
"Baiklah, tapi bagaimana jika tidak sesuai dengan selera calon ipar mu?" tanya Andin.
"Itu urusan nanti, sebenarnya aku tidak pernah melihatnya."
Lukas tidak membual, dia memang tidak pernah melihat wajah calon iparnya, semua berita yang menyiarkan kabar tentang pernikahan Juls memang di sensor pada bagian wajah sang mempelai wanitanya sehingga Lukas tidak memiliki kesempatan untuk mengetahuinya.
Andin hanya mengangguk pelan, perempuan cantik itu lalu melihat-lihat deretan perhiasan yang berada di balik kotak kaca. Lukas dengan setia mengikutinya dari belakang, selang beberapa saat kemudian Andin menunjuk salah satu kalung berlian yang menarik perhatiannya.
"Bagaimana dengan itu? Terlihat sederhana namun terkesan elegan." ucap Andin sambil menunjuk kalung yang di maksud.
Lukas mengelus dagunya sesaat, mempertimbangkan pilihan Andin sebelum menyetujuinya. Pria tampan itu lalu meminta pegawai sebelumnya untuk mengambil kalung berlian tersebut agar bisa di lihat dari dekat.
"Ini cukup menarik!"
"Apa kau yakin dengan pilihanku?" tanya Andin seraya mengerutkan dahi.
"Tentu, apa kau memiliki pilihan lain lagi?" tanya balik Lukas.
Kali ini giliran Andin yang terdiam, perempuan itu kembali berkeliling dan melihat-lihat perhiasan yang lainnya. Selang beberapa saat kemudian dia menemukan kalung berlian dengan sepasang cincin, namun karena letaknya yang terpisah Andin sedikit kesulitan untuk melihatnya secara jelas.
"Bisakah anda mengambilkan yang itu?" pinta Andin.
Pelayan itu mengangguk pelan, sikapnya berubah menjadi 180 derajat dari sebelumnya menjadi lebih ramah dan tidak memberikan tatapan merendahkan lagi setelah mengetahui jika perempuan cantik berlesung pipit itu memiliki kartu kredit yang mampu mengosongkan seluruh perhiasan di toko tersebut.
Setelah mengambilnya, pelayan itu berinisiatif menjelaskan kelebihan kalung berlian tersebut. "Kalung ini limited edition, baru datang dari Paris, jumlahnya hanya ada 100 buah di seluruh dunia. Karena terbuat dari bahan khusus harganya cukup mahal, sekitar 300 juta."
__ADS_1
Mendengar penjelasan tersebut Andin kembali tersedak nafasnya sendiri. "Apakah anda tidak salah menyebut harganya atau memang pendengaran ku yang sedang ada masalah?" pekik Andin pelan.
Pelayan itu tersenyum tipis, "Tidak Nona, harganya memang sesuai dengan yang anda dengar...."
"Kalung ini sangat bagus, perpaduan warnanya begitu indah, terlebih lagi di lengkapi dengan sepasang cincin perak yang indah. Sebenernya ini sangat cocok untuk di jadikan hadiah pernikahan, namun harganya..." Andin menghentikan ucapannya, tubuhnya merinding saat mengingat nominal yang harus di keluarkan hanya untuk sekedar membeli kalung tersebut.
"Kau menyukainya?" tanya Lukas yang langsung mendapat anggukan kecil dari Andin.
"Kalung ini memang bagus, tidak heran harganya mencapai ratusan juta..." Lukas memegang kalung berlian tersebut dan menatapnya lebih dekat. "Baiklah, tolong bungkus yang ini."
Kedua mata Andin melotot tak percaya, dia menatap kearah Lukas dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kau tidak perlu mengikuti saran ku Luk..."
"Tak masalah, lagipula aku juga menyukainya." ucap Lukas tersenyum manis.
Andin tersenyum tipis, dia berharap suatu saat nanti dirinya bisa hidup seperti Lukas yang bisa membeli hadian pernikahan tanpa memikirkan harganya. Sekitar beberapa menit kemudian pelayan itu kembali dengan membawa paper bag kecil lalu menyerahkannya pada Lukas.
"Bukan masalah besar, lagi pula kau juga sudah membantuku."
Setelah berbasa-basi, akhirnya mereka berpisah. Andin melanjutkan berbelanja dengan Tika, sedangkan Lukas pulang kerumah.
"Bukankah wajah Lukas terasa tidak asing, sepertinya aku pernah melihatnya di satu tempat, namun aku tidak yakin dimana." ucap Tika pelan.
"Kau benar, ku pikir hanya diriku yang merasakannya."
Kedua perempuan cantik itu larut dalam pikiran masing-masing, mereka mencoba mengingat-ingat dimana mereka pernah melihat wajah Lukas. Tetapi sekeras apapun Andin dan Tika berusaha, keduanya tidak bisa mengingatnya. Pada akhirnya, Andin dan Tika tidak memikirkannya lebih jauh.
__ADS_1
Toko demi toko mereka kunjungi, hingga tanpa sadar malam semakin larut. Saat jam menunjukan pukul 9 malam, Andin dan Tika memutuskan untuk pulang.
"Aku tidak mau tahu, setelah kau resmi menjadi istri tuan muda Juls, kau harus mengganti semua uang yang aku keluarkan malam ini." ucap Tika, perempuan imut itu mendengus kesal, karena terlalu asik berbelanja dia sampai tidak sadar jika dirinya sudah menghabiskan separuh dari tabungannya.
Disisi lain, Andin hanya tertawa kecil menanggapinya. Berbeda dengan Tika yang di kedua tangannya di penuhi dengan paper bag, perempuan cantik itu hanya menenteng dua paper bag di tangannya. Selian kalung berlian, Andin hanya membeli satu dress yang menarik perhatiannya.
Saat sudah berada di luar pusat perbelanjaan, Tika langsung menghentikan salah satu taxi dan segera memasukinya begitupun dengan Andin.
Taxi yang di tunggangi Andin dan Tika memecah jalanan ibukota, selama di perjalanan itu keduanya bercerita mengenai banyak hal. Tanpa mereka sadari taxi yang keduanya tumpangi mulai memasuki kawasan perumahan.
Selang beberapa saat kemudian taxi tersebut berhenti tepat di depan salah satu rumah. Tika lalu keluar dari mobil begitupun dengan Andin, sebelum itu Andin meminta agar sang supir taxi menunggunya.
"Terimakasih untuk hari ini." ujar Tika.
"Seharusnya aku yang berterimakasih, kau sampai rela menghabiskan separuh tabunganmu hanya untuk tampil beda di hari pernikahanku."
Tika langsung memeluk Andin, "Kau itu sahabat terbaikku, tidak ada istilah uang yang melebihi sahabat, jikapun anda percaya lah dia tidak benar-benar menganggap mu sebagai seorang sahabat."
Andin tersenyum haru, satu hal yang paling dia syukuri dari semua musibah yang menimpanya, yaitu memiliki sahabat baik dan tulus seperti Tika.
"Terimakasih Tik, sudah mau menjadi sahabatku. Ngomong-ngomong, ini kalung berlian yang tadi kau inginkan." ucap Andin sambil memberikan paper bag kecil yang berisi kalung berlian.
"Jangan bercanda Din, kau yang membelinya. Jadi kalung itu milikmu."
"Bukankah tadi kau mengatakan tidak ada yang lebih berharga dari persahabatan kita. Untuk kali ini, terima pemberian ku... Plis..."
__ADS_1
Tika terlihat dilema, perempuan itu sebenarnya ingin kembali menolaknya. Namun karena tidak ingin menyakiti perasaan sahabatnya pada akhirnya Tika menerimanya. "Terimakasih..."