Dipaksa Menikahi Tetangga

Dipaksa Menikahi Tetangga
#9


__ADS_3

Lagi asyik-asyiknya berbalas pesan dengan para saudara, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di depan sofa yang tengah kududuki.


"Hai Zoe... " panggil orang di depanku.


Spontan aku pun mendongak. Tiba-tiba saja tubuhku menegang. Sama sekali tak pernah terlintas di benakku untuk bertemu lagi dengannya.


"Eh kak Arga." Aku masih menatapnya, kaget sekaligus tak percaya. Laki-laki yang kini berdiri di hadapanku, dengan memakai kaos putih dibalut dengan jaket kulit warna cokelat, dan celana jeans warna biru, tampak tersenyum ke arahku.


"Kamu masih inget aku kan?" tanyanya dengan senyum yang mengembang. Aku mengangguk. Bagaimana mungkin aku bisa lupa akan sosoknya. Sosok yang dulu selalu membuatku tertawa, tempat dimana aku mencurahkan unek-unek, dan sosok yang mampu membuat hidupku penuh warna. Dialah, Arga Mahendra.


"Syukurlah kalau kamu masih inget." Kak Arga duduk di sofa sampingku sebelah kiri, sedangkan Rey duduk di sebelah kananku. Aku kok jadi diapit dua cowok begini ya. Yang satu cowok batu yang super duper nyebelin plus nggak punya hati, yang satunya lagi cowok yang selalu bikin hatiku meleleh dengan segala perbuatannya.


"Oh iya, by the way, kamu lagi apa di sini?" tanya kak Arga.


E--- Aku menggaruk-garuk kepala yang tak gatal, bingung mau kasih jawaban apa.


"Ehem... perkenalkan saya Rey, suaminya Zoeya." Rey mengulurkan tangan kanannya, bermaksud untuk berjabat tangan dengan kak Arga.


"Oh iya kami di sini baru saja selesai bulan madu."


What? Kurang asem bener nih si manusia batu. Ngapain dia ngaku-ngaku jadi suamiku? Eh, tapi kan dia emang udah jadi suamiku. Tapi bukan berarti dia harus bilang ke kak Arga dong. Duh, jadi ketahuan statusku sekarang, padahal kan aku pengen merahasiakan pernikahan gila ini dari temen-temenku. Sekilas kak Arga tampak terlihat kaget dengan pengakuan Rey.


"Oh, kamu suaminya Zoe, kenalkan saya Arga, saya temennya Zoeya sekaligus tetangganya dulu sebelum Zoe pindah rumah." Kak Arga menerima uluran tangan Rey, dan mereka pun berjabat tangan.


"Oh, begitu," ujar Rey sambil mengangguk panggilan kepalanya. Kini jabatan tangan mereka telah terlepas.


"Eh, iya, kalian menikah kok gak ngabarin, emang kamu gak pengen gitu ngundang aku Zoe?" tanya kak Arga


Boro-boro mau ngundang orang, terpikirkan buat nikah secepat ini aja kagak, terlebih nikahnya sama si manusia batu. Mungkin kalau nikah sama lelaki idaman, aku bakalan ngundang banyak orang, mulai dari temen TK, SD, SMA, dan semuan temen kuliah, sampai mantan mantanku semua bakal kuundang, biar mereka tahu, kalau seorang Zoeya anastasya bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari pada mereka. Bahkan kalau perlu, aku undang nih bapak Presiden beserta jajaran menterinya. Tapi sayangnya, yang terjadi bukanlah pernikahan yang aku impikan, Sebaliknya ini adalah mimpi buruk yang sama sekali tak aku harapkan.


"Iya, Zoe gak bilang ke saya sih kalau mau ngundang anda pak Arga," ujar Rey. Ih, apaan sih Rey! Pake fitnah segala.


"Iya kan, Sayang?" Sayang-sayang palamu peyang! Nih apa-apaan sih pake pegang-pegang tanganku dan pake natap-natap segala lagi, Pengen dicolok matanya ya?


"Eh, iya, Kak Arga. Zor lupa ngundang kak Arga, habisnya sebelum pernikahan kan sibuk buwanget tuh, jadi kelupaan deh, hehe maapin ya kak" . Bagus Key, bohong teruuus ngikutin laki yang kayak manusia batu. Lagaknya sekarang aku kok seperti pengantin wanita yang semangat banget ngadain pesta pernikahan.. Padahal kenyataannya, jauh panggang dari api.


"Oh, gitu ya, ya ya kakak maklumi kok." Kak Arga menganggukkan kepala, meski kutahu sorot. matanya masih menampilkan rasa kebingungan atau mungkin... masih heran.


"Sekali lagi maaf ya kak, bukan maksud Zoe udah lupain kakak." Aku menelungkupkan kedua tangan, sebagai tanda permohonan maaf, meski sebenarnya itu sama seperti bukan salahku.


"No problem, Zoe. Tapi sebagai gantinya kalian berdua harus datang ke pernikahanku besok. "Apa! Kak Arga nikah?" Aku terkejut bukan main. Mataku melotot dan suaraku juga hampir membuat semua orang di lobi ini jadi menumpukan pandangannya ke arahku. Sontak aku kembali menelungkupkan kedua tanganku kepada mereka yang melihat ke arahku, tak lupa kuberikan cengiran. Kak Arga pun terkekeh pelan melihat keterkejutanku.


"lya, Zoe tepatnya dua minggu lagi, pokoknya jangan lupa kalian harus datang ya."


Demi apa, aku harus mendengar berita mengerikan seperti ini? Baru aja kemarin aku harus memulai hidup dengan penuh kengerian dengan manusia batu, sekarang aku harus mendengar berita ini.

__ADS_1


Kenapa hidupku penuh kengerian seperti ini. Siapa saja tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini.


"Oh, baik baik, di mana tempatnya? Kalau sempat dan ada waktu pasti kami akan datang kok. Maklum kami kan pengantin baru, jadi jarang ada waktu" ,


he... What? Tahu siapa yang bilang itu? Si manusia batu.


Dasar nggak ada akhlak, bisa-bisanya ngomong kayak gitu ke kak Arga. Mau ditaruh mana mukaku, kalau kak Arga sampai mikir yang nggak-nggak, ?


"Oh, iya iya, aku paham kok" Kak Arga tertawa pelan. Duh, kalau liat dia begini jadi tambah meleleh deh ini hati. Jadi pengen khilaf deh.


Eh, astaghfirullah... kok bisa sih aku mikir kayak gitu, aku kan udah punya suami. Tapi nggak papa deh, kalau suaminya berhati batu seperti orang di samping kananku ini yang udah natap tajam ke arahku, sejak aku menggeleng-gelengkan kepala mengenyahkan pikiran yang iya-iya.


"Terus ini kalian mau pulang atau gimana? Kok bawa koper segala?" Kak Arga menoleh ke arah koper di depan Rey.


"Iya kak, kita mau pulang, tapi karena hujan, jadinya ditunda dulu deh," jawabku


"kakak sendiri ngapain di sini?"


"Ini lagi ngecek perkembangan hotel"


Hah?


"Maksud kak Arga, ini hotel milik kakak?" tanyaku.


Orang tua kak Arga adalah pengusaha tekstil terbesar di kotanya, jadi aku agak kaget kalau kak Arga memilih berbisnis perhotelan seperti ini, kukira dia bakal meneruskan Bisnis orang tuanya itu


"Iya, alhamdulillah lah Zoe." Wah, bener-bener paket komplit.


Udah ganteng, murah senyum, baik hati, sekarang udah punya bisnis sendiri, tanpa berpangku tangan sama orang tua. Tipe-tipe lelaki idaman banget kan? Beda sama si manusia batu itu. Ya, meskipun dia juga punya bisnis kafe sendiri, tapi menurutku masih kurang hebat dibanding kak Arga. Apalagi sifatnya itu, beh ...kalah telak deh kalau mau banding-bandingin sama kak Arga


"Wah, selamat ya, Kak, sukses selalu buat kak Arga" , ucapku antusias


"Iya, terima kasih banyak Zoe" duh, senyum lagi kan dia.


Pagi-pagi gini udah disenyumin dia berapa kali coba, mungkin kalau aku es batu, pasti udah meleleh deh dari tadi.


"Ehem... hujannya sudah reda nih, saya sama Zoe, mau pamit dulu, Pak Arga."


Apaan sih ni orang, ganggu orang lagi asyik ngobrol aja deh. "Ayo, Zoe" Eh, apa-apaan lagi ini, pake narik tangan segala lagi.


"Oh, udah mau pulang ya? Bagaimana kalau kita sarapan bersama dulu di restoran hotel ini, saya traktir" tawar kak Arga.


"Terima kasih atas tawarannya Pak Arga, tapi kami harus segera pulang, soalnya ada urusan juga. Mungkin lain kali saja ya" . Dih! ini orang kenapa nolak sih. Padahal kan aku pengen banget sarapan bareng kak Arga. Kalau dia nggak mau kan bisa pulang sendiri.


"Oh, begitu, bakilah." Kak Arga kembali menganggukkan. kepalanya.

__ADS_1


"Tapi lain, kali bisa kan? Ya, sekalian nginep lagi di sini, nanti saya gratiskan deg kamar yang paling bagus dan nyaman untuk pengantin baru seperti kalian, sebagai hadiah pernikahan dariku untuk kalian" . Ya ampun, kak Arga hatinya terbuat dari apa sih, kok baik banget. Sayang, udah mau ada yang punya.


"Wah, sekali lagi terima kasih banyak Pak Arga. Nanti kita akan sering-sering mampir ke sini deh, iya kan sayang?" Dan sekali lagi si manusia batu Rey ini kembali bersandiwara. Mau tidak mau, aku pun harus mengimbangi bakat sandiwara si Rey ini. Dalam hati aku bertekad akan memaki-maki dia nanti, karena udah berani-beraninya dia manggil aku dengan sebutan... sayang.


Setelah sedikit berbasa-basi lagi, aku dan Rey pun pamit. Dan di sinilah kami sekarang, di parkiran mobil.


"Heh, ngapain kamu buka pintu belakang?" tanya Rey ketus, ketika aku mau membuka pintu mobil bagian belakang.


"Ya mau naiklah, mau ngapain lagi," jawabku tak kalah ketus.


"Siapa suruh kamu duduk di belakang, kamu kira saya supir kamu apaa?"


"Suka-suka saya dong mau duduk di mana, yang penting sampai rumah kan."


"Pokoknya sekarang saya mau kamu duduk di depan, saya bukan supir kamu ngerti," perintah Rey tegas.


Dengan ogah-ogahan, akhirnya aku menuruti perintah si manusia batu itu. Rasanya udah malas baget aku berdebat lagi sama dia. Kepala pusing, mata masih ngantuk, belum lagi perut udah teriak-teriak keroncongan. Dari kemarin kan belum makan, cuma makan kue sama buah doang. Ya, semboyannya orang ples enam dua kan gitu, belum makan nasi, berarti belum makan.


Setelah duduk di samping kemudi, aku memasang sabuk pengaman. Setelah di rasa siap, mobil pun melaju meninggalkan pelataran hotel.. Dalam perjalanan aku tak membuka suara. Sampai akhirnya Rey menanyakan sesuatu yang bingung harus kujawab apa.


"Zoe" panggil Rey,


"Hem, apa"


"Arga itu siapa kamu?"


"...."


BERSAMBUNG


.


.


.


INI KARYA PERTAMA SAYA


SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️


MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏


MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏


TERIMAKASIH READER☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2