Dipaksa Menikahi Tuan Muda Cacat

Dipaksa Menikahi Tuan Muda Cacat
Prolog


__ADS_3

Sore itu terlihat seorang perempuan berwajah cantik dengan rambut terurai panjang sebahu serta lesung pipit yang menghiasi wajah cantiknya berjalan di lorong rumah sakit.


Sesekali dia akan menyapa beberapa suster dan dokter yang berpapasan dengannya.


"Andin, hari ini sepertinya kau datang lebih awal." sapa seorang Dokter berparas tampan dengan wajah khas orang asia yang kebetulan baru keluar dari salah satu ruangan.


"Kebetulan sift kerjaku lebih cepat selesai Dok-! Bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya Andin yang kini memasang ekspresi sedih.


"Belum ada perubahan, satu-satunya cara agar Ibumu sembuh hanya dengan transplantasi jantung, masalahkan pihak rumah sakit belum menemukan jantung yang cocok. Lagi pula..." Dokter itu menghentikan perkataanya, dia menatap kearah Andin dengan pandangan yang sulit diartikan.


Andin yang menyadari arah pembicaraan Dokter tampan itu terdiam membisu, kedua matanya memerah dan tak lama kemudian satu tetes air mata jatuh membasahi pipinya.


"Saya mengerti, akhir bulan ini saya akan melunasi semua biayanya dok..." Andin menundukkan kepala, sesaat setelah itu Dokter Tampan yang merawat Ibunya pamit undur diri meninggalkan Andin yang masih menundukkan kepala.


Andin lalu berjalan memasuki ruangan yang ada di hadapannya, selama beberapa bulan terakhir, ruangan yang sepenuhnya di dominasi warna putih itu memang menjadi salah satu tempat yang sering dia kunjungi olehnya. Andin berjalan mendekat kearah ranjang pasien yang diatasnya terbaring seorang wanita yang terlihat berusia sekitar 40 tahun.


"Ibu kapan kau akan bangun? Aku merindukan Ibu, apa kau tidak merindukanku?" Andin menggigit bibir bagian bawahnya, sesekali dia menyeka air mata yang terus membasahi kedua pipinya. "Sejujurnya Andin sangat lelah, tapi aku tak mau kehilangan Ibu-! Hanya Ibu satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini..."

__ADS_1


Tangisan Andin semakin pecah, sesekali dia meremas kedua tangan Ibunya yang lemah tak berdaya. Menumpahkan segala kesedihan yang selama ini dia pendam dengan menangis.


Andin memeluk tubuh wanita yang terbaring diatas tempat tidur, air matanya masih sesekali keluar dengan isakan tangis yang terdengar memilukan.


Entah karena lelah menangis atau sejenisnya, pada akhirnya perempuan cantik itu terlelap sambil mempererat pelukannya.


Selang beberapa jam kemudian Andin terbangun, kedua matanya bengkak dan kepalanya terasa pusing karena terlalu lama menangis. Perempuan dengan lesung pipit itu melirik kearah jam yang berada di ruangan tersebut yang sudah menunjukan pukul 10 malam.


"Sepertinya aku ketiduran..." Andin menghela nafas panjang lalu melirik kearah Ibunya yang masih memejamkan mata. "Aku pamit pulang dulu Bu, besok aku harus bekerja, maaf karena tidak bisa menemanimu lebih lama." Andin mengecup kedua tangan Ibunya kemudian keningnya sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Suasana rumah sakit pada malam itu terlihat lebih sunyi dari biasanya, hanya ada satu atau dua suster yang kebetulan sedang melaksanakan tugasnya. Andin kembali melirik kearah jam yang ada di pergelangan tangannya. "Sepertinya angkot sudah tidak ada, bagaimana aku pulang." Andin mendengus kesal, dia berjalan menelusuri lorong rumah sakit sambil melamun.


Seperti kata pepatah jika waktu adalah uang, Andin harus terus mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, perempuan berusia 22 tahun itu juga harus membayar semua biaya pengobatan Ibunya yang terkena penyakit gagal jantung yang memaksanya harus mendapatkan perawatan khusus.


Jantung Ibunya sudah tidak bekerja dengan normal, hal tersebut menyebabkannya membutuhkan alat bantu agar jantung Ibunya bisa terus berdetak dan bekerja. Masalahnya Ibunya tidak mungkin selamanya menggunakan alat tersebut, jalan satu-satunya agar keadaan Ibunya membaik harus melewati operasi transplantasi jantung.


Dari yang Andin dengar, biaya operasi transplantasi jantung bisa mencapai milyaran rupiah, nominal yang sangat fantastis bagi seorang Andin yang hanya bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu bank.

__ADS_1


"Andin, kau baru pulang?"


Lamunan Andin seketika buyar saat seseorang memanggil namanya, perempuan itu lalu menoleh ke asal sumber suara dan menemukan dokter tampan yang dia temui tadi sore.


"Dokter Rey..." sapa Andin seraya memasang senyum kecut. "Kenapa Dokter belum pulang, bukankah sift dokter sudah selesai."


Dokter tampan berkulit kuning langsat dengan rahang kokoh serta alis tebal itu tersenyum hangat kearah Andin. "Dokter Andre sedang tidak bisa masuk, dia ada kerjaan di luar kota. Itu sebabnya mengapa saya baru pulang malam ini..."


Andin mengangguk pelan.


"Kau ingin pulang? Dengan apa kau pulang, bukankah jam segini angkutan umum sudah tidak ada."


Andin tersenyum canggung, "Saya tidak tahu dok..."


"Bagaimana jika saya mengantarmu?" tawar Dokter Rey.


"Sebaiknya saya pulang sendiri saja dok, tidak enak jika di lihat yang lainnya." Andin menolak secara halus.

__ADS_1


"Tidak ada yang melihat, lagi pula saya merasa tidak keberatan mengantarkan mu pulang."


Andin berniat menolak, namun Dokter Rey terus memaksanya sehingga membuat Andin mau tidak mau menerima ajakan tersebut.


__ADS_2