
Andin menatap bangunan berlantai 20 di hadapannya, perempuan itu terlihat ragu ingin memasukinya atau tidak. Saat sedang mempertimbangkan suara dering ponsel tiba-tiba kembali terdengar.
Derttt... Dertt... Dertt... Derttt..
"Holo!" kata Andin saat sudah mengangkat telpon.
"Kau dimana Andin, kami semua sudah menunggumu sejak tadi..." teriak Tika dari sebrang telpon.
"Aku sudah sampai, Bimantara Sky Hotel bukan?" tanya Andin.
"Iyah, kami berada di lantai 20 nomor 28-!"
Tut..Tut..Tut.. Tut...
Belum sempat Tika menyelesaikan perkataanya sambungan telpon tiba-tiba terputus, Andin mengerutkan dahi.
"Halo..." ucapnya, namun tidak ada jawaban dari Tika, Andin mendengus kesal, dia lalu menatap ke layar ponselnya dan menemukan benda persegi panjang itu mati. "Sial! Kenapa harus habis bateri di saat seperti ini."
Andin terlihat bingung, tetapi pada akhirnya perempuan cantik berlesung pipit itu melanjutkan langkahnya. Mungkin dia akan menanyakan pada resepsionis pikirnya.
Sesampainya di lobi hotel, Andin langsung menghampiri meja resepsionis. "Permisi, saya ingin menanyakan seseorang yang sedang merayakan pesta ulang tahun atas nama Rosalina Putri." tanyanya dengan senyum manis.
"Tunggu sebenar yah, saya akan memeriksanya terlebih dahulu.." perempuan yang bekerja di balik meja itu mulai melihat daftar tamu hotel di komputernya, "Kamar atas nama Rosalina Putri berada di lantai 20 nomor 282."
"Baik, terimakasih..." Andin lalu berjalan menuju kearah lift, menekan tombol hingga pintu lift terbuka. Andin memasuki lift dan kembali menekan tombol 20, selang beberapa saat kemudian pintu lift kembali tertutup dan mulai berjalan.
__ADS_1
Ting!
Pintu lift terbuka, Andin berjalan menelusuri lorong kamar hotel, perempuan cantik itu melihat-lihat angka yang tertera pada masing-masing pintu kamar. "Kamar nomor berapa tadi, aku lupa?" Andin menepuk jidatnya sendiri.
"Ah! Kalau tidak salah kamar nomor 292." gumamnya pelan, Andin kembali melanjutkan langkahnya sesaat kemudian dia menemukan kamar nomor 292.
Andin mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar. "Apa aku salah kamar, haruskan aku kembali ke meja resepsionis untuk menanyakan lagi?" tanyanya pada diri sendiri. "Tidak, aku yakin ini kamar yang benar, mungkin mereka sedang menyalakan musik atau sejenisnya sehingga tidak bisa mendengar ketukan pintu ku."
Andin memegang kenop pintu, berharap pintu itu tidak terkunci. Karena jika terkunci dia harus kembali turun untuk meminta bantuan. Namun untungnya, pintu itu tidak terkunci. Andin membukanya secara perlahan, suasana hening segera menyambutnya ketika pintu itu terbuka lebar.
Perlahan Andin memberanikan diri memasuki kamar tersebut dengan sesekali menyebut nama Tika.
Ruangan kamar hotel tersebut begitu besar, terdapat dapur, ruang tamu, dan tiga kamar di dalamnya. "Kira-kira berapa banyak uang untuk menghabiskan satu malam di hotel ini." tanya Andin, "Tika.. Manager Lina..." ucapnya pelan, tetapi lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Ah sepetinya aku memang salah kamar..." Andin berniat keluar dari dalam kamar tersebut namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendengar suara rintihan seorang perempuan.
Seorang perempuan berparas cantik dengan rambut bergelombang terlihat tengah berlutut di hadapan seorang pria berparas tampan. Perempuan itu memasukan benda yang panjangnya sekitar 20 senti itu kedalam mulutnya.
Suara erangan pria menggema di dalam ruangan saat perempuan di bawahnya memaju mundurkan kepalanya. Sesekali pria tampan itu akan membelai lembut rambut panjang bergelombang itu. Desan lagi-lagi terdengar dengan diikuti suara erangan dari perempuan di bawahnya.
"Kau semakin pandai Baby..." Desis pria tampan itu. "Ahh! Terus, Iyah disini... Lebih cepat.. Lebih cepat... Ahkhhhh..." Pria dengan masih mengenakan stelan jas rapi itu mengerang cukup panjang ketika mencapai organisme nya.
"Bagaimana? Apa kau puas Lukas sayang.." ucap perempuan cantik itu sambil sesekali menjilat jari-jarinya sendiri.
"Selalu Baby, kau memang pandai jika dalam hal itu..." Lukas tersenyum puas, pria itu mengangkat tubuh perempuan tersebut dan membawanya kedalam kamar sebelum menidurinya tepat diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Come On, Lukas! Aku menginginkan mu... Sentuh aku, manjakan aku dengan milikmu..." Perempuan itu kembali menggoda Lukas dengan kata-kata serta erangannya.
Lukas tersenyum tipis, "Apapun untuk mu sayang..."
Lukas mendekat dan meraih bibir merah alami itu dan langsung **********. Kedua lidah saling bertemu dan menciptakan suara desahan yang menggoda. Setelah puas bermain-main dengan bibirnya, Lukas mulai melucuti pakaian perempuan yang kini terus mendesah dan memanggil namanya.
Hanya dalam waktu singkat, perempuan itu sudah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh sexi-nya. Lukas kemudian bermain-main di kedua gunung kembar yang terlihat kenyal itu, sedangkan jari-jarinya bermain dimilik perempuannya.
"Ahhkh! Lebih dalam baby, kau yang terbaik Lukas sayang.. Ahkkhh.. Iya disitu, lebih cepat... Lebih cepat..."
Tubuh perempuan itu menggeliat ketika jari-jari Lukas semakin keluar masuk pada miliknya. Hingga tak lama kemudian, suara erangan panjang terdengar seiring jari jemari Lukas berhenti bergerak. "Ahhkh!! Lukas sayang, kau yang terbaik..."
"Aku menginginkan milikmu baby Lukas..." Walaupun nafas perempuan itu masih terengah-engah tetapi hal tersebut tidak membuat birahinya menurut, kedua kakinya bermain-main dengan milik Lukas yang sejak tadi sudah mengeras.
"Maaf sayang, untuk kali ini aku tidak bisa-! Aku melupakan pengaman ku." Lukas turun dari ranjang sambil memasukan kembali miliknya ke dalam celana.
"Kau bisa mengeluarkannya didalam Luk..." desisnya sambil merengek manja.
"Terlalu beresiko, aku tidak ingin-! Lain kali kita akan bermain sepuasnya." Lukas tersenyum tipis lalu mendekat kearah perempuan berambut bergelombang itu dan mendaratkan ciuman di atas kepalanya. "Hari ini aku ada meeting, jika sudah sampai di kantor aku akan menghubungimu."
Lukas lalu mengambil ponsel miliknya yang berada di atas meja, kemudian berjalan keluar kamar. Namun ekspresi pria tampan itu mengerutkan dahi saat melihat perempuan berparas cantik dengan rambut lurus terurai panjang sebahu berada di dalam kamar hotelnya.
"Sepertinya saya salah masuk kamar-! Maafkan aku.." Perempuan itu menundukkan kepalanya, wajahnya sudah pucat pasif seolah tidak ada darah yang mengalir.
Lukas ingin mengatakan sesuatu namun mengurungkan niatnya, dia membiarkan gadis itu pergi dengan wajah yang merah merona.
__ADS_1
"Menarik..." Lukas tersenyum kecil.
#JanganLupaVote&Coment