
Penampilan? OK. Wajah? Cantik. Karir? Luar biasa. Masa depan? Terjamin. Jodoh? Masih loading 35%.
Yaps! Itulah yang terlihat di mata orang lain, tentangku si gadis pekerja keras di kota metropolitan. Ku pikir semuanya akan berjalan seperti keinginanku, sesuai dengan rencanaku, tetapi nyatanya tidak.
Hai, namaku Divyanka. Sebut saja Divy, begitu biasanya teman-teman kantor, kuliah, dan sekolah memanggilku. Tetapi tidak dengan keluargaku, mereka memanggilku Yaya. Aduh, nama bagus-bagus, dipotong jadi gitu. Divyanka, artinya adalah anugerah Tuhan. Papa memberiku nama itu, cukup sekata tetapi penuh makna. Karena Papa dan Mama butuh waktu 7 tahun menantikan kehadiranku di dunia ini.
Sekarang aku masih berkutat di depan laptop, dengan tangan kananku sibuk menggerakan mouse, dan tangan kiriku standby pada keyboard. Dengan mata yang terus fokus ke layar, sembari sesekali melirik kertas di atas meja kerja. Saat ini aku sedang mengerjakan proyek pembangunan kawasan komersial di pinggir kota yang sedang berkembang pesat.
"Div, nggak balik lo?"
Sebuah suara yang terdengar dari depan pintu ruang kerja membuatku sedikit bergeming. Ku lirik dengan ujung mataku ke arah suara, tepat di sana berdiri rekan kerjaku yang juga berada dalam proyek yang sama. Rasanya begitu enggan menanggapi, tetapi aku harus. Ah, sungguh interaksi yang melelahkan ketika berbasa-basi seperti sekarang.
"Dikit lagi, gue masih re-check desain struktur dasar tower A. Lo sudah mau balik?"
Deden berjalan ke arah sofa di ruang kerjaku, dan ku tahu pasti dia berencana untuk mengawasiku bekerja. Seriusan deh aku nggak suka banget kalau lagi kerja dipantengin kayak sekarang. Dia gabut apa gimana, sih? Menyebalkan.
"Gue tunggu lo kelar, deh. Biar pulang bareng aja kita."
Tuh, kan. Dia duduk, sok akrab, sok ngajak pulang bareng. Sungguh perbuatan yang tidak menyenangkan sodara-sodara. Bukannya aku nggak peka dengan maksud Deden, tetapi aku memang tidak berminat untuk memiliki hubungan yang lebih dari sekadar rekan kerja dengannya.
Bagaimana penampilan Deden? Mirip artis, tapi aku lupa siapa namanya. Tapi ganteng lah, putih, senyumnya manis, khas lelaki Sunda. Dan pastinya dia ramah ke siapa saja, tetapi sayangnya aku sama sekali tidak berminat.
"Lo balik duluan aja. Gue nanti naik busway aja, atau naik kereta," tolakku masih sopan, ku rasa seperti itu.
__ADS_1
Ku hentikan kegiatanku, aku memposisikan dudukku menghadap Deden yang tampak berpikir. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku menolak ajakan pulang bersama Deden. Tetapi dia batu banget, usaha terus tanpa kenal lelah untuk mendapatkan hati seorang Divyanka. Sombong? Ya nggak apa-apa lah. Kan aku mensyukuri karunia Tuhan atas penciptaan diriku.
"Padahal gue ada yang mau diomongin."
"Kalau perihal perasaan lo, gue nggak mau dengar lagi, ya, Den. Sudah cukup."
"Itu salah satunya, tapi gue tahu lo nggak bakalan mau. Jadi ini gue mau nawarin kerjaan desain kost yang konsepnya nature gitu."
Nah! Yang begini aku suka, seriusan suka banget. Kerja is the number one selagi jodoh masih loading 35%. "Kenapa nggak lo aja yang ambil?" tanyaku basa-basi, padahal dalam hati aku mau teriak kegirangan.
"Gue sudah ambil job lain, nggak bisa pegang yang ini. Orangnya butuh cepet, lo mau atau nggak?"
"Berapa lantai? Lahannya gede, nggak?"
Aku hanya mengajungkan kedua jempol ke depan wajah, tentu saja dengan senyum yang lebar. Kalau cuma ngebahas kerjaan kan nggak perlu pulang bareng, ya? Dasar Deden, suka mencari kesempatan dalam keadaan.
"Lo kalau bahas kerjaan aja, excited banget. Kalau gue ajak jalan nolak mulu."
Eh, kenapa mengeluh, Den? Kan sudah tahu keadaannya, AKU TIDAK BERMINAT! Gumamku dalam hati.
"Ya sudah, gue balik dulu. Lo langsung balik aja, Div. Jangan sampai drop, kalau lo drop, kita kekurangan orang," ucap Deden sembari berdiri dari posisi duduknya.
Akhirnya, Deden pergi juga dari ruang kerjaku setelah kuangguki. Sepertinya aku harus segera menyelesaikan proses pemeriksaan ulang desain struktur dasar ini, dan kemudian pergi ke coffee shop untuk online di aplikasi pencari jodoh.
__ADS_1
Terdengar aneh memang, seperti pepatah lama yang mengatakan gajah di pelupuk mata tak tampak. Tetapi semut di seberang lautan tampak. Sebenarnya ini pepatah tentang aib orang dan aib kita sendiri. Tetapi tidak masalah ya kalau aku pakai untuk kondisiku sekarang ini. Ibaratnya nih si Deden itu gajahnya. Nah, si semutnya ini belum jelas siapa.
Aku lebih memilih untuk membuka peluang untuk orang baru masuk ke dalam hidupku, daripada orang lama yang sudah ada. Karena pernah dulu sekali aku menjalin hubungan cinta dengan orang lama. Atau lebih tepatnya teman, tetapi ketika hubungan percintaan tidak berjalan lancar maka semuanya hancur. Hubungan yang dulunya baik, jadi tidak baik. Bahkan bertemu pun rasanya sangat canggung, rasanya aku ingin tenggalam saja di lautan. Atau menjadi buih seperti putri duyung.
Ku lirik ponsel di atas meja, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan artinya aku sudah harus pulang, harus makan, mandi, dan ibadah. Kata Papa, "Yaya, kalau sibuk mengejar dunia tidak akan ada habisnya. Waktu kamu akan habis, amal kamu kosong. Sia-sia."
Ah, jadi rindu rumah yang kalau ke sana harus naik pesawat dulu. Kampung halamanku di sebuah pulau yang menjadi paru-paru dunia. Kalau katanya beberapa oknum dulu ketika ibu kota negara akan dipindahkan ke sana, kampung halamanku dikatai mereka dengan sebutan tempat jin buang anak. Pasti mereka belum pernah menginjakkan kakinya di pulau yang dimiliki oleh 3 negara, deh. Haih, katrok dasar!
"Pulang. Ihiy! Malam ini kita menjelajah dunia maya lagi, bule atau lokal, ya? Galau Yaya."
Bermonolog sepertinya sudah menjadi kebiasaanku, bahkan terkadang aku akan bertanya dan menjawab sendiri pertanyaanku. Agak aneh memang, ya, tapi itulah aku dengan keunikanku.
Hampir lupa. Sejak tadi aku tidak mencirikan diriku ini, dan apa pekerjaanku, ya. Tubuhku tidak begitu tinggi, dengan kulit cerah kemerahan. Mataku kecil, dibingkai dengan alis tebal yang semakin mempertegas bentuk wajahku. Bibirku sedikit tebal, tetapi kecil karena terjepit pipiku yang cubby. Tetapi kata orang, aku terlihat manis saat tersenyum. Karena memiliki gigi gingsul, yang kalau di Jepang orang rela melakukan operasi agar terlihat menggemaskan.
Hari ini aku hanya mengenakan celana jeans belel, dan kemeja flanel. Tidak lupa sneaker yang semakin menampakkan kesan tomboy. Rambut hitam panjangku hanya ku cepol tinggi sedikit asal, atau lebih tepatnya memang asal. Berpenampilan sedikit berantakan sepertinya memang seru, apalagi kacamata dengan model vintage yang ku pakai sekarang. Beuh. Sudahlah. Divyanka memang paling keren.
Setelah memastikan laptop mati dan masuk ke dalam ransel, beserta semua perangkat penunjang pekerjaanku beres. Aku segera berjalan meninggalkan ruangan menuju mesin absensi, memastikan aku sudah pulang agar gaji tidak dipotong. Sebagai seorang arsitek yang juga karyawan, aku tetap harus mengikuti prosedur yang ada. Tidak bisa selonong girl, yang capcus menghilang.
Ting!
"Hello."
Pemberitahuan pesan masuk di salah satu aplikasi pesan singkat yang ada di ponselku. Eits. Ini bukan aplikasi pencari jodoh, tapi kok bisa ada kontak tidak dikenal kirim pesan? Siapa, ya?
__ADS_1