Dipaksa Menikahi Tetangga

Dipaksa Menikahi Tetangga
#4


__ADS_3

"Zoe, apapun nanti arahan dari pak penghulu ataupun dari pembawa acara, kamu harus nurut ya, dan jangan pingsan lagi." Kini tante Mariska yang gantian memberiku wejangan.


Huh, dua wanita ini apa benar benar ngak ngerti situasi jantungku


"Nah, pengantin perempuannya sudah datang," ucap sang pembawa acara.


"Mari silahkan duduk di sebelah pengantin laki-laki," perintah pak penghulu.


Mama dan tante Mariska masih menuntunku berjalan menuju tempat sesuai yang diinstruksikan pak penghulu tadi. Rey berdiri menyambut tatapan tajam ke arahku. Duh, jadi pengen kucolok mata elangnya itu.


Kalau kebanyakan orang di sini menatap takjub ke arahku, maka berbeda dengan Rey. Ia masih saja setia memghadiahuku tatapan maut. Entah apa maksudnya, mungkin penglihatannya sudah rabun kali ya? Pasalnya sekarang kudengar sayup-sayup orang memujiku cantik, eh malah Rey seperti ingin ... membunuhku.


Aku duduk berdampingan dengan Rey. Mama dan tante Mariska pergi menyingkir. Sebenarnya tadi aku sempat menahan lengan mama agar tetap menemaniku, tapi malah mama menepisnya pelan.


"Nah, sekarang pengantin putri silahkan tanda tangani buku nikah ini." Pak penghulu menyodorkan buku nikah serta bolpoin ke arahku.


Aku menerimanya dengan tangan gemetar. Bayangkan saja, semua gerak-gerikku tidak luput diperhatikan oleh Rey. Bukan karena aku grogi ada didekatnya, tapi karena aku takut dia benar-benar akan membunuhku.


Selesai menandatanganinya, aku mendekatkan kembali buku nikah serta bolpoin itu ke arah pak penghulu.


"Karena ini belum ada fotonya pengantin wanita di buku nikah ini, jadi kapan-kapan diharapkan kalian menyetorkan fotonya ke KUA ya, biar bisa segera diurus. Jangan terburu-buru, nikmati saja dulu bulan madu kalian." Ucapan pak penghulu seketika membuat tawa orang yang mendengarnya, tentu saja kecuali aku dan rey


Aku dan Rey hanya menanggapinya dengan menanggukan kepala. Ya masa mau mendebat pak penghulu dan memberi tahu bahwa kami tak akan bulan madu. Bisa runyam kan nanti.


Selesai sesi penandatanganan buku nikah dan lainnya, pembawa acara mengarahkan


aku dan Rey berdiri untuk sesi penyematan cincin nikah. Mau tidak mau aku pun mengikuti arahan konyol itu. Kenapa kubilang konyol, ya karena pasti ukuran cincin tak akan sesuai di jari manisku. Sebab cincin itu kan seukuran dengan calon pengantinnya Rey. Ralat, mantan calon pengantin.


"Ayo Rey, pasangkan cincinnya di jari Zoe." Entah sejak kapan tante Mariska sudah kembali berada di dekat kami.


Rey mengambil cincin berlian dari kotak beludru, kemudian memasangkannya di jari manis tangan kananku.


Ajaib! Cincinnya pas di jariku, tidak sempit dan tidak kebesaran juga. Apa mungkin ukuran jarinya mantan calon pengantinnya Si Rey itu sama denganku? Bodo amatlah, aku tak mau memikirkannya.


"Hmmm... cincinnya bagus juga, mahal nih pasti," batinku sambil memandangi cincin yang baru saja tersemat di jariku. Aku tersenyum melihat cincin ini, membayangkan seberapa rupiah yang bisa aku terima jika kujual cincin berlian ini.


Nah, ijo kan mataku, dasar mata duitan.


"Zoe, ayo salim dan cium tangan suami kamu." Ih, apaan sih mama, masa nyuruh salim sama si kutukupret. Eh, tapi kan dia sekarang suamiku.


Dengan takut-takut, aku memandang ke arah Rey yang masih saja menatapku tajam. Padahal kan aku ingin meminta izin boleh apa enggaknya salim ke dia.


Mengerti dengan tatapan ketakutanku, Rey menyodorkan tangan kanannya padaku. Sesuai perintah mama tadi, aku pun salim dan mencium tangan Rey. Eh, kok rasanya kayak kesetrum ya? Jangan-jangan Rey ini tiang listrik berjalan lagi.


Jepretan kamera pun mengiringi sesi ini.


Sebetulnya sih aku ingin cepat-cepat melepaskan tanganku dari tangan Rey, tapi entah kenapa seperti ditahan oleh Rey. Hmmm... pasti nyaman kan pegang tanganku yang lembut ini, makanya nggak mau lepasin, hahahaha.


"Rey, sekarang saatnya kamu cium kening Key." Aku melongo mendengar titah tante Mariska, kemudian menatap Rey sambil memberi kode agar tidak menuruti permintaan gilanya tante Mariska. Tapi dia hanya menatapku datar.

__ADS_1


Rey mendekatkan wajahnya ke wajahku. Plis, jangan bilang dia menuruti permintaan ibunya. Bisa copot jantungku dari tempatnya, apalagi ini jantung udah deg-degan nggak karuan, karena Rey sudah sedekat ini.


Cup.


Si*l! Rey benar-benar menuruti permintaan Tante Mariska. Dan kurang ajarnya lagi dia menciumku lama. Oh, aku baru sadar sekarang, kamera masih setia mengambil gambar pose ini, pantas saja Rey, nggak beranjak. Tapi bisa jadi kalau dia juga modus kan?


Suara-suara baper terlintas di telingaku. Apalagi suara Leya, beh ... paling keras memenuhi ruangan. Dasar kaleng rombeng. Awas aja kalau giliran dia nikah, aku balas menyalakan petasan pas dia lagi


sesi seperti ini.


"Udah Rey, dilanjut nanti di kamar." Perkataan pembawa acara itu sukses membuat orang-orang tertawa sambil melesek. Seketika pipiku terasa panas. Hah, pasti blushing nih. Dasar, gara-gara Rey kutukupret.


Selanjutnya kami diarahkan menuju dekorasi sederhana untuk berfoto-foto bersama keluarga, kerabat, dan juga tetangga-tetangga yang hadir.


Senyum paksa kupersembahkan ketika berulang kali fotografer mengarahkan kameranya ke arahku. Tanganku juga terpaksa bergelayut di lengan Rey. Kalau saja bukan karena paksaan mama, aku tak akan melakukan hal yang kuanggap menjijikkan ini.


Masih mending aku tersenyum walau sangat terpaksa, lah Rey? Dia masih setia memperlihatkan wajah datarnya, padahal sudah berulang kali tante Mariska memperingatkan untuk tersenyum. Dasar batu!


Selesai foto-foto, aku langsung pergi meninggalkan Rey mencari tempat duduk. Rasanya pantatku udah pegel banget pengen membantingnya ke kursi.


Aku mendudukkan diri di salah satu kursi di dekat jamuan kue. Nah, kebetulan aku laper, jadi langsung aja kusikat kue-kue yang sudah bikin liurku hampir menetes.


Hmmm... yummy... enak banget kuenya.


Sebenarnya dari tadi ada beberapa pasang mata yang memandang heran ke arahku. Masa bodoh lah, yang penting perutku terisi dan tidak menjerit jerit lagi. Perut kenyang hati pun senang, dalam hati aku menyerukan jargon ala ala Ehsan di Upin Ipin.


Tiba tiba "Heh"


"Huh siapa sih yang ganggu acara makanku"


"Dih apaan sih lo ganggu orang makan aja" aku melotot ke arah Leya..


Bayangin aja, lagi enak-enak makan malah dikagetin. Eh, tapi mungkin itu karma buatku juga kali ya, karena tadi aku juga ngagetin Leyapas lagi makan kue kayak gini. Leya pastu balas dendam nih. Dasar temen nggak ada akhlak.


Leya hanya terkekeh mendengar gerutuanku, kemudian ia ikut duduk tepat di sampingku.


"Pengantin baru kok makannya disini sih, sendirian lagi, mbok ya diajak dong suaminya itu. " ucap Difi dengan nada meledekku


"Emang kenapa kalau gue makan di sini heh? Sah-sah aja kan." Aku kembali mengunyah kue di mulutku. "Oh iya, jangan sebut dia suami gue deh, geli tau gue dengernya."


"Masih aja nanya kenapa, makanan-makanan yang ada di sini tuh khusus buat tamu tauuuu, elo kan pengantinnya masa iya makan disini, jadi nggak pantes kalo elo makan makanan yang khusus tamu, harusnya lo itu ya makan makanan yang khusus buat pengantin gitu loh," ujar Difi berceramah "dan ya satu lagi, lo kan udah sah nih jadi istrinya bang Rey, jadi lo harus terima takdir elo dan harus terima juga gue katain lo istrinya bang Rey, alias Nyonya Reyhan Alatas hahahaha."


"Apa lo bilang, takdir? hahaha...." Aku tertawa mendengar ucapan Leya. Dia bilang takdir? Padahal kalau aku katain dia gemuk karena 'takdir', dia langsung marah-marah, eh sekarang malah menceramahiku dan bilang ini takdir. Lucu nggak sih?


"Napa lo ketawa hah" Leyamengerutkan keningnya, mungkin saking bingungnya dia kalau gue ketawa setelah dia ceramahi.


"Lagian lo tuh aneh tau ngk sih Ley, lo suka nggak terima kalo gue ngatain lo gemuk karena takdir, lo selalu bilang jangan pernah bawa-bawa takdir, eh sekarang lo malah ngatain gue nikah sama Rey itu karena takdir, aneh kan?" Aku memandang ke arah Leya, sembari terus menikmati kue-kue ini.


Tuk!

__ADS_1


Difi menyentil keningku. "Itu beda dodol!"


"Aduh, sakit tau...." Aku mengusap-usap kening yang disentil Leya tadi.


"Hehehe." Puas sudah rupanya si Leya udah nyentil keningku.


"Denger ya Zoe, gue gemuk itu emang karena gue doyan makan, lah lo, nikah sama bang Rey itu karena lo emang jodohnya bang Rey tau." Leya menarik nafas kemudian menghembuskannya. "Kalau aja gue nggak doyan makan, pasti bodi gue lebih bagus deh dari bodi lo. Terus nih ya, kalau semisal bang Rey nggak berjodoh sama lo, udah pasti dong tadi bang Rey, nikahnya sama calonnya itu. Tapi nyatanya apa coba, dia jadinya nikahnya sama lo kan? Ya meskipun pada awalnya lo nolak buat dinikahin sama bang Rey." Wih ... Difi beneran punya bakat jadi penceramah bo!


"Ternyata temen gue ini bisa ngomong bijak juga ya." Aku nyengir ke arah Difi.


"Lo bener-bener nggak ada akhlak banget ya, Zoe , gue ngomong panjang lebar juga, lo malah nanggepinnya ngledek gitu." Dari nada suaranya sih, Difi udah mulai merajuk nih.


"Iya deh, sorry, sorry, sini sinu peluk dulu." Aku dan Leya pun kemudian berpelukan, eh tapi tunggu, kok perasaanku Leya jadi agak mellow semenjak kita berpelukan gini ya.


"Hiks."


"Lah, kenapa lo? Kok jadi mewek gini," ucapku seraya melepaskan pelukan diantara kami.


"Gue nggak nyangka aja kalo lo udah nikah, sama bang Rey lagi, padahal kan kita seumuran, eh malah lo yang nikah duluan, mana gue ngefans banget lagi sama bang Rey." Difi mengusap matanya, menghalau agar air matanya tak turun ke pipi.


"Yaelah Leya gua kirain kenapa anjr." Aku memutar bola mata malas. "Kan lo tau sendiri, ini semua terjadi tanpa pernah gue duga sebelumnya, bener-bener mendadak. Kalau gue tau kedatangan gue ke sini pada akhirnya dipaksa buat jadi pengantin pengganti, nggak bakalan gue mau ikut nyokap gue ke sini. Oh ya, kenapa nggak lo aja sih ya, yang nikah sama Rey."


"Gue cuman ngefans doang sama Bang Rey, bukan berarti cinta sama dia, gue udah punya gebetan juga kali, jadi kayaknya sangat tepat banget lah kalo pada akhirnya lo nikah sama bang Rey, biar lo jadi bener gitu."


Aku melotot ke arah Leya. "Ohhh jadi selama ini gue nggak bener gitu?"


"Iya nggak bener semenjak lo pacaran sama Dolly, untungnya lo kemarin putus sama dia dan sekarang lo bisa nikah sama bang Rey, hoki banget kan lo."


"Gue pacaran sama Dolly nggak pernah macem-macem ya, ketemuan aja kadang seminggu sekali, kadang juga dua minggu sekali, pegangan tangan juga nggak pernah tau, paling mentok ya bonceng motor," ucapku membela diri. Kesal juga dikatain nggak bener hanya gara-gara pacaran sama Dolly. Padahal kan Leya tahu sendiri gaya pacaranku, apalagi selama ini aku selalu curhat tentang semua cowok yang dekat denganku padanya


"Iya, iya, gue becanda kali." Leya terkekeh.


"Nggak lucu."


BERSAMBUNG


.


.


.


INI KARYA PERTAMA SAYA


SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️


MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏


MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏

__ADS_1


TERIMAKASIH READER☺️☺️


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENT DIBAWAH👍😊


__ADS_2