
"Lho, mana mobilnya?" tanyaku pada Rey begitu begitu kami berada di depan rumah
"Siapa bilang maat pakai mobil" jawab Rey datar.
"Ya terus mau naik motor? Emang lo bisa naik motor?" Aku bertanya dengan nada mengejek..
"Kamu meremehkan kemampuan saya?" Rey menaikkan sebelah alisnya.
" Jangankan mengendarai motor, bawa pesawat saja saya bisa"
"Heleh, Sombong amat lo, tapi sayangnya gue nggak percaya"
"Terserah kamu mau percaya atau tidak."
"Ya udah, jadi sekarang man naik apa?" tanyaku agak kesal.
"Jalan kaki"
"What? Jalan kaki?" Ini orang masih bener? Aku melotot mendengar ucapan datarnya itu,Bener-bener lagi nguji kesabaran ni orang.
"Yang bener aja masa jalan kaki" ucapku kesal
Rey menatapku. "Ya jalan kaki lah, tadi kan saya ngajak kamu jalan-jalan, berarti jalan kaki" Ini orang bener-bener pengen disleding kayalanya,
"Sabar Key sabar" , sadar batinka
"Lo tuh jadi orang ngeselin banget ya, tau kalau cuma mau jalan-jalan pake kaki mah, mending dari tadi aku tidur aja di kamar" Emosi udah nggak bisa lagi aku tahan, meski dari tadi sisi ibu periku terus memperingati untuk sabar
"Sudah lah Zoe, turut aja apa susatinya sih, ayo." Rey menarik lenganku, tapi segera kutepis
"Apaan sih, nggak usah pegang-pegang! Udah gue man masuk lagi ke dalem" Aku berbalik badan dan bersiap untuk kembali masuk ke rumah
Kan mumpung masih di pelataran rumah.
Namun, sebelumn aku berhasil masak tangan Rey kembali menarikka, hingga hal yang tak terduga pun terjadi. Aku ditarik kepelukannya. Sesaat aku terdiam Memikirkan apakah ini bagian dari sandiwara juga atau bukan. Mengingat ini masih di depan rumahku.
Eh, maksudku rumah orang tuaku, dan di seberang sana cumah orang tua Rey, yang berarti mertuaku Bisa jadi kan dari tadi ada yang lagi merhatiin perdebatan aku dan Rey, jadi sekarang Rey melakukan ini pasti untuk menghilangkan kecurigaan mereka yang lihat.
Jantungku rasanya ingin keluar dari sarangnya karena detakannya semakin kencang. Begitu juga dengan Rey Berada sedekat ini membuatku bisa mendengar degul jantung Rey, yang sama kencangnya seperti jantungku.
Kenapa ya ini? Apa kita sama-sama punya penyakit jantung? Ih, masa masih sama-sama muda udah kena penyakit itu. Naudzubillah jangan sampai Lama kita sama-sama diam, akhirnya aku mengakhiri sesi berpelukan bak teletubles ini.
"Ih apaan sih lo, peluk peluk sembarang" Aku melerai pelukan Rey.
"Tadi pegang-pegang. sekarang main pelik-peluk nanti apalagi" Mocins banget tau nggak.
Meski di bibir aku menggerutu, tapi aku tak menyangkal kalam dipeluk Rey, ada rasa nyaman tersendin. Tentu saja aka enggan mengakhirinya
"Kamu maumya diapain lag" Rey tersenyum miring, semiring otaknya pasti.
"Lagi pula sepertinya kama nyaman dipeluk saya" Hah? Dari mana dia tahu kalan aku nyaman di pelikannya? Cenayang kah dia? Atau pangan pangan cha cucunya mans leaners, etly rurnn laren eh. mama suren. ch. nggak tahu lah itu.
__ADS_1
"Dih. nggak banget lah ya, mending dipeluk sama orang gila, dari pada dipeluk lo" kilahlar Semoga aja Rey nggak tahu kalau aku lagi bohong
"Yakin? Kalau begku, mari kita cari orang gila setelah itu kamu peluk orang gila itu"
"What?"
**********
"Kita mau ke mana sih Rey, sebenarnya? Dari tadi jalan mulu" gerutulou saat kakd ini terus dipaksa jalan mengikuti langkah Rey mengelilingi komplek
"Ya namanya juga jalan-jalan, ya jalan Zoe", yee aku juga tahu kali bambang. Aku memutar bola mata.
"Iya, tapi ke mana?" Mulut ini kembali melontarkan pertanyaan dengan nada kesal
"Keliling komplek" , jawab Rey datar
Emang dasar om-om ya gitu. Anak kecil aja pasti tahu kalau ini bagi keliling komplek
"Huh! Kek kurang kerjaan tau nggak!" Rey diam tak menjawab geratuanku lagi. Kakinya terus melangkah. Mau nggak man aku pun harus mengikutinya.
Jam sepuluh siang begini nggak biasanya komplek sepi pada ke mana ya warganya? Tapi bagus juga sih kalau sepi, itu berarti aku bisa menghindari pandangan orang-orang ke aku dan Rey. Begitu juga pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja mereka lontarkan padaku. kenapa aku bisa mau menggantikan calon istri Rey
"Rey, berhenti dulu napa, gue capek tau" geratuku.
"Baru juga jalan sebentar saja sudah capek, bagaimana kalau jalan jauh" Rey berkata tanpa mempedulikanku yang jalan di belakangnya.
"Sebentar? Ini udah jauh tau" , ucapku kesal Definisi sebentarnya dia itu kek apa sih, wong udah jaus gini bilangnya baru sebentar.
Aaela, da malah ceramah. Jangan-jangan ketularan mana yang hobinya ceramah Heran aku, nggak mama nggak suami, sekanya doyan ceramah. Cuma aku ajam mungkan yang doyan makan Duh, kan jadi laper, Tapi kek Rey tahu ya, kalau aku jarangjalan-jalan
Apalagi mengitari komplek seperti ini bisa dibilang nggak pernah. Aku kan seringnya naik motor, ya dari pada dianggurin kan motornya. Istri aja kalau dianggurin ngambek nah, begitu juga sama motor bebekku. Kan mending dipake, dari pada ngambek. entar malah bunyi wek, wek, wek Eh, itu kan kalau bebek beneran ya?
"Emangnya lo suka jalan kaki?" tanyaku. Kini akau berjalan tepat di sampingnya, males di belalang terus, entar dikiranya aku asistennya lagi, kan ogah.
"Kalau jogging sih, gue percaya lo suka jogging soalnya gue pernah liat lo jogging sekali dua kali Tapi kalau lo jalan kaki, keknya baru kali ini gue liat, to kan seringnya naik mobil."
"Lha jogging kan juga sama seperti jalan kaki," ucap Rey pandangannya masih harus ke depan. Kayaknya lebih menarik yang di depan, padahal di sampingnya ada bidadari
"Beda lah" jawabku
"Sama"
Sama di mananya coba?
"Ya sama-sama pake kaki. Jogging pake kaki, jalan kaki juga pake kaki. Bukan pake tangan"
Ada batu nggak sih, kok aku jadi pengen nimpuk kepalanya
"Itu mah anak bayi juga tau kali" Rey terkekeh Dih, apanya yang lucu coba?
"Hai Zoe, Bang Rey, mau pada ke mana nih, tumben pada jalan kaki" , sapa Difi yang kebetulan berpapasan dengan kami. Bedanya dia naik motor matic kesayangannya.
__ADS_1
"Oh ini kita lagi jalan-jalan, sengaja tidak pake kendaraan, saya pengen istri saya ini lebih mengenal lingkungan tempat tinggalnya" Entah ada angin apa tiba-tiba si manusia hatualias Rey alias suami yang tak diharapkan ini merangkul pundakku
"Cie, cie. pengantin baru, romantisnya". Difi tampak berbinar melihat Rey merangkulku
Mungkin dia pikir ini beneran, padahal kan ini pasti juga bagian dari sandiwara Rey. Heran deh, masa sama Dif juga harus sandiwara, Diri juga tahu yang sebenarnya juga kall.
"Nah, iya tuh Bang Rey, Zoe emang harus sering-sering diajak jalan-jalan. keliling komplek ini biar dia tau kalau tempat tinggalnya ini asri nan damai. Selama ini kan Zoe nggak pernah keliling kek gini" Difi emang paling jago banget buat buka aib temen sendiri.
Tapi emang bener sih selama ini aksı jarang muter-mater gini, seringnya pergi ke tempat lain. Seperti ke mall, kafe, atau kalau nggak ke toko buku. Jangan dikira ali ini kutu buku ya, aku ke toko buku buat beli novel aja, selain novel, mana pernah aku bell bula, ngelirik aja enggak
Dari dulu kalau pulang sekolah sampai pulang ngampus ya pasti langsung semedi di rumah, nggak pernah buang-buang waktu lihat-libat komplek sini Aku mau bicara, tapt malah keduluan Rey.
"Iya, maka dari itu saya ajak Zoe jalan begini"
"Wah, bener-bener pasangan suami istri yang serasi'. Dih menuji kami. Hem, nggak tahu ala dia kalau aku sama Rey bagaikan minyak sama air kalau lagi di kamar. Eh, jangan mikir macem-macem.
Lo beruntung jadi istrinya bang Rey, Zoe Udah ganteng, pinter, mapan, baik banget lagi jadi suami"
Rey cengar-cengir mendengar putan Difi. Cih. pasti perasaannya lagi melambung ini orang
"Baik apanya" tanyaku ketu
"Ya baik lah, iya kan, Bang Rey? Lo ja istri juga harus baik dong sama suami" ucap Difi
"Ehem Rey berdehem.
"Iya, Zoe juga sudah baik kok jadi istri, makanya saya merasa beruntung jadi suaminya Zoe" Rey masih merangkul pundakku, kini semakin erat. Takut banget aku kabur.
"Setiap malam istri saya ini juga sangat... ehem. Iya kan, Sayang?" Eh, ini Rey tanya apa sih? Mana wajahnya deket banget lagi, kan malu dilihat Difi
Aku juga kenapa jadi bengong begini sih nggak bisa ngomong apa apa lagi. Hingga tanpa terasa sesuatu yang kenyal mendarat di pipiku
Apa ya itu? Kok tiba-tiba bikin kepalaku nyut nyutan begini
BERSAMBUNG
.
.
.
INI KARYA PERTAMA SAYA
SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️
MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏
MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏
TERIMAKASIH READER☺️☺️
__ADS_1