Dipaksa Menikahi Tuan Muda Cacat

Dipaksa Menikahi Tuan Muda Cacat
Kontrak Pernikahan


__ADS_3

Kedua mata Andin terbelalak saat membaca isi kontrak pernikahan dengan Juls sang tuan muda dari Keluarga Bimantara. Andin menatap kearah Sean dan kertas di tangannya secara bergantian.


"Ini... Apakah anda tidak kelebihan menulis angka 0 pada nominal ini atau bagaimana?" tanya Andin, dia tidak menyangka selain jaminan kesembuhan Ibunya, Andin juga akan mendapatkan uang bulanan 20 kali lipat dari gajinya sekarang.


"Apa nominalnya terlalu kecil, jika ia saya akan menambahkannya. Berapapun yang anda mau akan saya turuti." kata Sean.


"Tidak, ini lebih dari cukup..."


"Kalau begitu apakah anda bersedia menikah kontrak dengan tuan muda Juls?"


Andin terdiam, perempuan cantik itu terlihat ragu dengan keputusan yang akan dia ambil. Bagi Andin, pernikahan adalah sesuatu hal yang sakral, dia tidak ingin ada paksaan dalam pernikahannya. Pondasi dasar dari pernikahan adalah suka saling suka dan cinta saling cinta, jika sejak awal pernikahan tidak di dasari dengan kedua rasa itu, Andin yakin pernikahan tersebut tidak akan bertahan lama. Terlebih lagi jangka waktu kontrak pernikahan itu belum pasti kapan akan berakhir.


Namun disisi lain, cuma ini satu-satunya cara agar dirinya bisa dengan cepat mendapatkan uang.


Andin kembali membaca isi kontrak yang sebelumnya belum sempat dia baca.


**Kontak Pernikahan Dengan Julian Alfajri Bimantara.




Menikah secara sah baik dari segi hukum atau agama.




Perkataan Julian Alfajri Bimantara adalah mutlak dan tidak bisa di bantah.




Menjalani tugas menjadi seorang istri sebagaimana mestinya.

__ADS_1




Selalu meminta izin dan persetujuan ketika ingin berpergian kemanapun.




Tinggal di kediaman Keluarga Bimantara.




Tidak memberi tahu siapapun mengenai kontak pernikahan ini.






Andin tersedak nafasnya sendiri saat melihat isi kontrak yang tertera. Menurutnya itu sama saja dengan dirinya menjadi burung yang terkurung dalam sangkar emas.


"Kontrak nomor 7 bukankah terlalu berlebihan, maksudku bukankah aku Ibunya?" tanya Andin kesal.


"Itu terserah anda, jika anda menyetujuinya silahkan untuk tanda tangan. Jika tidak, saya tidak akan memaksanya, lagi pula dalam kontrak ini kedua belah pihak sama-sama di untungkan. Bukan begitu." Sean tersenyum tipis.


"Ini..."


Andin benar-benar ragu dengan pilihannya, haruskan dia menerima perjanjian ini, tetapi saat melihat isi nominal uang yang akan masuk ke rekeningnya setiap bulan membuatnya sangat tergiur.

__ADS_1


"Sejujurnya aku tidak mempermasalahkan isi kontrak ini, hanya saja saya sedikit keberatan dengan isi kontrak nomor 7." Sebagai seorang Ibu, Andin jelas tidak ingin di pisahkan dari anak-anaknya kelak.


"Anda tidak bisa menawar Nona Andin, jika anda menyetujui kontrak pernikahan itu segera tanda tangani, saya berjanji hari ini juga semua yang tertera dalam perjanjian itu akan saya bereskan termasuk uang bulanan yang akan anda terima."


Andina terdiam, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Perempuan itu masih mempertimbangkan keputusan apa yang akan dia ambil, jika dirinya menolak semua ini besar kemungkinan Ibunya akan di tendang dari rumah sakit karena tidak bisa membayar biaya pengobatan.


Dokter Rey juga tidak mungkin menolongnya terus menerus, Andin bukan perempuan yang hidupnya terus menerus bergantung pada orang lain. 'Apa aku menyetujui perjanjian ini, lagi pula setidaknya tubuhku akan menjadi milik suami sah ku walaupun kita tidak saling mencintai. Bukankah itu lebih baik dari pada menjual tubuhku pada orang asing.' kata Andin dalam hati.


Pada akhirnya Andin meraih pulpen yang ada diatas meja dan segera menandatangi surat perjanjian tersebut.


Sean disisi lain tersenyum lebar. "Anda memilih keputusan yang tepat."


Andin tersenyum kecut, dia memberikan kertas perjanjian itu pada Sean.


"Saya akan memberitahukan ini kepada tuan muda Juls, dengan ini kita resmi bekerja sama..." Sean menjabat tangan Andin.


Setelah berbasa-basi sejenak akhirnya Sean pamit undur diri, sebelum pergi pria itu mentransfer sejumlah uang yang sudah di sepakati.


"Apa keputusan ku kali ini sudah tepat." gumam Andin menghela nafas panjang, perempuan cantik itu melamun selama beberapa saat memikirkan resiko kedepannya dengan pilihannya saat ini.


Dert....Dert...Dert...Dert...


Getaran ponsel membuyarkan lamunan Andin, perempuan cantik itu segera mengambil ponsel yang tersimpan di dalam tas kecilnya.


"Andin, astaga kenapa jam segini kau belum datang? Jangan katakan kau melupakan hari penting ini." pekik sebuah suara dari sambungan telpon.


Andin segera menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar suara cempreng teman sekantornya. "Bisakah kau berbicara pelan-pelan, aku tidak tuli Tika..." ucap Andin sambil mendengus kesal. "Memangnya ada apa hari ini, bukankah aku masih dalam masa liburku."


Andin memang sengaja mengajukan cuti selama beberapa hari untuk menemani Ibunya di rumah sakit.


"Sudah ku duga kau akan melupakannya, untuk saja aku selalu mengingatkanmu. Biar ku beritahu jika hari ini adalah hari perayaan pesta ulang tahun Manager Lina."


"Astaga, aku benar-benar lupa." Andin spontan berdiri dari duduknya.


"Cepatlah kemari, semua orang sudah datang kecuali dirimu." ucap Tika.

__ADS_1


"Biak-baik, aku akan segera kesan." Andin langsung mematikan sambungan telpon.


__ADS_2