Download Jodoh

Download Jodoh
Bab 3


__ADS_3

Aku yang biasanya tidak pernah takut berjalan sendirian dari tempat perhentian busway di dekat apartement ketika tidak mengendarai mobil. Tetapi kali ini rasanya berbeda, aku seorang diri di dalam lift saja rasanya begitu menakutkan. Ku tatap lamat-lamat penunjuk posisi lantai di mana aku berada sekarang, sambil berdoa dalam hati kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Itu kenapa seram banget, ya? Aduh," gumamku yang entah sudah berapa kali sejak memasuki lift.


Ku rogoh ponsel yang berada di saku celana, mencoba untuk membuka daftar panggilan di mana ada nama Lian di log teratas. Karena memang dialah yang menghubungiku terakhir kali, dengan cepat ku coba untuk menghubunginya. "Please, angkat. Please, angkat. Aku takut banget sekarang."


"Hey, kenapa? Takut kenapa?" terdengar sahutan dari seberang sana.


"Ada yang nguntit gue," jawabku dengan suara sedikit bergetar.


"Loh, dikuntit gimana? Dari tadi ada yang ngikutin lo?" tanya Lian terdengar khawatir.


Suara lift berdenting, menandakan jika aku telah berada di lantai yang ku tuju. Di mana unit apartemenku berada, hanya sebuah apartemen kecil dengan 2 kamar. Setiap kamar ku gunakan dengan semestinya, kamar tidur dan juga ruang kerja. "Bentar, gue baru nyampe." Aku memasukkan password pintu masuk unitku, setelahnya membersihkan layar tombol dengan kemeja flanelku.


"Lo tenangin diri dulu, ambil air hangat dan duduk tenang di sofa. Baru cerita."


"Coba aja gue tahu muka lo, gue pacaran deh," ucapku asal setelah meletakkan barang belanjaan di atas kitchen counter.


"Hmmmm... Banyak tuh yang nggak pernah ketemu dan tahu wajah tetapi menjalin hubungan."


"Dan itu nggak akan berhasil sama kita, Lian. Eh, ini ada yang chat gue tadi pas mau balik kantor, di apps ini. Tapi nggak gue tanggepin sama sekali, terus pas gue belanja di mini market lobby apartemen, dia chat lagi. Cuma ini dia kirimin foto gue di mini market."


Hening.

__ADS_1


"Lian! Lo masih di sana, kan?"


"Masih hidup gue. Cuma gue lagi mikir, dia dapat kontak lo dari mana? Sedangkan apps ini kan pakai user ID*."*


Aku tampak berpikir sejenak, iya, ya. Dapat darimana dia kontakku? Sedangkan aku tidak pernah membagikan kontak pribadiku di sosial media manapun, karena applikasi pesan singkat ini biasa aku gunakan untuk membahas pekerjaan kantor juga.


"Jangan bilang people nearby di akun lo ini masih aktif? Masih berpetualang, lo?"


"Eh, people nearby? Emang ada?"


"Yaya oh Yaya. Ada dong, kita kan kenalnya dari situ. Lo masih berpetualang dengan people nearby*? Foto akun lo cantik banget sih\,"* ketus Lian terdengar sangat jelas di telingaku yang terkadang salah mendengar ini.


"Lah, gue nggak tahu kalau ada yang begituan di sini. Emang beneran kita kenal dari situ?" tanyaku yang masih tidak yakin dengan ucapan Lian, atau lebih tepatnya aku tidak ingat dari mana dia mengenalku.


"Lo ke pengaturan aku, pastikan people nearby lo mati. Sekarang, Yaya. Lo nggak aman, ada yang nguntit dan foto lo sembarangan."


Aku menuruti saran dari Lian, ku jauhkan ponsel dari telingaku, dan ku load speaker panggilan ini. Ku mencoba mencari fitur yang dibicarakan oleh Lian, dan benar saja. "Idih, gue kok bisa aktifin ini sih?" keluhku yang lebih seperti bingung.


"Mungkin dari awal lo install sudah aktif, dan lo nggak sadar kalau itu aktif. Tapi gue bersyukur sih, karena bisa kenal sama lo dan punya teman ngobrol selama setahun ini."


Aku hanya menggumam, enggan menanggapi. Sebenarnya aku tidak tahu apakah jodoh masuk dalam skala prioritas pencapaian kehidupanku saat ini? Apa tunjuanku sebenarnya dari berselancar di dunia maya selama ini, dengan menanggapi perbincangan yang sebenarnya tidak begitu penting dengan para lelaki asing? Aku masih kurang paham dengan diriku sendiri, apalagi denganku yang merasa begitu dekat dengan Lian yang notabennya juga orang asing.


"Lo nggak pernah ada keinginan nemuin gue?" tanyaku memecah keheningan yang tercipta selama kurang dari semenit. Karena aku larut dalam pikiranku sendiri, tentang konsep kehidupan percintaanku.

__ADS_1


"Gue pengen, kalau harus jujur gue pengen banget nemui lo. Tapi nggak mungkin banget, gue khawatir pertemanan kita ini jadi berubah. Entah itu karena tampang gue yang jelek, atau karena ada hal dari gue yang nggak sesuai sama harapan lo."


Kembali hening, aku tidak tahu harus menanggapi apa. Karena memang benar apa yang diucapkan Lian tadi, terkadang aku berpikir apa jadinya jika kita bertemu dan menjadi dekat di kehidupan nyata. Tetapi terkadang aku takut kalau mengharapkan sesuatu, dan tidak sesuai dengan harapanku. Mungkin lebih baik begini.


"Bingung, kan, lo? Ya sudah mandi dulu sana, terus makan. Nanti gue telepon lagi kalau lo sudah lebih baik."


"Okay. Gue harus masak dulu, nggak ada yang menarik tadi di online food."


"Okay, Yaya Cantik."


Pada akhirnya aku memutuskan untuk memasak lebih dulu sebelum membersihkan diri, karena tidak nyaman rasanya jika sudah mandi tetapi tubuhku beraroma daging dan bumbu. Malam ini aku hanya menumis daging dengan buncis, karena persediaanku di kulkas hanya itu untuk minggu ini. Tolong ingatkan aku untuk berbelanja hari Sabtu nanti.


"Wangi? Sudah. Cantik? Sudah. Makan? Juga sudah. Waktunya nyalain laptop, online sebentar sambil nyemil."


Aku duduk di ruang santai yang merangkap sebagai ruang tamu di unit apartement ini, yang ku beli secara tunai dari hasil menabung. Aku rela selama setahun mengambil banyak pekerjaan desain di luar kantor, sampai harus bed rest selama seminggu di rumah sakit karena terkena radang panggul 2 tahun lalu. Mataku sibuk memperhatikan beberapa akun yang memang sudah berkomunikasi denganku dalam beberapa waktu terakhir. Dan ada satu akun yang memang sangat menarik perhatianku, seorang US Army.


"Leonard Smith **. Boleh juga, tapi aku harus cek dulu ini asli atau palsu. Kan rugi banget chat sama orang palsu, sungguh buang-buang waktu."


Buka tab pencarian baru di laptop, siapkan foto yang telah diunduh dari situs kencan dan unggah ke mesin pencari. Nama, aman. Foto, aman. Tidak ada riwayat perbincangan tentang penipuan yang dilakukan oleh oknum ini. Akun sosial media, semua asli. Dan yang paling terakhir menghubungi teman chattingku yang memang anggota US Army juga, dan kebetulan memiliki kekasih warna negara Indonesia.


Kalau sudah mendapatkan hasilnya, baru deh aku akan melanjutkan ke tahap selanjutnya. "Semoga kamu bisa ku download jadi jodohku, ya, Leonard."


Ponselku berdering, membuatku menoleh ke arah ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja makan. Karena aku terlalu fokus menjaring lelaki tampan dari dunia maya, atau lebih tepatnya menghibur diri dengan melihat ciptaan Tuhan yang tampan-tampan ini.

__ADS_1


"Lian?" ucapku ketika telah berada di depan meja makan, membaca nama pada layar pemanggil.


"Bisa nggak jangan bikin aku berharap lebih dari perbincangan ini? Kayaknya aku sudah mulai terpengaruh sama kehadiranmu, walaupun cuma suara doang," ucapku sangat pelan, dengan masih menatap layar ponsel yang deringnya belum berakhir.


__ADS_2