Dipaksa Menikahi Tetangga

Dipaksa Menikahi Tetangga
#19


__ADS_3

"Kamu kalau laper tinggal ke sini aja Zoe, mama ngerti kok kalau kamu sungkan makan banyak banyak di rumah mertua, mama juga gitu dulu" Nah kan, mamaku emang paling nggak tega blarin anaknya kelaparan.


"Beres, Ma kan cuma berapa langkah doang tinggal nyebrang nyebrangnya juga bukan jalan raya." Aku menjawab disela-sela makanku.


"Ehem' Kok kek ada suara ya


"Ohhhh ya ampun mantu mama udah dateng ys, sini sini ikut sarapan" Mama langsung heboh begitu tahu siapa yang datang.


Perasaan waktu aku tadi. yang datang, mama nggak sebahagia ini deh. Kan jadi merasa tersingkitkan. Sebenarnya yang kedudukannya sebagai anak itu siapa sih


"Makasih. Ma, tapi saya sudah sarapan tadi," ucap Rey.


"Iya mama udah tau kok, tadi Zoe udah bilang. Tapi nggak papa juga kan kalau sarapan lagi, tuh lihat Zoe aja udah mau dua piring."


"Uhuk" Aku tersedak mendengar ucapan mama yang menfitnahku. Ini kan baru satu piring, aja belum abis, eh malah dibilang mau dua piring,


"Aduh, kamu hati-hati dong, Zoe. Makanya kalau makan tuh suami ditawarin, biar nggak kena azab kesedak makanan" Aku melotot mendengar mama menyumpahiku.


Sedang Rey udah cengengesan nggak jelas. Awas ya pada.


Aku mengambil gelas berist air putih, kemudian menandaskannya.


"Mama apaan sih, pake nyumpahin segala.


"Lho, siapa yang nyumpahin, kamu aja yang baperan, Ayo-ayo Nak Rey duduk, kita sarapan sama-sama, kamu belum pernah kan nyobain masakan mama" Mama masih terus mengajak Rey untuk sarapan Dituntunnya Rey menuju meja makan.


Dan yang bikin aku iri, mama sampai sampai menyiapkan kursi untuk Rey duduki. Beh, seumur umur jadi anak mama nih ya, nggak pernah tuh aku terlalu diistimewakan begitu.


"Makasih, Ma" ucap Rey disertai senyuman yang dibuat sok manis gitu.


"Aduh, Nak Rey, kayak sama siapa aja deh, udah yuk dicobain. Zoe, ambilin makanan buat suamimu dong, masa kamu enak-enakkan makan sendiri"


"Ambil sendiri kan bisa, manja banget kalau harus diambilin" sinisku.


Membuat Mama menggetok kepalaku dengan garpu, spontan aku pun mengaduh. "Aduh" Aku meringis kesakitan.


"Nggak boleh begitu sama suami" tegas mama.


"Nggak papa. Ma, saya bisa ambil sendiri kok" Dih, caper.


"Tuh, kan, dia aja bisa ambil sendiri" ucapku sedikit. ketus. Mama mencebik.


"Maaf ya Nak Rey, Zoe emang kayak gitu, masih seperti anak kecil" . Hmmm ghibahin aja teruuuss.


Rey tersenyum"Nggak papa. Ma, saya memaklumi kok".


"Ya udah sini, biar mama aja yang ngambilin ya," tawar mama yang kemudian mengambil piring untuk diisi nasi dan segala lauk pauknya.


"Eh, nggak usah. Ma" tolak Rey.


"Udah nggak papa. nggak usah sungkan, sekali-kali meladeni mantu, apalagi mantunya cakep kayak Nak Rey." Hoho fitnah yang sangat kejam.


"Maaf ya, Ma, jadi ngerepotin." Dih, sok nggak enakan Biasanya aja main nyuruhi-nyuruh aku seenak udel.


"Th. ya enggak dong ayo ini dimakan, Nak Rey!"  Mama menyodorkan piring yang udah berisi nasi dan lauknya.


**********


"Gimana tadi sarapannya Nak Rey?" Mama bertanya setelah kita berada di ruang keluarga sambil nonton tv.


"Enak banget, Ma masakannya. Ternyata mama jago masak juga ya." puji Rey. Kayaknya aku mengendus bau-bau orang lagi cari perhatian deh.


"Wah, masa sih, Nak Rey bisa aja deh." Mama tersipu malu. Ya elah, kek anak ABG aja. Baru juga dipuji kayak gitu.


"Beneran, Ma. Masakan koki andalan saya di resto saja kalah" Ck, berlebihan banget cari mukanya.


Mama tambah tersipu. "Ah, perasian biasa aja deh, Nak Rey"


"Kalau mama mau, nanti mama bisa mengisi menu di restoran saya dengan resep andalan mama."

__ADS_1


Perkataan Rey seketika membuat Mama berbinar, Sedangkan aku udah nggak minat banget rasanya mendengar obrolan dua insan beda generasi ini Karena males ngedengerin, aku in buat masuk ke kamar.


Uh, rasanya kangen dua malam nggak tidur di kamar tercinta, Padahal secara fasilitas, kamar ku ini jelas kalah jauh kalau dibandingkan kamarnya Rey


Setelah masuk, aku langsung menutup pintu, tak lupa juga kukunci, biar nggak ada yang nyelonong masuk dan gangguin aku yang lagi pengen menyendiri dulu.


Aku langsung merebahkan badan di kasur tercinta. 'Ah, nyamannya, Meskipun serba terbatas, tapi tetep aja yang paling nyaman ya tempat tidur di kamar sendiri.


Sambil tiduran, aku mengambil ponsel di saku celana dan mulai menghidupkannya. Setelah data seluler kunyalakan, banyak pesan berbondong bondong masuk, maklum dari kemarin, aku sengaja menonaktifkannya. Bukan apa-apa, tapi dari kemarin kan aku sana Rey terus, nah kalau sama dia, moodku ancur terus, jadi takutnya aku malah melampiaskan kekesalanku dengan membalas pesan dengan kata yang tidak-tidak. Kan jadi berabe kalau beneran kejadian. Kebanyakan pesan yang masuk dari cowok-cowok teman kampus yang selama ini pantang menyerah buat mendekatiku.


Eh, tapi bukan untuk nagih utang ya, itu mah udah kelar. Mereka mendekatiku karena naksir, dan kata mereka aku ini mirip raisa Padahal kan aku lebih cantik dari raisa. Suka pada fitnah sih


Aku tersenyum dan sesekali tertawa membaca pesan-pesan dari mereka yang rata-rata berisi gombalan-gombalan receh. Nggak aku bales sth. tapi mereka tetap aja setia pantang menyerah mengirimkan kata-kata rayuan yang bukannya. bikin aku tersanjung, tapi malah bikin aku ketawa. Jahat emang.


Seberapa cantiknya sih, aku di mata mereka, kok ya sampai pada bucin gitu. Kalau kayak gini kan aku jadi nggak tega, Nggak tega buat menerima cinta mereka. Bosan membaca pesan-pesan receh, aku beralih ke grup kelas. Di sini lagi bahas tugas.


Eh, tugas apaan yak, kok aku nggak tahu sih.


Tita : Gaesss,,, gimana tugasnya, udah pada selesai belum?


Roni : Elah, baru juga kemarin dikasth tugas, sekarang udah ditagih aja.


Desi : Iya nih, parah lo Tit.


Difi : Eh. Tit apaan tuh Des?


Desi : Ya Tita lah beg* Lo pikir apaan?


Difi : Ye, ya biasa aja dong nggak usah ngegas, gue kan cuma tanya.


Tita : Ech... malah pada ngomongin apa sih, gue tanya nih, udah pada selesai belum tugasnya? Gue udah ditanyain sama Pak Bobi


Roni : Bukannya tugasnya dikumpulin minggu depan ya?


Desi : Iya, kan buat minggu depan Tit.


Difi : He'em, beb, masih minggu depan, kenapa tu dosen udah nagih aja sih?


Roni : Dasar dosen gendeng


Difi : Setuju ama aa Roni.


Tita : Elah lu mah apa-apa setuju Dif.


Desi : ehh dosa tau, ngatain dosen.


Difi : Sejak kapan lu bener?


Roni : Desi pan udah insap


Tita : Kerasukan jin mana lo Des


Difi : Hahaha


Desi : Huhuhu jahat.


Zoe : Hello eperibodeh pada kangen nggak nih, sama kembarannya raisa


Desi : Nggak


Roni : Nggak banget


Difi : Hoek, mo muntah nih, kagak ada yang kangen sama lu Zoe


Zoe : ih, kok pd gitu sih. yodah deh, aku mau menghilang lageee. Bye


**********


Di taman ini aku sendiri. Duduk di bangku taman menikmati segarnya udara, serta indahnya ciptaan Tuhan yang dapat aku lihat. Mulai dari bunga bunga, kupu-kupu yang bertebaran ke sana kemari seakan tanpa beban. Ah, rasanya aku ingin jadi kupu-kupu saja.

__ADS_1


Sudah lama rasanya tak menginjakkan laki taman ini. Taman di mana dulu aku sering ke sini dengan sang pujaan hati. Taman yang menjadi saksi bisu di mana hati ini mulai tertaut padanya, menikmati indah senyumnya, juga canda tawanya.


Ah, andal saja semua bisa terulang kembali. Namun taman ini juga menjadi saksi, saat aku tahu bahwa hatinya telah dimiliki.


Aku kalah start. Dan saat itu lah aku tahu bagaimana rasanya patah hati.


"Hem... udara di sini masih segar seperti dulu" . Aku bermonolog, setelah sebelumnya menghirup udara yang cukup membuatku merasa nyaman.


Mengambil ponsel dari tas kecil yang kubawa, aku mulai berfoto ria. Ya, mumpung di sini kan, kapan lagi coba..


Mengabaikan tatapan orang-orang yang memandang aneh ke arahku, aku terus berselfie. Mengambil beberapa pose gambar diri, di tempat yang berbeda-beda. Biarlah mereka menganggap aku aneh. Bahkan mungkin udah ada yang menganggap aku gila, Terlihat dari mereka yang memandang rendah ke arahku sambil berbisik bisik.


Aku sih, nggak pernah peduli mengenai penilaian mereka, toh aku hidup bukan dari mereka dan bukan pula untuk mereka, jadi untuk apa dihiraukan, Selagi aku merasa nyaman, senang dan bahagia, ya kenapa tidak.


Setelah puas mengambil gambar, aku berlari ke sana kemari. Katakanlah kalau aku seperti anak yang masa kecilnya kurang bahagia.


Terserah mau dibilang apa yang penting aku bahagia dan bisa tertawa. Itu aja cukup kok.


"Key" Kulihat kak Arga memanggil Untuk apa dia ke sini, bukankah katanya dia mau menikah?


"Key, sini" Tangan kak Arga melambal ke arahku, memberi kode agar aku mendekat.


Tanpa basa-basi, aku pun mendekat. Sebenarnya, memang ada sebongkah rindu untuknya. Tapi.. Ahh sudahlah lupakan.


**********


"Kak Arga kok di sini?" tanyaku basa-basi.


"Iya, aku kangen ke sini. juga kangen sama... kamu" Kak Arga menatapku dalam.


Sadar Key, Ini nggak benar. Kamu jangan terlena.


"Dih, kok kangen sama aku sih, entar calon kak Arga cemburu lho" godaku. Sebenarnya ada rasa sesak ketika mengatakan itu.


"Haha. enggak kok, dia nggak bakal cemburu" Kak Arga ngomong dengan santainya, seakan-akan calonnya itu bukan tipe pencemburu.


"Masa sih." Aku masih menggodanya.


"Iya lah, dia nggak bakal cemburu, lagian udah tahu, juga aku ke sini buat nemuin kamu."


"Emang kak Arga tau kalau aku lagi di sini?"


"Tau lah, tadi aku sempet ke rumah kamu, eh kamunya nggak ada, jadi kakak pikir, pasti kamu lagi ada di sini."


"Ooh... gitu" Aku manggut-manggut.


"Oh iya, aku mau kasih ini. Key" Kak Arga memberikan sesuatu untukku, yang setelah. kuterima ternyata sebuah undangan. Ya, undangan pernikahannya dengan wanita pilihannya.


Aku membuka dan mulai membaca undangan itu. Setelah selesai, aku kembali mendongak. Namun, udah nggak ada lagi kak Arga di sampingku.


Ke mana dia?


. BERSAMBUNG


.


.


.


INI KARYA PERTAMA SAYA


SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️


MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏


MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏


TERIMAKASIH READER☺️☺️

__ADS_1


COMMENTS


VOTE


__ADS_2