
"Menurutmu kalung berlian ini pantas tidak jika aku kenakan?" tanya Tika sambil menunjuk kearah kalung berlian yang berada di balik kotak kaca.
Saat ini, Andin dan Tika sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Jakarta, atau lebih tepatnya berada di salah satu tokoh perhiasan. Karen tiga hari dari sekarang Andin akan menikah, perempuan cantik itu sedang menemani sahabatnya berbelanja yang katanya ingin tampil beda saat acara pernikahannya nanti.
"Cocok..." Andin hanya menjawab seperlunya, sebenernya dia merasa tidak nyaman karena sejak tadi banyak pasang mata yang memperhatikannya. "Bisa kita pergi dari sini, aku mulai tidak nyaman dengan tatapan para pengunjung disini." bisik Andin pelan.
Tika mengerutkan dahi, dia memperhatikan sekeliling dan baru menyadari jika keduanya tengah menjadi pusat perhatian. Namun pusat perhatian disini sedikit berbeda dari yang Andin dan Tika banyangkan.
Selang beberapa saat kemudian salah satu pegawai mendatangi keduanya. "Selamat siang nona, apakah ada yang bisa saya bantu..."
"Tidak perlu, kami hanya ingin melihat-lihat saja..." tolak Andin dengan cepat.
"Nona, jika anda hanya ingin melihat-lihat saja dan tidak membeli sebaiknya anda segera pergi dari toko ini. Pelanggan kami yang lain merasa terganggu dengan kehadiran anda." Senyum yang semula menghiasi wajah pegawai itu perlahan memudar, tatapannya memandang rendah kearah Andin dan Tika.
"Memang ada apa dengan kami..." tanya Andin yang langsung melihat penampilannya, begitupun dengan Tika.
Karena tadi sempat terburu-buru, Andin dan Tika memang tidak sempat untuk berdandan serta berganti pakaian. Penampilan keduanya memang terlihat sangat sederhana dengan kemeja dan rok ketat selutut mengingat pakaian tersebut adalah pakaian kerjanya. Bahkan rambut keduanya hanya di ikat asal-asalan.
"Nona, sebaiknya kalian pergi selagi saya bicara baik-baik." ucap pegawai itu dengan menekan setiap kata yang dia ucapkan.
Mendengar hal tersebut, Andin tersulut emosi. Tatapan matanya menjadi dingin, namun Tika yang berada di sampingnya berusaha mereda emosinya karena keduanya semakin menjadi pusat perhatian. Beberapa pengunjung dengan terang-terangan membicarakan keduanya.
Andin menghela nafas panjang, mencoba mereda emosinya. "Berapa harga kalung itu, sahabatku sepertinya menyukainya." ucap Andin seraya tersenyum tipis namun langsung di tanggapi dingin oleh sang pelayan.
Pelayan itu kembali memandang rendah keduanya, memperhatikan penampilan Andin dari atas sampai bawah. "Jika anda memiliki uang lebih, bukankah lebih baik di gunakan untuk memperbaiki penampilan anda. Bisa saya beritahu jika harga kalung itu sangat mahal..."
__ADS_1
Kedua tangan Andin sudah mengepal, seluruh urat nadinya menegang karena merasa kata-kata pegawai tersebut benar-benar sudah keterlaluan. Perempuan itu ingin mengatakan sesuatu namun segera tertahan saat mendengar suara berat dari arah belakangnya.
"Apakah begini cara kalian melayani seorang pelanggan?" Suara lembut namun terkesan tegas itu langsung menarik perhatian semua orang.
Beberapa yang mengetahui identitas pria berwajah tampan itu segera mengalihkan pandangan. Bahkan pegawai yang semula bersikap arogan kini menundukkan kepalanya.
"Layani dia, jika dia tidak mampu membayarnya aku yang akan membayarnya."
Pelayan itu buru-buru menundukkan kepala, dia langsung mengambil kalung berlian yang sebelumnya di tunjuk oleh Andin, sedangkan perempuan berlesung pipit itu menolehkan kepala ke asal sumber suara. Kedua mata Andin melotot saat melihat pria yang baru saja menolongnya adalah pria yang sama dengan yang dia temui di hotel.
"Ah! Kau, bukankah..." Lukas menghentikan ucapannya ketika mulutnya dengan cepat di bekap oleh tangan Andin, perempuan itu memberi isyarat agar tidak melanjutkan perkataannya.
Lukas hanya tertawa kecil, sebelum mengangguk pelan.
"Tak masalah, lagipula orang-orang seperti mereka memang pantas di beri pelajaran. Agar tidak merendahkan orang lain hanya karena penampilannya saja." Lukas tersenyum hangat.
Andin membalas senyumnya, keduanya mulai berkenalan dengan menyebut nama masing-maisng. Selang beberapa saat kemudian kalung yang di pesan Andin sudah selesai di bungkus dengan rapi.
"Harganya 85 juta nona, apakah anda ingin membayarnya dengan kredit atau debit?"
Kedua mata Andin dan Tika melotot saat mendengar nominal yang disebutkan pegawai tersebut. "Apakah anda yakin tidak salah menyebut nominalnya?" tanya Tika sambil menelan ludahnya dengan kasar.
Pelayan yang mendengar perkataan Tika tersenyum mengejek, namun dengan cepat dia menghilangkan senyum tersebut ketika melihat tatapan dingin Lukas.
"Biar aku yang membayarnya.." Lukas mengeluarkan dompetnya berniat memberikan kartu kredit namun segera di tahan oleh Andin.
__ADS_1
"Tidak perlu Luk, aku masih bisa membayarnya..." ucap Andin.
Walaupun dia sedikit terkejut dengan harga kalung berlian tersebut namun bukan berarti dia tidak mampu membayarnya. Sehari sebelumnya Sean kembali menemuinya untuk memberikan kartu kredit, bule tampan itu mengatakan jika dia bebas membeli apapun dengan kartu tersebut.
Pada awalnya Andin tidak ingin menggunakannya, tetapi karena tidak mempunyai pilihan lain akhirnya Andin terpaksa menggunakannya. Perempuan itu lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu kredit berwarna hitam dengan tulisan BLACK CARD.
Kini giliran pegawai itu yang menatap tak percaya, begitupun para pengunjung yang diam-diam masih memperhatikan Andin dan Tika.
Lukas yang melihat Black Card yang dimiliki Andin juga menunjukan ekspresi serupa. Bahkan dirinya saja tidak bisa memiliki kartu kredit berwana hitam tersebut karena memang hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkannya. Sepengetahuannya kurang dari 10 orang di seluruh Indonesia yang memiliki Black Card. 'Siapa sebenarnya perempuan ini, mungkinkah dia pengusaha sukses yang sedang menyamar.' tanya Lukas dalam hati.
Pegawai itu dengan sangat hati-hati mengambil kartu kredit Andin sebelum pamit undur diri untuk di melakukan transaksi. Andin diminta ikut untuk melengkapi data kepemilikan kalung serta pin kartu kreditnya.
Sekitar beberapa menit kemudian Andin kembali dengan membawa paper bag kecil di tangannya.
"Oh yah Luk, apa kau kesini ingin membeli perhiasan untuk kekasihmu?" tanya Andin.
"Bukan untuk kekasihku, tetapi untuk hadiah pernikahan saudara ipar ku yang akan menikah."
Andin mengangguk pelan, setelah berbasa-basi sejenak akhirnya Andin berniat pamit. "Kalau begitu aku akan pergi dulu, masih ada beberapa barang yang ingin aku beli."
"Um, tunggu sebentar..." ucap Lukas.
"Ada apa?"
"Aku tidak pandai dalam memilih perhiasan yang bagus, biasakan kau membantuku untuk memilihnya?" pinta Lukas.
__ADS_1