Download Jodoh

Download Jodoh
Bab 13


__ADS_3

Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi. Heyak... Yaya hari ini malas nyetir di tengah padatnya jalanan ibu kota. Jadi sejak selesai melakukan ibadah subuh, aku sudah bersiap untuk berangkat ke kantor dengan menggunakan bus. Lumayan bisa tidur di jalan, itupun kalau nggak kelewatan dari rute yang seharusnya. Karena tidur di angkutan umum sepertinya sudah menjadi kebiasaan burukku yang sangat disayangkan oleh keluarga dan orang-orang terdekatku.


Pernah dulu sekali di kota asalku, aku pulang bekerja sore hari dan rasanya begitu lelah. Karena kebetulan sekali takdir memaksaku untuk tidak bisa mengendari kendaraan beroda dua, alias sepeda motor dan sejenisnya. Papa tidak bisa menjemputku, adikku juga tidak bisa, dan keluarga kami tidak memiliki sopir. Akhirnya aku menggunakan jasa angkutan kota untuk pergi dan pulang kerja. Tetapi karena rasa kantuk yang tidak bisa dibendung, akhirnya aku tertidur di angkot.


Sebenarnya ini bukan kejadian pertama, tetapi kali ini cukup parah karena angkot yang ku tumpangi telah lewat jauh dari area tempat tinggalku. Dan karena aku adalah orang Indonesia, selalu ada kata 'untung' di balik ketidak beruntungan. Untung saja aku terbangun ketika angkot tersebut melewati area kerabatku yang lain tinggal. Sehingga ku putuskan untuk turun di sana, dan meminta salah seorang kerabatku mengantarkan hingga sampai di rumah.


"Mari kita dengarkan lagu India untuk pagi ini," ucapku sangat pelan ketika memasang earphone di telingaku.


Aku sengaja menggunakan earphone dengan kabel yang langsung terhubung ke ponsel. Tujuannya adalah agar tidak ada orang yang sengaja mengajakku untuk ngobrol atau berkenalan sepanjang perjalanan. Aku merasa kurang nyaman dengan situasi seperti itu, dan rasanya terlalu asing.


Untuk kesekian kalinya ponselku berdenting pada pagi hari ini, menampilkan pesan pop-up yang sama sekali enggan untuk ku buka. Dengan jempolku yang tidak kecil ini ku geser pesan itu, sehingga menghilang dari peredaran mata. Karena hari ini aku butuh konsentrasi tinggi, aku tidak ingin diganggu dengan perasaan-perasaan yang nantinya hanya akan merugikan. Terutama jika perasaan itu bisa membuat karirku terhambat.


"Materi presentasi sudah disiapin Deden dan Baby. Terus aku sudah mempelajarinya kemarin, tapi daripada nanti kacau. Pelajari lagi aja, lah," ucapku sembari mengeluarkan tablet dari ransel yang sejak tadi ku letakkan di pangkuan.


Orang awam berpikir jika kami para arsitek hanya menggambar saja, dan tidak memperhitungkan mekanisme di lapangan. Mungkin jika tugas kami hanya mendesain saja, sesuai dengan permintaan klien, bisa jadi seperti itu. Tetapi pada kenyataannya kami juga dituntut untuk paham dan mengerti mekanisme teknik sipilnya di lapangan. Membuatku harus banyak belajar, dan mentorku untuk teknik sipil adalah Deden.


Yaps! Aku memanfaatkannya sebagai tutor gratis, karena jurusan kami ketika kuliah berbeda. Untung dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Karena Deden kurang bisa profesional, meski hanya terkadang jika kami berurusan dengan klien muda dan tampan. Dia selalu merasa tersaingi, sedangkan akunya bodo amat. Karena nggak pasti juga itu klien naksir aku yang berpakaiannya terlalu casual dan cuek ini.


Baru beberapa menit aku membaca ulang materi presentasi, bus yang ku tumpangi telah berhenti di depan hatle tidak jauh dari gedung perkantoran tempatku bekerja. Aku segera merapikan kembali barang bawaanku dan bersiap untuk turun. Ketika ku dengar suara gaib tepat di belakang telingaku.


"Yaya..."


...----------------...

__ADS_1


"Untuk proyek kali ini, perusahaan kami juga bekerja sama dengan Plumber bersertifikasi. Sehingga sudah dapat dipastikan desain yang kami buat untuk bangunan Hotel The Cloud Garden aman untuk instalasi air bersih, air kotor, dan pembuangannya. Kami juga akan menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk pengurusan IPAL. Seperti kesepakatan kedua belah pihak sebelumnya, dan ini adalah rencana instalasi air yang telah kami siapkan untuk diterapkan pada bangunan Hotel The Cloud Garden."


Aku menyerahkan beberapa lembaran desain yang telah diprint sebelum memasuki ruang meeting. Lidahku rasanya kelu harus berbicara panjang lebar seperti tadi. Tetapi demi pekerjaan dan niatku mengumpulkan dana umroh. Apapun rela ku lakukan selagi itu halal dan baik. Sepertinya aku mau mengambil sertifikasi Plumber yang pekerjaannya sering dianggap sebelah mata. Apa itu Plumber? Telinga orang kita masih belum terbiasa dengan istilah itu, tetapi mungkin sudah tahu dengan istilah tukang pipa.


Yaps! Plumber adalah nama lain dari tukang pipa, atau lebih tepatnya ahli perpipaan. Mereka tidak hanya dibutuhkan dalam pekerjaan bangunan, untuk instalasi perpipaannya. Tetapi mereka juga sangat dibutuhkan untuk pekerjaan besar seperti perpipaan pengeboran minyak, gas, dan perpipaan di perkapalan. Setidaknya itu yang cukup aku tahu. Sepertinya setelah ini aku harus berdiskusi dengan Mama, Papa, dan Adit untuk sertifikasi Plumber.


Wait! Tadi apa ku bilang? Adit?


O.M.G Hello...


Sejak kapan nama itu menjadi penentu atau bagian dari pertimbanganku dalam mengambil keputusan? Sejak kapan, Yaya Divyanka? Sejak kapan?


Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, sehingga membuat beberapa orang di ruangan yang sama denganku menatap bingung. Bahkan Pak Haikal, Direktur Proyek perusahaan menaikkan kedua alisnya sebagai bentuk pertanyaan atas aksiku tadi. Sedangkan aku yang bertingkah tidak biasa hanya bisa memberikan cengiranku. Sebuah cengiran tanpa dosa yang berhasil membuat klienku tersenyum dan berakhir membuatku salah tingkah.


"Bu Divy ini selalu saja lucu dan menggemaskan, ya," ucapnya yang membuatku tersedak liur sendiri.


"Itu laper, Div. Lo salah server," tegur Baby sembari memberiku tatapan mematikan.


"Eh, salah, ya?" tanyaku dengan wajah tidak tahu malu.


"Saya senang kalau dimakan Bu Divy," ucap klienku yang seperti mafia Jepang, tampan rupawan tidak terkira.


"Divy, kamu bercanda terus," tegur Pak Haikal berusaha menetralkan suasana, atau lebih tepatnya menyelamatkanku dari situasi yang mulai absurd ini.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Kita kembali ke desain yang baru saja saya serahkan, ya, Pak Marko," ucapku setelah meminta maaf kepada Pak Haikal dan kembali fokus dengan klien tampanku, Pak Marko Setiawan.


"Kami sudah percayakan proyek ini sepenuhnya untuk dikerjakan oleh Dharma Jaya. Papi saya sejak dulu juga sudah sangat percaya dengan kinerha Dharma Jaya, jadi tidak ada salahnya untuk saya sebagai putranya melanjutkan kerjasama yang pernah terjalin sebelum-sebelumnya," ucap Pak Marko dengan suara dalamnya yang berhasil membuatku dan Baby menatap penuh kagum.


"Ada bininya, cuy. Jangan ngadi-ngadi," tegur Deden melirik tajam ke arahku dan Baby.


"Apaan, sih, Lo? Kita cuma mengagumi, bukan berarti ingin memiliki," kesal Baby yang aktifitas fan girlingnya terganggu, dan aku hanya mengangguk setuju atas pernyataan Baby tadi.


"Desain interiornya apakah akan menggunakan jasa dari Dharma Jaya juga, Pak Marko?" tanya Pak Haikal sebelum menutup meeting kali ini.


Lelaki bermata sipit dengan rambut halus di sepanjang garis rahang itu diam, tampak sedang berpikir. Sampai kemudian dia bergerak, memposisikan tubuhnya sedikit condong ke depan. Menautkan jari jemarinya di atas meja, menatap lurus ke arah Pak Haikal yang sedang berusaha mendapatkan proyek baru untuk perusahaan tempatku bekerja.


"Apakah Dharma Jaya memiliki desainer interior yang sudah terverifikasi?" tanyanya yang membuat aku, Baby, dan Deden saling pandang.


Karena tidak ada satupun dari kami yang terverifikasi, tetapi hasil desain kami selama ini tidak pernah mengecewakan. Ah, sudahlah. Mungkin kali ini belum rezeki untuk Dharma Jaya mengerjakan desain interior untuk hotel dengan konsep garden villa ini.


"Sayangnya saat ini kami belum memiliki desainer interior yang terverifikasi atau bersertifikat. Tetapi sejauh ini desain interior yang dibuat oleh Divy dan Baby selalu memenuhi kepuasaan klien," jawab Pak Haikal yang sesekali melirik ke arahku dan Baby.


"Divy. Baby. Baiklah, mungkin saya bisa minta kalian berdua untuk mendesain ruang kerja dan kamar pribadi saya di hotel. Jika memenuhi ekspektasi, tidak menutup kemungkinan kita dapat bekerjasama untuk kesempatan berikutnya."


"Wah, terima kasih atas kesempatannya, Pak Marko. Divy, Baby, kalian tidak boleh mengecewakan Pak Marko untuk mendesain interior 2 ruangan ini," Pak Haikal tampak senang dan bersemangat mengucapkan setiap kata-katanya.


Mungkin ke depannya aku akan lebih sering mengambil pekerjaan desain interior daripada arsitektur. Karena sudah berulang kali Pak Haikal menumbalkanku dan Baby untuk mengerjakan semua ini. Seharusnya mereka menambah tenaga ahli untuk bidang ini. Meskipun kami mampu, tetapi tidak selamanya kami bisa membackup semua pekerjaan.

__ADS_1


"Bu Divy, for your information, I am single and without child," seketika itu juga pipiku terasa panas mendengar Pak Marko mengatakan itu.


Sepertinya lelaki tampan ini salah makan sesuatu ketika sarapan.


__ADS_2