Dipaksa Menikahi Tuan Muda Cacat

Dipaksa Menikahi Tuan Muda Cacat
Pura-pura


__ADS_3

Setalah pembicaraan yang panjang dan melelahkan akhirnya Juls memanggil Sean kembali. Dengan cepat pria bule itu memasuki ruangan, "Apa ada sesuatu yang anda butuhkan tuan muda?"


"Tidak, kami sudah selesai berbicara, bukan begitu Andin." ucap Juls lalu melirik kearah Andin, menatapnya dengan senyuman.


"Yah! Kami sudah mencapai kesepakatan." Andin mencoba mereda emosinya dan memaksakan diri untuk tersenyum.


"Kau begitu aku dan Sean akan pulang dulu, kau tidak keberatan bukan?" tanya Juls.


"Sama sekali tidak Juls, aku bisa pulang sendiri. Kau tidak perlu khawatir, pulanglah dengan selamat, kabari aku jika kau sudah sampai di rumah."


"Lihat, bukankah calon istriku begitu manis Sean... Mungkin saja suatu saat nanti kontrak ini tidak berlaku lagi dan kami benar-benar menjadi sepasang suami istri dengan beberapa anak."


Andin memutar bola matanya malas, andaikan dia tidak mengetahui sikap asli Juls, mungkin dirinya akan percaya dengan kata-kata manis tersebut. 'Aku yakin jika kita berdua memainkan drama percintaan penonton akan benar-benar terbawa perasaan. Tidak menutup kemungkinan kita akan memenangkan ajang penghargaan sebagai Best Couple, Aktor/Aktris dengan acting terbaik.' ucap Andin dalam hati.


"Kalau begitu kami permisi dulu Nona Andin. Semoga kerjasama ini berjalan dengan lancar..."


Setelah berkata demikian Sean mendorong kursi roda Juls meninggalkan ruangan. Sepeninggal keduanya senyum yang semula menghiasi wajah cantiknya perlahan mulai memudar, Andin mengambil gelas yang ada di atas meja sebelum melepaskannya kearah dinding hingga pecah. "Sial, apa dia pikir bisa mengendalikan ku karena memiliki banyak uang dan kuasa? Kita lihat saja nanti siapa yang akan jatuh lebih dulu."


Andin mendengus kesal, dia meraih tasnya sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Perempuan cantik itu memberhentikan taxi yang kebetulan lewat dan memintanya untuk mengantarnya kerumah sakit.


Sekitar 45 menit kemudian, taxi itu berhenti tepat di depan lobi rumah sakit. Setelah mengucapkan terimakasih dan membayar biaya perjalanan Andin langsung melangkah masuk kedalam rumah sakit.


Suasana rumah sakit pada malam itu begitu ramai, perempuan itu terus berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Sesampainya di depan kamar tempat Ibunya di rawat Andin langsung memasukinya, namun kedua matanya membulat saat tidak menemukan siapapun di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Ibu..." teriak Andin, namun tidak ada jawaban sama sekali.


Andin membanting pintu itu lalu berjalan kearah meja resepsionis, tetapi baru beberapa meter dia berjalan, Andin berpapasan dengan Dokter Rey yang baru saja keluar dari salah satu ruangan. "Dok, dimana Ibu saya?" tanya Andin.


Dokter Rey yang terlalu fokus pada berkas pasiennya langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara lembut yang berasal dari hadapannya. Kedua mata Dokter Rey terbuka lebar saat melihat penampilan baru Andin, "Apa ini benar-benar dirimu Andin, kau terlihat sedikit berbeda dari biasanya."


"Aku baru saja menghadiri acara penting Dok, itulah asalan kenapa saya mengenakan pakaian seperti ini. Ngomong-ngomong, dimana Ibu ku, kenapa dia tidak berada di ruangannya?"


"Ah! Nyonya Alisa sudah di pindahkan keruang VIP. Sean yang memintaku melakukannya."


Andin bernafas lege setelah mengetahui jika kondisi ibunya baik-baik saja.


"Kebetulan saya akan menuju ruangan Ibumu untuk melihat kondisinya..." ucap Dokter Rey menawarkan untuk pergi bersama.


"Bukankah dia Nona Andin, kenapa malam ini dia terlihat lebih cantik! Mungkinkan dia akan berkencan dengan Dokter Rey..."


Beberapa suster yang kebetulan berpapasan dengan keduanya mulai bergosip.


"Mungkin saja, lagi pula Dokter Rey masih lajang...."


"Ya! Kata siapa Dokter Rey lajang, apa kau tidak mengetahui aku istri sahnya." ucap salah satu Suster itu dengan percaya diri.


"Dari pada Dokter Rey memiliki istri sepertimu bukankah aku lebih baik."

__ADS_1


"Suttt! Hentikan imajinasi liar kalian, sebaiknya kita segera memeriksa pasien."


Para suster itu kembali melakukan pekerjaannya, sedangkan Dokter Rey dan Andin sudah masuk kedalam lift.


Lift itu bergerak secara perlahan menuju lantai paling atas, suasana lantai atas sangat sepi, hanya ada satu dua suster dan dokter yang berada di lantai khusus tersebut. Dari yang Andin dengar, kamar VIP di isi oleh orang-orang kelas atas seperti pejabat, pengusaha, politikus, dan orang-orang penting lainnya.


Ruangan Ibunya berada di paling pojok, saat membuka pintu ruangan tempat Ibunya di rawat, kedua mata Andin terbelalak dengan mulut yang sedikit terbuka lebar. "Bukankah ini lebih pantas di sebut hotel berbintang jika di bandingkan dengan ruang inap pasien?"


Andin berdecak kagum, kedua matanya tak henti-henti menatap setiap sudut ruangan. Selain ukurannya yang besar, ruang VIP juga di lengkapi dengan sofa, tempat tidur yang lebih besar, tv dan lemari pendingin berukuran sedang.


"Ini tidak seberapa, jika kau melihat rumah sakit milik Bimantara Grup yang ada di Singapura atau negara Eropa, ukurannya jauh lebih besar dan mewah dari ruangan ini." jelas Dokter Rey.


"Benarkah...."


Andin mulai bertanya-tanya mungkinlah Bimantara Grup jauh lebih kaya dari yang dia bayangkan. Berapa keuntungan bersih setiap tahunnya serta jumlah keseluruhan aset yang di miliki Bimantara Grup.


Dokter Rey tersenyum hangat, dia membiarkan Andin larut dalam lamunannya, dokter tampan itu berjalan keranjang Nyonya Alisa dan mulai memeriksanya. Selang beberapa saat kemudian Dokter Rey telah selesai memeriksa keadaan wanita tua tersebut.


"Kondisi Nyonya Alisa masih stabil, pihak rumah sakit juga sudah menemukan donor jantung untuk Nyonya Alisa, jika tidak ada kendala operasi akan di langsungkan tidak lama lagi."


Lamunan Andin seketika buyar saat mendengar kabar baik tersebut. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu."


"Saya tidak tahu kau dan Sean memiliki hubungan seperti apa sehingga dia rela terbang ke beberapa negara untuk mencari donor jantung tersebut. Selain itu dia juga yang membayar semua biaya pengobatan dan operasi. Walaupun saya sangat penasaran tetapi saya akan mencoba untuk tidak mencari tahu." ucap Dokter Rey tersenyum tipis.

__ADS_1


Entah kenapa Andin merasakan ada sesuatu yang berbeda dari senyuman itu. 'Mungkinkah dia cemburu?' tanyanya dalam hati.


__ADS_2