
Selama di perjalanan Andin dan Dokter Rey hanya berbicara seperlunya, keduanya masih terlihat canggung walaupun sudah mengenal cukup lama.
Mobil mewah berwarna hitam dengan hanya memiliki 2 pintu itu memecah jalanan Ibukota, suasana malam pada saat itu bisa di bilang cukup sepi sehingga perjalanan mereka tidak memiliki hambatan.
Sekitar 30 menit kemudian mobil tersebut memasuki sebuah kawasan rumah susun yang berada di pinggiran kota Jakarta.
"Sekali lagi, terimakasih untuk tumpangannya..." ucap Andin sambil tersenyum manis.
"Tak masalah, lagi pula kita searah." Dokter Rey membalas senyum Andin, "Selamat malam, jangan lupa kunjungi Ibumu setelah pulang bekerja."
Senyum Andin semakin lebar, perempuan cantik itu mengangkat tangan kanannya hormat. "Siap Dokter Rey..."
Setelah berkata demikian Andin membuka pintu dan keluar dari mobil mewah tersebut, sesaat setelah itu Dokter Rey membuka jendela. "Jika kau membutuhkan tempat untuk curhat atau sekedar teman berbicara, tidak perlu sungkan untuk menghubungiku."
Andin hanya tersenyum tipis menanggapinya, dia melambaikan tangan saat mobil Dokter Rey kembali berjalan.
Senyum yang semula menghiasi wajah cantik Andin perlahan mulai memudar seiring menghilangnya mobil Dokter Rey di kejauhan. "Aku tidak ingin terlalu berharap-! Tetapi sikapmu kepadaku entah kenapa seakan-akan kau menyukai ku." ucapnya bergumam pelan.
Andin merasa perlakukan Dokter Rey kepadanya lebih dari sekedar dokter dan keluarga pasien, perhatian kecil yang selalu di berikan untuk perempuan berlesung pipit itu selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Tatapan mata yang teduh serta senyum hangatnya membuat perasaan nyaman mulai timbul di hati Andin, dengan cepat perempuan cantik itu menggelengkan kepalnya, membuyarkan lamunan yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Tidak ingin larut dalam imajinasi liarnya Andin kemudian berjalan kearah bangunan berlantai 20 di belakangnya.
__ADS_1
****
Di sebuah mansion mewah, terlihat seorang pria berparas tampan yang tengah duduk diatas kursi roda, tatapan mata pria itu kosong memandang langit malam yang berhiaskan rembulan.
Sesekali akan terdengar helaan nafas panjang sambil memasang ekspresi sedih, kedua tangannya menyatu menopang dagu dengan rahang kokoh diatasnya.
"Tuan muda Juls, ini sudah saatnya anda tidur..." ucap seorang pria berusia sekitar 30 tahun awal yang mengenakan stelan jas mewah berwarna hitam.
Julian Alfajri Bimantara atau yang lebih akrab di panggil Juls, pria berusia 27 tahun itu tidak memperdulikan ucapan yang baru saja di lontarkan oleh pria yang ada di belakangnya.
"Beri aku waktu 5 menit lagi Sean, cuaca malam ini sedang sangat bagus..." suara dingin namun terkesan tegas dan berwibawa pada saat bersamaan itu terdengar menggema memenuhi ruangan.
"Tapi Dokter menyarankan agar anda tidak tidur terlalu larut, itu akan mempengaruhi kondisi kesehatan anda."
"Bagaimana kondisi perusahaan Sean? Kau belum memberi laporan mengenai perusahaan hari ini, apakah pria Iblis berwajah malaikat itu mengurusnya dengan benar?"
"Tuan Lukas bekerja dengan sangat baik, perusahaan masih dalam keadaan stabil.." ucap Sean, pria berdarah blasteran Indonesia-amerika itu kemudian menjelaskan tentang rincian Perusahaan Bimantara Grup selama beberapa hari terakhir. "Tetapi, saya menemukan sedikit masalah... Ini mengenai Tuan Lukas yang sedang membangun pengaruh untuk menggulingkan anda dari jabatan CEO sekaligus pemilik dari Bimantara Grup."
Sean kembali menjelaskan jika 3 bulan terakhir Lukas melakukan pertemuan rahasia dengan beberapa pemilik saham tertinggi Bimantara Grup. "Saya yakin ini berkaitan dengan kondisi anda, tuan muda." ucapnya seraya menundukkan kepala.
Mendengar hal itu Juls tertawa kecil, "Rubah itu ingin bermain-main dengan ku? Apa dia tidak sadar akan posisinya. Urus Bedebah sialan itu sebelum dia bertindak lebih jauh."
__ADS_1
"Tuan muda Juls, situasinya tidak sesederhana itu. Menurut informasi yang saya dapatkan, beberapa direksi dan pemegang saham mulai membicarakan mengenai pencopotan anda sebagai CEO Bimantara Grup."
Juls meremas tangannya kuat-kuat, tatapannya menjadi lebih dingin dari sebelumnya serta raut wajahnya menunjukan kemarahan yang amat besar. "Para lintah darat itu lagi, aku sudah menduganya, hanya saja aku tidak menyangka mereka akan menyerang ku di saat kondisiku seperti ini."
Sekitar 1 tahun yang lalu Juls mengalami kecelakaan hebat yang hampir menghilangkan nyawanya, andaikan tuhan tidak memberinya kesempatan mungkin saat ini dirinya sudah berada di peti mati.
Walaupun selamat dari kecelakaan maut tersebut, tetapi itu tidak membuat kondisinya menjadi seperti sedia kala. Juls harus rela saat dokter mendiagnosis jika dirinya lumpuh secara permanen.
Pada awalnya Juls beranggapan semuanya akan baik-baik saja. Tetapi nyatanya semua tidak sesederhana itu, banyak musuh yang sebelumnya bersembunyi kini menunjukan diri, mereka mulai bergerak saat mengetahui kondisi Juls yang lemah tidak berdaya.
Andaikan tanpa bantuan Sean, mungkin saat ini Juls sudah meregang nyawa dan perusahaan Bimantara Grup yang sudah susah payah di bangun oleh mendiang Ayahnya akan hancur lebur.
"Tentu saja tuan muda, mereka akan bergerak jika ada kesempatan sekecil apapun."
"Lalu apa yang mereka katakan?" tanya Juls sambil menghela nafas panjang.
"Mereka ingin anda di gantikan, atau perusahaan Bimantara Grup akan beralih kepemilikan yang baru."
"Bukankah ini sesuai dengan rencana Bedebah sialan itu?" Juls yakin masalah ini 99% berkaitan dengan saudara tirinya yaitu Lucas yang sejak awal ingin menguasai seluruh aset Bimantara Grup.
Sean mengangguk pelan, "Tetapi beberapa petinggi saham masih mempertimbangkan masalah ini, mereka ingin memberi anda kesempatan."
__ADS_1
"Tidak ada yang gratis di dunia ini, apa yang mereka inginkan?"
"Mereka ingin anda untuk secepatnya menikah dan memiliki keturunan agar semua saham yang anda miliki dapat di wariskan kepada keturunan anda. Mereka mengatakan Ini satu-satunya cara."