pada mama.
"Keluar, Key."
"Mau ngapain coba?" Meskipun aku sudah nggak betah lagi berada di kamar ini, tapi rasanya enggan jika harus mengikuti mama. Seperti ada sesuatu mencurigakan.
Di depan pintu, tante Mariska tersenyum ke arahku, lalu meraih lengan kiriki untuk dituntunnya, sedangkan lengan kananku masih dituntun mama. Diapit dua wanita paruh baya ini membuatku seketika tersanjung. Duh, berasa jadi ratu.
Ratu pingsan maksudnya.
"Zoe ayo kita keluar, penghulu sama Rey, dan yang lainnya udah nunggu dari tadi. Kamu harus tanda tangani surat nikah," ujar tante Mariska, dan aku hanya mengangguk saja, mau protes pun percuma kan?
Kami akhirnya keluar dari kamar yang sedari tadi membuatku sesak nafas, kemudian berjalan perlahan menuju tempat akad. Meski diapit oleh dua orang wanita yang telah berpengalaman menikah, tetap saja diriku gugup setengah mati. Jantung terus berdetak keras tak beraturan, meski ini sama sekali bukan pernikahan impianku.
Tiba di tempat akad, kulihat banyak orang berada di sini. Ada beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang kuketahui sebagai warga sini, yang berarti tetanggaku juga. Sisanya mungkin para keluarga dan kerabat Rey. Leya melongo ketika melihatku. Mungkin dia terkejut, bahwa sahabatnya ini berubah jadi bidadari. Tak lupa kuberikan tatapan mematikan pada Leya. Seketika dia menutup kembali mulutnya.
Kulihat papa duduk di sebelah penghulu, berhadapan dengan Rey... Oh, astaga, kenapa dia terlihat ... tampan, tak seperti sebelumnya yang terlihat frustasi. Ia memakai setelan jas hitam yang di dalamnya mengenakan kemeja putih bersih, dipadukan dengan celana bahan panjang bewarna hitam
'Astaghfirullah... aku nggak boleh terpesona sama pesona Rey si kutukupret itu.'
Aku menggeleng-gelengkan kepala
mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran tak bermutu itu. Gila apa aku memuji dia.
"Key, kamu kenapa kok geleng-geleng kepala gitu?" Ternyata ekspresiku tak luput dari penglihatan tante Mariska.
Aku berdehem dan mencoba meyakinkan bahwa aku baik-baik saja. "Eh, oh, enggak kok, Tan."
"Ingat, Zoe, kamu sekarang udah sah jadi istri Rey, kamu jangan malu-maluin, dan jaga sikap kamu," bisik mama.
"Hmmm."
"Zoe, apapun nanti arahan dari pak penghulu ataupun dari pembawa acara, kamu harus nurut ya, dan jangan pingsan lagi." Kini tante Mariska yang gantian memberiku wejangan.
Huh, dua wanita ini apa benar benar ngak ngerti situasi jantungku
BERSAMBUNG...
**INI KARYA PERTAMA SAYA
SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️
MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏
MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏
TERIMAKASIH READER☺️☺️
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE DIBAWAH👍😊**
__ADS_1