Dipaksa Menikahi Tuan Muda Cacat

Dipaksa Menikahi Tuan Muda Cacat
Berita Pernikahan


__ADS_3

Waktu terus berjalan dengan cepat, hari-hari Andin di lalu dengan ceria. Tidak ada perubahan yang signifikan pada perempuan cantik itu selain penampilannya yang terlihat lebih elegan dari biasanya.


Waktunya hanya di habiskan dengan pergi bekerja dan ke rumah sakit. Sesekali Sean akan menghubungi Andin untuk masalah gaun pernikahan yang akan dia kenakan.


Operasi transplantasi jantung yang di lakukan Ibunya berjalan dengan lancar, kini Andin hanya perlu menunggu sampai Ibunya sadarkan diri.


Kabar tentang pernikahan Andin dan Juls berhasil mengguncang Indonesia, bahkan beberapa negara tetangga memberitakan mengenai kabar tersebut mengingat nama besar Perusahaan Bimantara Grup.


Selama berhari-hari, berita dan sosial media di penuhi dengan acara pernikahan tuan muda Juls selaku pemilik tunggal dari seluruh aset Bimantara Grup. Lukas yang mendengar kabar tersebut sampai menggebrak meja kerjanya, Ibu dan adiknya sampai kehilangan kesadaran ketika melihat berita tersebut.


Seluruh pegawai bank tempat Andin bekerja mulai mengerumuninya. Bahkan para atasan yang semula tidak terlalu memperhatikan perempuan cantik berlesung pipit itu kini mencoba membangun relasi dengannya.


Kepala Andin terasa sakit ketika setiap hari banyak wartawan yang terus mengejar-ngejarnya dan melemparkan banyak pertanyaan.


Tika, sahabatnya sendiri sampai berteriak dengan kencang setelah mengetahui berita tersebut. "Bagaiman kau bisa mengenal tuan muda Juls? Dukun mana yang kau datangi hingga CEO Bimantara Grup itu mau menikahi mu."


Tika melemparkan banyak pertanyaan yang membuat kepala Andin semakin sakit. "Bisakah kau berhenti bertanya Tika, beberapa hari terakhir benar-benar membuatku sangat sulit..."


"Maafkan aku, hanya saja aku masih tidak menyangka jika sahabatku yang manis ini diam-diam akan menikah. Terlebih lagi calon pengantinnya adalah pemilik dari Bank ini..."


Andin mendengus kesal, dia menghiraukan perkataan Tika. Dia segera duduk di depan meja kerjanya yang di penuhi dengan berbagai macam hadiah. "Ooh~ Ayolah, kenapa mejaku selalu di penuhi dengan benda-benda ini lagi?"

__ADS_1


"Kau seharusnya bersyukur Din, setiap hari banyak hadiah yang memenuhi meja kerjamu. Lihat mejaku, hanya ada setumpuk pekerjaan yang berada disana..." Tika mencibir.


"Jika kau menginginkannya kau boleh memiliki semuanya, aku tidak butuh..."


"Oooh~ Aku tahu jika tidak lama lagi kau akan menjadi Nyonya Bimantara, seluruh isi di dunia ini pun kau bahkan mampu membelinya."


"Ini tidak ada kaitannya dengan semua itu Tik..." Andin kembali mendengus kesal.


Selang beberapa saat kemudian Bank tempat Andin bekerja mulai di buka, banyak nasabah yang datang ke Bank tersebut baik untuk membuka rekening tabungan atau hanya sekedar mengambil uang.


Andin tersenyum ramah pada nasabah pertamanya. "Selamat pagi Ibu, ada yang bisa saya bantu..."


"Selamat pagi, aku ingin..." wanita berusia 30 tahun awal itu mulai menjelaskan alasan kenapa dirinya datang. Sebagai pekerja yang baik Andin mendengarkannya dengan tenang sambil terus memasang senyum lebar.


Setelah menerima KTP, Andin mulai mengotak-ngatik komputer di depannya. Walaupun tidak terlalu memperhatikan, namun Andin mengetahui jika wanita di hadapannya itu sesekali akan memperhatikan wajahnya, tetapi karena tidak ingin terlalu memikirkannya perempuan tersebut mencoba menghiraukannya.


"Ah! Bukankah anda yang sering muncul di berita gosip beberapa hari terakhir. Kalau tidak salah karena akan menikah dengan tuan muda..." Wanita itu menghentikan ucapannya, dia berusaha mengingat-ingat sesuatu. "Tuan muda Juls bukan? Pemilik Perusahaan Bimantara Grup itu?"


Mendengar pertanyaan itu, Andin hanya tersenyum tipis. "Nah, saya sudah selesai memeriksa data diri Ibu, sekarang rekening Ibu sudah bisa di gunakan lagi. Anda yang bisa saya bantu lagi?"


"Bisakah anda menjawab pertanyaan saya tadi?"

__ADS_1


Andin mempertahankan senyumnya agar tidak memudar, diam-diam perempuan cantik itu menghela nafas panjang untuk mereda emosinya yang mulai memuncak. "Benar, itu saya?"


"Tuh kan~ Tapi kenapa anda masih bekerja di Bank, bukankah suami anda memiliki kekayaan yang tidak akan habis sampai 7 turun dan 7 tanjakan."


Andin kembali menghela nafas panjang, dia benar-benar sudah tidak bisa mempertahankan senyumannya. Perempuan cantik itu lalu melirik sekilas kearah rekan yang berada di sampingnya untuk meminta pertolongan.


Menyadari jika Andin tidak merasa nyaman, rekan kerjanya itu langsung membantu dengan cara memanggil nomor antrian selanjutnya.


Wanita itu terlihat kecewa, namun dia tidak ingin memaksa lebih jauh karena bisa menyebabkan keributan.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 3 sore, yang menandakan Bank tempat Andin bekerja akan segera tutup. Setelah nasabah terakhir meninggalkan Bank, Andin menyenderkan tubuhnya. "Kenapa nasabah bank hari ini benar-benar menyebalkan."


Lebih dari setengah nasabah yang di layani Andin melemparkan pertanyaan serupa, mereka penasaran dengan pernikahan antara dirinya dengan Juls.


"Tenang saja, ketika kau menikah dengan tuan muda Juls, kau tidak perlu bekerja keras seperti ini..." salah satu rekannya mendekat seraya memberi semangat.


Andin terdiam, andaikan mereka tahu jika pernikahan tersebut tidak lebih dari kerjasama mungkin dia akan mendapat cacian dan hinaan karena mau menjual harga dirinya hanya karena uang.


"Ngomong-ngomong apa kau tidak berniat mengundang kami di acara pernikahanmu dengan tuan muda Juls." seorang perempuan dengan pakaian ketat mendekat kearah Andin.


"Ah! Tentu saja aku akan mengundang kalian, tidak perlu khawatir semuanya akan saya undang." Andin tersenyum tipis, sebenarnya dia tidak ingin mengundang siapapun dari tempatnya bekerja kecuali sahabatnya Tika. Tetapi karena merasa sungkan akhirnya mau tidak mau Andin harus mengundang semuanya.

__ADS_1


'Si penjilat ini, setelah mengetahui jika aku akan menikah dengan pemilik Bank ini dia berpura-pura so akrab denganku.' Andin tersenyum sinis menatap perempuan ber-make up tebal di hadapannya.


__ADS_2