
"Kenapa aku bisa salah masuk kamar?" Wajah Andin tak henti-henti merona, perempuan cantik itu terus mengutuk atas kebodohannya sendiri. Setelah keluar dari kamar tersebut, Andin berpapasan dengan Tika, rekan kerja sekaligus sahabat baiknya.
"Astaga Din, kau kemana saja? Acara hampir selesai dan kau baru menunjukan batang hidungmu." pekik Tika kesal.
Andin hanya tersenyum tipis, "Maaf, tadi ada sedikit kecelakaan..."
"Kecelakaan? Tapi kau baik-baik saja bukan, apa ada yang lecet, apa perlu kita kerumah sakit sekarang?" tanya Tika panik, perempuan manis berambut sebahu itu memutar tubuh Andin untuk memastikan jika sahabatnya itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Bukan kecelakaan seperti itu. Ah! Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya." ucap Andin kesal.
"Untung kau baik-baik saja. Ayo masuk, yang lain sudah nungguin." ajak Tika sambil menarik tangan Andin, keduanya lalu berjalan ke salah satu kamar dan segera memasukinya.
Suara musik dan suasana meriah langsung menyambut Andin ketika pintu kamar hotel itu terbuka, belasan rekan kerjanya terlihat sedang berjoged ria sambil sesekali tertawa kecil. "Apa Manager Lina mengundang semua pegawai kantor?"
"Tentu saja tidak, kau pikir singa betina itu ingin acara ulang tahunnya di datangi oleh OB dan Satpam kantor?" bisik Tika pelan dengan diiringi tawa kecil.
Andin tersenyum canggung, Manager Lina sangat terkenal akan kehidupan glamornya. Dia hanya ingin dekat dan berteman dengan orang-orang yang menurutnya cocok saja, namun di balik semua itu banyak rumor miring tentangnya, salah satunya adalah Manager Lina suka bergonta-ganti pria walaupun dia sudah berkeluarga.
"Manager Lina, Happy Birthday! Semoga anda panjang umur dan selat selalu..." Andin mengucapkan selamat, "Usia anda semakin bertambah tetapi kecantikan anda tidak memudar. Kalau boleh tau apa rahasianya." ucap Andin berbasa-basi.
__ADS_1
"Hahaha! Kau bisa saja Andin, saya memang di takdirkan untuk tetap cantik. Tidak ada perawatan khusus sama sekali."
Mendengar kepercayaan diri Managernya membuat Andin memutar bola matanya malas, 'Ooh~ Ayolah! Aku hanya berbasa-basi, kau pikir dirimu secantik itu? Hah, sudah tua tapi lupa sama umur sendiri.' ucap Andin dalam hati.
"Silahkan di nikmati pestanya, jangan sungkan. Saya juga membawa beberapa teman pria yang masih sendiri, mungkin salah satu dari mereka ada yang menarik perhatianmu."
Andin hanya mengangguk, perempuan cantik itu lalu berjalan meninggalkan Manager Lina yang masih terus berjoged dengan beberapa pria bertubuh kekar yang tidak lain adalah rekan-rekan kerjanya.
"Jika dia bukan atasan ku, aku tidak akan sudah mendatangi pesta ini." ucap Andin seraya mendengus kesal.
"Kau benar, aku sudah muak melihat ini sejak tadi." Tika ikut menambahkan, keduanya larut dalam obrolan kecil tanpa memperdulikan pesta yang semakin meriah.
"Perempuan ini lumayan cantik, tetapi dia terlihat seperti tipe gadis pemberontak dan suka membantah! Apa kau yakin tidak salah memilihkan calon untuk ku?" Juls menatap iPad yang menampilkan foto seorang perempuan berparas cantik dengan senyum manis yang di hiasi dua lubang kecil di pipinya.
"Saya yakin tuan muda jika Nona Andin adalah perempuan yang tepat untuk menikah dengan anda. Selain cantik, dia juga seseorang yang pekerja keras..."
Sean kemudian menceritakan tentang latar belakang kehidupan Andin, dimulai dari Ibunya yang sedang koma dan dirawat di rumah sakit, hingga pekerjaan, masa lalu serta yang lainnya.
Juls yang semula tidak tertarik perlahan menunjukan ketertarikan, senyum pria tampan itu terlihat berbeda dari sebelumnya. "Aku sudah lama tidak bermain-main dengan wanitaku, sepertinya dia wanita yang cocok."
__ADS_1
Sean yang mengetahui arah pembicaraan Juls tidak berkomentar, bule tampan itu lalu menjelaskan tentang perkembangan Perusahaan Bimantara Grup. Beberapa hari yang lalu, salah satu proyek yang sebelumnya gagal di dapatkan oleh Bimantara Grup sekarang berada di bawah naungannya. Saat ini Lukas sedang mengadakan Konferensi pers dengan beberapa media ternama mengenai proyek tersebut.
"Hm! Sepertinya pria iblis itu menikmati jabatannya sekarang seolah aku sudah mati." Juls tersenyum sinis.
Ketika Sean ingin mengatakan sesuatu, suara ketukan pintu dari luar kamar Juls menghentikan percakapan keduanya. Seorang wanita berusia sekitar 40 tahun awal memasuki kamar Juls sebelum memberi hormat, "Tuan muda, makan malam sudah siap. Nyonya besar sudah menunggu anda di meja makan bersama Nona Lisa."
"Nyonya Besar-! Apa kau sedang bercanda. Apa yang membuat dia berpikir bisa satu meja makan denganku, dia hanya selingkuhan Ayahku yang berharap menjadi Nyonya besar Keluarga Bimantara." ucap Juls dengan ketus, "Katakan pada rubah tua itu untuk tidak bersikap manis kepadaku, aku mengetahui kebusukannya yang ingin ngambil alih seluruh aset Keluarga Bimantara."
Mendengar hal itu, wanita tua itu tidak berusaha membujuk Juls. Sebagai seseorang yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun di kediaman Keluarga Bimantara, jelas dia mengetahui semua yang terjadi, sebenarnya wanita itu mengetahui jika tuan muda Juls akan menolak gagasan tersebut, tetapi dia tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Nyonya besarnya.
"Saya akan meminta beberapa pelayan untuk menyiapkan makan malam anda tuan muda." wanita itu memberi hormat sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar Juls.
Sesampainya di lantai bawah, dia memberitahukan kepada Nyonya Besarnya jika tuan muda Juls tidak ingin makan malam bersama keduanya. Mendengar hal itu kedua wanita yang memiliki perbedaan umur itu mendengus kesal.
"Si cacat itu-! Sejak dulu tidak pernah berubah, masih keras kepala dan arogan walaupun aku sudah menikah secara sah dengan Ayahnya."
"Bu, kau harus melakukan sesuatu. Pria cacat itu pasti sedang merencanakan untuk mengusir kita dari rumah ini." Perempuan cantik yang mengenakan dress merah mendengus kesal.
"Bersabarlah sayang, ketika Kakakmu berhasil mengambil alih seluruh aset Keluarga Bimantara, kita akan mengusir si cacat itu dari rumah ini."
__ADS_1