
Andin berjalan menelusuri lorong rumah sakit dengan wajah lesu, setelah merenungkan banyak hal pada akhirnya dia tidak memiliki jalan keluar untuk solusi keuangannya.
"Apa aku menyerah saja?" gumamnya pelan, jujur Andin sudah sangat lelah dengan semua ini. "Mungkin setelah ini aku akan bunuh diri, melompat dari atap rumah sakit sepertinya tidak terlalu buruk. Lagi pula selain Ibuku siapa lagi di dunia ini yang aku miliki?" Andin tertawa sedih, perempuan cantik itu menertawakan takdir dan kehidupannya sendiri yang begitu hancur, setelah Ayahnya meninggal, Andin tidak pernah merasakan apa itu kebahagian.
"Astaga, apa yang baru saja aku pikirkan..." ucapnya seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menepis setiap pikiran buruk yang lagi-lagi terlintas di kepalanya.
Andin membuka pintu masuk ruangan tempat Ibunya dirawat, ekspresi perempuan itu menjadi panik saat melihat beberapa tim medis sedang mencopot semua alat yang menempel pada tubuh Ibunya.
"Dokter, Suster-! Apa-apa ini, kenapa alat-alatnya di copot, bukankah Dokter Rey mengatakan aku masih memiliki waktu sampai lusa." ucapnya panik, perempuan berlesung pipit itu segera berlari, menghadang dokter dan suster yang masih berusaha mencopot alat-alat medis tanpa memperdulikan perkataanya.
"Tolong hentikan hiks-!"
Seakan tidak menyadari keberadaan Andin yang mulai menangis histeris, suster dan dokter itu masih melanjutkan tugasnya.
Tangisan Andin semakin pecah, amarah, sedih, kesal semua bercampur menjadi satu. "Tolong hentikan hiks... Saya janji akan melunasi semua biaya pengobatan Ibu.. hiks.. Saya mohon...."
Tubuh Andin terkurai lemas, dia tak berdaya ketika dokter dan suster itu masih terus melucuti setiap alat yang menempel di tubuh Ibunya.
Selang beberapa saat kemudian, semua alat medis sudah sepenuhnya terlepas, kedua suster itu lalu membawa tempat tidur ibunya keluar dari ruangan. Melihat hal tersebut tangisan Andin semakin menjadi-jadi, perempuan itu buru-buru berdiri dan menghadang jalan. "Hentikan, apa yang akan kalian lakukan? Apa kalian tidak puas sudah melepas semua alat medis itu..."
Andin menyeka air matanya, menatap dingin kearah dua suster yang kini saling berpandangan dalam diam. Tidak ada sepatah katapun yang di ucapkan oleh keduanya.
Sesaat kemudian pintu ruangan terbuka, menampilkan seorang dokter berparas tampan yang Andin kenal. "Ada apa ini?" tanya Dokter Rey.
__ADS_1
"Maaf Dok, kami mendapat perintah langsung dari Direktur Lee..." Kedua suster dan dokter itu kini menundukkan kepala saat melihat tatapan dingin Dokter Rey.
"Dokter Rey, tolong Ibuku... Saya janji akan melunasi semua biaya pengobatannya, saya mohon..." Andin berlutut di bawah kaki Dokter Rey dengan sesekali mengeluarkan isakan tangis yang terdengar pilu.
"Bawa kembali Nyonya Alisa ke tempatnya dan pasang semula alat-alat medis itu. Direktur Lee biar saya yang mengurusnya." ucap Dokter Rey dingin.
Seketika itu juga kedua suster itu langsung menuruti perintahnya Dokter Rey.
"Tenangkan dirimu, saya berjanji bahwa semuanya akan baik-baik saja." kata Dokter Rey seraya berjongkok di hadapan Andin.
Andin mendongak keatas, menatap lekat-lekat kedua mata hitam legam milik dokter tampan di hadapannya. "Terimakasih... hikss... hikss..."
Dokter Rey lalu membawa Andin keluar ruangan, menuntun perempuan cantik itu menelusuri lorong rumah sakit sebelum sampai di depan sebuah lift.
"Sean, sedang apa kau berada di rumah sakit? Apa kondisi Juls memburuk?" Rey sedikit terkejut saat melihat pria tampan yang tidak lain adalah sekertaris sekaligus tangan kanan Julian Alfajri Bimantara, sahabatnya dulu saat masih berada di bangku kuliah.
Keduanya bisa di bilang sahabat dekat saat masih menimba ilmu bersama-sama, namun setelah lulus mereka sudah jarang bertemu akibat memiliki kesibukan masing-masing.
Sean hanya tersenyum tipis, dia lalu melirik kearah Andin yang masih menundukkan kepala. "Kondisi tuan muda Juls baik-baik saja, aku datang kesini karena memiliki sedikit urusan."
Dokter Rey mengangguk pelan, rumah sakit tempat dirinya bekerja ini memang salah satu aset milik Bimantara Grup. Sudah sewajarnya jika Sean yang notabennya sebagai sekertaris sekaligus tangan kanan Juls memeriksa setiap aset yang di miliki Bimantara Grup agar bisa berjalan dengan seharusnya.
"Apa itu Andin?" tanya Sean.
__ADS_1
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya balik Dokter Rey terkejut.
"Aku hanya menebak, ku dengar dari gosip yang beredar jika seorang Dokter Rey tengah mengencani anak dari pasiennya."
Mendengar perkataan itu Dokter Rey tersedak nafasnya sendiri, sedangkan Sean tertawa kecil saat melihat wajah memerah Dokter Rey.
"Sejak kapan kau peduli dengan hal-hal seperti itu, lagi pula berita itu tidak benar." ucapnya sambil memalingkan wajah.
Sean hanya tersenyum tipis menanggapinya, "Oh, yah! Direktur Lee sudah menunggu mu di ruangannya. Katanya, ada yang ingin beliau bicarakan..."
"Aku memang berniat mengunjungi dokter tua itu-! Maksudku Direktur Lee."
"Kalau begitu, bisa aku berbicara dengan Nona Andin, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan kepadanya."
Dokter Rey mengangkat salah satu alisnya. "Menanyakan sesuatu seperti apa? Bukankah ini kali pertamanya kalian bertemu."
"Hanya sebenar, kau tidak berpikir jika aku akan menculiknya bukan?"
Dokter Rey terdiam, selama beberapa saat berpikir akhirnya dokter tampan itu menyerahkan Andin kepada Sean.
"Dokter Rey!" Andin menahan lengan Dokter Rey saat dokter muda itu berniat meninggalkannya berdua dengan pria yang tidak di kenal.
"Sean bukan orang jahat, kau akan baik-baik saja bersamanya." Dokter Rey tersenyum lembut. "Bukankah kau mendengarnya jika Sean ingin membicarakan sesuatu denganmu?"
__ADS_1
Walaupun ragu pada akhirnya Andin melepaskan lengan Dokter Rey dan membiarkannya pergi.