Dipaksa Menikahi Tetangga

Dipaksa Menikahi Tetangga
#6


__ADS_3

Aku memutar bola mata mendengar perkataan Bu Asih. Heran, kenapa hal seperti itu saja harus repot-repot dia katakan padaku. Tanpa diajari pun aku udah tahu.


Lagian tadi tante Meriska juga kan sudah bilang aku harus memanggilnya bunda, tapi aku juga kan ya butuh waktu dan penyesuaian ketika harus menggubah panggilan, apalagi ini sangat mendadak.


"Oh iya bu, Zoe lupa. Belum terbiasa juga bu" aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal


"Iya Zoe, nanti lama lama juga terbiasa kan" sahut bu Ningrum, aku hanya mengangguk saja


"Ya udah, kamu tiduran aja Zoe, biar lelahnya hilang" aku kembali mengangguk mendengar saran dari bu Ningrum, kemudian membaringkan tubuhku diranjang, rasanya nikmat sekali bisa berbaring diranjang yang super empuk ini, rasanya beda jauh sama ranjang di kamarku


Setelah beberapa lama memejamkan mata, kesadaranku masih belum hilang. Berkali kali pindah posisi, tetap tidak bisa terlelap.


Rupanya kebaya yang ku pakai membuatku tidak nyaman, gerah dan risih kurasakan.


Aku bangun dari ranjang memutuskan untuk mengganti pakaian, bodo amat lah kalau memang belum boleh ganti,


"Mbak Lela, baju aku tadi dimana ya, pengen ganti, gerah soalnya" tanyaku


"Oh itu, disofa neng, sudah saya lipat. Bingung tadi soalnya mau ditaruh mana jadi saya taruh sofa saja" mbak Lela menunjuk arah sofa


"Ngak papa kok mbak, tolong bantuin saya melepas semua atribut ini semua ya mbak" pintaku yang langsung di iya i oleh mereka (perias).


"Zoe" Aku terlonjak kaget saat tante Mariska memanggilku di depan pintu. Aku yang sedang minum air putih, refleks memuncratkan air yang tengah kuminum karena saking kagetnya.


"Uhuk, uhuk." Kan jadi batuk gara-gara tersedak.


"ehh Zoe, ya ampun kamu nggak papa, sayang?" Tante Mariska berjalan menghampiriku, kemudian mengusap lembut bahuku.


"Eh, nggak papa kok Tan, eh, Bun." Aku meletakkan gelas berisi air putih itu di atas meja rias.


"Oh ya udah." Tante Mariska mengangguk mengerti


"Lho, kok kamu istirahatnya di sini sih? Kan Bunda bilang tadi supaya Zoe istirahatnya di kamar Rey, malah di sini, Bunda sempet nyariin lho tadi," gerutu tante Mariska.


"Zoe nggak tahu di mana kamarnya Rey, tante ... eh bunda."


"Hmm, ya udah, sekarang kamu siap-siap yah, ganti baju, pakai gaun ini." Tante Mariska menyodorkan gaun yang menurutku bagus dan mewah. Karena tadi aku tersedak, jadi aku nggak fokus kalau tante Mariska membawa sebuah gaun.


"Ini gaun apa, Tan?" tanyaku sambil mengerutkan kening.


"Bunda, bukan tante," ralat tante Mariska. Eh, maksudku Bunda. Ya, mungkin sekarang aku harus benar-benar mencoba memanggilnya bunda. Meskipun lidah ini belum terbiasa, tapi harus dibiasain mulai dari sekarang, sebelum dibuasin sama serigala macam Si Rey. Eh.


Mikir apaan?


"Iya, Bun, itu gaun buat apa?" Aku kembali bertanya, ya kan tadi belum dapat jawaban.


"Gaun buat resepsi nanti, Zoe." Bunda tersenyum lebar ketika memberitahuku perihal gaun ini.


"Hah! Resepsi?" Mataku melotot mendengar ucapan bunda. "Resepsi apaan, Bun?"

__ADS_1


Bunda terkekeh melihat reaksiku. "Iya, resepsi kamu sama Rey, nanti acaranya di gedung."


Gedung? Oh, aku baru ingat, tadi sebelum mama pulang, mama sempat bilang 'sampai ketemu di gedung'. Jadi maksudnya gedung untuk acara resepsi, aku kira nggak akan ada acara resepsi.


"Oh, Zoe kira nggak ada acara resepsi, Bun," ujarku.


"Ada dong, kan rekan-rekan bisnis ayahnya Rey harus diundang, belum lagi temen-temen arisan bunda, sama kerabat yang jauh. Terus tadi bunda juga bilang sama mama kamu supaya menghubungi keluarga dan kerabat-kerabat kamu, dari pihak mama sama papa kamu," papar bunda. Aku hanya mengangguk saja.


"Oh iya, teman-teman kampus kamu mau diundang juga, Zoe? Nanti juga banyak lho teman-temannya Rey yang diundang, mulai dari teman SMP, SMA, kuliah, sampai teman kerja." Bunda mengucapkannya dengan menggebu-gebu, sedang kali ini aku melongo. Iya, tidak percaya aja kalau Rey ngundang temen sebanyak itu, bukannya dia orangnya kaku banget ya, emang bisa punya temen banyak? Aku jadi suudzan, jangan-jangan temennya Rey itu kebanyakan kaku-kaku juga kayak Rey, macam robot gitu. Bisa jadi kan?


"Key... kok malah bengong sih," tegur bunda.


"Eh, iya, Bun." Aku gelagapan.


"Gimana, apa kamu juga mau mengundang temen-temen kamu? Kalau iya, mending sekarang aja kamu informasikan langsung di wa, lewat grup aja, biar kamu nggak japri-in satu-satu, nanti kalau belum selesai semua, sisanya bunda suruh Leya bantu menginfokan yang lain"


"Nggak usah Bun, ngak papa, Key nggak mau ngundang mereka. Mmm-maksudnya biar temennya Rey aja yang diundang, kalau temen Key kan banyak banget tuh, takutnya nggak muat nanti gedungnya. Jadi nggak usah aja, ngak papa kok" elakku disertai bumbu-bumbu pemanis.


"Beneran ngak papa?" Bunda menatapku heran.


"Iya, Bun." Aku mengangguk, mengiyakan.


"Ya udah, kalau gitu kamu langsung ganti baju aja ya, pakai gaun ini, setelah itu kamu harus dirias lagi, sekarang periasnya lagi pada makan, jadi kamu siap-siap dulu." Bunda memberi arahan.


Setelah yakin aku paham akan kata-katanya tadi, Bunda Mariska pun pergi keluar dari kamar ini, katanya mau persiapan juga, dan tentu saja menyuruh Rey untuk siap-siap.


"Dah, selesai!" seru Mbak Lela, perias yang kelihatan seumuran denganku tapi udah punya buntut tiga.


"Woo ya ampun Neng Zoe teh cantik pisan pantas saja Bu Mariska milih Eneng jadi mantunya," puji perias yang satunya lagi.


"He em, beneran cantik kaya bidadari, pasti nanti semuanya pada pangling." Kini giliran Mbak Lela yang memuji. Kedua perias ini nampak berbinar melihat diriku, mungkin puas dengan hasil riasan mereka.


Memang aku akui, hasil riasan mereka ini bagus banget, nggak cuma yang ini, tapi juga yang tadi pagi waktu akad. Terbukti tadi banyak yang menatapku memuji.


"Kalian bisa aja deh." Aku tersenyum malu.


Ah, gini ya rasanya jadi pengantin. Didandani jadi secantik ini bak bidadari yang merangkap jadi ratu sehari. Tapi sayangnya, aku jadi pengantin karena paksaan dan sialnya lagi pengantin laki-lakiku adalah orang yang kubenci. Duh, dosa apa sih aku, sampai harus punya pasangan semenyebalkan Rey itu.


Eh, tapi nggak papa kok, ini hanya sementara, setelah beberapa bulan ke depan atau kalau perlu minggu depan, aku bakalan ngajuin cerai ke Rey. Bilang aja sama keluarga, kalau kita nggak ada kecocokan, apalagi ini pernikahan paksaan, pasti mereka semua bakalan ngerti.


Ih, tapi masa iya kalau harus ada perceraian. Bukan, tentu saja bukan karena aku tak mau pisah sama Rey. Big no itu mah. Tapi karena dulu aku pengennya menikah seumur hidup sekali, dan itu dengan lelaki yang kucintai, bukan dengan lelaki yang sering bikin aku sebel itu.


Tapi, sekali lagi nggak papa, meski harus ada perceraian. Setelah itu aku bisa menikah lagi dengan lelaki idamanku kan? Dan tentu saja akan mengadakan pesta yang lebih mewah dari ini, setelah itu aku akan hidup bahagia. Ah, memikirkannya saja sudah bikin aku tersenyum-senyum sendiri. Kalau mama lihat, pasti ngatain kalau aku gila.


"Neng Zoe, kenapa senyum-senyum sendiri? Pasti lagi ngebayangin yang iya-iya sama suami ya?" Mbak Lela menaik turunkan alisnya, meledek.


Aku cemberut mendengarnya. Boro-boro mikirin yang iya-iya, yang ada aku mikirin gimana caranya buat mutilasi Si Rey nanti, tanpa diketahui siapapun, dan tanpa harus masuk bui juga tentunya.


"Ih, apaan sih, yang nggak lah," elakku "ya udah yuk, keluar." Aku bangkit dari duduk, kemudian dua perias ini menuntunku berjalan keluar dari kamar.

__ADS_1


Menurut informasi, ternyata Rey sudah berangkat duluan ke gedung tempat resepsi. Huh! Nggak etis banget sih, masa pengantin berangkatnya sendiri-sendiri. Tapi nggak papa, justru ini bagus buat diriku, karena nggak harus deket-deket sama manusia batu itu, bisa-bisa nanti aku ikutan jadi batu, kan serem, masa perempuan cantik bak bidadari sepertiku berubah jadi batu, di hari pernikahan lagi, kan nggak lucu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih seperempat jam, akhirnya aku sampai di gedung tempat resepsi. Aku turun dari mobil, kemudian dituntun oleh mama dan Tante Desi--adik dari papa.


Ketika melangkah di atas karpet merah ini, entah kenapa aku merasa banyak pasang mata yang memperhatikanku. Kebanyakan dari mereka menatapku dengan tatapan kagum dan memuji. Ada yang bilang cantik, ada yang bilang bahwa aku adalah bidadari yang baru turun dari ojek, eh apa hubungannya ya? Nggak kok, mereka bilang aku bidadari dari kayangan. Uuuh... senangnya dipuji seperti itu, jadi pengen melayang deh. Eh, jangan deng, entar dikira malah mbak kunti, secara aku pakai gaun warna putih.


Mengabaikan para tamu undangan yang tersepona, eh terpesona denganku, aku terus melangkah menuju panggung tempat di mana aku bakal bersanding dengan Rey. Mama terus membisikkan kata-kata


ajaibnya untukku, termasuk agar aku jangan sampai pingsan lagi seperti tadi siang. Ah, mama tahu aja kalau putrinya ini sekarang jadi hobi pingsan.


Sampai di depan panggung, kulihat Rey memandang ke arahku dengan tatapan--terkesima. Bukan aku kepedean, tapi memang pandangan mata Rey ke arahku, sama dengan pandangan mereka-mereka yang berdecak kagum dengan kehadiranku.


Nah, baru nyadar kan, kalau aku cantik. Buktinya dia sama sekali tak berkedip ketika menatapku, dan arah pandangnya terus mengikutiku, hingga aku berdiri tepat di sampingnya di atas panggung. Kesadarannya kembali setelah Tante Mariska, eh maksudku bunda, menegurnya, dan dia jadi salah tingkah sendiri, rasain makanya jangan sok jual mahal.


Tamu berduyun-duyun datang menghampiri dan memberikan ucapan selamat. Seperti yang dibilang bunda, teman-teman Rey memang banyak yang datang. Tak jarang dari mereka meledek Rey, dan itu sampai membuat Rey tertawa. Baru tahu aku, kalau manusia batu bin kaku ini bisa tertawa.


Entah kenapa, ketika tak ada tamu yang menyalami kami di panggung, tangan Rey terus saja menggenggam erat tanganku. Heran deh, apa segitu takutnya kalau aku kabur, atau takut kalau aku bakalan ngabisin kue-kue di sini? Dasar aneh.


Tiba-tiba Rey kembali memandang ke arahku, lama. Entah apa yang dipikirkannya, duh aku jadi grogi kan. Hingga pada akhirnya ....


Cup.


Satu kecupan mendarat lembut di pipi kananku. Siapa lagi pelakunya kalau bukan dia. Ah, rasanya pipiku jadi panas, jantung juga tiba-tiba main bedug nggak beraturan. Saking syok-nya tiba-tiba aku teringat kata-kata mama tadi, supaya ... jangan pingsan.


Ini Rey kesambet atau kenapa sih?


Pingsan nggak ya, pingsan nggak ya?


Pingsan aja deh.


"Zoe!"


BERSAMBUNG


.


.


.


INI KARYA PERTAMA SAYA


SAYA HARAP KALIAN SEMUA MENIKMATINYA❤️❤️


MAAF JIKA ALUR DALAM CERITA TERSEBUT KURANG PAS🙏🙏


MOHON MAAF JUGA APABILA BANYAK KESALAHAN DALAM PENULISANNYA🙏🙏


TERIMAKASIH READER☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2