Dipaksa Menikahi Tetangga

Dipaksa Menikahi Tetangga
#16


__ADS_3

Aku menyelesaikan pekerjaan mengelap meja makan sambim celikan mengingat ekspresi kesil oma tadi. Puas juga casama bisa ngerjain oma ompong, ada rasa kesenangan tersendiri.


Ya Allah, bukan maksud Key untuk tidak sopan sama orang tua. Cuma ngerjain aja kok, itu pun nggak banyak-banyak. Eh


"Kamu kenapa dari tadi cekikikan sendiri? Udah ngak waras ya , atau jangan-jangan kamu ketempelan jin," ucap Rey yang nggak tahu kenapa tiba-tiba udah ada didekatku


"Ih, enak aja, elo kali yang nggak waras, ketempelan jin mana lo, jadi sok ran gitu sok-sokan bantuin nyuci piring segala" Aku mencibir


"Saya biasa nyuci piring, bas membantu bunda, memangnya kamu yang pemalas. Unting yang jadi mertua kami itu bunda, kalau bukan, sudah pasti kamu dimarahi habis-habisan, mertua masak mantunya enak enakan tidur" ini laki dah, kalo gomong nak usah jupar banget napa, kalau nanti oma denger kan gawat"


"Yaelah, gue kan tadi ngantuk banget, lagaan kenapa elo biarin gua tidur, ngak bangunin gua buat bantuin bunda tadi" aku membela diru


"Kalau kamu yang bantain bunda, takutnya nanti dapurnya malah kebakaran" ledek Rey


Kurang asem. Meskipun nggak bisa masak, bukan berarti samipe ngehancurin dapur juga kali


"Dih, koyak la bisa masak aja"


"Kalau saya nggak bisa mask, but apa saya terjun bisnis di bidang resto" Rey menaikkan saturalisnya. Bener juga ya


"Punya resto kan nggak harns bisa masak juga," kalahku


"Menangnya kamu yang bisanya cuma makan, mana ngabisin lagi. Ganti rugi tuh, kamu udah makan banyak tadi di resto"


(What? Pelit banget mang, Cucunya stapa sih, si oma oiponjg itu ya pantesan


"Ck perhitungan banget sama istri."


"Oh, sudah mengakui jadi istri saya"


*********


"Rey, gua tidur di mana?" Aku berdiri di sisi ranjang, mau naik tapi ragu. Sedangkan Rey sedang sibuk di depan lemari, ngok tahu lagi ngapain


"Tadi kamu tidur dimana?" Rey menutup lemari, kemudian, berjalan ke arahku.


"Di ranjang" jawabku singkat. Sesingkat hubungan dengan mantan-muntanku dalu


"Ya sudah tidur saja bagi di ranjang kenapa pake tanya" , ketus Rey


"Yakan kamar ini nggak ada sofa Rey, kalau gue tidur di ranjang entar elo tidur di mana Lagian masa kamar segede gini gak sofanya sih" gerutuku


"Ya saya tidur di ranjang juga lah, emangnya mau di mana lagi, sofa di kamnar ini sengaja dikeluarkan kemarin


"Hahl Masa tidur seramang sih, ogah gua nggak mau" Aku menyilangkan kedua tanganku be doda. Enak aja tudor seranjang sama dia. Sorry lah yaw, entar badanku ternada lagi, kan bahaya.


"Kalau gitu kamu bisa tidur di lantai," ucap Rey santal.


"Enak aja, gue kan cewek masa tidur di lantai, harusnya elo dong kan cowok nggalah dikit kek


"Lho, ini kan kamar saya, kenapa jadi saya yang tidur di lantai. Pemilik rumah adalah raja"


"Kenapa sih, lo ngak mau ngalah, mentang-tentang rumah sendiri" Kesel banget ngadepin ni orang, serasa pengen masukan ke lubang buaya


"Sudahlah, kalau kamu pengen tidur di ranjang ya oke, silahkan, saya nggak keberatan kok, lagian memang sudah selayaknya suami istri tidur seranjang. Tapi kalau kamu keberatan tidur dengan saya, ya silahkan tidur dilantai"

__ADS_1


"h, nyebelin banget sth, loh" Aku menghentakkan kakiku ke lantal Rey tak mengindahkan aksi meraikini, sebaliknya dengan cuekiya dia menaiki ranjang, dan merebah di atasnya. Dasar nggak peka.


Dengan perasaan dongkol, akt heridan menuju lemari. Mencari sesuatu yang mungkin bisa aku gunakan sebagai alas tidurku di lantai. Nah, ketemu. Akturnya aku menemukan bed cover. Segera aku mergambilnya. Dan menatanya untuk tidurku nanti. Aku menata bed cover di dekat lemari Sengaja, karena aku nggak mau menata bed cover ini di dekat ranjang Males deket-delet sama si Rey Setelah dirasa pas, alau pun merebahkan tubuhan di atas bed cover ini. Meski nggak terlalu tebal, tapi lumayan lah nggak bikin aku keinginan tidur di lantai.


Sebelum memejamkan mata, alou sempat melirik ke arah Rey. Dan ternyata dia sudah letap, terdengar dari deru nalasnya yang teratur Dasar nggak ingat istri Dari pada tambah kesal dengan Rey, lebih baik aku mulai menutup loccua helopak mataku, dan mulai menjelajah ke dunia mimpi


Aku merasakan begita nyaman, hingga aku malas membuka mata. Eh, tapt kok kayak ada yang bertenaber di atas peruti ya jangan jangan... Dengan pelah aku mulai membuka mata dan...


"Aargah" aku merjent kala menyadari aku tengah berada di pelukan Rey, dan ternyata tangannya lah yang berada di atas perutku adalah tangan Rey. Akibat jeritanku itu, Rey pun terlonjak kaget.


”Apa sih. Zoe, ini masih pagi, masih jam tiga tuh"


"Heh, "Aku menepis tangan Rey yang masih belum inau lepas.


"Lepasin" Rey Bukannya lepas dia malah tambah mengeratkan pelukonnyu. Kurang ajor emang. Kalau gmi kan aku jadi was-was, jangan-jangan tadi sempet diapa-apain lagt sama dia. Ch mama anakmu ini sdah ternodi


"Biarin aja seperti ini" lirih Rey tepat di telingakit. Duh, bikin aku inerinding aja, mana jantung udah nggak karuan.


"Rey, lo apa-apaan" sih handiku


"lo senga ya mindahin gue ke sini. mais nyari kesempatan ya, ko dasar kurang ajar. Pasti lo udah ngapa ngapain gue, ya loh" Yang marahin malah diem dan sialnya pelukan ini tambah erat cuy.


Tuh kan kerja antung padi lebih cepat dari biasanya. Pasti, setelah Ini aks harus pergi ke dokter spesialis jantung


"Rey, lo tuh dengerth gue nak sth, udah cepetan lepas, nggak baik laki-laki sama perempuan dalam posisi seperti ini, apalagi di dalam kamar, kalau ketahuan pak ustadz, entar malah dihukum lagi"


"Pikanun ya kita sudah menikah ya.”


Eh, iya juga ya, kok aku lupa sih, Efek suaminya kek dia nih pasti,


"Kenapa kita kun suami istri, jadi wajar wajar saja kan begini. Malah lebih dari begini juga sah-sah saja. Atau apa kamu pengen lebih"


"Dih, ogah banget ya,"


"Kalau bicara hati hati ya, sekarang kamu bilang begitu, besok saya yakin pasti akan ketagihan tidur sama saya" What the Bener-bener udah nggak waras ini orang, udah mesum, nyari nyari kesempatan, ch sekarang malah kepede-an. Paket komplit eure


"Hahaha kepedean amat ngak pernah ngaca ya"


"Saya setiap hari ngaca kok, dan saya yakin saya sudah layak tidur sama kamu"


"Dih lo ngelindur apa gimana sih makin ngaco aja ngomongnya. Udah leplavin Rey"


"Kalau saya nggak mau"


"Pokoknya lepasin gue"


"Sudah tidur lagi aja, ini masih pagi, belum subuh. Kamu tadi nyenyak banget tidur dipelukan saya"


Wah fitnah nih, dikira aku percaya ap


"Ngak usah ngarang cerita deh gue nak percaya"


"Siapa yang ngarang cerita"


"Ya lo lah, emang siapa emmmph" Si*lan nih orang ngapain nyosor nyosor segela sih.

__ADS_1


Apa aku pingsan aja ya?. Kurang asem emang ni orang, bikin aku kekurangan nafas aja.


"Emmmmph." Aku memukul-mukul dada Rey. Sampai akhirnya terlepas juga tautan bibirnya dari bibirku. Segera kuelap bibirku dengan telapak tanganku. Jijik euy. Sembarangan aja dia main nyuri ciuman pertamaku, mana baru bangun tidur lagi. Padahal aku telah bertekad untuk mempertahankan bibir seksiku ini untuk suamiku nanti. Eh, tapi kan dia suamiku, eh tapi kan aku nggak cinta dan nggak nganggep dia suami. Eh, tapi ... ah, pusing.


"Udah, jangan dilap begitu." Rey mencoba menyingkirkan tanganku yang sedang melap bibir. Aku menepis tangannya kasar.


"Eh, lo tuh kurang ajar banget sih, main nyosor-nyosor aja," hardikku.


"Kamu lupa kalau kita suami istri?" Rey menaikkan sebelah alisnya, masih dengan posisi berbaring, sedang aku sudah duduk di ranjang.


"Tapi kan cuma status, dan karena keterpaksaan."


Aku menjeda ucapanku sambil menetralkan degub jantung yang emang dari tadi nggak ada akhlak banget main berdetak kencang sepagi ini, bahkan ayam jantan pun belum pada berkokok.


"Kalau bukan karena desakan dari bunda waktu itu, aku nggak bakalan mau menggantikan posisi calon istri lo yang tiba-tiba mau bunuh diri itu. Jadi jangan bersikap seolah-olah kita itu pasangan suami istri beneran."


"Kalau bukan suami istri beneran, lalu apa, bohongan begitu?" Rey ikut duduk dan mensejajarkan dirinya denganku.


"Key, Key, semua orang juga sudah tahu kalau kita pasangan yang sah, baik itu secara agama maupun secara negara, jadi apa yang mau kamu sangkal?"


"Ya tap--"


"Huusst...." Jari telunjuk Rey menyentuh bibirku, memberi isyarat agar aku diam. "Kamu istriku, itu takdir dari Yang Maha Kuasa."


Jantung tolong deh, dikondisikan seperti biasa jangan kek gini. Padahal kan aku duduk aja dari tadi kenapa seperti habis lari marathon sih. Fix, setelah ini aku harus menghubungi kakak sepupuku yang berprofesi sebagai dokter spesialis jantung. Barangkali aku memang butuh diperiksa, karena semenjak menyandang status jadi istrinya Rey, aku merasa kinerja jantungku bekerja lebih keras tidak seperti biasa. Dan aku takut kalau semua itu berbahaya. Kalau ada apa-apa gimana coba? Kan belum malam pertama. Eh, apa hubungannya ya.


Ucapan Rey barusan mampu membuatku seperti tersihir, hingga aku tak mampu lagi untuk berkata apa-apa. Sialnya jarak wajahku dan wajahnya udah deket banget. Hidung kita hampir bertabrakan. Aduh, kalau Rey sampai khilaf lagi kan gawat. Dosa pagi-pagi begini udah bikin yang enggak-enggak.


"Awas yq, jangan macem-macem lagi!" Aku memalingkan wajahku yang rasanya udah panas aja, padahal pagi-pagi ini lho, belum juga subuh. Duh, jadi pengen mandi kan.


Aku beringsut bermaksud untuk turun dari ranjang. Tapi, tangan kananku lebih dulu berhasil dicekal sama Rey.


"Apa lagi sih," ketusku.


"Bibir kamu manis," lirihnya tepat di depan telingaku.


"....."


BERSAMBUNG


.


.


.


INI KARYA PERTAMA SAYA


SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️


MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏


MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏


TERIMAKASIH READER☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2