
Matahari udah nongol aja. Seperti biasa, sebagai pengantin baru yang menikah karena keterpaksaan, maka pagi-pagi kami udah disibukkan dengan adegan adu mulut. Eits... jangan mikir yang onoh ya, karena aku bertekad nggak akan kecolongan lagi.
Setelah sholat subuh tadi, Rey langsung ngomel ngomel karena aku belum bangun-bangun juga. Ya, aku memutuskan untuk kembali tidur di bed cover setelah adegan pemanasan di ranjang jam tiga pagi tadi.
Dia marah-marah karena aku nggak sholat subuh. Padahal kan aku belum selesai mens-nya. Mau nggak mau aku pun memaksakan untuk membuka mata. Tahu diri juga lah, sekarang aku tinggal di mana, apalagi satu atap sama oma ompong. Kan bisa berabe kalau ketahuan bangun siang.
Begitu membuka mata, aku berniat ke kamar mandi. Tapi yang namanya orang rese ya gitu, tahu kalau aku mau ke kamar mandi, eh dianya main serobot aja. Kan jadi ada adegan rebutan kamar mandi. Dan puncaknya aku lah yang mengalah. Ya, mau gimana lagi, aku kan cuma numpang, jelas harus lebih tahu diri.
"Pagi, Bunda," sapaku penuh suka cita begitu mendapati wanita paruh baya berhijab ini di dapur.
Ya, setelah selesai mandi, berganti pakaian dan dandan ala kadarnya, Rey langsung menyuruhku supaya ke dapur buat bantuin bunda. Katanya biar nggak dimarahin oma. Sedangkan Rey, dia memilih untuk berjogging ria.
"Pagi, menantu cantik bunda. Kok pengantin baru pagi-pagi gini udah bangun aja sih?" Bunda bertanya dengan nada menggoda.
Aku mengerutkan kening, bingung dengan pertanyaan bunda yang menurutku sedikit absurd itu.
"Loh, emangnya harus bangun jam berapa, Bun?"
"Ya pengantin baru harusnya bangunnya nanti dong, agak siangan gitu. Pagi-pagi gini kan masih anget-angetnya buat kalian usaha bikinin bunda cucu."
Aku terbatuk mendengar ucapan bunda tadi. Untung nggak lagi minum, kalau iya, pasti keselek deh.
"Bunda ada-ada aja deh."
Mungkin kalau aku bisa lihat wajahku sendiri, sudah pasti pipiku tampak merah. Bukan karena alergi seperti dulu, tapi karena sering diledekin gini nih.
"Kamu kenapa, Sayang, kok sampai batuk-batuk gitu? Hmm... pasti Rey ngajak lembur semaleman, ya kan."
Ini apa sih, kok aku jadi makin bingung sama omongan bunda yang semakin ngawur gini. Bunda mengelus pelan bahuku. Wajahnya tampak berbinar-binar. Pasti mikir kalau aku sama Rey udah, ehem..
"Enggak kok, Bun, tadi malem Key tidur cepet, pules banget lagi, sampai tadi baru bangun. Maklum lagi ada tamu bulanan, jadi sengaja bangun agak siangan," ucapku mengklarifikasi kesalah pahaman bunda yang pasti udah mikir ke mana mana. Ya, sebagai tetangga sekaligus menantu yang baik kan nggak boleh PHP.
"Apa? Kamu lagi ada tamu bulanan, Key?" Wajah bunda berubah jadi sedikit murung, setelah keterkejutannya mendengar kejujuranku. Duh, aku jadi merasa berasalah deh.
"Iya, Bun," jawabku tak enak.
"Yah... harus ditunda dulu dong, padahal kan bunda udah nggak sabar pengen nimang cucu." Wajah bunda tambah kelihatan sendu aja.
"Tenang aja, Bun, kita pasti bakal usaha berkali-kali kok, sekarang emang lagi libur, tapi setelah selesai nanti, kita langsung gas poll, iya kan, Sayang?"
Entah dari mana tiba-tiba si manusia batu udah berada di dekatku, dan dengan tanpa malunya nimbrung obrolan aku sama bunda.
"Ih, apa--" Aku tak melanjutkan ucapanku, karena
__ADS_1
udah dihadiahi tatapan setajam elang milik Rey. Oke, kali ini aku bungkam. Tapi bukan berarti mengalah ya.
"Aduh, romantisnya." Bunda kembali berbinar saat melihat Rey yang dengan kurang ajarnya merangkulku.
Kan jantung jadi ngajakin marathon lagi. Aku mau melepaskan diri, tapi Rey sangat kuat, jadi lah aku pasrah aja. Toh, demi bunda nggak murung lagi kayak tadi. Meski efeknya berdampak buruk untuk kesehatan jantungku.
"Ciee... Bunda ngiri nih ye," ledek Rey.
Jujur aku baru tahu kalau Rey bisa meledek seperti ini. Aku kira dia orangnya lempeng-lempeng aja, alias nggak suka bercanda. Ternyata eh ternyata dia bisa konyol juga kalau lagi sama bunda.
"Iya, nih, bunda iri. Ayah mana sih, kan bunda juga pengen dipeluk ayah pagi-pagi gini" . Eh, kenapa jadi begini sih?
"Aduh, Bunda, kita nggak ada maksud buat manas manasin Bunda kok," ucapku ngedem-demin.
"Apa sih, kamu ini, udah dilanjut aja mesra mesraannya, kenapa keburu-buru pada keluar kamar sih."
"Tuh, kan, Sayang, apa aku bilang tadi, dibilangin jangan keluar kamar dulu, kan aku masih pengen berduaan di kamar." Eh, eh, ini manusia batu kampret bener ya. Bukannya tadi dia nyuruh aku buat ke dapur bantu bunda, dan dia bilang mau jogging, kok jadi kek gini ceritanya. Kena fitnah lagi kan aku, dasar manusia batu. Nggak ada akhlak emang.
"Udah, udah sana, tuh pintu kamar udah melambai lambai. Eh, tapi inget ya Rey, jangan kebablasan, Zoe nya masih ada tamu, hihi." Dih, bunda kenapa jadi demen ngledek begini sih.
"Yuk, Sayang."
"Apaan sih, Rey. Lo katanya tadi mau jogging, kenapa nggak jadi sih," gerutuku.
"Kenapa pake berubah pikiran segala," ketusku.
"Ya, karena lihat kamu." Sumpah demi apa, manusia batu ini tiba-tiba jadi manis begini. Jangan-jangan tadi kesambet kali ya.
"Lo ngaco aja deh, kerasukan jin mana sih lo?"
"Sayang, kamu ngomong apa sih?"
" Aduh, mana makin kenceng lagi meluknya. Kan aku takut khilaf."
"Lo yang ngomong ap---" Sialan, mulutku dibekap. sama Rey. Untung bekapnya pake tangan, bukan pake... ah, sudahlah. Aku malu kalau mengingat kejadian di kamar.
"Saya kan sudah bilang, jangan pake bahasa kasar kalau di depan bunda dan yang lainnya," lirih Rey. Kulihat bunda udah sibuk dengan aktivitas memasaknya. Jadi nggak lihat ini semua, kalau lihat, pasti dikira lagi mesra-mesraan.
"Ya udah ih." Aku menepis tangan Rey.
"Lagian lo juga yang ngapain tiba-tiba ke sini, bukannya tadi bilang mau jogging?" Aku ikut berbicara lirih.
"Saya berubah pikiran, sepertinya lebih mengasyikkan kalau di kamar saja sama kamu." Rey menyilangkan kedua tangannya ke dada sedang matanya tak lepas memandangiku.
__ADS_1
"Ish, pagi-pagi udah mesum." Aku menggerutu masih dengan suara pelan.
"Mesum sama istri sendiri kan ibadah." Rey mengedipkan sebelah matanya, genit. Dih, dikira aku bakalan seneng gitu, sorry ya bambang.
"Huh, udah deh sana lo pergi aja, jogging, gue mau bantuin bunda masak." Nggak enak juga ya, ngomong sambil bisik-bisik gini.
"Kayak bisa masak aja." Hoh, ni orang mulai merendahkanku rupanya. Eh, tapi emang bener sih, kalau aku nggak bisa masak, satu RT aja tahu. Nggak
deng, bercanda, masa iya mereka pada tahu, kan malu-maluin.
"Ya, makanya ini gue mau belajar," ucapku masih setengah berbisik. Sebenarnya udah nggak nyaman banget ngomong sepelan ini, bukan karakter aku banget. Maklum lah, aku kan biasanya suaranya keras. Keras banget malah, sampai toa aja kalah.
"Belajar? Yakin?" Ye ni orang nggak percayaan amat.
"Eh, kok kalian kok masih ada di sini sih, katanya mau ke kamar?" tanya bunda setengah meledek.
"Hehe, ini, Bun, setelah kita pikir-pikir, nggak bagus juga kalau balik ke kamar lagi." Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Jadi Key memutuskan buat bantuin bunda aja, terus Rey katanya mau jogging. Ya mumpung masih pagi, bosen juga kalau di kamar mulu."
"Oh, begitu. Ya udah sini bantuin bunda yuk."
Yes!
Akhirnya aku yang menang.
Sebelum menghampiri bunda, aku memeletkan lidah ke arah Rey. Ngece gitu lah, kan aku yang menang.
BERSAMBUNG
.
.
.
INI KARYA PERTAMA SAYA
SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️
MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏
MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏
__ADS_1
TERIMAKASIH READER☺️☺️