Dipaksa Menikahi Tetangga

Dipaksa Menikahi Tetangga
#14


__ADS_3

"Gue kan emang ngak tau anjrr" umpatku


Rey menjitak keningku dengan jarinya "Aduh, sakit tau" aku mengadu sekaligus tak terima.


"Kamu dari dulu emang mgak pinter pinter ya, kemana aja kamj waktu pembagian otak dulu"


"Lagi jalan jalan sambil nyari tahu sumedang, puas" ketusku


"Yang kamu pikirkan cuman makanan aja terus ya" sinis Rey.


"Biarin hidup kan butuh asupan, biar kuat menghadapi kenyataan hidup, apalagi sekarang hidup gue dikelilingi makhluk makhluk nyebelin spesies kek elo, jadi tambah banyak butuh asupan makan"


"Banyak makan tapi ngak gede gede juga, termasuk itunya" mata Rey mengarah kebagian depan tubuhku.


Rfleks aku menyilangkan kedua tanganku untuk menutupi bagaian yang Rey maksud. Ya meskipun aku menggenakan hoodie, yang jelas sangat sangat menutupi, apalagi hoodienya kan loggar alias oversize, jadi ga bakalan nyetak.


Setertutup apapun pakai baju, kalau di sebelah kita ada cowok modelan kayak Rey begini, aku jadi was was, karena matanya yang lihatin ke arah yang tadi.


"Ih, dasar mesum!"


"Kamu saja yang pikirannya ke situ."


**********


"Zoe maafin ucapan oma tadi ya, tolong jagan dimasukin hati ucapan oma tadi" Tante Mariska, em maksudku bunda sedang mencoba membesarkan hatiku.


Sebenarnya aku nggak siap jika harus bertemu lagi dengan oma saat makan malam nanti. Tapi mau bagaimana lagi, aku udah jadi menantu di rumah ini.


Dari tadi mau pulang ke rumah mama nggak boleh sama Rey, pas mau kabur juga kepergok sama bunda. Ya sudahlah, nurut aja. Yang penting besok bisa pulang, itu pun harus sama Rey.


Ribet amat ya. perasaan, padahal rumah mama hadep-hadepan sama rumah ini, mau pulang aja katanya harus sama suami. Cih, suami yang mirip manusia batu.


"Iya, Bun, tenang aja, Zoe nggak sakit hati kok," ucapku. Emang sih aku nggak sakit hati sama ucapan oma tadi, tapi imbasnya oma nggak bakal bisa aku sukai.


Bukan aku pendendam, tapi kalau ada orang yang udah berani merendahkanku, maka sulit untuk aku menyukai orang itu.


"Oma itu cuma belum kenal aja sama kamu, makanya sikapnya seperti itu" . Bunda menghembuskan nafasnya.


"Dulu juga bunda bernasib sama sepertimu, waktu masih baru jadi menantunya.


"Masa sih, Bun?" Aku nggak percaya kalau dulu bunda diperlakukan seperti itu juga sama oma oma oampong itu.


Eh, dosa nggak ya, ngatain dla? Nychelin sih, kek cucunya


"Iya, karena bunda kan bukan berasal dari keluarga yang setara dengannya" .


"Maksud bunda?" Aku mengernyitkan dahi. Bingung.


"Ya... keluarga ayahnya Rey kan orang terpandang. Zoe, konglomerat gitu lah, sedangkan bunda kan cuma dari keluarga biasa-biasa aja, jadi menurut mereka bunda nggak pantas jadi istrinya ayah Rey" Bunda menjeda ucapannya.


"Tapi, ayah selalu ngeyakinin bunda, kalau bunda bisa ngambil hatinya oma. Maka dari itu bunda terus-menerus selalu berusaha, sampai akhirnya bunda melahirkan Rey, Karena kelahiran Rey lah sikap oma dan keluarga yang lain jadi baik ke bunda. Karna kbetulan juga Rey adalah cucu pertama laki laki yang sudah lama mereka harapkan". Aku manggut-manggut mendengar cerita bunda, bingung juga mau ngomong apa. Selain itu, aku juga nggak menyangka, kalau ternyata bunda harus berjuang supaya bisa diterima oleh oma ompong

__ADS_1


"Kamu juga harus berusaha, Zoe" Bunda menyenggol lenganku sembari tersenyum.


"Eh, berusaha?"


Bunda mengangguk. "Iya, berusaha untuk mengambil hatinya oma. Walau bagaimana pun kamu sekarang udah jadi cucu menantunya" .


"Ngapain Key harus berusaha, Bun, lagian Key juga nggak berniat supaya oma suka sama Key. Pernikahan Key sama Rey kan bunda yang minta". protesku.


"Tapi kan kamu sudah jadi istrinya Rey, Zoe. Apapun yang berhubungan dengan Rey, sudah pasti berhubungan dengan kamu juga. Keluarga Rey bukan cuma bunda sama ayah saja!"


"lya, Bun, tapi Key kan terpaksa buat jadi istrinya Rey, Bunda juga kan yang maksa" Aku masih tidak mau menurut.


"Bunda maksa kan karena bunda yakin kalau kamu mampu dan cocok buat jadi istrinya Rey. Bunda juga sangat yakin kok kalau kamu bisa jadi yang terbaik di hidup Rey"


"Tapi kenapa harus Zoe, Bun. Kenapa nggak yang lainnya aja, yang kemarin bunda suruh buat jadi pengantin pengganti. Dari keluarga bunda kan banyak yang cantik-cantik tuh, modis lagi, dan yang terpenting dari keluarga kaya, nggak kayak Zoe!"


Akhirnya aku bisa melontarkan pertanyaan yang sejak kemarin bersarang di benakku.


"Seperti yang tadi bunda bilang, Zoe, bahwa bunda yakin kamu yang terbaik."


"Kan Bunda nggak tau dalemannya Zoe," sahutku.


"Zoe, Zoe, berapa lama sih kita bertetangga sampal bunda nggak tahu siapa kamu" . Bunda menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan.


"Sebenarnya bunda sempat berpikir mau jodohin kamu sama Rey lho, tapi belum sempat bunda utarakan ke mama kamu, eh, oma malah mendesak ayah supaya menjodohkan Rey sama Berlin, dan kamu tau sendiri akhirnya kan" . Mataku melebar mendengar ucapan bunda yang katanya berniat menjodohkanku dengan anaknya, si manusia batu itu.


"Dan ternyata, emang kamu yang jadi menantunya. bunda. Bunda seneeeng... banget deh, Zoe: Bunda mencubit pipiku gemas. "Kalau udah jodoh emang nggak bakal ke mana ya?


"Lho kok kamu ngomong gitu, sih. Zoe" . Bunda tampak murung.


Aduh, aku jadi ngerasa bersalah nih Aku menggaruk kepalaku yang nggak ada kutunya tapi ada ketombenya, sampai-sampai bikin aku tiba-tiba pengen garuk aja. Ah, nanti kalau Rey tidur, aku berinisiatif mau menyumbangkan ketombeku ke rambutnya Rey aja, biar sama-sama gatal. Eh, tapi emang bisa.


"Abisnya, Rey nyebelin, Bun" , aduku.


"Kamu jangan suka fitnah ya" Entah dari mana datangnya makhluk nyebelin yang lagi diomongin ini, bisa tiba-tiba dateng. Padahal nggak ada yang ngundang, Udah cocok jadi saudaranya jaelangkung emang.


"Ye, emang bener kok, kenyataannya juga gitu" . Aku memcebik.


"Bun masa tadi malem aku disuruh tidur di sofa kamar hotel coba, beneran nggak ada akhlak kan anak Bunda itu", aduku. Setelah ini aku yakin Rey pasti bakalan dimarahin.


"Apa? Tidur di sofa? Bener itu Rey?" tanya bunda.


"Enggak, Bun, bohong dia" . Ye... pake ngelak segaln ni manusia batu.


"Ya ampun, Bun, masa sih Zoe bohong. Zoe ngomong apa adanya kok Bun" Aku menampakkan wajah semelas mungkin ke arah bunda


"Rey kamu itu, kenapa harus bersikap seperti itu, Key itu sekarang istri kamu, tanggung jawab kamu. Bunda nggak pernah ya ngajarin kamu kayak gitu, kalau kamu kayak gitu, kasihan Key" . Bunda berbicara sambil menjewer telinga kiri Rey. Dan Rey pun mengaduh. kesakitan. Haha... kasihan deh lu bambang!


"E-ch, Meriska apa yang kamu lakukan sama cucuku"


Semua yang ada didapur pun sontak menoleh ke arah suara termasuk aku

__ADS_1


Tahu siapa yang tadi ngomong? Ya jelas si oma ompong lah, siapa lagi di rumah ini yang bisa ngomong ketus selain Rey dan omanya itu.


"Eng-enggak kok, Ma." Bunda melepaskan jeweran tangannya dari telinga Rey. Yah, padahal lagi pertunjukan seru, malah digangguin.


Jarang banget kan kalau aku lihat Rey ketakutan sama bunda tadi, biasanya kan dia gayanya sok banget gitu lah, eh giliran sama bunda ciut gitu. Kan lucu.


"Enggak gimana, jelas-jelas Mama liat kamu lagi jewer Rey, cucu kesayanganku." Oma berhenti ngomel sejenak, lalu beralih menatapku horor.


"Dan kamu, apa yang kamu lakukan, sampai ketawa-ketawa seperti itu, kamu itu perempuan, nggak pantas tertawa seperti itu. Dasar kampungan."


Elah, mulai lagi kan si oma ompong. Cuma ketawa doang dianggap salah, lalu gimana reaksinya kemarin kalau si oma ompong tahu, aku kemarin pingsan berkali-kali.


"Ini saya cuma lag--."


"Kita semua lagi bercanda kok, Oma". Rey memotong ucapan bunda yang sepertinya mau membela diri lagi. Sedangkan aku? Oh, tenggelamkan aja aku ke laut, dari pada di sini terus dipelototi oma ompong.


"Bercanda apanya, Rey, jelas-jelas tadi oma lihat kamu lagi dijewer sama bunda kamu." Rupanya si oma emang bener-bener nggak terima kalau cucunya sampai lecet. Ck, dasar cucu oma. Eh, salah.


dasar omanya cucu. Eh, bener nggak sih?


"Nggak papa kok, Oma, namanya juga bercanda, udah biasa, nggak sakit kok" Rey tersenyum lalu menghampiri omanya.


"Lalu, kenapa dengan perempuan kampungan ini?" Masih juga setia mengataiku dengan perkataan itu. Mana masih melotot-melotot juga lagi. Kan aku takut jadi khilaf kalau lagi pegang garpu.


"Ooh, Key cuma lucu aja liat aku sama bunda bercanda, baru kali ini soalnya, iya kan, Sayang?" Rey melihat ke arahku sambil tersenyum. Mau nggak mau, aku pun harus terjun ke dalam akting yang Rey ciptakan ini.


"1--iya, Oma," ucapku gugup.


"Oma, oma, saya bukan oma kamu ya" , ketus oma.


Ya terus aku harus panggil apa? Ompong gitu? Apa nggak tambah situ mencak-mencak


"Oma jangan begitu lah. Key kan sekarang istrinya Rey, Oma, jadi jangan galak-galak lah sama dia, kasihan, nanti Rey juga sedih. Oma mau kalau Rey sedih?" Rey mencoba membujuk omanya. Dan yang bikin aku heran, kenapa Rey bisa juga ngomong pelan gini ya.. Maksudnya, lembut gitu, nggak formal lagi. Beda banget kalau ngomong sama aku, udah ketus, pedes, pake sok-sokan formal pula. Dasar ular berkepala dua.


Saat Rey lagi sibuk ngedem-demin omanya itu, bunda memberi kode ke arahku, agar aku mendekat ke tempat bunda. Mulai lagi kegiatan kita menyiapkan makan malam. Aku cuma bantu nyiapin ya, nggak bantu masak, karena aku emang nggak bisa masak. Di rumah paling cuma bantuin mama potong-potong sayur.


BERSAMBUNG


.


.


.


INI KARYA PERTAMA SAYA


SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️


MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏


MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏

__ADS_1


TERIMAKASIH READER☺️☺️


__ADS_2