
Suasana pesta pernikahan Juls dan Andin begitu meriah, banyak awak media yang meliput acara tersebut hingga membuatnya menjadi Headline di semua sosial media dan tv.
Juls sudah berdiri di depan altar bersama dengan Sean, di hadapan keduanya seorang pendeta berdiri. Ketiganya tengah menunggu mempelai wanita yang sedang bersiap.
Di belakang altar pernikahan terdapat ratusan meja yang tertata rapi, salah satu meja di isi oleh Lukas dan Ibunya yang mengenakan pakaian mewah. Tak lama kemudian Amelia datang dengan ekspresi kesal.
"Apa kau sudah melihat saudari ipar mu?"
"Sudah, dia sungguh menyebalkan. Perempuan miskin itu berani menantang ku dan melakukan perang terbuka." ucap Amelia sambil mendengus kesal.
"Tenang saja sayang, kita semua tahu jika pernikahan ini hanya formalitas agar pria cacat itu dapat mempertahankan hak warisnya."
Lukas yang mendengar percakapan itu berdecak kesal, dia sama sekali tidak peduli. Apapun yang akan di lakukan oleh Ibu dan Adiknya nanti kepada calon iparnya Lukas tidak akan ikut campur. Pria tampan itu sudah memiliki agendanya sendiri setelah acara pernikahan tersebut, selain memperkuat posisinya di perusahaan dia juga akan memikirkan cara untuk menyingkirkan Juls.
Bertepatan dengan itu pintu besar yang berada di belakang para tamu undangan terbuka lebar dan menampilkan perempuan berparas cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih. Perempuan itu tersenyum manis sambil terus menatap kearah depan.
Disisi kanannya terdapat Tika yang menemaninya menuju altar pernikahan. Sepanjang jalan, kelopak bunga mawar bertaburan di atas kepala Andin.
Para tamu undangan menatap kearah Andin, ada yang terkesima akan kecantikannya ada juga yang menatap sinis kearahnya, terutama para perempuan yang dengan terang-tengan memberi tatapan tidak suka.
Andin yang menyadari semua tatapan itu tidak memperdulikannya. Dia terus berjalan tanpa menoleh ke sisi kanan atau kirinya.
Disisi lain, jantung Lukas berhenti berdetak saat melihat calon iparnya adalah Andin, perempuan yang beberapa waktu terakhir berhasil mencuri perhatiannya. "Tidak mungkin, bagaimana bisa..." ucap Lukas.
Melihat ekspresi Kakaknya, Amelia mengerutkan dahi, "Ada apa dengan mu?"
"Perempuan itu, benarkan dia yang akan menjadi calon istri Juls?" tanya Lukas dengan suara pelan.
__ADS_1
"Tentu saja, kau pikir siapa lagi disini yang mengenakan gaun pengantin." Amelia menatap heran sebelum mendengus kesal.
Tanpa sadar Lukas mengepalkan kedua tangannya, pandangan pria tampan itu terus menatap Andin yang semakin mendekat kearah Juls.
Tidak jauh dari meja Lukas, Rey beserta keluarganya juga menatap kearah Andin. Dokter muda itu menunjukan ekspresi sedih sekaligus kecewa dalam waktu yang bersamaan.
"Bukankah perempuan itu yang sering kau ceritakan." Seorang gadis berusia belasan tau dengan balutan dress merah berbisik pelan pada Rey.
"Benar, sampai sekarang aku tidak percaya jika dia akan menikah terutama dengan sahabatku sendiri." ucap Rey sambil tersenyum kecut.
"Salahmu sendiri, kenapa kau tidak terus terang jika kau menyukainya." Gadis itu mendengus kesal sambil membuang muka.
Rey hanya tersenyum kecut sambil menghela nafas panjang. "Mungkin Tuhan tidak menakdirkan kita untuk bersama."
****
Jantung Juls berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihat penampilan Andin yang sangat cantik dengan balutan gaun pengantin.
Pendeta di hadapannya lalu memulai acara pernikahan, pria berusia senja itu memberi sedikit nasihat-nasihat sebelum mengucapkan janji suci pernikahan.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri baik dari segi agama maupun hukum." Suara tepuk tangan meluap di udara setelahnya.
Juls mencium kening Andin sambil tersenyum hangat.
Setelah acara inti selesai, acara lainnya satu persatu di gelar. Karena kondisi Juls yang berada di kursi roda, kedua pengantin hanya berdiam diri di sofa yang telah di sediakan dan membiarkan para tamu undangan yang mendatangi mereka.
Rey berserta keluarganya berjalan kearah Juls dan Andin, selain mengucapkan selamat Rey juga memberikan hadiah untuk keduanya.
__ADS_1
"Selamat untuk kalian berdua, semoga kalian akan menjadi keluarga bahagia sampai hari tua." Rey tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa sedih dan kecewanya.
Andin yang bisa melihat tatapan sedih Dokter Rey hanya menundukkan kepala. Jika di suruh memilih dia lebih baik menikah dengan Dokter tampan itu dari pada Juls, namun Andin tidak mengetahui apakah Dokter Rey memiliki perasaan yang sama atau tidak karena dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya.
Setelah Keluarga Rey, semakin banyak tamu undangan yang mendatangi dan mengucapkan selamat. Tidak sedikit dari mereka yang berfoto bersama.
Walaupun Juls tidak menyukainya tetapi pria tampan itu berusaha menahannya.
Saat giliran Lukas, Amelia dan Ibunya, ekspresi wajah Andin menunjukan keterkejutan yang luar biasa, dia tidak menyangka jika tuan muda Lukas yang di maksud adalah Lukas yang sama dengan pria yang dia kenal.
"Aku tidak menyangka kau akan menjadi saudari ipar ku." Lukas tersenyum tipis.
"Aku lebih tidak percaya jika dirimu adalah orang yang sama dengan tuan muda Lukas saudara tiri Juls." Andin tersenyum canggung.
"Ini hadiah yang kau pilih sendiri, ku harap kau menyukainya."
Andin terlihat ragu untuk menerima hadiah tersebut karena mengetahui harganya, namun karena Juls memberikan tatapan tajam mau tidak mau Andin menerima hadiah tersebut. "Terimakasih..."
"Tak masalah..."
Amelia menunjukan senyum terbaiknya, dia memeluk Andin seakan mereka sudah mengenal dekat terutama ketika semua awak media menyorot mereka. "Selamat atas pernikahannya Kakak Ipar..."
Andin menunjukan senyum terpaksa, "Terimakasih Adik ipar."
"Selamat atas kalian berdua..."
Tidak jauh berbeda dengan Amelia, Ibunya juga menunjukan sikap serupa yang membuat Andin menghela nafas kecil. "Terimakasih Ibu..."
__ADS_1
#Note
Maaf Baru Up, beberapa hari terakhir sibuk di Real Life.