
"Jadi begitu cara mereka untuk melengserkan posisiku." Juls tertawa kecil.
"Tuan muda Juls, apa yang sebaiknya kita lakukan?" tanya Sean.
"Aku akan menikah!" ucap Juls sambil menghela nafas panjang.
"Tuan muda, apa anda yakin? Tetapi..." Sean menghentikan ucapannya, pria tampan itu menggigit bibir bagian bawahnya kuat-kuat.
"Katakan saja, tidak perlu menahannya. Bukankah kau sudah terbiasa mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaanku."
"Saya tidak bermaksud tuan muda, hanya saja saya khawatir dengan calon istri anda nanti yang mungkin akan mengambil kesempatan dalam kesempitan, saya hanya takut dia berusaha mencari keuntungan dari anda." ucap Sean sebelum menundukkan kepala.
Juls kembali menghela nafas panjang, tatapan mata pria itu semakin dingin. "Aku mempekerjakan mu menjadi sekertaris sekaligus orang kepercayaan ku karena aku mengagumi kepintaran mu, tetapi masalah sepele seperti ini saya kau tidak becus mengurusnya."
"Sekali lagi saya minta maaf tuan muda Juls."
Juls berdecak kesal, pria itu menjalankan kursi rodanya mendekat kearah Sean yang langsung berniat membantunya. "Tidak perlu Sean, aku tidak selemah yang kau bayangkan."
Sean langsung menghentikan langkahnya setelah Juls berkata demikian, pria bule itu lagi-lagi menundukkan kepalnya.
__ADS_1
"Perkataan mu sebelumnya memang tepat, tidak ada ada yang benar-benar tulus mencintaiku dengan keadaan seperti ini sekalipun aku pemilik Bimantara Grup-! Maka dari itu aku ingin..."
Juls mulai menjelaskan rencananya yang akan menikah kontrak dengan seorang perempuan yang bisa dia kendalikan. Pernikahan itu akan berakhir setelah dirinya mendapatkan keturunan, Juls akan mengambil hak asuh dan memberikan istrinya itu sejumlah uang yang cukup besar dengan satu syarat, yaitu setelah anaknya lahir dia tidak di perbolehkan untuk bertemu.
Mendengar rencana gila Juls membuat Sean menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Tuan muda, aku tidak yakin ada perempuan yang seperti itu-! Maksudku, tidak ada satupun seorang Ibu yang ingin berpisah dengan anak kandungnya."
"Aku sudah sejauh ini mejelaskan tetapi kau masih tidak mengerti." ucap Juls seraya kembali berdecak kesal yang membuat Sean menjadi salah tingkah.
Juls kembali menjelaskan mengenai rencana gilanya, terutama bagian isi kontrak yang harus di tanda tangani oleh kedua pihak dan yang terpenting sah secara hukum.
"Apa semua itu akan baik-baik saja?" tanya Sean yang merasa tidak yakin.
"Lalu bagaimana cara kita mencari perempuan yang sesuai dengan kriteria anda dan terutama bisa kita kendalikan?"
Juls tertawa kecil, "Itu mudah, kau hanya perlu mencari perempuan yang cukup cantik yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Karena dengan itu kita bisa lebih mudah menjalin kontrak dengannya."
"Sepertinya itu bukan ide yang buruk..." ucap Sean, pria tampan itu menundukkan kepala hormat, "Kalau begitu saya akan berusaha mencari perempuan itu..."
"Bagus, aku mempercayakan semua ini kepadamu Sean. Jangan pernah kecewakan aku."
__ADS_1
****
Andin menatap kosong hamparan kota Jakarta di hadapannya, lebih tepatnya perempuan cantik itu tengah melamun. Dia sedang memikirkan biaya pengobatan Ibunya yang harus dia lunasi, beberapa saat yang lalu Andin mendatangi meja administrasi rumah sakit tempat Ibunya di rawat.
Jantung Andin hampir copot saat melihat nominal yang tertera disana. Setidaknya dia harus membayar sebesar 50 juta lebih, itupun belum termasuk biaya menginap dan obat-obatan.
Andin menatap ke layar ponselnya yang menunjukan jumlah tabungan yang dia miliki, hanya ada sekitar 10 juta lebih. Perempuan cantik itu menghela nafas panjang. "Kemana lagi aku harus mencarinya..."
Kepala Andin terasa sakit, dia memijit pelan kepalanya sambil berpikir cara tercepat untuk mendapatkan uang 50 juta. Andin tak memiliki sahabat detak atau kerabat yang bisa dia pinjami, sejauh yang bisa dirinya ingat sejak kecil dia hanya tinggal bersama Ibunya, Andin bahkan tidak mengetahui keluarga besar Ayah dan Ibunya.
Sebenarnya Andin ingin meminjam uang di bank tempat dirinya bekerja, tetapi dia tidak memiliki jaminan apapun untuk di serahkan pada pihak bank.
"Tuhan, kenapa engkau begitu jahat kepadaku. Selama ini aku berusaha sabar, tetapi cobaan yang engkau berikan kali ini melebihi batas kemampuanku." ucap Andin lirih seraya menatap langit sore.
Andin ingin menangis dan berteriak sekencang mungkin, tetapi entah kenapa kali ini air matanya tidak mau keluar, mungkin air matanya sudah kering karena terlalu banyak menangis.
"Apa aku harus menjual tubuh dan keperawanan ku untuk mendapatkan sejumlah uang?" Gumamnya pelan, entah kenapa pikiran itu tiba-tiba terlintas di kepalnya.
Sejak memasuki masa puber Andin memang tidak pernah berkencan dengan siapapun karena dirinya terlalu sibuk bekerja. Hal itu menyebabkan sampai sekarang dia masih mempertahankan keperawanan dan kesucian tubuhnya.
__ADS_1
Andin dengan cepat menggelengkan kepalanya, mengusir jauh-jauh pikiran tidak masuk akal tersebut. "Sesusah apapun aku, aku tidak boleh menjual tubuh hanya karena beberapa lembar kertas yang tidak memiliki nilai lebih."