Dipaksa Menikahi Tetangga

Dipaksa Menikahi Tetangga
#5


__ADS_3

"Gue pacaran sama Dolly nggak pernah macem-macem ya, ketemuan aja kadang seminggu sekali, kadang juga dua minggu sekali, pegangan tangan juga nggak pernah tau, paling mentok ya bonceng motor," ucapku membela diri. Kesal juga dikatain nggak bener hanya gara-gara pacaran sama Dolly. Padahal kan Leya tahu sendiri gaya pacaranku, apalagi selama ini aku selalu curhat tentang semua cowok yang dekat denganku padanya


"Iya, iya, gue becanda kali." Leya terkekeh.


"Nggak lucu."


"Eh, Zoe, lihat deh." Leya menunjuk ke arah Rey dengan dagunya


"Bang Rey liatin lo terus dari tadi, mungkin masih terpesona sama lo, atau mungkin juga dia takut kalo lo ilang."


"Terpesona pala lo! Jelas-jelas dia natap dengan tatapan malaikat maut, yang auranya kayak pengen ngebunuh gue. Dan dengan itu semua justru dia yang bikin gue ilang."


"Eh, dia ke sini, Zoe," bisik Leya


Sejujurnya aku deg-degan juga sih tau m kalau Rey lagi jalan ke sini, mana matanya dari tadi natap tajam terus ke aku. Berasa lagi dijemput sama malaikat Izroil kan.


Ampun Ya Alloh... jangan cabut dulu nyawa Zoe ....


Tap, tap.


Rey udah berada tepat di depanku, masih dengan tatapan tajamnya. Beneran membuatku jadi merinding disko nih.


"Eh, bang Rey, mau jemput Zoe ya? Maaf ya, tadi aku pinjem Zoe-nya sebentar."


Ngomong sama Rey aja Leya bisa manis begini, lah giliran ngomong sama gua nggak ada manis-manisnya.


"Oh nggak papa kok, ngak masalah juga, mau kamu pinjam selamanya juga nggak papa, atau kalau kamu mau buang dia ke lubang buaya juga saya sama sekali nggak masalah kok."


WHAT!


Jadi suamiku sama sekali ngak punya hati? Serius? Dasar, batu. Gak berperikemausiaan" gerituku


"Eh aku kesana dulu ya" Leya beranjak pergi meninggalkanku dengan manusia berhati batu ini


Merasa takut ditinggal Leya, akupun memutuskan ikut pergi menyusul Leya. Namun baru satu langkah, tangganku udah dicekal sama laki laki berhati batu ini.


"Eh, Apaan sih, lepasin ngak!" sentakku seraya menepis tanggannya. Tapi sayangnya cekalannya terlalu kuat, hingga aku tidak bisa melepaskannya.


"Siapa yang nyuruh kamu pergi?" tanya Rey, alisnya diangkat sebelah. Tipe tipe antagonis banget


"Ya terus mau ngapain?" tanyaku agak ketus.


"Ambilkan saya kue, saya lapar" perintahnya what? Dia pikir aku babunya apa seenaknya aja nyuruh orang


Aku hendak melayangkan protes sudah dicegah dengan omongannya "Kamu sekarang sudah jadi istri saya, sudah selayaknya dong kamu melayani saya, dan juga tidak boleh protes" membuatku mendengus kesal


Tak selang beberapa lama, mama dan papa pamit pulang padaku dan Rey


"Ma, pa, Zoe ikut pulang ya" Rengekku pada mama dan papa yang hendak pulang ke rumah


"Lho, kamu di sini aja lah Zoe, kamu sekarang kan sudah jadi istrinya Rey, nanti kamu pulangnya sama Rey ya" jawab mama mengusap kepalaku yang masih di sanggul.


"Iya sayang, benar kata mamamu, kalo kamu mau pulang ya bareng sama Rey nanti, lagian rumah kita ngak pindah kok, masih di depan sana tuh" papa ikut menimpali


"Rumah orang tua sama mertuamu ini hadap hadapan Zoe, jadi jangan buat drama dramaan seolah olah mama sama papa pergi jauh deh" tuh kan mama emang ngak ngerti deh perasaanku sekarang


"Tapi ma..."

__ADS_1


"Sttttt... No tapi tapian"


"Ahh mama jahat banget sih" aku merajuk sambil melipat tangan didada


"Udah,,, jangan kek anak kecil lagi Zoe ya sayabg, ingat ya, kamu itu udah jadi istri orang lo, jangan manja manjaan lagi, dan iya, ingat pesan pesan mama sama papa udah sampein tadi" kalo papa udah ngomong serius gini, mau gak mau aku harus nurut, meski berat banget rasanya.


Pokoknya ini semua gara gara mantan calon pengantinnya Rey aja, kalo aja dia di sana ngak pake acara percobaan bunuh diri, udah pasti nih dia yang nikah sama Rey. Dan aku masih berstatus lajang huaaaaaaaa aku cuman bisa nangis dalam hati hiks


Eh tapi kenapa aku tadi ngak coba ngancem bunuh diri aja ya waktu tante Meriska maksa aku buat jadi istrinya Rey. Huh dasar aku! Kenapa ngak kepikiran aja dari tadi? Tapi kalaupun kepikiran, mama pasti bakal biarin aku buat melancarkan drama bunuh diri itu, karna mama pasti tau lah ya kalau itu cuman pura pura aja. Dan ngak mungkin juga dong aku beneran bunuh diri, aku kan ngak pengen mati dulu, apalagi dengan cara konyol kyk gitu. Auto dijemput malaikat penjaga neraka.


"Zoe" mama mengguncang pundakku, seketika membuatku tersadar dri lamunan


Aku mengerjap dan kembali menatap mama. "Eh iya, ma"


"Malah ngelamun, denger ngak tadi mama sama papa ngomong apa? "


"Denger kok" jawabku pelan.


"Ya udah mama sama papa pulang dulu, kamu baik baik ya di sini. Nanti kita ketemu lagi digedung" papa mengusap kepalaku kemudian diikuti mama.


Papa dan mama berjalan meninggalkanku yang masih berdiri mematung disini, memperhatikan mereka yang perlahan berjalan menjauh.


Aku bingung setelah ini apa yang harus aku lakukan, pasalnya disini tidak ada lagi yang aku kenali. Leya sudah pamit pulang sebelum papa dan mama pulang, para tetangga juga sepertinya sudah pulang semua. Kini di sini hanya menyisakan para keluarga dan kerabat tante Meriska dan om Danu yang sama sekali tidak ada yang ku kenal satu pun.


Merasa bingung,, akupun memilih pergi dari keramaian, berjalan kesalah satu sudut ruangan yang terdapat kursi di sana.


Setelah mendaratkan pantat di kursi ini, aku mengeluarkan ponselku dari saku rok setelan kebaya yang kukenakan.


Hal pertama yang ku cek setelah ponselku menyala, aku langsung membuka aplikasi warna hijau. Beberapa pesan mulai masuk memenuhi beranda whatsapp, baik pesan pribadi maupun grup.


Terdapat banyak pedan dari para pakde, bude dan keluarga serta kerabat lain baik dari pihak mama maupun papa. Mereka kompak memberi selamat padaku baik secara pribadi maupun digrup keluarga. Banyak dark mereka yang heran dengan pernikahanku begitu mendadak, dan tak ada juga satu pun dari mereka yang diundang.


Sebenarnya aku juga heran, bagaimana dan darimana mereka bisa tau, pernikahan mendadak tanpa rencana ini. Tapi setelah aku membuka fitur whatsapp, maka terjawblah sudah. Ternyata mama dan papa yang memposting status tentang pernikahanku. Mama memposting foto dimana aku sedang menciun tangan Rey disertai caption 'selamat menempuh hidup baru anakku' sedangkan papa memposting foto ketika beliau menjabat tangan Rey saat akhad.


Sedang fokus bermain ponsel tiba tiba tante Meriska menghampiriku


"Lho, zoe, sayang kok disini disini sendirian sih" tanya tante Meriska


"Iya tan, kan mama sama papa udah pulang tadi, mau ikut pulang eh ngak dibolehin" aduku pada tante meriska


"Iya dong sayang, kan kamu udah jadi istrinya Rey, otomatis kamu harus tinggal di sini dong. Dan iya mulai sekarang kamu harus panggil tante dengan sebutan bunda, karna sekarang kamu sudah jadi anaknya bunda juga" papar tante Meriska


"Ohh, gitu ya tan"


"B-U-N-D-A, bukan tante okay"


"Heheh iya tan, eh. Bunda"


Aku nyengir menuruti permintaan tante Meriska, eh ralat, maksudku bunda Meriska. Rasanya kaku juga kalau harus mengubah panggilan. Auto penyesuaian lidah dong.


"Nah gitu dong" tante Meriska tersenyum puas mendengarku memanggilnya bunda. Mungkin karna tidak punya anak perempuan kali ya


"Oh iya Zoe, sebaiknya kamu istirahat dulu deh sekarang, kelihatannya kamu udah lelah, kamu bisa bobo dulu dikamarnya Rey ya sayang"


"Tapi tan, eh, bun...."


"Ngak ada tapi tapian, udah sekarang istirahat sana, bunda mau ngecek ngecek yang lain dulu" bunda pun pergi meninggalkan aku

__ADS_1


Kalau boleh jujur sih, memang rasanya aku lelah banget, ya, lelah hati lelah jiwa memikirkan ini semua. Akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi beristirahat, karena nggak tahu di mana kamar Rey, dan nggak pengen juga ke sana, jadi aku memutuskan untuk pergi ke kamar di mana aku di rias tadi. Entah itu kamar siapa, aku juga tak tahu.


Perjalanan menuju kamar tadi, sebenarnya banyak pasang mata yang memperhatikanku, keluarga dan kerabat Rey, tentu saja. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang menyapaku, semenjak aku sah jadi istrinya Rey. Mereka hanya memandang dan menilai penampilanku, terlihat dari raut wajah mereka. Mengucapkan selamat pun hanya beberapa, dan itu pun hanya pada Rey, aku seolah-olah tak dianggap dan tak terlihat oleh mereka. Hmmm... apa mungkin mereka tak menyukaiku? Atau bahkan membenciku?


Ah terserah lah mau bagaimana sikap mereka padaku, aku juga tidak peduli. Toh pernikahanku dan Rey juga bukan kemauanku. Mungkin Rey juga terpaksa menerima aku sebagai pengantinnya menggantikan calon istrinya yang mencoba bunuh diri itu. Mungkin saja Rey menerimaku juga karna desakan dari tante Meriska kan ya?


Ah iya, gomong-ngomong soal tante Mariska, aku jadi berpikir kenapa dia memilihku untuk menjadi pengantin penggantinya ya? Kenapa bukan perempuan muda dari pihak kerabatnya atau kerabat om Danu? Aku lihat juga sepupu-sepupu Rey banyak yang cantik dan tentu saja modis, berbanding terbalik denganku. Bukankah menikah dengan sepupu juga diperbolehkan oleh agama? Lantas mengapa tante Mariska malah lebih memilihku?


Ah, memikirkan itu semua membuatku pusing saja. Mungkin lain kali bakal aku


tanyakan langsung pada tante Mariska mengenai hal itu, karena aku juga harus tahu dong, alasan dibalik jatuhnya pilihan tante Mariska menjadikanku menantunya.


Sampai di depan kamar, aku berhenti sejenak. Memastikan bahwa kamar yang akan kumasuki ini adalah kamar yang tadi digunakan untuk meriasku serta ruangan yang menjadi saksi bahwa aku pingsan dua kali tadi.


Setelah aku merasa yakin bahwa ini benar kamar yang tadi, aku langsung saja membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Kriet....


Pintu terbuka, dan memang benar ini kamar yang tadi, aku masih ingat betul perabot yang ada di sini. Terlihat di dalam masih ada dua perias tadi dan dua wanita paruh baya lainnya yang bernama. Bu Asih dan Bu Ningrum, mereka adalah warga sini yang berarti tetanggaku juga. Mereka berdua memang sering dimintai tolong untuk rewang jika ada tetangga yang punya hajat seperti ini.


Melihatku membuka pintu, spontan mereka melihat ke arahku dan menghentikan aktivitas ngerumpinya, entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, aku tak peduli. Sepertinya mereka heran dengan kehadiranku, terlihat dari raut wajah mereka yang seolah-olah mengatakan 'ada apa?' atau 'kok ke sini?'.


"Lho, kok Zoeya ke sini?" tanya Bu Asih. Benar kan dugaanku.


Aku berjalan masuk dan menutup pintu kamar, lalu melanjutkan langkah


menghampiri mereka yang tengah duduk di ranjang.


"Iya Bu Asih, Zoe bosen di depan, capek lagi, terus disuruh sama tante Mariska buat istirahat, ya udah Zoe ke sini aja," terangku.


Mereka saling berpandangan satu sama lain, mungkin masih belum puas dengan jawabanku.


"Kok istirahatnya di sini? Emangnya Bu Mariska nyuruh kamu istirahatnya di sini?" Kini giliran Bu Ningrum yang bertanya setelah aku sukses menaiki ranjang dan duduk di atasnya.


"Tante Mariska tadi sih nyuruhnya aku istirahat di kamar Rey, tapi karna Zoe nggak tahu di mana kamarnya Rey, ya udah Zoe masuk ke sini aja," jawabku. Sebenarnya


bukan hanya alasan itu saja yang membuatku masuk ke sini. Tapi nggak mungkin juga kan, kalau aku mengatakan pada mereka, aku malas mencari tahu di mana kamar Rey.


Mereka mengangguk setelah mendengar jawabanku, kemudian hening selama beberapa saat. Hingga akhirnya Bu Asih kembali bertanya, "kamu kok masih manggilnya tante Mariska sih, Zoe ... harusnya panggil bunda dong, biar sama seperti Rey, kan kamu udah jadi istrinya Rey sekarang, berarti kamu udah jadi anaknya Bu Mariska juga."


Aku memutar bola mata mendengar perkataan Bu Asih. Heran, kenapa hal seperti itu saja harus repot-repot dia katakan padaku. Tanpa diajari pun aku udah tahu.


BERSAMBUNG


.


.


.


INI KARYA PERTAMA SAYA


SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️


MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏


MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏

__ADS_1


TERIMAKASIH READER☺️☺️


__ADS_2