
Obrolan demi obrolan antara mama dan tante Meriska terus berlanjut, sesekali aku juga ikut menimpali, meski kebanyakan jadi pendengar sih
Hingga akhirnya ada tamu lain yang datang, otomatis tante Meriska pamit lada kami untuk menemui tamunya.
Mama menawarkan diri membantu kesibukan diacara ini. Masih pukul delapan pagi, acara akhad katanya masih dilaksanakan pukul sembilan. Masih satu jaman lah buat nunggu acara. Papa sama mama sengaja datang lebih awal, katanya biar bisa bantu bantu sedikit. Katakanlah solidaritas antar tetangga.
Oh iya tadi aku sempat tanya tante Meriska, kenapa acara akhadnya kok disini bukan ditempat mempelai wanitanya. Jawabnya karna ini memang kemauan calon mempelai wanita supaya akhadnya dilaksanakan disini, ngak tau juga sih alasannya apa.
Sementara mama bantu bantu, aku menghampiri Leya, temanku sekaligus tetangga, yang tengah berada dimeja kue. Hmmm kayaknya dia mau nyomot kue itu deh heheheh
"Woy, acara belum dimulai udah makan kue aja lu" ucapku dibalik punggung Leya. Dan berhasil membuatnya kaget
"Eh, Eh, Eh Copot copot" Leya latah setelah aku kagetin
"Dasar lu Zoe, ngagetin orang aja, ngak tau apa, gua mau ngambil kue nih" ucapnya sembari mengambil sepotong kue
"Heh, belum juga dimulai acaranya, udah main nyomot nyomot aja"
"Heleh, bilang aja deh elo juga mau kan?" aku memutar bola mata
"Ngak tuh" Bohong sih, sebenarnya juga pengen.
"Ngak nolak maksudnya"
"Kan, udah gua duga, seorang Zoe yang doyan makan, gak mungkin menolak kue kue ini kan kan kan.. Ni cobain nih" Leya menyuapkan secuil kue kemulutku. Aku pun dengan senang hati menerimanya.
"Emmmm... Enak juga, gua mau ambil sendiri ah" aku mengambil piring kemudian mengisinya dengan kue kue yang sangat menggoda ini
"Huh, dasar ya, tadi aja ngomongin gua" umpat Leya
Setelah selesai mengambil kue kue yang aku sama Leya mau, aku dan Leya pun beranjak mencari tempat duduk yang oas untuk memakan kue ini. Ketemh juga tempatnya, dipojok ruangan.
Di sela sela aku dan Leya memakan kue, terlihat Rey berjalan tergesah gesah menghampiri tante Meriska. Terlihat seperti ada gal genting yang mau diutarakan. Kemudian Rey mengajak tante Meriska masuk kedalam salah satu kamar, dan entahlah apa yang mereka bicarakan.
Beberapa menit kemudian, tante Meriska dan Rey keluar dari kamar itu, raut wajah tante Meriska terlihat gelisah, dan sesekali pandangannya menyisiri seluruh ruangan. Seperti tengah mencari seseorang. Sementara itu wajah Rey terlihat seperti frustrasi, beberapa kali juga terlihat ia mengacak acak rambutnya
Buset, calon pengantin bukannya kelihatan seneng ini malah terlihat frustrasi. Boleh gak sih aku tertawa jahat? Hihihi
Terlihat mama diajak tante Meriska ke salah satu ruangan. Aku masih memperhatikan dari tempat dudukku, sesekali menimpali ucapan Leya. Entah apa yang dibicarakan tante Meriska dan mama. Kayak penting banget, jadi penasaran deh.
Mama sepertinya sedang menenangkan tante Meriska, mungkin juga memberikan solusi. Maklumlah mereka bersahabat semenjak kami menjadi tetangga.
Tidak tau kenapa tiba tiba tante Meriska tersenyum senang seperti sudah menemukan jalan keluar dari permasalahannya. Terlihat ia kembali menyisiri pandang ke segala penjuru ruangan. Dan tibalah ia melihatku sedang menyantap sepiring kue dipojokan.
Duh, ketahuan kan kalau menyicipi kue yang acaranya saja bahkan belum dimulai. Malu banget euyy, ketahuan tuan rumah... Ada wajan buat nutupin muka gak sih? malu banget.
Tante Meriska berjalan kearahku dan Leya, tak lupa dengan senyumnya yang mengembang. Jangan jangan mau menegur aku sama Leya gara gara makan sebelum waktunya.. Duhhh gawat nihh
"Zoe, ayo ikut tante" aku yang sudah meletakkan piring kue yang sudah kumakan tadi pun heran dengan sikap tante Meriska yang tiba tiba menyuruhku untuk mengikutinya. Apalagi sekarang tante Meriska sudah memegang tanganku.
"Kemana Tan" tanyaku
Sejujurnya aku sungguh takut kalau tante Meriska memarahiku karna aku makan kue duluan.
__ADS_1
"Sudah ayo ikut tante aja, mama kamu udah setuju kok" hah! Setuju? Setuju apa? Menghukumku? Oh no no no
"Emmm... Setuju apa ya tan" aku coba bertanya. Dari raut wajahnya aku dua Leya juga keheranan
"Sudaha, ayo, ikut aja" tante Meriska sudah setengah menyeretku
"Tap.." belum sempat aku melanjutkan ucapanku
"Tidak ada penolakan" tante Meriska pun akhirnya menyeretku. Ngak biasanya tante Meriska bersikap memaksa seperti ini. Ada apa sih sebenarnya? Aku mau diajak kemana?
Suasana seketika menjadi panas, lebih tepatnya gerah. Sekarang juga aku merasa pening. Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah mencoba mengelak dan berontak dari dua orang yang sejak tadi berusaha untuk mendandaniku. Dua orang itu ialah perias yang disewa oleh Tante Mariska.
Ya, saat ini aku berada di kamar yang digunakan untuk rias pengantin. Tadi ketika tante Meriska menyeretku dan memaksa untuk mengikutinya, ternyata dibawalah aku ke sini, berakhir dengan kedua perias ini.
Sebelum Tante Mariska pergi meninggalkanku dengan dua perias lucknut ini, tante Meriska sempat memohon kepadaku supaya aku mau menjadi mempelai wanita dari anaknya--Rey.
Tentusaja aku terkejut dengan permintaan Tante Mariska itu. Bagaimana mungkin bisa aku menuruti hal tersebut, sedangkan aku saja sangat membenci Rey, seseorang yang sejak dulu kuanggap sebagai musuh bebuyutan. Mungkin jika Tante Mariska menyuruhku untuk membuang anaknya itu ke sungai Amazon, maka dengan segera akan kusanggupi. Biar si Rey itu dimakan ikan piranha sekalian. Kan jadi tenang hidupku jika tak ada makhluk yang menyebalkan itu.
"Tante mohon sama kamu Zoe, kamu mau ya jadi pengantinnya Rey," pinta Tante Mariska.
"Nggak Tan, nggak mau, Zoe nggak mau."
"Zoe, tante mohon banget sama kamu ." Tante Mariska menggenggam kedua tanganku sembari memohon.
"Tante kenapa tiba-tiba kayak gini? Kan udah ada calonnya Rey, kenapa Tante malah minta Zoe buat jadi pengantinya Rey?" huh, akhirnya aku bisa juga melontarkan pertanyaan yang sedari tadi berputar-putar di otakku.
"Zoe, Rey tadi dapat telefon dari keluarganya Eva, katanya Eva mencoba bunuh diri karena tidak mau dinikahkan dengan Rey." Tante Mariska menghembuskan nafas kasar sebelum ia kembali melanjutkan ucapannya "sebenarnya pernikahan ini adalah keinginan dari ayahnya Rey, dan papanya Berlin. Mungkin Berlin kehabisan cara untuk menolak keinginan papanya itu, jadi... ia memutuskan untuk bunuh diri. Tapi untungnya Berlin masih bisa diselamatkan, dan akhirnya keluarga mereka sepakat untuk membatalkan pernikahan ini."
Aku hanya diam tak bergeming mendengarkan penjelasan Tante Mariska tentang calon Rey. Aku juga tidak tahu harus menjawab apa. Sekarang aku jadi tahu alasan mengapa calonnya Rey menginginkan agar akad nikahnya dilaksanakan di sini. Mungkin agar ia bisa melancarkan rencananya itu.
"Undangan udah disebar, semua orang udah tau, bahkan sudah banyak yang datang untuk menyaksikan akad, acara juga sudah ada di depan mata, tidak mungkin kan kalau tiba-tiba dibatalkan begitu saja." Terasa genggaman tante Meriska semakin kuat
"Ayolah Zoe, tante mohon banget. cuma kamu harapan satu satunya." Kini tangan kanan tante Mariska menyentuh dan mengusap lembut pipiku, terlihat netranya berkaca-kaca.
Ah, kalau sudah begini aku jadi tak tega. Apalagi selama ini ia selalu memperlakukanku dengan baik, berbanding terbalik dengan anaknya.
"Baiklah, karena kamu diam saja, maka tante akan anggap kalau kamu menyetujuinya." Loh, loh, loh, teori dari mana itu? Aku diam bukan berarti aku bersedia Tante Marimaaaas eh maksudku Tante Meriska
Aku hendak kembali menolak, namun belum sempat aku mengatakan apa pun, Tante Mariska sudah menyeretku ke depan meja rias, dan memasrahkan pada perias untuk merias wajahku.
"Arggghh...." Aku berteriak mengingat pembicaraanku dengan Tante Mariska tadi. Sontak membuat dua perias yang sedari tadi mencoba meriasku pun terlonjak kaget.
"Aduh Neng, kenapa teriak-teriak gitu atuh? Nggak baik calon pengantin teriak-teriak gitu," ucap salah satu seorang perias yang kutaksir umurnya sepantaran dengan mama.
"Nurut aja ya neng dirias," sahut perias yang satunya. Sepertinya ia seumuran denganku.
Ah! Aku dapat ide.
"Ehem, kalau boleh tahu nama mbaknya siapa?" tanyaku pada perias yang kukira umurnya tak beda jauh denganku.
"Saya Lela, Neng."
"Ohhh, mbak Lela, aku boleh minta tolong ngak?" Aku menatap perias yang mengaku bernama Lela itu.
__ADS_1
"Minta tolong apa ya Neng?" Lela mengernyitkan dahinya.
"Mbak mau nggak menggantikan posisi saya jadi mempelai wanita? Enak lho, bisa jadi istrinya Rey, dia itu kaya, punya mobil mewah, punya bisnis restoran sendiri lagi, nanti kalau Mbak Lela jadi istrinya, Mbak gak perlu deh kerja lagi" bujukku
Kedua perias itu pun reflek saling berpandangan, lima detik kemudian mereka saling melempar senyum penuh arti.
"Neng ini ada-ada saja. Saya nggak mau ah," ucap Lela sambil tetap berusaha memegangi lenganku yang terus berontak.
"Lah kenapa emang? Dapat tawaran enak kok nggak mau," ujarku sinis.
"Si Lela ini sudah punya suami atuh Neng, malah udah punya tiga anak" sahut perias yang satunya.
Aku melongo mendengarnya. Aku kira Si Lela ini belum menikah, eh ternyata udah berbuntut tiga.
"Iya Neng, saya mah udah punya suami dan anak, jadi jelas tawarannya Eneng mah, saya tolak. Lagian kenapa Eneng menolak atuh, kan Enengnya juga jomblo."
S-i-a-l-a-n! Dia mengataiku jomblo.
Aku bingung sekarang mau bagaimana lagi menolak semua ini. Sedang kini wajahku sudah mulai diolesi foundation.
"Ahhhh... mama ... tolong Zoe, Ma" Aku berteriak lagi, kini volume suaraku sudah memenuhi ruangan ini jadi, bisa dipastikan terdengar sampai ke luar ruangan. Bodoh amat dengan tanggapan orang-orang, yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana menolak permintaan gilanya Tante Mariska.
Dua perias itu pun gelagapan menghadapi tingkahku yang terus-terusan meronta. Hingga tak lama kemudian Mama datag bersama dua orang wanita paruh baya yang setahuku tetanggaku.
"Ada apa sih, Zoe?" Mama menghampiriku dan mengusap pelan pundakku. Dua perias itu pun sedikit bergeses, memberi ruang untuk Mama.
"Ma, tolongin Zoe, Ma. Zoe nggak mau jadi istrinya Rey. Zoe ngak may nikah ma" Aku memohon pada mama dengan raut wajah yang kubuat semenyedihkan mungkin. Semoga saja mama luluh.
"Sudahlah Zoe, kamu nurut aja ya, lagian nggak ada ruginya juga kok kamu jadi istrinya Rey." Mama mengusap pelan rambutku.
"Mama apa-apaan sih ma, kenapa Mama nggak belain Zoe, terus dari tadi mama ke mana aja saat Zoe diseret sama Tante Mariska, harusnya Mama bantuin Zoe dong" cecarku
Oh mama, maafin anakmu ini ya, aku ngak bermaksud jadi anak durhaka.
"Zoe, mama sudah setuju dengan Tante Mariska, papa juga udah setuju, kamu nurut aja ya sayang." Mama terus membelai rambut panjangku. Seperti ada embun yang akan jatuh dari kelopak matanya.
Oh Mama ... jika keberatan mengapa malah menyetujuinya? Apa karena tak enak jika menolak permintaan Tante Mariska?
Lalu apa tadi, nurut? No, no, no.
"Pokoknya Key nggak mauuuu TITIK" . ucapku tegas
BERSAMBUNG...
**INI KARYA PERTAMA SAYA
SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️
MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏
MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏
TERIMAKASIH READER☺️☺️
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE DIBAWAH👍😊**